PATA AI PAMIT PULANG DALAM RAPAT ADAT

Saya beberapa kali mengikuti pertemuan adat dalam tahun 2009 di kampung.  Ketika bapa saya meninggal dunia, secara resmi saya dikukuhkan mengganti bapa almarhum dan menjadi kepala soma. Saya jadi kepala keluarga besar ditunjuk dan diumumkan dalam rapat itu. Yang menarik dalam setiap rapat-rapat adat orang Nagekeo adalah ketika pembicaraan resmi dimulai. Rapat dimulai dengan saling menunjuk seorang untuk menggerakkan agar pembicaraan resmi dimulai. Tau gagi pata adalah peran seorang yang dengan suara lantang mengatakan ai tau sai kita.. (mari kita mulai). Seorang yang disebut sebagai tau gagi pata akan mengatakan ai…(menyebut nama pemuka adat) tau sai kita (ayo kita mulai).  Seorang mosadaki  yang biasa berbicara tidak serta merta memulai. Dia akan melempar kepada yang lain. Tau sai simba ena.. (sudah lanjutkan saja disitu). Yang memngatakan tau simba ena sesungguhnya yakin dia adalah seorang yang punya autoritas bicara. Kerendahan hati atau basa basi berusaha saling melemparkan kewajiban.  Pembicaraan resmi baru mulai sampai beberapa orang mengatakan modo…(menyebut nama) tuu mbee tau sai laka oi onda (betul mulai sudah biar segera selesai).

Tuka mbabho (ahli bicara) adalah orang yang punya karisma dan diakui untuk berbicara dan mengambil keputusan.  Tuka mbabho juga berperan sebagai moderator. Semua pembicaraan harus melalui tuka mbabho, dan tuka mbabho akan menerima masukkan dan kembalikan kedalam forum. Tuka mbabho akan mengambil keputusan akhir setelah ada masukan dan godokan dari yang hadir dalam pertemuan adat.  Tuka mbabho bisa beberapa orang tetapi keputusan disampaikan dan juga diserahkan pada mosadaki utama yang menjadi tuka mbabho. Pembicaraan sangat memakan waktu, karena setiap tanggapan selalu mengulangi kembali pembicara terdahulu. Dalam setiap tanggapan mereka selalu mengulang dengan kata bhide pata koo (nama disebutkan) dan mengulangi semua ucapannya, kemudian diberi tanggapan oleh yang berbicara.

Saya melakukan kesalahan, yang dikoreksi seorang adik bapa saya Hermanus Mbusa, yang juga hadir tetapi tidak berhak suara. Koreksi dilakukan setelah semua sudah selesai. Saya langsung membuka pembicaraan secara monolog dan tidak menyinggung pembicaraan orang lain atau pidi pata ata pesa. Mereka memberikan kesempatan saya berbicara. Ketika saya langsung mengucapkan kata terima kasih atas semua perhatian dan dukungan, ada yang berasa bahwa itu berarti semua pembicaraan sudah selesai. Ada suara yang mengatakan modo moo pata ai sai kita….. Pata ai adalah dua kata memohon yang disambung dengan ai..kami wado (kami pulang). Tetapi tuka mbabho selalu menunjukkan kearifan, tidak begitu saja menutup pertemuan karena saya menyampaikan itu. Mereka masih terus berbasa basi… Pembicaraan hari itu melelahkan.  Pembicaraan ditutup sampai mosadaki  tuka mbabho mengatakan” ai modo pata kita bhide ke nde..” atau modo sama ke… woda sai kita.

Posted in ADAT & BUDAYA | Tagged , , , | Leave a comment

MOSADAKI TUKA MERE KAMBU KAPA

Mosadaki bukan pangkat tetapi peran seorang dalam masyarakat.  Seorang disebut mosadaki bukan karena usia atau pendidikan serta gelar. Mosadaki adalah sebuah karisma berupa kemampuan-kemampuan istimewa sehingga nampak bijak dalam kata dan laku.  Ketika berbicara orang mendengarkan dan ketika mengungkapkan pendapat dan sikap dijadikan pegangan. Dia memang jadi tempat orang memanut karena  panjang akal dan juga besar kesabarannya.

Tuka mere kambu kapa (usus besar dilingkari  lapisan lemak) adalah sifat yang dimiliki oleh seorang mosadaki yang bijak.  Dalam berbagai pertemuan adat, mosadaki menjadi pemuka dan pendengar yang bijak atas segala macam persoalan masyarakat.  Berbagai suara sumbang yang sering menimbulkan masalah seorang mosadaki menanggapinya dengan dingin dan berusaha mencari solusi menenangkan dan menyenangkan semua pihak. Kesabaran yang luar biasa dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan  yang membuat seorang mosadaki memiliki tuka mere kambu kapa.  Tuka mere (perut besar) yang membuat dia mampu menelan segala makanan termasuk yang pahit dan pedas. Kambu kapa (lapisan lemak) yang menjaga agar tubuh tetap hangat dan kuat menahan lapar  dan kekurangan. siap menghadapi semua masalah.

Posted in ADAT & BUDAYA, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

BHASO DAMA SIRA TA MBANA

Ketika kami masih anak-anak begitu sering ada pesta adat. Pada pesta adat orang berkumpul  di salah satu kampung dengan konsentrasi rumah yang punya perhelatan. Pada upacara-upacara adat selalu ada nado mere (jamuan makan besar). Pada jamuan makan nado mere ini menu utama hanya tiga, yaitu nasi, daging dan sayur. Sayur yang selalu ada pada pesta adalah muku loto. Sayur muku loto adalah pisang yang masih muda, kulit luarnya yang berwarna hijau dikupas dengan cara memotong ujung pisang dan dicabik lapis hijau dari kulit buah. Buah pisang di potong menjadi beberapa bagian agar mudah dimasak dan dihacurkan. Yang dimasak bersama muku loto adalah jeroan atau usus hewan yang telah dibersihkan dan dipotong-potong. Pisang yang sudah masak diaduk-aduk sampai hancur dan jadilah semacam bubur berwarna agak bnerwarna abu-abu. Pisang direbus bersama daging dan bumbu-bumbu diaduk sampai menjadi bubur. Itulah muku loto.

Dalam nado mere kaum lelaki dewasa dan anak-anak duduk di tikar-tikar yang dibentang di halaman rumah. Pada pesta adat acara makan atau nado dimulai setelah makanan dibagi-bagi kepada semua warga di rumah-rumah sekampung atau beberapa kampung tergantung dari besarnya pesta adat. Warga yang ada di rumah umumnya wanita dan anak-anak kecil yang tidak ikut ayahnya ke tempat nado. Disetiap rumah semua orang menyiapkan piring kosong masing-masing di depannya. Ada urutannya pertama dibagi  pora (daging) nasi,  sayur uta muku loto  dan paling akhir seorang akan memberikan satu iris kecil dari hati hewan yang disembeli. Pembagi makanan harus orang yang punya ketrampilan khusus. Maklum kalau tidak tahu atur maka akan kekurangan daging untuk begitu banyak orang.  Jumlah orang menjadi lebih banyak karena yang mendapat jatah termasuk anggota keluarga yang tidak ada di rumah dan merantau jauh. Jadi ada piring untuk anak yang merantau jauh dan mereka katakan te bhaso koo ana jao ta dau (ini bagian dari anak saya yang di rantau sana) atau bhaso sira ta mbana  (porsi mereka yang sedang bepergian).  Selain itu ada bhaso sao adalah porsi yang diberikan untuk rumah yang kita diami. Rumah seolah bernyawa maka diperhitungkan dengan bhaso sao (porsi untuk rumah). Bhaso atau bhaso dama menjadi bukti betapa semua anggota keluarga selalu diperhitungkan dan disayangi. Bhaso dama sira ta mbana menjadi bagian dari doa akan keselamatan dan rindu keluarga untuk sekali waktu kembali. Karena dengan adanya bhaso khusus berarti ada pengakuan bahwa masih hidup.

Setelah semua orang-orang di rumah sudah dibagi jatahnya, baru giliran para bapa dan anak laki  yang duduk di tikar-tikar.Semua orang dibagi wadah piring kemudian makanan dibagi pora (daging), pale (nasi) dan uta muku loto serta irisan hati. Setelah semua makan dan minum tuak baru ada omong-omong adat.

Posted in ADAT & BUDAYA | Tagged , , | 4 Comments

SAJIAN MAKAN DAN HUBUNGAN INE WETA AME NALA

Membunuh babi dan menyiapkan daging untuk makan dalam kebudayaan orang Nagekeo  tidak sembarang dilakukan bagi tamu. Pada kunjungan terakhir saya ke Flores, ketika saya akan kembali ke Jakarta, keponakan saya Ine Goo Nanga dari Wajo datang khusus ke Mauromba .  Mereka  membawa seekor anjing masih hidup dengan menumpang ojek sepeda motor. Malamnya  mereka  menyembelih si guguk dan menjadikan  teman makan nasi malam itu. Kepada saya disajikan daging anjing.  Seperti biasa saya mendapat bagian terbaik, kepala dan hati.  Karena saya divoinis dokter tekanan darah tinggi, maka saya berusaha keras mengendalikan diri untuk tidak banyak mengkonsumsi. Dan ini kesempatan terbaik bagi saudara saya Anton menikmati sepuasnya.  Memuaskan foko cewo (tenggorokan bulukan) kata orang Nagekeo.

Menyajikan kepala dan hati mengadung dua pengertian. Kepala selalu disajikan sebagai tanda hormat. Kepala dan hati selalu disertai dengan darah  yang telah diolah  menjadi seperti bumbu kecap itu memberikan tanda bahwa  daging yang disajikan adalah dari hewan yang masih hidup. Bukan hewan yang mati atau penyakitan.  Kebiasaan orang Nagekeo menyembeli hewan untuk dijadikan daging yang disajikan bagi tamu selalu dilakukan setelah tamu tiba di rumah.  Tanda hormat dan kerelaan member dari yang terbaik.

Pilihan jenis hewan yang akan disembelih tergantung  hubungan tamu yang datang.  Untuk tamu paling sedikit orang m,enyembelih  ayam.  Pertalian saudara  ada   nala (saudara laki) dan  weta (saudari) dan  setelah  mereka berkeluarga dan punya anak maka amen ala menjadi embu mame (om) dan ine weta . Pihak embu mame sebagai penyedia anak laki dan ine weta sebagai penyedia anak perempuan untuk dinikahkan.

Sajian daging babi atau anjing  punya keterkaitan dengan hubungan pertalian keluarga ini. Pemberian babi dan kain adalah kewajiban amen ala kepada ine weta. Dan Kewajiban ini weta memberikan anjing atau kambing  kepada pihak amen ala.

Urusan bunuh babi dan dagingnya jadi sajian ketika saya di kampung  sekali membuat saya marah dan pada kali yang lain membuat saya  merasa tak nyaman . Satu kali kami  berlibaru di kampung. Sebagai anak asrama di Mataloko, kami hanya berlibur paling banyak dua kali dalam setahun.  Karena  sebagai yang tertua dari anak-anak asrama paroki saya maka adik adik saya Piet Wani, Philipus Tule , Cyrillus adik kandung saya kami menghabiskan malam di rumah saya. Pada malam hari kami diundang om saya Nuwa Oka. Saya senang. Karena ke rumah omo (embu mame) saya adalah anak ine weta atau ane ane, pasti seekor babi akan disembelih. Ternyata malam itu mengecewakan saya. Saya malu dihadapan adik-adik kelas saya Peto dan Lipus.  Mereka menyajikan kerang-kerangan (kima). Ini urutan terendah setelah ikan.  Saya memendam kekesalan yang mendalam. Pada waktu akan makan, tanta saya  (ema kao)  bilang ada anak babi di kolong  tolong bawa nanti sembelih di rumah. Maksudnya biar bapa saya juga bisa ikut menikmati. Dalam kekecewaan kami kembali ke rumah sambil seorang membawa seekor babi ke rumah. Sambil meluapkan rasa kesal, saya katakana pada bapa bahwa kami tak layak makan daging babi karena pasti tidak bisa membalasnya.  Bapa saya sambil senyum bilang itu om dan tante kamu (ke embu mame miu).

Menikmati daging babi dalam rasa tidak nyaman saya pernah alami. Saya pulang dari Bengga. Bapa Yohanes Eo mengundang saya singgah malam itu. Saya menolak tetapi akhirnya mengalah. Dan malam itu seekor anak babi disembelih.  Ketika tahu ada babi disembelih timbuil rasa tidak enak. Rasanya pingin lari. Rumah kami kurang dari satu kilo meter.  Pada waktu makan tuan rumah mengatakan bahwa karena terlalu malam kita sulit menangkap ayam. Artinya babi dianggap sebagai ayam. Saya punya alasan untuk merasa tak nyaman. Soalnya saya punya hubungan pertemanan dengan anak perempuannya. Kami teman kelas  SD. Guru dan teman selalu memasangkan saya dengan anak perempuan ini dan selalu bilang Tali nasa nee Mina. Kalau membunuh babi berarti ada pengakuana bahwa saya dalam posisi ine weta dan bapa Yan Eo dalam posisi embu mame. Itu berarti mengakui hubungan pertemanan saya dengan anak gadisnya.

Posted in ADAT & BUDAYA | Tagged , , , , , | Leave a comment

UTA KALO NGETA URAP SEDAP ATA MA’U

Ata ma’u artinya orang pesisir. Di wilayah Ngada dan Nagekeo kalau disebut ata ma’u pasti orang akan tahu itu orang-orang yang mendiami pesisir selatan mulai dari sebelah Timur Wodo Wata sampai Tonggo. Sebutan orang pesisir terkadang bernada minor. Saya masih ingat bapa saya pernah kesal sama bupati Ngada, waktu itu Yohanes Samping Aoh, yang kini jadi bupati Nagekeo.  Bupati Ngada kala itu melakukan kunjungan ke Maunori tetapi ketika ada permintaan untuk membuka isolasi dengan pembangunan infrastruktur jalan raya, bapa Bupati berpendapat bahwa wilayah mau kurang potensial. Bapa saya hanya bisa omong di belakang layar. Kami orang pesisir (mau) khusus wilayah paroki Maunori merupakan gudang guru terbesar di kabupaten Ngada. Begitu banyak orang berporofesi sebagai guru. Bukankah ini suatu potensi yang luar biasa, kata bapa saya yang sudah mengarah sepuh. Ma’u memang dipandang kurang beruntung dari sumber daya alam karena kesuburan tanahnya yang rendah. Kalau pun ada hanya kelapa dan tuak dari pohon lontar.

Dalam kekurangannya ini orang Mau selalu berinisiatif dan kreatif. Begitu banyak makanan asal Mau merupakan bukti kreatifitas ditengah kesulitannya. Salah satu yang saya masih ingat adalah Uta kalo ngeta (urapan dari daun pohon berduri). Ada sejenis tumbuhan perdu yang punya cabang-cabang berduri (kalo). Uta kalo artinya daun dari pohon berduri. Jenis tanaman ini hampir mirip pohon puteri malu. Daun ini berasa asam. Orang-orang pesisir selatan (ata mau) mengolahnya menjadi urapan yang dicicip sambil menunggu masakan utama.  Daun pohon perdu berduri (uta kalo) dicincang  kemudian dicampur kelapa  ditambah bumbu pedas,garam dan cabe. Untuk memberi rasa khusus, adukan uta kalo dan kelapa ini ditambah dengan ikan asin.  Khusus untuk bumbu uta kalo ini yang digunakan adalah bagian kepala ikan asin (ikan kering) dibakar dibara api yang menghasilkan aroma khas kemudian di cincang halus bersama daun uta kalo dan kelapa parut atau kelapa kukur. Orang Nagekeo hampir tidak pernah memarut kelapa. Kelapa umumnya dikukur, yaitu dengan menggarukkan kelapa pada sepotong besi yang telah dikikir bergigi. Orang pesisir bilang regu. Regu artinya menggaruk kelapa dengan cara menggosokkan daging kelapa yang ada dalam batok kepada ujung besi yang terpasang pada kayu berbentuk kuda. Penggaruk menduduki kuda itu dan menggosokkan daging buah  kelapa pada ujung besi bergerigi.

Uta kalo ngeta adalah urapan yang sungguh sedap. Rasa asam beraroma ikan bakar. Biasa dimakan sambil menunggu masakan utama. Pada masa sulit orang makan uta kalo ngeta bersama jagung goreng yang masih hangat. Saya lumayan lama menikmati makanan  pembuka berupa sayuran di rumah teman-teman atau di restoran Korea.  Sajian pembuka ini memang sedap. Tetapi saya sebagai orang  Keo Tengah dan ata mau dari tanah tandus, mencicipi  kesedapan uta kalo ngeta punya cita rasa  beda dan unik. Ini asli urapan orang Keo. Sayang semakin hari uta kalo ngeta tersisih karena selalu dikaitkan dengan kesahajaan atau bahkan kekurangan dan kemiskinan. Masih ada beberapa urap dan lalaban khas ata ma’u yang akan saya bahas nanti.  Pasti bukan untuk  menghidupkan kenangan perihnya hidup miskin, tetapi karena saya yakin akan keunikan cita rasanya.

 

 

Posted in Uncategorized | 3 Comments

MONA GHEWO PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN

Ketika liburan sekolah, saya berkunjung ke Mundemi dan menginap di rumah teman Ludovikus Aja Fernandes. Keluarga biasa menyapanya Sinyo. Ketika di Mundemi saya untuk pertama kali menikmati pora eti(daging biawak). Biawak dikuliti, dipotong dan dibersihkan dan direndam  bumbu, dimasak dalam santan sampai santan kering. Waduh masih ingat rasanya sampai hari ini.  Orang Mundemi juga berburu tokek dan tikus di pohon kelapa. Tetapi waktu itu saya  belum sempat  menikmati daging tikus. Soal daging tikus saya masih ingat Pak Siprianus Taa (almarhum) kalau cerita berapi-api. Daging tikus sawah atau pohon diburu kemudian dimasak bersama pisang muda. Uta muku loto (sayur pisang muda). Tikus satu atau dua ekor dicincang dan direbus bersama buah pisang muda. Bagi lidah orang Keo Tengah uta muku loto punya cita rasa khusus.

Saya juga punya pengalaman pertama makan sayur nangka dimasak dengan daging ayam di Wolowea. Waktu itu anak-anak sekolah dasar dari Mauromba berdarmawisata ke Raja. Guru Frans Mere membawa kami ke Raja, karena isterinya berasal dari Raja. Dan kami menginap di kampung Wolowea. Saat itu belum ada listrik. Kami ditumpangkan di beberapa rumah. Rasa sayur nangka dengan daging ayam di Wolowea menjadi rasa sedap tak terlupakan, teristimewa sambal tomat yang diisi dalam bambu (ko payo), nikmat sekali.

Uta nggako (kangkung sawah) untuk orang Romba, yang gersang pasti tidak ada. Kangkung memang di sawah-sawah. Walau di Boamau ada banyak sawah dan kangkung, saya sendiri tidak sempat menikmati. Kangkung pertama kali saya makan di Oka dekat Dowo Noli. Ketika hidup diasrama Ledalero, ternyata di buat bak besar untuk pelihara kangkung. Dan begitu sering anak-anak asrama berjuba itu mendapat hidangan kangung. Sayang orang Flores memasak kangung selalu bersama santan. pada hal kangung enak kala ditumis tanpa banyak air. Ketika di Jakarta cah kangkung adalah cara masak yang paling mudah. Beberapa kali saya masak di kantor untuk makan bersama teman saya aorang Korea.

Ikan paus bagi orang Nagekeo sesuatu yang langkah dijumpa. Kami pernah kebagian makan daging ikan paus. Seekor ikan paus besar pernah terdampar di pantai Mauromba. Seperti ikan umumnya masyarakat menganggapnya sebagai rejeki dari laut. Semua rumah Romba Wena dan Wawo kebagian daging ikan besar itu. Yang teringat sampai sekarang adalah bau amis minyak ikan paus. Setiap melihat gambar ikan paus, saya masih ingat bau amis minyak ikannya. Saya tidak tahu orang Lamalera mengolahnya sampai menikmati daging dan minyak ikan paus.

Kedidewa satu gunung  masuk dalam wilayah Keo Tengah. Yang punya cerita adalah bapa saya. Bapa saya pernah berkunjung ke Kedidewa. Disana masih ada beberapa kerabat yang berkebun dan tinggal di dataran tinggi. Keluarga menyiapkan makan siang khusus. Kebiasaan orang Keo nasi dan sayur disajikan dalam piring terpisah. Nasi disajikan. Kemudian menyusul satu piring daging berkuah santan. Bagi orang Nagekeo, kepala adalah bagian terhormat.  Kepala babi, ayam atau kambing selalu dihidangkan untuk tamu terhormat atau pemuka adat. Bapa saya hari itu menjadi tamu istimewa. Dan untuk menghormatinya bapa mendapat sajian kepala. Kali ini yang disajikan adalah kepala monyet, masih punya telinga dan moncong monyet.  Wiki…wiki… mendi ena….(Ambil…ambil bawa kesana). Kepala kera betapapun dimasak dalam bumbu sedap masih menakutkan karena wajahnya mirip wajah manusia.

Posted in Uncategorized | 4 Comments

WAKTU DAN KOMUNIKASI

Beberapa hai ini saya merasa sangat tidak nyaman.  Koresponden saya di luar negeri memberikan ultimatum kepada saya dia kasih waktu 72 jam.  Artinya dalam tiga hari pekerjaan saya harus selesai. Hubungan kami bukan majikan dan karyawan. Hubungan kami adalah bisnis murni.  Dalam bisnis ada kepercayaan. Kepercayaan yang dimaksud adalah selain kebenaran juga menyangkut janji-janji. Termasuk janji tepat waktu.  Saya menjanjikan berdasarkan jainji yang saya terima dari pihak relasi saya di Indonesia. Saya sudah sangat stress, tegang sementara partner lawan saya di Indonesia lambat tidak apa-apa. Masih ada esok.

Ketepatan waktu dan komunikasi adalah sangat penting. Kali ini saya tidak bisa menepati waktu. Karena saya tidak memnuhi jenji pada waktunya, maka saya menjadi sangat tidak nyaman untuk berkomunikasi dengan korespeonden saya di Amerika.  Komunikasi tertulis via e-mail saja saya merasa tak nyaman. Dan yang lebih tidak nyaman adalah setiap kali saya buka komputer saya dan masuk salah satu situs akan muncul di sudut kanan bawah tanda orang yang saya takuti itu muncul on line mau omong sama saya melalui Telepon SKYPE.  Bila ada tanda hijau berarti saya bisa menghubungi dan dihubungi. Pada kotak SKYPE akan muncul Kontak dengan nama-nama yang sedang on line bertanda hijau.  Saya tertekan sekali. Dia pasti tunggu berita dari saya untuk bicara dan videocall.  Saya tidak bisa menghidanri. Hari ini saya berusaha menulis satuj e-mail pendek mengatakan masalah pekerjaan itu.

Ya Tuhan…. sulit sekali omong…nggak..omong…omong…nggak….untung tidak ada tokek di rumah. Kalau tidak saya mungkin menanyakan tokek…

Posted in Uncategorized | Leave a comment