BUPATI NAGEKEO JOHANES SAMPING AOH MENUJU PELAMINAN LAGI

Bupati pertama Nagekeo Drs. Joahnes Samping Aoh  pada hari Sabtu tanggal 9 Oktober 2010 kembali  mengucapkan janji suci, kesetiaan seorang lelaki pada seorang wanita di Gereja St. Paskalis Jakarta. Sandingan tempat tumpahan kasihnya adalah dr. Mastiur Magdalena Panggabean.  Tuhan menjadikan segalanya indah pada waktunya, Dia yang mempertemukan, Dia yang mengajarkan tentang kasih, itu tulisan yang tertera dalam kertas undangan. Keindahan itu menjadi nyata melalui upacara suci ketika menyaksikan kedua mempelai berlutut menerima berkat perkawinan setelah mengungkapkan bahwa masing-masing dengan tulus hati dan penuh cinta saling memilih menjadi pasangan. Janji setia dalam untung dan malang, dalam suka dan duka dan akan mencintai dan menghormati seumur hidup.

Jai dan tor-tor  bersanding dalam pentas gembira Ame Nani nee Ine Tiur………

Have a blessed day and a blessed week, a blessed life……………………………Modhe-modhe jeka nipi kombe….. pawe-pawe…. papa pawe jeka ena late……

Posted in Uncategorized | 4 Comments

GULITA MALAM DI BANYAK DESA NAGEKEO

Berkali-kali saya membaca di media massa ibukota yang menulis tentang tenaga surya dan angin.   Omong tentang angin dan matahari, sesungguhnya tidak ada daya tarik. Hampir sepanjang tahun kita selalu diterpa sinar panas tanpa hambat dari sumber tenaga paling dahsyat yang diciptakan Tuhan. Dan kalau mau bicara tentang angin, tidak ada yang sangkal, Indonesia adalah negara kepulauan, yang berarti juga negara penuh pantai. Angin selalu berhembus kencang di daerah-daerah pesisir. Saya jadi ingat kalau berjalan kaki di Wodowata atau Kekakodo atau Wesa Wala di dekat Ketakeo. Hembusan angin sangat kencang menembus pori tubuh kalau perlu menerbangkan benda-benda berat disekitarnya.

Kalau memang benar ada manfaat matahari dan angin, saya sering berangan kapan matahari dan angin menjadi tenaga terbarukan itu dapat memberi sumbangsih bagi manusia, khususnya orang orang kampung di Keo Tengah. Saya bayangkan kalau saja ongkos jalan-jalan santai para anggota dewan yang ingin setudi banding itu dialihkan untuk membangun pusat tenaga listrik dari matahari dan angin. Skalanya sesuaikan saja dengan dana yang ada.  Pasti tidak ada angin sakal umpatan yang melayang kehadapan para anggota dewan. Mereka bahkan bisa jadi dewa penyelemat yang selalu diekori  dan didukung. Tetapi itu hanya angan-angan saja. Anggota dewan akan pilih jalan-jalan. Mumpung ada kesempatan dan anggaran. Buat apa sok suci dan pikirkan orang banyak. Kapan pikir diri sendiri.  Jalan-jalan itu membahagiakan. Setudi sambil jalan dan membanding-bandingkan saja. Apa susahnya. Kalau negara lain makmur, dan tertib kita hanya pulang lapor warga Indonesia tidak tertib. Karena itu tidak pernah makmur. Pasti kita akan omong tentang sepeda motor yang semakin memenuhi jalan raya kita. Banyaknya sepeda motor seharus disyukuri. Karena itu ada tanda kemajuan. Namun yang membuat siapa saja mengakui bahwa sepeda motor menjadi gambaran paling buruk dan promosi bangsa paling tepat tentang budaya tertib bangsa ini.

Malam terlampau gulita di desaku. Ada rumah-rumah di pesisir yang sudah menikmati penerangan listrik selama 12 jam per hari. Tetapi sebahagian terbesar hanya bersuara dalam kelam.  Orang terus tidur lebih awal setelah lelah bekerja. Sorotan lampu pelita dari botol tinta atau kaleng susu tidak bisa menghalau beratnya mata.  Jangan disandingkan bandingan dengan Para anggota dewan.  Mereka bergelimpang fasilitas.  Mereka pantas mendapatkannya. Mereka orang credas pilihan bangsa.  Mereka sedikit orang terpilih. Maka pantas disebut elite.  Mereka bukan orang tersakiti karena dieliminasi dan terus memikul beban utang tak tertanggungkan. Mereka bukan orang yang sakit jiwa karena merasa kalah dan gila. Mereka orang baik-baik.  Mereka tahu belajar pramuka dari Afrika itu akalan untuk pesiar.  Saya yakin kalau para anggota dewan jalan-jalan saja ke Nagekeo, mereka disuruh tidur di rumah penduduk ibukota kabupaten yang masih penuh alang-alang. Mereka akan tahu rasanya jadi rakyat dan merakyatkan pemahaman dewan. Mereka kita ajak saja melihat dari dekat apa yang telah dibuat dengan program KAPET MBAY.  Biar mereka tahu semua program hanya macan kertas tak bertaring dan berkuku yang mencengkeram menjadi program yang dapat direalisasikan.  Karena itu tidak heran Nagekeo dengan irigasi Mbay yang menjadi salah satu  lumbung beras NTT hanya menjadi perkampungan kaum tani dan nelayan terpinggirkan  dan terus tinggal dalam kelam.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PESAN MKIOS DAN TELKOMSEL MEMUAKKAN

Saya pernah kunjungi Jepang dan memiliki teman bisnis. Dia meminta telepon rumah saya. Dia mengagetkan saya. Orang Jepang heran sekali bahwa kami belum punya sambungan telepon, pada hal kami tinggal di Jakarta.  Dia tidak tahu pada masa itu pegawai Telkom Indonesia merasa raja. Kalau ingin cari uang kacaukan saja koneksi. Dan pelanggan besar harus memelihara petugas telekom khusus untuk menjaga jaringan. Pelanggan dijadikan sapi perahan pegawai Telkom.  Biaya pemasangan telepon rumah sampai jutaan rupiah, kepemilikan telepon hanya dalam jumlah terbatas.

Terobosan memasyarakatkan telepon kemudian muncul. Ada yang sadar bahwa ini sumber penghasilan.  Pembeli harus dilayani dan dijaring. Maka kita akhirnya menyaksikan kotak-kotak telepon umum di pinggir jalan atau di tempat umum. Karena sering rusak kemudian muncul usaha Warung Telepon (WARTEL) yang menjamur,  tetapi kini jumlahnya kian menurun. Tidak dapat disangkal pelayanan ini masih tetap perlu.

Pemakaian pulsa telepon di telepon genggam saya memang cukup tinggi. Saya begitu sering melakukan isi ulang pulsa melalui salah satu Kios langganan saya. Selain untuk kepentingan sendiri, ada saja yang meminta pulsa. Meminta pulsa ternyata jauh lebih mudah daripada minta uang. Secara akumulasi  belanja pulsa  ternyata menguras kantong tidak sedikit.  Banyak orang Indonesia yang suka mengobrol pasti tahu banyaknya uang telah habis untuk belanja pulsa.

Pada setiap kali menerima isi ulang pulsa  selalu ada pesan pesan dalam telepon genggam (HP). Tiga buah pesan yang selalu saya terima adalah sebagai berikut:

Pesan dari MKIOS :

Nomor anda telah diisi vouceher dengan Serial Number (010020737364114726). Kirim kejutan dengan pesan suara. Hub#9(no tujuan),cth: #90813 xxx. BiayaRp. 220/call.

Pesan dari TELEKOMSEL

1. Selamat Anda pelanggan yang mendapatkan 1 kesempatan Rp. 550 (tiap isi ulang) untuk raih KAwasaki NINJA150+ ASURANSI rP 10Jt  HUBUNGI *268*1#

2.  Anda pelanggang yang mendapatkan 1 kesempatan Rp. 550 (tiap isi ulang) untuk raih Kawasaki NINJA150R.+TOTAL HADIAH 30jt (+info/hr) +asuransi Rp 10jt Hubungi *268*1#

Pesan-pesan tersebut diatas saya anggap sangat mengganggu. Tidak pernah sekalipun saya mempedulikan pesan ini. Mengangkat pesan ini kedalam tulisan ini hanya karena  ingin menyatakan ketidaknyamanan saya. Bagi saya ini sangat mengganggu dan hanya meminta perhatian saya sesaat. Biasanya saya langsung menghapusnya.  Namun saya tidak tahu pasti dari sekian banyak penerima pasan ini pasti ada saja yang telah memanfaatkannya. Adakah yang pernah beruntung dengan memanfaatkan pesan ini. Mari kita saling berbagi….

Posted in Uncategorized | 1 Comment

VIVERE PERICULOSO

Sore tadi Jumat 1 Oktober 2010 jam 15.00 WIB  saya berjanji bertemu rekan bisnis di sebuah restoran Padang di Jatinegara. Karena dia terlambat saya merobah tempat pertemuan di pusat jajan (food court) di pusat belanja batu batu mulia di seberangnnya. Lokasinya persis di depan stasiun kereta api Jatinegara.  Sambil  menunggu saya menyempatkan diri melihat berbagai batu alam baik yang masih alami maupun yang sudah tergosok. Kalau mau cari batu cincin aneka variasi datang saja ke sana. Ini memang pusat belanja bagi pencinta batu.

Pertemuan kami berlangsung  sambil menikmati kopi gingsen di tempat tersebut.  Tidak terlalu ramai tetapi sayang panasnya tak tertolong. Saya merasa gerah di sana.  Pembicaraan kami tentang business kelas tinggi. Permainan surat berharga, instrumen perbankan. Lawan bicaraku mewakili orang yang mempunyai kapasitas menerbitkan berbagai instrumen perbankan. Berdasakan surat keterangan dari bank plat merah Indonesia, mereka memiliki cash collateral yang dapat dijadikan jaminan kredit perbankan. Saya mewakili sebuah perusahaan di negara adidaya Amerika Serikat.  Pihak kami adalah yang siap untuk memanfaatkan cash collateral.  Pembicaraan kami lumayan intensif dan singkat.  Singkatnya pembicaraan kami karena saya ingin cepat menyudahinya. Alasannya ketika sedang kami berbicara, saya mendapat telepon. Mobil box perusahaan kami diderek oleh tukang derek liar dari jalan tol. Dan mereka memaksa membayar lebih dari satu juta rupiah. Mereka berlaku kasar dan keras. Kata orang kantor saya mereka orang seasal saya. Akhirnya saya datang ke sana.

Ketika saya sampai disana sopir mobil box kami langsung menyapa saya. Seorang pemuda asal Maumere segera menyapa dan berbicara dalam bahasa Sikka. Saya berusaha mengimbanginya walau terkadang tidak paham.  Mobil box akhirnya kembali ke pabrik. Tetapi permintaan uang tetap Rp. 1.000.000,- Permulaan saya sangka akan bisa dikurangi karena saya adalah orang Flores. Saya diajak minum kopi. Tanpa sadar saya berada dalam kelompok orang Flores berasal dari Maumere. Mereka terus bertambah banyak dan dalam keadaan yang sangat tegang. Mereka sedang berkumpul dan siap untuk menghadapi musuh mereka. Katanya mereka sedang terancam akan dihadang kelompok dari Ambon. Msalahnya adalah urusan penguasaan lahan. Saya sempat mengusulkan cara persuasif dan pasifistis.

Hari  semakin gelap. Ada hujan rintik-rintik. Kami berteduh dibawah tenda beratap terpal.  Ketika orang semakin banyak, dan saya merasa mereka adalah saudara saya, saya mulai memotret. Permulaan saya mengambil foto tidak ada yang keberatan. Saya tertarik karena ada banyak orang Flores begitu ramai berkumpul di satu tempat umum. Ketika saya berdiri di pinggir jalan, datang seorang menghampiri saya. Dia sangat keberatan karena difoto. Dia mengaku orang Flores berdarah Jawa. Dia mengancam akan menghabisi saya. Dia menarik tangan saya untuk menyentuh pinggangnya yang berasa keras. “Saya  punya senjata”, katanya.  Sikapnya tiba-tiba berubah buas dan saya akhirnya menghapus semua gambar orang-orang Sikka yang terekam kamera.

Seorang dari kantor saya datang dengan sebuah mobil sedan. Dia membawa uang Rp. 1000.000,- Saya berusaha menawar tetapi mereka berkeras membayar sesuai dengan tuntutan. Saya akhirnya meminta tanda terima sesuai uang yang saya berikan. Malu juga mukaku. Aku tidak dapat menaklukan orangku. Harga sebuah derek liar diluar kendali petugas.  Dan lebih dari itu keberadaan saya ditengah saudara sedaerahku sendiri, nyawaku juga terancam. Ada yang bersenapan dan siap meledakkan kepalaku kalau perlu.  Hidup ini memang berbahaya.

Benarkah orang Flores seperti itu?  Saya teringat ketika saya berkunjung ke Jepang. Saya berada di Sinjuku. Tokyo. Kami menonton lifeshow di pusat kota bersama rombongan pengusaha Indonesia yang disponsor KADIN.  Ketika mengikuti ibadah hari minggu di sebuah gereja Katolik di Nagoya saya bertemu dengan seorang pastor Amerika. Kami berceritera. Saya lalu bercerita tentang pengalaman luarbiasa menonton striptease. Waktu itu saya beri kesan negatif tentang Jepang. Lalu sang pastor bilang tergantung kamu jatuh di mana. Kalau kamu jatuh di lumpur, maka kamu akan bilang daerah itu dikenang sebagai daerah becek. Tetapi ternyata itu hanya sepenggal kecil dari suatu wilayah yang sangat luas.  Jepang tentu tidak sejelek itu. Kali ini saya sendiri berada ditengah orang daerah saya sendiri. Ada pemerasan derek liar, ada kekerasan fisik kalau perlu menyabut nyawa orang lain. Nyawa saya sendiri nyaris melayang. Saya sedang jatuh di kelompok yang salah. Masih banyak orang Flores yang baik dan benar. Namun seperti manusia normal lainnya saya tidak ingin lagi masuk dalam lingkaran penuh bahaya. Hidup tenang dan damai dengan sesama adalah yang paling menyenangkan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MEDO JADI SANKSI DAN DOA PENOLAK BALA

Tuhan selalu dilihat dalam perspektif postif.  Tuhan pencipta. Ini dikenal dengan istilah  welo koo Nggae, oda fonga Nggae (Allah pencipta), yang selalu berkaitan dengan yang baik.  Hidup manusia seperti dalam semua budaya dan kepercayaan berasal dari Tuhan, demikian juga orang Nagekeo.  Dalam menyelenggarakan kehidupan manusia dan alam ini Tuhan diyakini memberikan pelajaran.  Tuhan dalam budaya orang Nagekeo bisa marah. Murka Tuhan terungkap dari percakapan harian. Ada yang tidak setuju dengan sikap negatif seorang akan  mengatakan Nggae teki weli kau (Tuhan akan angkat dagumu). Seorang bisa kehabisan napas lehernya tercekik dan dagunya terangkat.

Kemarau panjang atau kematian yang berurutan dalam keluarga besar dianggap sebagai isyarat murka Tuhan. Menghadapi semuanya orang dipaksa untuk merefleksikan semua tindak tanduk dan tutur kata dalam kehidupan bersama. Ada yang berusaha mencari sebab musabab musibah.  Musim hujan dan kemarau adalah dua musim di negara tropis. Harusnya sudah lumrah saja. Tetapi bila hujan yang berkepanjangan dan membawa petaka atau kemarau melebih batas sampai tak tahu kapan musim tanam, warga masyarakat secara kolektif akan bertanya. Ada apa? Ini dianggap tidak wajar. Ini pasti ada sebab. Orang mulai mempergunjingkannya di tenda-tenda sambil merokok dan minum kopi. Keka tua atau tempat penyulingan tuak adalah tempat orang omong-omong sambil mencicipi tuak  yang baru disuling.  Orang mulai ramai mengaudit perbuatan dan tingkah laku warga.

Peda pani adalah sebuah perbuatan yang terlarang. Peda pani adalah hubungan seks antara anggota keluarga dekat, yang masih bertalian saudara dan terlarang. Hubungan incest dalam garis terlarang.  Misalnya wanita dengan keponakannya atau seorang lelaki dengan wanita dari saudara ibu. Seorang lelaki boleh menikahi wanita anak dari saudara laki ibunya (paman).  Hubungan ana weta dan ana nala. Ana nala penyedia anak perempuan dan ana weta penyedia anak laki. Tidak sebaliknya.  Dalam kaitan dengan hubungan seks terlarang adalah peda pani fai ata (berhubungan dengan isteri orang). Hal-hal semacam ini akan muncul kepermukaan dan jadi topik lebih hangat apabila ada perubahaan dalam pola siklus alam. Musim kemarau berkepanjangan. Masyarakat gelisah karena tidak bisa menanam benih.  Panas yang berlebihan juga akan membuat mayang pohon lontar penghasil tuak mengering. Sebahagian orng kehilangan mata pencaharian sebagai penyuling arak. Pesta adat kehilangan kesemrakan tanpa tuak. Dan tuak menjadi sangat mahal.

Suatu saat pada malam hari, bulan memancarkan sinar lembut dan remang-remang menembusu daun pohon kelapa disekeliling kampung. Sejumlah orang ramai menabuh berbagai bambu atau kaleng di depan sebuah pondok. Sebetulnya itu sebuah rumah. Tetapai di desa kami rumah sekecil apa pun diakui sebagai sao (rumah) bila dibangun didalam kampung. Bila dibangun di kebun akan disebut keka donggo ( pondok di luar atau di belakang). Malam itu ramai ada keramaian di sebuah rumah di luar kampung. Pertanda ada hubungan yang tidak dibenarkan adat. Kali ini adalah hubungan perselingkungan dengan isteri orang. Ini yang disebut peda pani. Orang lalu mengaitkan dengan kemarau panjang.

Tidak semua peristiwa akan diangkat ke tengah masyarakat sampai ada perubahan alam sebagai pertanda amarah Allah.  Ada yang segera diangkat kepermukaan untuk menghindari murka Tuhan dan pemulihan hubungan keluarga. Seorang keponakan berhubungan dengn isteri paman. Masyarakat tahu dan keluarga menjadi malu. Ini juga disebut peda pani. Ana peda ine (hubungan anak dan ibu).

Pemulihan harus dilakukan bila ada peda pani jenis terlarang ini. Medo adalah sebuah upacara pemulihan. Masyarakat diundang untuk berkumpul di tempat kejadian perkara.  Keluarga di tempat kejadian akan menyelenggarakan makan bersama dengan menyembelih babi besar.  Darah babi akan direcikan di tempat orang melakukan hubungan atau peda pani, dan kedua orang  pelaku juga direciki darah  (mbasa la). Mbasa la artinya dibasahi dengan darah. Dan masyarakat yang diundang akan makan bersama. Dalam pertemuan sebelum acara diadakan upacara dan sesudah selesai makan bersama (nado) orang melakukan pembicaraan resmi. Pembicaraan akan dimulai dengan ai ade (bertanya), tamu melalui seorang wakil akan bertanya tentang tujuan pertemuan. Pada saat itu orang minum kopi dan merokok.  Dan pihak keluarga melalui wakil akan menjelaskan.  Pertemuan diskors. Makanan disiapkan, babi  disembelih dan dimasak. Pelaku dan dan tempat kejadian perkara dibasahi darah dengan doa tau roka re’e (menolak bala). Pada saat hidangan telah siap  orang berkumpul untuk makan sambil minum tuak. Setelah makan kaum lelaki diberi kopi, sesudah itu disuguhi tuak. Pembicaraan akan dilakukan lagi. Wakil masyarakat ai ade kembali. Tetapi kali ini menanyakan apakah masih ada yang perlu dibicarakan (taku datu pata pede).  Wakil keluarga akan memberikan jawaban dan sering dalam pembicaraan ini orang menyinggung tentang tata nilai dan mulai mengingatkan masyarakat tentang hal-hal yang perlu dijauhkan. Seluruh kegiatan ini disebut MEDO. Medo menjadi upacara adat penolak bala dan juga pemulihan nama baik keluarga.

Posted in ADAT & BUDAYA | Tagged , , , | Leave a comment

BHANDA NGAI versus BHANDA NGAWU

Saya kadang-kadang terkagum-kagum pada kearifam kecil leluhurku. Dalam budaya masyarakat Keo mamusia dihargai lebih dari pada harta. Suatu saat saya terjebak di sebuah tmpat sepi di sekitar Bhela Bajo. Waktu itu jalan mobil jurusan Raja Maunori baru dibuka. Yang sampai kini dikenang sebagai buah karya Bapa Yacob Nuwa Wea.  Tanpa dia jalan itu mungkin tidak terbuka.  Saya mengendarai sebuah jeep sendirian dari Mauromba dengan tujuan Ende. Setelah melintasi jalan baru Maundai Tudiwado melewati Diameo, dan berusaha menanjak menuju Jawawawo yang gagal, saya meneruskan perjalanan. Di Bhela Bajo kendaran tidak bisa lagi bergerak. Kehabisan kanvas kopling (pedal). Seorang keluar dari pondokan dan berteriak dengan suara agak ketakutan. Karena saya disangka mbolonggede (penyamun).  Malam itu saya jual juga nama Bapa Yacob, yang kebetulan saya kenal baik sejak orang tua.  Lelaki itu pun mulanya ingin mendorong mobil, tapi saya katakan tidak bisa. Tidak apa, saya akan tidur di mobil. Seblumnya setelah ketahuan mobil bakal tidak bisa berjalan lagi, saya menutup pintu dengan membiarkan separuh kaca jendela terbuka, saya berdoa dan ingin tidur saja di kursi mobil. Tetapi yang terjadi Tuhan menolong dengan mengirimkan seorang. Dia mengundangku ke gubugnya.  Setelah sedikit mendengar tentang siapa saya, dia membereskan kain-kain yang tergantung pada sebatang bambu melintang diatas tempat duduk.  Saya mengatakan tidak usah repot. Saya biasa merantau dan terbiasa dengan kesulitan. “Mae  koo weki soo mere”.  Waktu  itu saya mengalah.

Menghargai weki (manusia) lebih daripada segala sesuatu. Kemudian orang yang kita jumpai dan kenal diakui sebagai weki kita (orang kita /keluarga kita) sebuah pengakuan dan penghargaan tulus pada sesama. Berbagai istilah  yang ada selalu membuat saya kagum. Weki soo mere puu ena ngawu (badan lebih berharga dari semua harta).  Dan dalam pernyataan tentang kekayaan pun orang Keo memberikan perbedaan. Bhanda (kaya) diungkapkan dengan dua cara berbeda. Bhanda ngai artinya kaya akal dan kaya pikir serta kaya hati.  Sebuah ungkapan yang membedakan dari bhanda ngawu yaitu kaya benda, kaya barang.  Sementara dalam kedudukan masyarakat orang juga memberi ruang yang lebih besar kepada orang yang bhanda ngai. Yaitu mereka yang menjadi mosa nua daki oda. Mosa wuku udu enga eko. Mosa ta nee ngai rende. Mosa mbabho mbeo. Semua ini mencerminkan pengakuan yang lebih tinggi dan tulus pada sebuah kecerdasan dan kebijakan.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

NAGEKEO JADI BERITA

Judul posting ini mungkin bikin sensasi saja. Nagekeo jadi berita? Berita apa dari Nagekeo? Nagekeo itu kabupaten baru yang sebahagian besar masih hutan dan padang lalang. Ibukota kabupatennya tidak lebih baik dari sebuah kota kecamatan. Karena memang itu ibukota kecamatan. Saya sebagai orang yang jarang ke Mbay, sampai sekrang belum bisa membedakan Mbay dan Danga. Karena saya tahu kantor bupati ada di Danga. Saya pernah masuk kantor Bupati. Jauh dari kesan mewah. Sebuah gedung sederhana, ruang kerja bupati kalah jauh dari kantor camat atau lurah di Jakarta.

Blog ini dikunjungi oleh sejumlah penjelajah dunia maya. Dari blog statistik diketahui bahwa berita yang paling dibaca adalah hal-hal yang berkaitan dengan Nagekeo. Pada satu sisi saya ingin banyak hal remeh temeh tentang Nagekeo sebanyak mungkin ditulis. Sementara dari sisi yang lain, saya yang belum bisa membedakan Danga dengan Mbay ini tidak punya banyak hal yang ditulis tentang Nagekeo.

Seperti niatku sedia kala saya akan berusaha menulis sebanyak mungkin yang berkaitan dengan dunia Nagekeo. Karena ini yang ingin dicari dan ditemukan dalam situs NAGEKEO. Anda pengunjung blog ini yang menginginkan tulisan berbobot dan bagus pasti kecewa dengan isi blog ini. Ini blog dikhususkan untuk segala yang berkaitan dengan Nagekeo. Nagekeo jadi berita. Adat istiadat, makanan dan minuman orang Nagekeo, rumah tinggal orang Nagekeo, asal usul orang Nagekeo, kebiasaan baik dan  buruk yang berkaitan dengan adatnya. Kalau ada yang pernah baca orang Nagekeo bunuh pastornya, itu mungkin ada kaitan dengan adat istiadat kami orang Nagekeo. Bukan ada kebiasan membunuhnya, tetapi bagaimana masyarakat bersikap kalap ketika ingin mempertahankan harga diri.

Untuk mendukung agar semakin banyak ide yang perlu ditulis dalam blog Nagekeo ini mohon sumbang saran dari pengunjung melalui komentar yang anda tinggalkan di beberapa beranda, tamu, jao, soja sadha dll.  Mari kita jadikan segala yang berkaitan dengan Nagekeo terangkat kembali dan NAGEKEO JADI BERITA.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | 3 Comments