GOLKAR BERPAWAI DI KAKI MERAPI SBY USAP AIR MATA DI MENTAWAI

Partai Politik  tidak gempita seperti waktu kampanye menjelang PEMILU. Kampanye PEMILU punya dana, yang dibagikan oleh pemerintah. Uang rakyat juga. Menonton seremoni pemberian bantuan oleh Ketua Umum Golkar seolah menjawabi pertanyaan dalam hatiku.  Dimana Partai Politik ketika  musibah Wasior, tidak ada satu Parta Politik pun yang muncul.? Pemberian bantuan bukan pemberian hadiah. Hadiah diberikan kepada yang punya jasa. Kalau dibilang jasa, jasa apa rakyat ini. Tak pantas diberi hadiah. Ini pemberian cuma-cuma. Ini bantuan kemanusiaan. Tetapi ketika bantuan kemanusian disoroti dan diupacarakan maka semua tahu apa maknanya. Ini sebuah pawai Partai Politik.

Siapa saja pasti terseret rasa haru seorang pengungsi Mentawai yang telah kehilangan segalanya. Di sana tersentuh rasa kemanusiaan sejati seorang SBY yang kebetulan seorang presiden “Siapa namamu…..tabah…tabah…” dan SBY mengusap air mata. Ini bukan upacara seremonial. Ini ungkapan rasa sejati. Bravo SBY, Hidup Presiden.

Advertisements
Posted in Politik | Leave a comment

MBAH MARIJAN MASIH HIDUP SETELAH LETUSAN

Siapa tidak mengenal tokoh Marijan. Dalam iklan minum penambah tenaga, Marijan disandingkan dengan Petinju dunia  dan tokoh binaragawan top Indonesia.  Mbah Marijan tahu gunung Merapi bukan sekedar gundukan bukit batu dan pasir biasa. Ini adalah gunung suci yang punya singgungan dengan Keraton dan pantai atau laut selatan. Laut juga bukan sekedar air di sebuah cekungan tanah tetapi punya roh dan kekuatan luar biasa. Tidak ada orang yang punya kuasa memegang kunci laut. Tetapi yang jelas Mbah Marijan diangkat sebagai juru kunci gunung Merapi. Sebagai orang luar Jawa, apa lagi yang tidak masuk kelompok pencinta alam, saya tidak mengenal tokoh ini. Tetapi tokoh ini menjadi sangat terangkat ketika dia berkali-kali  berseberangan pendapat dengan para ahli gunung berapi.  Mbah Marijan benar.

Rabu Sore 27 Oktober 2010, saya ditelepon oleh seorang teman orang Jawa. Dari percakapan kami mengarahkan saya pada sebuah kesimpulan, percaya saja Tuhan masih ada dan berkuasa. Kami juga akhirnya menyinggung Mbah Marijan, dia terlalu percaya diri. Semua omongan para ahli gunung berapi dianggap angin yang sebentar berhembus lalu mati. Mbah Marijan seolah peramal handal tentang gunung Merapi. Bisa saja masuk akal. Kebersamaan dan kesatuan diri Mbah Marijan dengan alam, membuat dia lebih peka membaca dan merasakan semua aktivitas lingkungannya. Mbah Marijan telah menjadi satu dengan alam. Dia adalah bagian dari alamnya.

Saya pernah berkunjung dan bermalam di tengah masyarakat Badui di Banten.  Saya pernah menikmati keheningan malam di sana. Sebuah malam tanpa cahaya dan bunyi. Mereka sangat yakin bahwa Kenekes menjadi pusat jagat raya.  Karena itu segala tradisi dan keaslian; untuk tidak mengatakan kekunoannya  harus dijaga.  Mbah Marijan sebagai juru kunci Merapi, yakin sekali bahwa Merapi adalah pusat jagad di tanah Jawa.  Dia adalah penjaga kunci Merapi. Akal sehat mengisyaratkan  kita  untuk bertanya apakah gunung sebesar itu masih perlu ada penjaganya?  Apa yang mau dijaga? Sri Sultan HB X mengatakan Mbah Marijan bukan juru kunci Merapi menyiratkan bahwa memang Merapi tidak memerlukan tukang jaga dan pemegang kunci.  Karena menurut Sri Sultan Mbah Marijan adalah juru kunci Keraton untuk upacara di gunung Merapi. Merujuk pada upacara Kraton di gunung, dapat kita pahami keteguhan Mbah Marijan betapa secara rohaniah ia bersatu dengan Merapi.

Keyakinan yang begitu luar biasa membuat Mbah Marijan berkaca mata kuda untuk berteguh pada pendiriannya. Mbah Marijan enggan turun dari tempat  yang begitu berbahaya, karena  merasa ada tanggungjawab atas Merapi.  Jika meninggalkan Merapi berarti dia meninggalkan tanggungjawab.  Mbah Marijan sendiri mengungkapkan melalui sebuah stasiun televisi swasta  bahwa  dia dan merapi ibarat jiwa dan raga. Jiwa harus bersatu dengan raga. Pertanyaan kita mana yang raga dan mana yang jiwa? Kalau Mbah Marijan adalah raga, maka Merapi adalah rohnya.  Mbah Marijan telah pergi, Merapi tetap tegak, roh dan raga telah berpisah. Kalau Merapi tetap ada berarti Marijan hanyalah raga. Raga boleh lenyap, tetapi rohnya tetap ada dan berkuasa.  Merapi masih saja menampilkan roh amarahnya. Wedhus gembel ibarat dengus napas murka dari pengembaraan roh yang telah terpisah dari raga  dan terus bergetayangan mencari raganya, sebuah wadah baru. Siapa pengganti Mbah Marijan, yang siap menjaga kedamaian roh Merapi?

Sikap Mbah Marijan telah menegasi akal sehat kita. Dalam beberapa hal beliau benar. Tetapi kali ini dia seperti Paul si Gurita peramal sepak bola yang mati dalam  kesempitan kolamnya, demikian Mbah Marijan menerima nasib serupa. Paul sang gurita yang sekarang masih dalam lemari beku akan dimakamkan secara istimewa. Mbah Marijan saya yakin akan terus hidup dalam ambigu sikap modern dan mistis orang Indonesia. MBAH MARIJAN masih terus  hidup  untuk mengingatkan kita semua bahwa tak ada yang bisa lawan bila murka Allah itu datang.

Posted in PERJALANAN HIDUP, Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

JAKARTA MACET DAN MATI

Ketika saya berkunjung ke Kuching Malaysia, saya mengagumi jalan-jalanya yang mulus dan teristimewa lengang. Pada malam hari saya tidak melihat ada orang yang melintas di jalan-jalan raya. Seorang Indonesia yang saya jumpa mengatakan kalau yang ada di jalan malam hari itu pasti orang Indonesia.  Seorang sahabat saya Albert Tiong bercerita dia tidak tahan berada di Jakarta. Dia bisa mati cepat. Saya tanya apa alasannya. Macet.. saya tidak kuat menghadapinya.

Saya sering mendengar keluhan teman-teman saya orang Korea. Jakarta macet sekali. Ketika saya di Korea, saya ingat keluhan teman saya yang Korea  di Indonesia .  Di Seoul kota pusat pemerintahan Korea Selatan itu juga macet luar biasa teristimewa pada sore hari. Orang Jepang juga tahu di Tokyo ternyata ada kemacetan.  Memang kemacetan adalah tanda kemajuan besar dalam pembangunan bidang ekonomi.  Jumlah pengguna dan pemilik kendaraan bertambah banyak. Artinya ada peningkatan daya beli. Yang membedakan antara Seoul, Tokyo dan Jakarta adalah sikap orang di jalan raya. Dua kota itu orang tetap taat aturan, sementara di Jakarta setiap orang punya aturan.

Jakarta akhir-akhir ini sudah seperti sebuah gudang atau bengkel penuh kendaraan. Jalan-jalannya padat dengan kendaraan tanpa bisa bergerak.  Kemacetan itu sudah menjadi masalah tak terjawab. Kita tidak tahu lagi apa yang mau diatur. Jumlah kendaraan, luas dan ruas jalan, disiplin manusia atau apa lagi yang harus dibenahi? Kemacetan semakin menjadi-jadi sejak China menyerbu negeri ini dengan produk kendaraan roda dua murah. Pihak bank dan keuangan melihat sebagai ceruk penampung keuntungan. Prosedur pemberian kredit dipermudah dan jadilah jalan raya kita menjadi tempat tumpahan produk China di samping produk-produk yang sudah ada di negeri ini. Yang menjadi masalah adalah kehadiran kendaraan roda dua menjadi pemicu perobahan pola tingkah laku manusia Jakarta.  Pengendara sepeda motor yang dulu dibatasi usianya, kini pemerintah atau aparat sudah menyerah pada keadaan. Anak Sekolah dasar juga bisa berkendara dengan leluasa tanpa ijin. Para pengendara kendaraan roda dua meraja di jalan, kita  kenal dengan geng motor, yang tunggu saat sepi membuat sensasi untuk uji nyali melalui adu cepat.  Yang paling menyebalkan bahwa para pengendara sepeda motor sudah menjadi manusia tak ada sopan santun di jalan. Tidak ada satu aturan pun yang dipatuhi selama keamanannya dirasa (rasa-rasa) aman.  Yang penting dirinya sendiri saja.

Kota Jakarta pasti akan dikenang sebagai kota macet dan mungkin kelak dikenang sebagai kota mati. Ini yang paling kita takuti, para investor asing akan meninggalkan tempat ini. Karena segala sesuatu akan menjadi lebih rumit dan berada dalam ketidakpastian. Waktu adalah uang menjadi waktu terbuang.  Tak ada yang patut disalahkan, yang jelas ini adalah masalah dan pasti harus ada solusi.

Posted in EKONOMI, Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

EMA KAO DARI MAUROMBA

Anas Eo bidan desa, dukun beranak dan ema kao sejati yang selalu menyapaku Tali

Setiap kali pulang kampung saya selalu berjumpa dengan ema kao. Ema kao adalah panggilan untuk kaum ibu sepupu bapa maupun  mama. Ema kao bisa berarti bibi atau tanta. Panggilan ema kao (ibu gendong) menggambarkan sebuah keakraban dan juga hormat seorang anak kepada wanita kerabat orang tua yang berjasa.  Orang orang yang dipanggil ema kao sesungguhnya berjasa dan patut dihormati. Masa kecil kami tidak sepenunya bergantung pada orang tua sendiri. Tetapi para ema kao ikut terlibat. Sejalan dengan perjalanan waktu para ema kao saya sudah banyak yang telah menghadap Tuhan. Saya ingat ema kao saya Theresia Ude yang baru-baru ini menghadap sang Khalik di Mauromba Nuamuri. Tinggal sedikit ema kao saya yang masih ada.

Ada ema kao yang paling saya ingat, yaitu seorang bidan desa. Sebagai seorang dukun beranak autodidak dia telah membuktikan itu paling tidak kepada kami sekeluarga. Dia yang membantu semua persalinan mama saya. Suatu saat bidan tua itu terlambat menolong mama.  Mama akhirnya tidak tertolong dalam persalinan seorang adik kami yang lebih dahulu merintis jalan menghadap Sang Pencipta berselang beberapa jam sebelum mama.  Kami berpasrah dalam kepedihan hingga kini. Ine kami mona ghewo….dalam kepedihan kami berdoa untuk mu dan  dalam keberhasilan kami bersyukur karena mu. Tetapi ketika kami sadar cintamu  tak terbalas, semuanya terasa sia-sia. Karena kasih sejati adalah memberi. Mama telah melakukan itu termasuk dengan memberi nyawamu. Ine…..

 

Posted in ALBUM KENANGAN | Tagged , , , , | Leave a comment

ORANG NAGEKEO BERKEBUN

 

TOWA MBORU

Wajah seorang petani Mauromba

Kalau kita bertanya apa pekerjaan orang Betawi, maka jawabnya pedagang. Dan benar tertera dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) pekerjaannya pedagang. Kerjanya ya jelas duduk, omong-omong dan kalau perlu jalan-jalan. Yang mereka dagangkan adalah buah-buahan  sekali setahun bukan dari hasil kebunnya. Kalau dari lahan sendiri itu hasil usaha leluhurnya.  Hal serupa yang kita lihat di sekitar Aegela atau Boanio. Banyak laki-laki duduk dipinggir jalan berselimut. Kalau ditanya pekerjaannya apa, maka jawabnya petani. Pekerjaan utama duduk, omong-omong dan juga jalan-jalan. Yang lebihnya orang Nagekeo adalah sibuk bila ada urusan adat. Mereka mimiliki semuanya yang dibutuhkan secara instant.

Kami punya seorang adik yang tinggal di kampung. Pekerjaan adik saya petani dengan aktivitas harian mirip orang Betawi dan pasti setali tiga uang dengan pemandangan yang kita lihat dari pantai Selatan sampai Utara Nagekeo. Anda berjalan dari Kekakodo sampai Aegela. Sepanjang jalan akan kita berjumpa dengan sekelompok orang yang mengaku petani dengan pekerjaan utama duduk dan omong-omong. Malah di banyak lokasi di pantai selatan ada orang yang main kartu sepanjang hari dengan bayaran hukum gantung. Bukan hukum gantung mematikan, tetapi menggantungkan segala benda pada kuping mereka.

Petani pasti ada kaitan dengan berkebun atau bekerja di kebun. Adik saya kemarin menelpon saya dan memberitahukan bahwa dia akan menyiangi lahan. Dia memakai tenaga 20 orang dengan bayaran Rp. 40.000, per hari dengan  makan dalam. Artinya termasuk makan. Keluarga yang punya kebun menyiapkan makan.Berita kepada saya berbuntut jelas meminta uang.  Ada kebiasaan adik saya kalau ada sejumlah orang dia pasti menyembelih babi kecil. Orang kampung kami kalau makan daging akan selalu ditambah minuman tuak dan harus dibeli. Sebagai orang yang berkecimpung dalam bisnis, saya menghitung untung rugi. Mengeluarkan uang sebegitu banyak, berapa penghasilan yang diharapkan? Pada kesempatan lain, saya pernah menyaksikan kebun adik saya ditanami jagung dan dikasih pupuk. Ketika pemupukan saya hadir. Ketika saya melewati kebunnya ada beberapa orang sedang melubangi tanah dan menanam pupuk. Saya ke pondok,  adik saya sedang lelap. Waktu itu mereka  menyembelih seekor babi kecil. Karena tinggal agak lama di kampung saya masih sempat mendengar bahwa adik saya memanen jagungnya. Ternyata dia mengundang beberapa kerabat ikut memetik dan pasti mereka mendapat bagiannya, termasuk makan bersama. Adik saya tidak selayaknya petani tetapi  seperti boss saja wira wiri tidak langsung ikut bekerja.

Bertani atau berkebun di kampung-kampung Nagekeo sesungguhnya hanya sekedar menyatakan keberadaannya sebagai petani. Bertani atau berkebun hanya jadi alat bukti bahwa seorang memiliki harkat, punya uma lema (kebon) atau mbunggu dara (ternak). Bertani atau berkebun tidak menjadi sebuah mata pencaharian yang produktif menghasilkan keuntungan dan ketahanan hidup. Karena itu tak heran kaum tani Nagekeo yang selalu mampu memiliki segalanya instant itu secara ekonomis tidak memiliki ketahanan.

Posted in ALBUM KENANGAN | Tagged , , , , , | Leave a comment

DUA GEMBOK PENGAMAN PAGAR RUMAH

Pada mulanya saya ingin merahasiakan. Rumah saya di masuki maling. Semua isi lemari ditumpahkan diatas tempat tidur dan lantai. Lemari pakaian dan semua rak-rak plastik diobrak abrik tuntas. Papan pada rak tingkat paling bawah lemari dicungkil. Sebuah laci dari lemari plastik dari salah satu kamar rumah kami digelandang dan ditaruh di lantai ruang keluarga dekat televisi. Sebuah prahara besar. Satu pasangan baru nikah yang bersama kami keluar rumah mengikuti pertemuan doa diminta datang. Dua pasangan keluarga saya diminta datang. Seorang adik saya yang sedang santai bersama keluarga di Anyer diberitahukan. Saya minta kepada keluarga muda itu untuk tutup mulut. Jangan dihembus berita ini.

Sepanjang malam setelah kejadian itu saya sulit tidur. Saya pikir nyawa saya yang dicari. Dengan melihat orang membongkar pintu rumah kami dan mencungkil dasar lemari, pikir sang penjang tangan, masih ada harta berharga yang diraih.  Kami bukan orang yang punya harta. Jadi sang maling hanya mengambil Rp. 200.000 uang yang disiapkan untuk suatu keperluan.  Muingkin karena buru-buru dia hanya sempat membongkar satu ruang tidur, walaupun lebih luas tetapi ini ruang tidur anak kami, yang kadang-kadang jadi ruang tidur tamu.

Saya akhirnya membongkar rahasia.  Saya pikir ini pasti ulah maling kampung warga tetangga. Pada saat arisan bapa-bapa saya angkat bicara. Saya menghimbau agar semua warga waspada. Maling ternyata sangat dekat dengan kita semua. Maling sudah pasti adalah warga Rukun Tetangga kita.  Buktinya dia mengambil waktu sangat pendek untuk mengobrak abrik rumah.  Saya lalu memuntahkan semua kisah prahara di rumah kediaman kami. Waspada kataku. Keesokan harinya berita meluas dalam Rukun Tetangga kami bahkan sampai ke wilayah sebelahnya.  Isteri saya menjadi lebih takut meninggalkan rumah sendiri. Pagar rumah kami mulai digembok. Anjing kami yang biasa selalu menggonggong dari balik jeruji sekarang dilepaskan tidur diatas bangku teras. Rumah-rumah tetangga semakin diperketat keamanannya. Rumah keluarga tetangga saya, pagar rumahnya diamankan dengan dua gembok.  Saya juga mulai lebih waspada. Tidak lagi santai gaya ata Lomba ta ngawu mona (orang Romba tak punya harta), yang rumahnya tak pernah dikunci sepanjang waktu.  Ketika kami kecil rumah kami tak pernah dikunci. Dasar orang kampung, kata si maling.  Saya hanya pindah tempat ke kota, tetapi masih tak rubah kebiasaan kampungnya.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

UANG DI WILAYAH ABU-ABU DAN BONUS MEMALUKAN

Kemarin saya diberikan selembar black dollar (dollar hitam). Bagi banyak orang awam pasti tidak paham apa itu dollar hitam.  Dollar hitam adalah mata uang dollar sesungguhnya, tetapi masih belum dicuci. Uang semacam itu bila disirami sejenis kimia maka akan menjadi mata uang yang laku di pasar dan diterima bank. Ada tawaran menggiurkan. Bila mau kita yang membiayai pencuciannya dengan membeli kimia ratusan juta  rupiah itu hasilnya fifty fifty. Kaya mendadaklah.  Tidak akan rugi karena imbalan yang ditawarkan juga besar. Dan katanya ada puluhan peti (box) tersegel rapih.  Lain waktu saya bertemu dengan seorang yang ingin menukarkan berpeti-peti bahkan berkontainer IDR atau ADR. IDR adalah mata uang rupiah Indonesia cetakan Australia nominal Rp. 100.000, yang ada plastik. ADR adalah mata uang Indonesia y nominal Rp. 100.ooo,-merah dan Rp. 50.000,- warna biru yang laku di pasaran. IDR/ADR yang ditawarkan adalah mata uang yang belum masuk dalam system perbankan. Yang berhubungan dengan ini bukan orang kecil, karena  banyak orang bersenjata. Begitu banyak penipuan dan kejahatan terjadi dalam kaitan dengan bisnis ini. Saya sudah berjumpa dengan banyak orang yang bermain di daerah abu-abu ini.  Selain  yang mengaku pemegang amanah selebihnya kita berurusan dengan para mediator licik penuh dengan jebakan yang merugikan.

Masyarakat Transparansi Indonesia  meraba-raba, menerawang dan mengakui adanya uang-uang yang bisa menghancurkan bangsa ini. Ini uang-uang yang berkaitan dengan orang baik-baik. Mereka orang-orang pilihan, dari pegawai negeri sipil rendahan sampai anggota dewan dan pejabat tinggi negara ini juga. Yang diterawang adalah uang-uang yang masuk dan berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang dan jabatan.

Uang masuk di dalam birokrasi pemerintahan kita dapat ditemukan hampir di semua lini, mulai dari tingkat pelayanan Kepala Lingkungan sampai pada tingkat yang lebih tinggi. Mulai dari soal pengurusan KTP hingga persoalan lain yang lebih besar dan melibatkan pejabat yang lebih tinggi. Aneh memang, karena uang masuk tidak pernah dituliskan di dalam peraturan, namun dia ada dan hidup, bahkan tanpa uang masuk sulit untuk mendapatkan pelayanan publik dengan baik kalau tidak enak dikatakan tidak mungkin mendapatkannya.

Tradisi uang masuk merambah bukan hanya di lingkungan birokrat, melainkan sampai menjadi sebuah rahasia umum. Seorang nenek reot pun memahami bahwa untuk melancarkan urusan birokrasi harus menyerahkan sejumlah uang, kalau tidak demikian, tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Buruknya, tradisi ini telah dianggap sebagai barang halal dan sah-sah saja. Warga pengguna layanan pemerintah menganggapnya sebagai sebuah kewajaran, apalagi birokratnya sendiri. Hal ini membangun sebuah opini mentalitas masyarakat yang ingin berpartisipasi sebagai PNS. Seseorang berkeinginan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil tidak lagi untuk menjadi abdi negara sebagaimana sejatinya, melainkan ingin ikut serta di dalam sistem yang ada itu agar bisa meraup banyak uang yang masuk ke koceknya. Tak heran, warga pun siap mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk mewujudkan mimpi mereka itu. Apalagi namanya kalau bukan ingin menyuap pengambil keputusan untuk diangkat sebagai PNS. Perebutan kesempatan ini menjadi lebih seru karena bisa mengarah pada kompetisi ala judi, mirip permainan QQ dalam kartu domino. Artinya, pemenang yang akan keluar adalah mereka yang mampu menyediakan taruhan paling besar.

Kalau kita kaji kembali, seorang pegawai sebenarnya sudah diberi gaji setiap bulan atau setiap satu periode tertentu sesuai kesepakatan, namun uang masuk tetap harus ada karena uang masuk dianggap satu paket dengan gaji yang mereka dapatkan. Uang masuk bisa berupa uang suap, uang administrasi, uang terima kasih, uang rokok, dan lain-lain.

Masyarakat Transparansi Indonesia memberikan beberapa pengertian tentang istilah uang masuk seperti berikut ini:

  1. Uang Tip: Sama dengan ‘budaya amplop’ yakni memberikan uang ekstra kepada seseorang karena jasanya/pelayanannya. Istilah ini muncul karena pengaruh budaya Barat yakni pemberian uang ekstra kepada pelayan di restoran atau hotel.
  2. Angpao: Pada awalnya muncul untuk menggambarkan kebiasaan yang dilakukan oleh etnis Cina yang memberikan uang dalam amplop kepada penyelenggara pesta. Dalam perkembangan selanjutnya, hingga saat ini istilah ini digunakan untuk menggambarkan pemberian uang kepada petugas ketika mengurus sesuatu di mana pemberian ini sifatnya tidak resmi atau tidak ada dalam peraturan
  3. Uang Administrasi: Pemberian uang tidak resmi kepada aparat dalam proses pengurusan surat-surat penting atau penyelesaian perkara/kasus agar penyelesaiannya cepat selesai.
  4. Uang Diam: Pemberian dana kepada pihak pemeriksa agar kekurangan pihak yang diperiksa tidak ditindaklanjuti. Uang diam biasanya diberikan kepada anggota DPRD ketika memeriksa pertanggung jawaban walikota/gubernur agar pertanggung jawabanya lolos.
  5. Uang Bensin: Uang yang diberikan sebagai balas jasa atas bantuan yang diberikan oleh seseorang. Istilah ini menggambarkan ketika seseorang yang akrab satu sama lain, seperti antara temen satu dengan yang lain. Misalnya A minta bantuan B untuk membeli sesuatu, si B biasanya melontarkan pernyataan, uang bensinya mana ?
  6. Uang Pelicin: Menunjuk pada pemberian sejumlah dana (uang) untuk memperlancar (mempermudah) pengurusan perkara atau surat penting.
  7. Uang Ketok: Uang yang digunakan untuk mempengaruhi keputusan agar berpihak kepada pemberi uang. Istilah ini biasanya ditujukan kepada hakim dan anggota legislatif yang memutuskan perkara atau menyetujui/mengesahkan anggaran usulan eksekutif, dilakukan secara tidak transparan.
  8. Uang Kopi: Uang tidak resmi yang diminta oleh aparat pemerintah atau kalangan swasta. Permintaan ini sifatnya individual dan berlaku di masyarakat umum.
  9. Uang Pangkal: Uang yang diminta sebelum melaksanakan suatu pekerjaan/kegiatan agar pekerjaan tersebut lancar
  10. Uang Rokok: Pemberian uang yang tidak resmi kepada aparat dalam proses pengurusan surat-surat penting atau penyelesaian perkara/kasus penyelesaianya cepat.
  11. Uang Damai: Digunakan ketika menghindari sanksi formal dan lebih memberikan sesuatu biasanya berupa uang/materi_ sebagai ganti rugi sanksi formal.
  12. Uang di Bawah Meja: Pemberian uang tidak resmi kepada petugas ketika mengurus/membuat surat penting agar prosesnya cepat
  13. Tahu Sama Tahu: Digunakan di kalangan bisnis atau birokrat ketika meminta bagian/sejumlah uang. Maksud antara yang meminta dan yang memberi uang sama-sama mengerti dan hal tersebut tidak perlu diucapkan.
  14. Uang Lelah: Menunjuk pada pemberian uang secara tidak resmi ketika melakukan suatu kegiatan. Uang lelah ini bisanya diminta oleh orang yang diminta bantuanya untuk membantu orang lain. Istilah ini kemudian sering digunakan oleh birokrat ketika melayani masyarakat untuk mendapatkan uang lebih

Apa pun istilahnya dan apa pun pengertiannya, uang masuk adalah uang haram yang tidak seharusnya menjadi miliknya, namun dipaksa karena kekuasaan yang ada pada mereka. Berapa pun jumlahnya dan apa pun alasannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa kelak.

Eksistensi gaji PNS yang sering disebut-sebut tidak cukup dari awal bulan hingga ke akhir bulan mengisyaratkan halalnya melakukan korupsi di negeri ini, namun tidak demikian hakikatnya. Hidup adalah pilihan. Ketidaknyamanan dengan gaji yang ada saat ini tidak serta merta menghalalkan barang haram untuk memberikan advokasi (pembenaran) atas tindakan-tindakan koruptif. Kalau PNS tidak nyaman dengan gaji yang ada, masih terbuka lebar pintu untuk mengundurkan diri dan mencari jalan hidup yang lebih baik, ketimbang menegakkan sistem buta yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Istilah-istilah korupsi berkaitan dengan uang masuk ada di hampir setiap daerah. Masyarakat Transparansi Indonesia mencontohkannya seperti berikut ini:

Medan

  1. Hepeng parkopi (uang kopi): Uang tambahan yang diberikan ketika melakukan suatu urusan, misalnya berkaitan dengan urusan administrasi
  2. Hepeng par sigaret (uang rokok): Uang yang dibayarkan oleh seseorang untuk mempercepat penyelesaian suatu urusan. Istilah ini muncul ketika warga harus berurusan dengan aparat, terutama ketika mengurus administrasi, seperti surat izin.
  3. Hepeng pataruon (uang antar): Uang yang diberikan kepada seseorang untuk meneruskan urusan kepada seseorang. Misalnya uang diberikan oleh warga kepada pegawai PDAM yang melakukan pencatatan meteran dan menagih pembayaranya. Warga bersedia melakukan itu karena merasa sudah ditolong sehingga tidak perlu bersusah payah membayar ke loket.
  4. Uang pago-pago: Uang yang diberikan suatu proyek atau kegiatan yang dibagi-bagikan. Misalnya, ketika mendapatkan proyek, kita harus memberikan uang pago-pago kepada pemberi proyek.
  5. Silua: Menggambarkan kebiasaan untuk membawa oleh-oleh ketika berkunjung ke rumah seseorang. Kebiasaan ini kemudian berkembang tidak hanya dilakukan ketika berkunjung ke rumah kerabat, tetapi juga dilakukan oleh bawahan ketika berkunjung ke rumah atasan agar memperoleh kenaikan jabatan.
  6. Manulangi: Membuat suatu acara dengan memberi makan kepada seseorang yang dihormati.
  7. Hepeng hamuliateon: Uang yang diberikan kepada seseoarang karena telah membantu mempercepat penyelesaian suatu urusan, misalnya dalam pengurusan administrasi.
  8. Hapeng siram: Uang yang diberikan untuk menyogok seseorang agar urusannya dipermudah.

Bandung

  1. Biong: Makelar tanah yang menjual tanah dengan harga tinggi untuk mendapatkan keuntungan yang besar meskipun itu tanah negara, dengan cara mempengaruhi masyarakat untuk menyerobot tanah negara dan dijual oleh makelar tersebut ke tangan orang lain dengan harga tinggi.
  2. CNN (can nulis-nulis acan): Artinya tidak pernah nulis. Merupakan plesetan dari nama stasion televisi Amerika. Digunakan untuk menggambarkan wartawan yang suka meminta uang dari para pejabat yang korup dengan mengancam jika tidakdiberikan maka kedok pejabat tersebut akan dibuka.
  3. Ceceremed: Artinya panjang tangan, suka mengambil yang bukan haknya. Digunakan untuk menggambarkan orang yang mengambil barang milik kantor atau milik negara, misalnya mengambil pulpen dari kantor atau bahkan uang.
  4. D3 (duit, duekuet dan dulur): Merupakan akronim dari duit (uang), duekuet (dekat) dan dulur (saudara). Digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi di mana jika seseorang ingin memperoleh pekerjaan makaia harus mempunyai D-3.
  5. Dikurud: Artinya dipotong, memotongi janggut atau kumis. Kemudian digunakan untuk menggambarkan anggaran yang dipotong atau mengambil benda yang bukan miliknya. Misalnya suatu daerah menerima dana program, seharusnya 5 juta, tetapi kenyataanya hanya 2 juta karena sudah dipotong 3 juta.
  6. Dipancong: Artinya terkena cangkul secara tidak sengaja, istilah ini kemudian digunakan untuk menggambarkan pemotongan anggaran, baik itu dana proyek maupun dana perjalanan.
  7. Injek: Digunakan untuk menggambarkan penyalahgunaan kekuasaan pejabat yang lebih tinggi untuk menekan pejabat yang lebih rendah yang dianggap menghalangi.

Padang

  1. Uang takuik: Uang takut, uang yang dipungut secara liar oleh preman dan agen liar di terminal atau di daerah-daerah tertentu yang dilewati oleh angkutan umum.
  2. Jariah manantang buliah: Setiap ada pekerjaan harus diberi imbalan.
  3. Bajalan baaleh tapak: Setiap ada perjalanan harus ada ongkosnya baik uang makan maupun uang yang diberikan ketika suatu urusan telah selesai.
  4. Bakameh: Uang yang diberikan kepada seorang pejabat yang akan dipindahtugaskan atau habis masa jabatannya. Orang yang memberikan bakameh adalah mitra atau rekan pejabat tersebut.
  5. Sumbar: Merupakan akronim dari semua uang masuk bagi rata. Misalnya, dalam suatu proyek ada dana sisa hasil proyek maka dana tersebut harus dibagi rata kepada semua orang yang terlibat dalam proyek tersebut.
  6. Uang danga: Uang dengar, yakni uang yang didapat dari kehadiran dan mendengar suatu transaksi yang bernilai jual.

Makassar

  1. Pamalli kaluru: Tindakan yang dilakukan oleh petugas yang meminta imbalan uang kepada warga yang mengurus suatu urusan/surat-surat. Pihak-pihak yang terlibat adalah petugas suatu instansi pemerintah yang berurusan dengan surat-surat resmi, seperti imigrasi, keluruhan dan ditlantas
  2. Pamalli bensing: Seseoarang yang meminta uang pembelian bensin kepada pejabat, jika ia akan bertugas karena diperintah oleh pejabat yang bersangkutan.
  3. Passidaka: Memberikan hadiah sebagai penghormatan kepada tokoh agama atau tokoh masyarakat. Kemudian berkembang, pemberian hadiah itu tidak hanya ditujukan kepada tokoh agama/masyarakat, tetapi juga kepada pejabat. Tujuannya agar mendapatkan posisi yang baik dalam pekerjaan, mendapatkan kenaikan jabatan atau agar urusan bisnisnya diperlancar.
  4. Pa’bere: Pemberian kepada seseorang yang berjasa membantu urusan seperti KTP, SIM atau STNK sehingga proses pembuatanya cepat dan mudah.
  5. Dikobbi: Tindakan yang dilakukan petugas/aparat ketika meminta sesuatu imbalan kepada yang berurusan, cukup dicolek saja agar urusan lancar. Istilah ini digunakan untuk memperhalus perilaku petugas yang meminta sogok.
  6. Amapo (uang amplop): Digunakan oleh wartawan yang biasa meminta amapo kepada pejabat yang diwawancarainya. Istilah ini menggambarkan praktek penyuapan.

Pelayanan publik berwawasan good governance akan dapat ditegakkan di negara kita menuju Indonesia yang lebih baik merupakan harapan dan  cita-cita kita semua. Merasul dan menjadi pahlawan merupakan tugas mulia  tetapi sulit. Tetapi  saya begitu yakin tidak ada yang mustahil, milailah dengan lingkungan kecil keluarga dan diri kita. Ketika saya akan ke Jakarta pesan opa saya Dombo Sina :”Koo ata koo ata … koo kita koo kita…” ditafsirkan jangan mencuri dan korupsi.   Semoga….. (  amrimunthe.wordpress).

Posted in Uncategorized | 2 Comments