MONA GHEWO PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN

Ketika liburan sekolah, saya berkunjung ke Mundemi dan menginap di rumah teman Ludovikus Aja Fernandes. Keluarga biasa menyapanya Sinyo. Ketika di Mundemi saya untuk pertama kali menikmati pora eti(daging biawak). Biawak dikuliti, dipotong dan dibersihkan dan direndam  bumbu, dimasak dalam santan sampai santan kering. Waduh masih ingat rasanya sampai hari ini.  Orang Mundemi juga berburu tokek dan tikus di pohon kelapa. Tetapi waktu itu saya  belum sempat  menikmati daging tikus. Soal daging tikus saya masih ingat Pak Siprianus Taa (almarhum) kalau cerita berapi-api. Daging tikus sawah atau pohon diburu kemudian dimasak bersama pisang muda. Uta muku loto (sayur pisang muda). Tikus satu atau dua ekor dicincang dan direbus bersama buah pisang muda. Bagi lidah orang Keo Tengah uta muku loto punya cita rasa khusus.

Saya juga punya pengalaman pertama makan sayur nangka dimasak dengan daging ayam di Wolowea. Waktu itu anak-anak sekolah dasar dari Mauromba berdarmawisata ke Raja. Guru Frans Mere membawa kami ke Raja, karena isterinya berasal dari Raja. Dan kami menginap di kampung Wolowea. Saat itu belum ada listrik. Kami ditumpangkan di beberapa rumah. Rasa sayur nangka dengan daging ayam di Wolowea menjadi rasa sedap tak terlupakan, teristimewa sambal tomat yang diisi dalam bambu (ko payo), nikmat sekali.

Uta nggako (kangkung sawah) untuk orang Romba, yang gersang pasti tidak ada. Kangkung memang di sawah-sawah. Walau di Boamau ada banyak sawah dan kangkung, saya sendiri tidak sempat menikmati. Kangkung pertama kali saya makan di Oka dekat Dowo Noli. Ketika hidup diasrama Ledalero, ternyata di buat bak besar untuk pelihara kangkung. Dan begitu sering anak-anak asrama berjuba itu mendapat hidangan kangung. Sayang orang Flores memasak kangung selalu bersama santan. pada hal kangung enak kala ditumis tanpa banyak air. Ketika di Jakarta cah kangkung adalah cara masak yang paling mudah. Beberapa kali saya masak di kantor untuk makan bersama teman saya aorang Korea.

Ikan paus bagi orang Nagekeo sesuatu yang langkah dijumpa. Kami pernah kebagian makan daging ikan paus. Seekor ikan paus besar pernah terdampar di pantai Mauromba. Seperti ikan umumnya masyarakat menganggapnya sebagai rejeki dari laut. Semua rumah Romba Wena dan Wawo kebagian daging ikan besar itu. Yang teringat sampai sekarang adalah bau amis minyak ikan paus. Setiap melihat gambar ikan paus, saya masih ingat bau amis minyak ikannya. Saya tidak tahu orang Lamalera mengolahnya sampai menikmati daging dan minyak ikan paus.

Kedidewa satu gunung  masuk dalam wilayah Keo Tengah. Yang punya cerita adalah bapa saya. Bapa saya pernah berkunjung ke Kedidewa. Disana masih ada beberapa kerabat yang berkebun dan tinggal di dataran tinggi. Keluarga menyiapkan makan siang khusus. Kebiasaan orang Keo nasi dan sayur disajikan dalam piring terpisah. Nasi disajikan. Kemudian menyusul satu piring daging berkuah santan. Bagi orang Nagekeo, kepala adalah bagian terhormat.  Kepala babi, ayam atau kambing selalu dihidangkan untuk tamu terhormat atau pemuka adat. Bapa saya hari itu menjadi tamu istimewa. Dan untuk menghormatinya bapa mendapat sajian kepala. Kali ini yang disajikan adalah kepala monyet, masih punya telinga dan moncong monyet.  Wiki…wiki… mendi ena….(Ambil…ambil bawa kesana). Kepala kera betapapun dimasak dalam bumbu sedap masih menakutkan karena wajahnya mirip wajah manusia.

Posted in Uncategorized | 4 Comments

WAKTU DAN KOMUNIKASI

Beberapa hai ini saya merasa sangat tidak nyaman.  Koresponden saya di luar negeri memberikan ultimatum kepada saya dia kasih waktu 72 jam.  Artinya dalam tiga hari pekerjaan saya harus selesai. Hubungan kami bukan majikan dan karyawan. Hubungan kami adalah bisnis murni.  Dalam bisnis ada kepercayaan. Kepercayaan yang dimaksud adalah selain kebenaran juga menyangkut janji-janji. Termasuk janji tepat waktu.  Saya menjanjikan berdasarkan jainji yang saya terima dari pihak relasi saya di Indonesia. Saya sudah sangat stress, tegang sementara partner lawan saya di Indonesia lambat tidak apa-apa. Masih ada esok.

Ketepatan waktu dan komunikasi adalah sangat penting. Kali ini saya tidak bisa menepati waktu. Karena saya tidak memnuhi jenji pada waktunya, maka saya menjadi sangat tidak nyaman untuk berkomunikasi dengan korespeonden saya di Amerika.  Komunikasi tertulis via e-mail saja saya merasa tak nyaman. Dan yang lebih tidak nyaman adalah setiap kali saya buka komputer saya dan masuk salah satu situs akan muncul di sudut kanan bawah tanda orang yang saya takuti itu muncul on line mau omong sama saya melalui Telepon SKYPE.  Bila ada tanda hijau berarti saya bisa menghubungi dan dihubungi. Pada kotak SKYPE akan muncul Kontak dengan nama-nama yang sedang on line bertanda hijau.  Saya tertekan sekali. Dia pasti tunggu berita dari saya untuk bicara dan videocall.  Saya tidak bisa menghidanri. Hari ini saya berusaha menulis satuj e-mail pendek mengatakan masalah pekerjaan itu.

Ya Tuhan…. sulit sekali omong…nggak..omong…omong…nggak….untung tidak ada tokek di rumah. Kalau tidak saya mungkin menanyakan tokek…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BUPATI NAGEKEO JOHANES SAMPING AOH MENUJU PELAMINAN LAGI

Bupati pertama Nagekeo Drs. Joahnes Samping Aoh  pada hari Sabtu tanggal 9 Oktober 2010 kembali  mengucapkan janji suci, kesetiaan seorang lelaki pada seorang wanita di Gereja St. Paskalis Jakarta. Sandingan tempat tumpahan kasihnya adalah dr. Mastiur Magdalena Panggabean.  Tuhan menjadikan segalanya indah pada waktunya, Dia yang mempertemukan, Dia yang mengajarkan tentang kasih, itu tulisan yang tertera dalam kertas undangan. Keindahan itu menjadi nyata melalui upacara suci ketika menyaksikan kedua mempelai berlutut menerima berkat perkawinan setelah mengungkapkan bahwa masing-masing dengan tulus hati dan penuh cinta saling memilih menjadi pasangan. Janji setia dalam untung dan malang, dalam suka dan duka dan akan mencintai dan menghormati seumur hidup.

Jai dan tor-tor  bersanding dalam pentas gembira Ame Nani nee Ine Tiur………

Have a blessed day and a blessed week, a blessed life……………………………Modhe-modhe jeka nipi kombe….. pawe-pawe…. papa pawe jeka ena late……

Posted in Uncategorized | 4 Comments

GULITA MALAM DI BANYAK DESA NAGEKEO

Berkali-kali saya membaca di media massa ibukota yang menulis tentang tenaga surya dan angin.   Omong tentang angin dan matahari, sesungguhnya tidak ada daya tarik. Hampir sepanjang tahun kita selalu diterpa sinar panas tanpa hambat dari sumber tenaga paling dahsyat yang diciptakan Tuhan. Dan kalau mau bicara tentang angin, tidak ada yang sangkal, Indonesia adalah negara kepulauan, yang berarti juga negara penuh pantai. Angin selalu berhembus kencang di daerah-daerah pesisir. Saya jadi ingat kalau berjalan kaki di Wodowata atau Kekakodo atau Wesa Wala di dekat Ketakeo. Hembusan angin sangat kencang menembus pori tubuh kalau perlu menerbangkan benda-benda berat disekitarnya.

Kalau memang benar ada manfaat matahari dan angin, saya sering berangan kapan matahari dan angin menjadi tenaga terbarukan itu dapat memberi sumbangsih bagi manusia, khususnya orang orang kampung di Keo Tengah. Saya bayangkan kalau saja ongkos jalan-jalan santai para anggota dewan yang ingin setudi banding itu dialihkan untuk membangun pusat tenaga listrik dari matahari dan angin. Skalanya sesuaikan saja dengan dana yang ada.  Pasti tidak ada angin sakal umpatan yang melayang kehadapan para anggota dewan. Mereka bahkan bisa jadi dewa penyelemat yang selalu diekori  dan didukung. Tetapi itu hanya angan-angan saja. Anggota dewan akan pilih jalan-jalan. Mumpung ada kesempatan dan anggaran. Buat apa sok suci dan pikirkan orang banyak. Kapan pikir diri sendiri.  Jalan-jalan itu membahagiakan. Setudi sambil jalan dan membanding-bandingkan saja. Apa susahnya. Kalau negara lain makmur, dan tertib kita hanya pulang lapor warga Indonesia tidak tertib. Karena itu tidak pernah makmur. Pasti kita akan omong tentang sepeda motor yang semakin memenuhi jalan raya kita. Banyaknya sepeda motor seharus disyukuri. Karena itu ada tanda kemajuan. Namun yang membuat siapa saja mengakui bahwa sepeda motor menjadi gambaran paling buruk dan promosi bangsa paling tepat tentang budaya tertib bangsa ini.

Malam terlampau gulita di desaku. Ada rumah-rumah di pesisir yang sudah menikmati penerangan listrik selama 12 jam per hari. Tetapi sebahagian terbesar hanya bersuara dalam kelam.  Orang terus tidur lebih awal setelah lelah bekerja. Sorotan lampu pelita dari botol tinta atau kaleng susu tidak bisa menghalau beratnya mata.  Jangan disandingkan bandingan dengan Para anggota dewan.  Mereka bergelimpang fasilitas.  Mereka pantas mendapatkannya. Mereka orang credas pilihan bangsa.  Mereka sedikit orang terpilih. Maka pantas disebut elite.  Mereka bukan orang tersakiti karena dieliminasi dan terus memikul beban utang tak tertanggungkan. Mereka bukan orang yang sakit jiwa karena merasa kalah dan gila. Mereka orang baik-baik.  Mereka tahu belajar pramuka dari Afrika itu akalan untuk pesiar.  Saya yakin kalau para anggota dewan jalan-jalan saja ke Nagekeo, mereka disuruh tidur di rumah penduduk ibukota kabupaten yang masih penuh alang-alang. Mereka akan tahu rasanya jadi rakyat dan merakyatkan pemahaman dewan. Mereka kita ajak saja melihat dari dekat apa yang telah dibuat dengan program KAPET MBAY.  Biar mereka tahu semua program hanya macan kertas tak bertaring dan berkuku yang mencengkeram menjadi program yang dapat direalisasikan.  Karena itu tidak heran Nagekeo dengan irigasi Mbay yang menjadi salah satu  lumbung beras NTT hanya menjadi perkampungan kaum tani dan nelayan terpinggirkan  dan terus tinggal dalam kelam.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PESAN MKIOS DAN TELKOMSEL MEMUAKKAN

Saya pernah kunjungi Jepang dan memiliki teman bisnis. Dia meminta telepon rumah saya. Dia mengagetkan saya. Orang Jepang heran sekali bahwa kami belum punya sambungan telepon, pada hal kami tinggal di Jakarta.  Dia tidak tahu pada masa itu pegawai Telkom Indonesia merasa raja. Kalau ingin cari uang kacaukan saja koneksi. Dan pelanggan besar harus memelihara petugas telekom khusus untuk menjaga jaringan. Pelanggan dijadikan sapi perahan pegawai Telkom.  Biaya pemasangan telepon rumah sampai jutaan rupiah, kepemilikan telepon hanya dalam jumlah terbatas.

Terobosan memasyarakatkan telepon kemudian muncul. Ada yang sadar bahwa ini sumber penghasilan.  Pembeli harus dilayani dan dijaring. Maka kita akhirnya menyaksikan kotak-kotak telepon umum di pinggir jalan atau di tempat umum. Karena sering rusak kemudian muncul usaha Warung Telepon (WARTEL) yang menjamur,  tetapi kini jumlahnya kian menurun. Tidak dapat disangkal pelayanan ini masih tetap perlu.

Pemakaian pulsa telepon di telepon genggam saya memang cukup tinggi. Saya begitu sering melakukan isi ulang pulsa melalui salah satu Kios langganan saya. Selain untuk kepentingan sendiri, ada saja yang meminta pulsa. Meminta pulsa ternyata jauh lebih mudah daripada minta uang. Secara akumulasi  belanja pulsa  ternyata menguras kantong tidak sedikit.  Banyak orang Indonesia yang suka mengobrol pasti tahu banyaknya uang telah habis untuk belanja pulsa.

Pada setiap kali menerima isi ulang pulsa  selalu ada pesan pesan dalam telepon genggam (HP). Tiga buah pesan yang selalu saya terima adalah sebagai berikut:

Pesan dari MKIOS :

Nomor anda telah diisi vouceher dengan Serial Number (010020737364114726). Kirim kejutan dengan pesan suara. Hub#9(no tujuan),cth: #90813 xxx. BiayaRp. 220/call.

Pesan dari TELEKOMSEL

1. Selamat Anda pelanggan yang mendapatkan 1 kesempatan Rp. 550 (tiap isi ulang) untuk raih KAwasaki NINJA150+ ASURANSI rP 10Jt  HUBUNGI *268*1#

2.  Anda pelanggang yang mendapatkan 1 kesempatan Rp. 550 (tiap isi ulang) untuk raih Kawasaki NINJA150R.+TOTAL HADIAH 30jt (+info/hr) +asuransi Rp 10jt Hubungi *268*1#

Pesan-pesan tersebut diatas saya anggap sangat mengganggu. Tidak pernah sekalipun saya mempedulikan pesan ini. Mengangkat pesan ini kedalam tulisan ini hanya karena  ingin menyatakan ketidaknyamanan saya. Bagi saya ini sangat mengganggu dan hanya meminta perhatian saya sesaat. Biasanya saya langsung menghapusnya.  Namun saya tidak tahu pasti dari sekian banyak penerima pasan ini pasti ada saja yang telah memanfaatkannya. Adakah yang pernah beruntung dengan memanfaatkan pesan ini. Mari kita saling berbagi….

Posted in Uncategorized | 1 Comment

VIVERE PERICULOSO

Sore tadi Jumat 1 Oktober 2010 jam 15.00 WIB  saya berjanji bertemu rekan bisnis di sebuah restoran Padang di Jatinegara. Karena dia terlambat saya merobah tempat pertemuan di pusat jajan (food court) di pusat belanja batu batu mulia di seberangnnya. Lokasinya persis di depan stasiun kereta api Jatinegara.  Sambil  menunggu saya menyempatkan diri melihat berbagai batu alam baik yang masih alami maupun yang sudah tergosok. Kalau mau cari batu cincin aneka variasi datang saja ke sana. Ini memang pusat belanja bagi pencinta batu.

Pertemuan kami berlangsung  sambil menikmati kopi gingsen di tempat tersebut.  Tidak terlalu ramai tetapi sayang panasnya tak tertolong. Saya merasa gerah di sana.  Pembicaraan kami tentang business kelas tinggi. Permainan surat berharga, instrumen perbankan. Lawan bicaraku mewakili orang yang mempunyai kapasitas menerbitkan berbagai instrumen perbankan. Berdasakan surat keterangan dari bank plat merah Indonesia, mereka memiliki cash collateral yang dapat dijadikan jaminan kredit perbankan. Saya mewakili sebuah perusahaan di negara adidaya Amerika Serikat.  Pihak kami adalah yang siap untuk memanfaatkan cash collateral.  Pembicaraan kami lumayan intensif dan singkat.  Singkatnya pembicaraan kami karena saya ingin cepat menyudahinya. Alasannya ketika sedang kami berbicara, saya mendapat telepon. Mobil box perusahaan kami diderek oleh tukang derek liar dari jalan tol. Dan mereka memaksa membayar lebih dari satu juta rupiah. Mereka berlaku kasar dan keras. Kata orang kantor saya mereka orang seasal saya. Akhirnya saya datang ke sana.

Ketika saya sampai disana sopir mobil box kami langsung menyapa saya. Seorang pemuda asal Maumere segera menyapa dan berbicara dalam bahasa Sikka. Saya berusaha mengimbanginya walau terkadang tidak paham.  Mobil box akhirnya kembali ke pabrik. Tetapi permintaan uang tetap Rp. 1.000.000,- Permulaan saya sangka akan bisa dikurangi karena saya adalah orang Flores. Saya diajak minum kopi. Tanpa sadar saya berada dalam kelompok orang Flores berasal dari Maumere. Mereka terus bertambah banyak dan dalam keadaan yang sangat tegang. Mereka sedang berkumpul dan siap untuk menghadapi musuh mereka. Katanya mereka sedang terancam akan dihadang kelompok dari Ambon. Msalahnya adalah urusan penguasaan lahan. Saya sempat mengusulkan cara persuasif dan pasifistis.

Hari  semakin gelap. Ada hujan rintik-rintik. Kami berteduh dibawah tenda beratap terpal.  Ketika orang semakin banyak, dan saya merasa mereka adalah saudara saya, saya mulai memotret. Permulaan saya mengambil foto tidak ada yang keberatan. Saya tertarik karena ada banyak orang Flores begitu ramai berkumpul di satu tempat umum. Ketika saya berdiri di pinggir jalan, datang seorang menghampiri saya. Dia sangat keberatan karena difoto. Dia mengaku orang Flores berdarah Jawa. Dia mengancam akan menghabisi saya. Dia menarik tangan saya untuk menyentuh pinggangnya yang berasa keras. “Saya  punya senjata”, katanya.  Sikapnya tiba-tiba berubah buas dan saya akhirnya menghapus semua gambar orang-orang Sikka yang terekam kamera.

Seorang dari kantor saya datang dengan sebuah mobil sedan. Dia membawa uang Rp. 1000.000,- Saya berusaha menawar tetapi mereka berkeras membayar sesuai dengan tuntutan. Saya akhirnya meminta tanda terima sesuai uang yang saya berikan. Malu juga mukaku. Aku tidak dapat menaklukan orangku. Harga sebuah derek liar diluar kendali petugas.  Dan lebih dari itu keberadaan saya ditengah saudara sedaerahku sendiri, nyawaku juga terancam. Ada yang bersenapan dan siap meledakkan kepalaku kalau perlu.  Hidup ini memang berbahaya.

Benarkah orang Flores seperti itu?  Saya teringat ketika saya berkunjung ke Jepang. Saya berada di Sinjuku. Tokyo. Kami menonton lifeshow di pusat kota bersama rombongan pengusaha Indonesia yang disponsor KADIN.  Ketika mengikuti ibadah hari minggu di sebuah gereja Katolik di Nagoya saya bertemu dengan seorang pastor Amerika. Kami berceritera. Saya lalu bercerita tentang pengalaman luarbiasa menonton striptease. Waktu itu saya beri kesan negatif tentang Jepang. Lalu sang pastor bilang tergantung kamu jatuh di mana. Kalau kamu jatuh di lumpur, maka kamu akan bilang daerah itu dikenang sebagai daerah becek. Tetapi ternyata itu hanya sepenggal kecil dari suatu wilayah yang sangat luas.  Jepang tentu tidak sejelek itu. Kali ini saya sendiri berada ditengah orang daerah saya sendiri. Ada pemerasan derek liar, ada kekerasan fisik kalau perlu menyabut nyawa orang lain. Nyawa saya sendiri nyaris melayang. Saya sedang jatuh di kelompok yang salah. Masih banyak orang Flores yang baik dan benar. Namun seperti manusia normal lainnya saya tidak ingin lagi masuk dalam lingkaran penuh bahaya. Hidup tenang dan damai dengan sesama adalah yang paling menyenangkan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MEDO JADI SANKSI DAN DOA PENOLAK BALA

Tuhan selalu dilihat dalam perspektif postif.  Tuhan pencipta. Ini dikenal dengan istilah  welo koo Nggae, oda fonga Nggae (Allah pencipta), yang selalu berkaitan dengan yang baik.  Hidup manusia seperti dalam semua budaya dan kepercayaan berasal dari Tuhan, demikian juga orang Nagekeo.  Dalam menyelenggarakan kehidupan manusia dan alam ini Tuhan diyakini memberikan pelajaran.  Tuhan dalam budaya orang Nagekeo bisa marah. Murka Tuhan terungkap dari percakapan harian. Ada yang tidak setuju dengan sikap negatif seorang akan  mengatakan Nggae teki weli kau (Tuhan akan angkat dagumu). Seorang bisa kehabisan napas lehernya tercekik dan dagunya terangkat.

Kemarau panjang atau kematian yang berurutan dalam keluarga besar dianggap sebagai isyarat murka Tuhan. Menghadapi semuanya orang dipaksa untuk merefleksikan semua tindak tanduk dan tutur kata dalam kehidupan bersama. Ada yang berusaha mencari sebab musabab musibah.  Musim hujan dan kemarau adalah dua musim di negara tropis. Harusnya sudah lumrah saja. Tetapi bila hujan yang berkepanjangan dan membawa petaka atau kemarau melebih batas sampai tak tahu kapan musim tanam, warga masyarakat secara kolektif akan bertanya. Ada apa? Ini dianggap tidak wajar. Ini pasti ada sebab. Orang mulai mempergunjingkannya di tenda-tenda sambil merokok dan minum kopi. Keka tua atau tempat penyulingan tuak adalah tempat orang omong-omong sambil mencicipi tuak  yang baru disuling.  Orang mulai ramai mengaudit perbuatan dan tingkah laku warga.

Peda pani adalah sebuah perbuatan yang terlarang. Peda pani adalah hubungan seks antara anggota keluarga dekat, yang masih bertalian saudara dan terlarang. Hubungan incest dalam garis terlarang.  Misalnya wanita dengan keponakannya atau seorang lelaki dengan wanita dari saudara ibu. Seorang lelaki boleh menikahi wanita anak dari saudara laki ibunya (paman).  Hubungan ana weta dan ana nala. Ana nala penyedia anak perempuan dan ana weta penyedia anak laki. Tidak sebaliknya.  Dalam kaitan dengan hubungan seks terlarang adalah peda pani fai ata (berhubungan dengan isteri orang). Hal-hal semacam ini akan muncul kepermukaan dan jadi topik lebih hangat apabila ada perubahaan dalam pola siklus alam. Musim kemarau berkepanjangan. Masyarakat gelisah karena tidak bisa menanam benih.  Panas yang berlebihan juga akan membuat mayang pohon lontar penghasil tuak mengering. Sebahagian orng kehilangan mata pencaharian sebagai penyuling arak. Pesta adat kehilangan kesemrakan tanpa tuak. Dan tuak menjadi sangat mahal.

Suatu saat pada malam hari, bulan memancarkan sinar lembut dan remang-remang menembusu daun pohon kelapa disekeliling kampung. Sejumlah orang ramai menabuh berbagai bambu atau kaleng di depan sebuah pondok. Sebetulnya itu sebuah rumah. Tetapai di desa kami rumah sekecil apa pun diakui sebagai sao (rumah) bila dibangun didalam kampung. Bila dibangun di kebun akan disebut keka donggo ( pondok di luar atau di belakang). Malam itu ramai ada keramaian di sebuah rumah di luar kampung. Pertanda ada hubungan yang tidak dibenarkan adat. Kali ini adalah hubungan perselingkungan dengan isteri orang. Ini yang disebut peda pani. Orang lalu mengaitkan dengan kemarau panjang.

Tidak semua peristiwa akan diangkat ke tengah masyarakat sampai ada perubahan alam sebagai pertanda amarah Allah.  Ada yang segera diangkat kepermukaan untuk menghindari murka Tuhan dan pemulihan hubungan keluarga. Seorang keponakan berhubungan dengn isteri paman. Masyarakat tahu dan keluarga menjadi malu. Ini juga disebut peda pani. Ana peda ine (hubungan anak dan ibu).

Pemulihan harus dilakukan bila ada peda pani jenis terlarang ini. Medo adalah sebuah upacara pemulihan. Masyarakat diundang untuk berkumpul di tempat kejadian perkara.  Keluarga di tempat kejadian akan menyelenggarakan makan bersama dengan menyembelih babi besar.  Darah babi akan direcikan di tempat orang melakukan hubungan atau peda pani, dan kedua orang  pelaku juga direciki darah  (mbasa la). Mbasa la artinya dibasahi dengan darah. Dan masyarakat yang diundang akan makan bersama. Dalam pertemuan sebelum acara diadakan upacara dan sesudah selesai makan bersama (nado) orang melakukan pembicaraan resmi. Pembicaraan akan dimulai dengan ai ade (bertanya), tamu melalui seorang wakil akan bertanya tentang tujuan pertemuan. Pada saat itu orang minum kopi dan merokok.  Dan pihak keluarga melalui wakil akan menjelaskan.  Pertemuan diskors. Makanan disiapkan, babi  disembelih dan dimasak. Pelaku dan dan tempat kejadian perkara dibasahi darah dengan doa tau roka re’e (menolak bala). Pada saat hidangan telah siap  orang berkumpul untuk makan sambil minum tuak. Setelah makan kaum lelaki diberi kopi, sesudah itu disuguhi tuak. Pembicaraan akan dilakukan lagi. Wakil masyarakat ai ade kembali. Tetapi kali ini menanyakan apakah masih ada yang perlu dibicarakan (taku datu pata pede).  Wakil keluarga akan memberikan jawaban dan sering dalam pembicaraan ini orang menyinggung tentang tata nilai dan mulai mengingatkan masyarakat tentang hal-hal yang perlu dijauhkan. Seluruh kegiatan ini disebut MEDO. Medo menjadi upacara adat penolak bala dan juga pemulihan nama baik keluarga.

Posted in ADAT & BUDAYA | Tagged , , , | Leave a comment