ORANG NAGEKEO BERKEBUN

 

TOWA MBORU

Wajah seorang petani Mauromba

Kalau kita bertanya apa pekerjaan orang Betawi, maka jawabnya pedagang. Dan benar tertera dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) pekerjaannya pedagang. Kerjanya ya jelas duduk, omong-omong dan kalau perlu jalan-jalan. Yang mereka dagangkan adalah buah-buahan  sekali setahun bukan dari hasil kebunnya. Kalau dari lahan sendiri itu hasil usaha leluhurnya.  Hal serupa yang kita lihat di sekitar Aegela atau Boanio. Banyak laki-laki duduk dipinggir jalan berselimut. Kalau ditanya pekerjaannya apa, maka jawabnya petani. Pekerjaan utama duduk, omong-omong dan juga jalan-jalan. Yang lebihnya orang Nagekeo adalah sibuk bila ada urusan adat. Mereka mimiliki semuanya yang dibutuhkan secara instant.

Kami punya seorang adik yang tinggal di kampung. Pekerjaan adik saya petani dengan aktivitas harian mirip orang Betawi dan pasti setali tiga uang dengan pemandangan yang kita lihat dari pantai Selatan sampai Utara Nagekeo. Anda berjalan dari Kekakodo sampai Aegela. Sepanjang jalan akan kita berjumpa dengan sekelompok orang yang mengaku petani dengan pekerjaan utama duduk dan omong-omong. Malah di banyak lokasi di pantai selatan ada orang yang main kartu sepanjang hari dengan bayaran hukum gantung. Bukan hukum gantung mematikan, tetapi menggantungkan segala benda pada kuping mereka.

Petani pasti ada kaitan dengan berkebun atau bekerja di kebun. Adik saya kemarin menelpon saya dan memberitahukan bahwa dia akan menyiangi lahan. Dia memakai tenaga 20 orang dengan bayaran Rp. 40.000, per hari dengan  makan dalam. Artinya termasuk makan. Keluarga yang punya kebun menyiapkan makan.Berita kepada saya berbuntut jelas meminta uang.  Ada kebiasaan adik saya kalau ada sejumlah orang dia pasti menyembelih babi kecil. Orang kampung kami kalau makan daging akan selalu ditambah minuman tuak dan harus dibeli. Sebagai orang yang berkecimpung dalam bisnis, saya menghitung untung rugi. Mengeluarkan uang sebegitu banyak, berapa penghasilan yang diharapkan? Pada kesempatan lain, saya pernah menyaksikan kebun adik saya ditanami jagung dan dikasih pupuk. Ketika pemupukan saya hadir. Ketika saya melewati kebunnya ada beberapa orang sedang melubangi tanah dan menanam pupuk. Saya ke pondok,  adik saya sedang lelap. Waktu itu mereka  menyembelih seekor babi kecil. Karena tinggal agak lama di kampung saya masih sempat mendengar bahwa adik saya memanen jagungnya. Ternyata dia mengundang beberapa kerabat ikut memetik dan pasti mereka mendapat bagiannya, termasuk makan bersama. Adik saya tidak selayaknya petani tetapi  seperti boss saja wira wiri tidak langsung ikut bekerja.

Bertani atau berkebun di kampung-kampung Nagekeo sesungguhnya hanya sekedar menyatakan keberadaannya sebagai petani. Bertani atau berkebun hanya jadi alat bukti bahwa seorang memiliki harkat, punya uma lema (kebon) atau mbunggu dara (ternak). Bertani atau berkebun tidak menjadi sebuah mata pencaharian yang produktif menghasilkan keuntungan dan ketahanan hidup. Karena itu tak heran kaum tani Nagekeo yang selalu mampu memiliki segalanya instant itu secara ekonomis tidak memiliki ketahanan.

Posted in ALBUM KENANGAN | Tagged , , , , , | Leave a comment

DUA GEMBOK PENGAMAN PAGAR RUMAH

Pada mulanya saya ingin merahasiakan. Rumah saya di masuki maling. Semua isi lemari ditumpahkan diatas tempat tidur dan lantai. Lemari pakaian dan semua rak-rak plastik diobrak abrik tuntas. Papan pada rak tingkat paling bawah lemari dicungkil. Sebuah laci dari lemari plastik dari salah satu kamar rumah kami digelandang dan ditaruh di lantai ruang keluarga dekat televisi. Sebuah prahara besar. Satu pasangan baru nikah yang bersama kami keluar rumah mengikuti pertemuan doa diminta datang. Dua pasangan keluarga saya diminta datang. Seorang adik saya yang sedang santai bersama keluarga di Anyer diberitahukan. Saya minta kepada keluarga muda itu untuk tutup mulut. Jangan dihembus berita ini.

Sepanjang malam setelah kejadian itu saya sulit tidur. Saya pikir nyawa saya yang dicari. Dengan melihat orang membongkar pintu rumah kami dan mencungkil dasar lemari, pikir sang penjang tangan, masih ada harta berharga yang diraih.  Kami bukan orang yang punya harta. Jadi sang maling hanya mengambil Rp. 200.000 uang yang disiapkan untuk suatu keperluan.  Muingkin karena buru-buru dia hanya sempat membongkar satu ruang tidur, walaupun lebih luas tetapi ini ruang tidur anak kami, yang kadang-kadang jadi ruang tidur tamu.

Saya akhirnya membongkar rahasia.  Saya pikir ini pasti ulah maling kampung warga tetangga. Pada saat arisan bapa-bapa saya angkat bicara. Saya menghimbau agar semua warga waspada. Maling ternyata sangat dekat dengan kita semua. Maling sudah pasti adalah warga Rukun Tetangga kita.  Buktinya dia mengambil waktu sangat pendek untuk mengobrak abrik rumah.  Saya lalu memuntahkan semua kisah prahara di rumah kediaman kami. Waspada kataku. Keesokan harinya berita meluas dalam Rukun Tetangga kami bahkan sampai ke wilayah sebelahnya.  Isteri saya menjadi lebih takut meninggalkan rumah sendiri. Pagar rumah kami mulai digembok. Anjing kami yang biasa selalu menggonggong dari balik jeruji sekarang dilepaskan tidur diatas bangku teras. Rumah-rumah tetangga semakin diperketat keamanannya. Rumah keluarga tetangga saya, pagar rumahnya diamankan dengan dua gembok.  Saya juga mulai lebih waspada. Tidak lagi santai gaya ata Lomba ta ngawu mona (orang Romba tak punya harta), yang rumahnya tak pernah dikunci sepanjang waktu.  Ketika kami kecil rumah kami tak pernah dikunci. Dasar orang kampung, kata si maling.  Saya hanya pindah tempat ke kota, tetapi masih tak rubah kebiasaan kampungnya.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

UANG DI WILAYAH ABU-ABU DAN BONUS MEMALUKAN

Kemarin saya diberikan selembar black dollar (dollar hitam). Bagi banyak orang awam pasti tidak paham apa itu dollar hitam.  Dollar hitam adalah mata uang dollar sesungguhnya, tetapi masih belum dicuci. Uang semacam itu bila disirami sejenis kimia maka akan menjadi mata uang yang laku di pasar dan diterima bank. Ada tawaran menggiurkan. Bila mau kita yang membiayai pencuciannya dengan membeli kimia ratusan juta  rupiah itu hasilnya fifty fifty. Kaya mendadaklah.  Tidak akan rugi karena imbalan yang ditawarkan juga besar. Dan katanya ada puluhan peti (box) tersegel rapih.  Lain waktu saya bertemu dengan seorang yang ingin menukarkan berpeti-peti bahkan berkontainer IDR atau ADR. IDR adalah mata uang rupiah Indonesia cetakan Australia nominal Rp. 100.000, yang ada plastik. ADR adalah mata uang Indonesia y nominal Rp. 100.ooo,-merah dan Rp. 50.000,- warna biru yang laku di pasaran. IDR/ADR yang ditawarkan adalah mata uang yang belum masuk dalam system perbankan. Yang berhubungan dengan ini bukan orang kecil, karena  banyak orang bersenjata. Begitu banyak penipuan dan kejahatan terjadi dalam kaitan dengan bisnis ini. Saya sudah berjumpa dengan banyak orang yang bermain di daerah abu-abu ini.  Selain  yang mengaku pemegang amanah selebihnya kita berurusan dengan para mediator licik penuh dengan jebakan yang merugikan.

Masyarakat Transparansi Indonesia  meraba-raba, menerawang dan mengakui adanya uang-uang yang bisa menghancurkan bangsa ini. Ini uang-uang yang berkaitan dengan orang baik-baik. Mereka orang-orang pilihan, dari pegawai negeri sipil rendahan sampai anggota dewan dan pejabat tinggi negara ini juga. Yang diterawang adalah uang-uang yang masuk dan berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang dan jabatan.

Uang masuk di dalam birokrasi pemerintahan kita dapat ditemukan hampir di semua lini, mulai dari tingkat pelayanan Kepala Lingkungan sampai pada tingkat yang lebih tinggi. Mulai dari soal pengurusan KTP hingga persoalan lain yang lebih besar dan melibatkan pejabat yang lebih tinggi. Aneh memang, karena uang masuk tidak pernah dituliskan di dalam peraturan, namun dia ada dan hidup, bahkan tanpa uang masuk sulit untuk mendapatkan pelayanan publik dengan baik kalau tidak enak dikatakan tidak mungkin mendapatkannya.

Tradisi uang masuk merambah bukan hanya di lingkungan birokrat, melainkan sampai menjadi sebuah rahasia umum. Seorang nenek reot pun memahami bahwa untuk melancarkan urusan birokrasi harus menyerahkan sejumlah uang, kalau tidak demikian, tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Buruknya, tradisi ini telah dianggap sebagai barang halal dan sah-sah saja. Warga pengguna layanan pemerintah menganggapnya sebagai sebuah kewajaran, apalagi birokratnya sendiri. Hal ini membangun sebuah opini mentalitas masyarakat yang ingin berpartisipasi sebagai PNS. Seseorang berkeinginan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil tidak lagi untuk menjadi abdi negara sebagaimana sejatinya, melainkan ingin ikut serta di dalam sistem yang ada itu agar bisa meraup banyak uang yang masuk ke koceknya. Tak heran, warga pun siap mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk mewujudkan mimpi mereka itu. Apalagi namanya kalau bukan ingin menyuap pengambil keputusan untuk diangkat sebagai PNS. Perebutan kesempatan ini menjadi lebih seru karena bisa mengarah pada kompetisi ala judi, mirip permainan QQ dalam kartu domino. Artinya, pemenang yang akan keluar adalah mereka yang mampu menyediakan taruhan paling besar.

Kalau kita kaji kembali, seorang pegawai sebenarnya sudah diberi gaji setiap bulan atau setiap satu periode tertentu sesuai kesepakatan, namun uang masuk tetap harus ada karena uang masuk dianggap satu paket dengan gaji yang mereka dapatkan. Uang masuk bisa berupa uang suap, uang administrasi, uang terima kasih, uang rokok, dan lain-lain.

Masyarakat Transparansi Indonesia memberikan beberapa pengertian tentang istilah uang masuk seperti berikut ini:

  1. Uang Tip: Sama dengan ‘budaya amplop’ yakni memberikan uang ekstra kepada seseorang karena jasanya/pelayanannya. Istilah ini muncul karena pengaruh budaya Barat yakni pemberian uang ekstra kepada pelayan di restoran atau hotel.
  2. Angpao: Pada awalnya muncul untuk menggambarkan kebiasaan yang dilakukan oleh etnis Cina yang memberikan uang dalam amplop kepada penyelenggara pesta. Dalam perkembangan selanjutnya, hingga saat ini istilah ini digunakan untuk menggambarkan pemberian uang kepada petugas ketika mengurus sesuatu di mana pemberian ini sifatnya tidak resmi atau tidak ada dalam peraturan
  3. Uang Administrasi: Pemberian uang tidak resmi kepada aparat dalam proses pengurusan surat-surat penting atau penyelesaian perkara/kasus agar penyelesaiannya cepat selesai.
  4. Uang Diam: Pemberian dana kepada pihak pemeriksa agar kekurangan pihak yang diperiksa tidak ditindaklanjuti. Uang diam biasanya diberikan kepada anggota DPRD ketika memeriksa pertanggung jawaban walikota/gubernur agar pertanggung jawabanya lolos.
  5. Uang Bensin: Uang yang diberikan sebagai balas jasa atas bantuan yang diberikan oleh seseorang. Istilah ini menggambarkan ketika seseorang yang akrab satu sama lain, seperti antara temen satu dengan yang lain. Misalnya A minta bantuan B untuk membeli sesuatu, si B biasanya melontarkan pernyataan, uang bensinya mana ?
  6. Uang Pelicin: Menunjuk pada pemberian sejumlah dana (uang) untuk memperlancar (mempermudah) pengurusan perkara atau surat penting.
  7. Uang Ketok: Uang yang digunakan untuk mempengaruhi keputusan agar berpihak kepada pemberi uang. Istilah ini biasanya ditujukan kepada hakim dan anggota legislatif yang memutuskan perkara atau menyetujui/mengesahkan anggaran usulan eksekutif, dilakukan secara tidak transparan.
  8. Uang Kopi: Uang tidak resmi yang diminta oleh aparat pemerintah atau kalangan swasta. Permintaan ini sifatnya individual dan berlaku di masyarakat umum.
  9. Uang Pangkal: Uang yang diminta sebelum melaksanakan suatu pekerjaan/kegiatan agar pekerjaan tersebut lancar
  10. Uang Rokok: Pemberian uang yang tidak resmi kepada aparat dalam proses pengurusan surat-surat penting atau penyelesaian perkara/kasus penyelesaianya cepat.
  11. Uang Damai: Digunakan ketika menghindari sanksi formal dan lebih memberikan sesuatu biasanya berupa uang/materi_ sebagai ganti rugi sanksi formal.
  12. Uang di Bawah Meja: Pemberian uang tidak resmi kepada petugas ketika mengurus/membuat surat penting agar prosesnya cepat
  13. Tahu Sama Tahu: Digunakan di kalangan bisnis atau birokrat ketika meminta bagian/sejumlah uang. Maksud antara yang meminta dan yang memberi uang sama-sama mengerti dan hal tersebut tidak perlu diucapkan.
  14. Uang Lelah: Menunjuk pada pemberian uang secara tidak resmi ketika melakukan suatu kegiatan. Uang lelah ini bisanya diminta oleh orang yang diminta bantuanya untuk membantu orang lain. Istilah ini kemudian sering digunakan oleh birokrat ketika melayani masyarakat untuk mendapatkan uang lebih

Apa pun istilahnya dan apa pun pengertiannya, uang masuk adalah uang haram yang tidak seharusnya menjadi miliknya, namun dipaksa karena kekuasaan yang ada pada mereka. Berapa pun jumlahnya dan apa pun alasannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa kelak.

Eksistensi gaji PNS yang sering disebut-sebut tidak cukup dari awal bulan hingga ke akhir bulan mengisyaratkan halalnya melakukan korupsi di negeri ini, namun tidak demikian hakikatnya. Hidup adalah pilihan. Ketidaknyamanan dengan gaji yang ada saat ini tidak serta merta menghalalkan barang haram untuk memberikan advokasi (pembenaran) atas tindakan-tindakan koruptif. Kalau PNS tidak nyaman dengan gaji yang ada, masih terbuka lebar pintu untuk mengundurkan diri dan mencari jalan hidup yang lebih baik, ketimbang menegakkan sistem buta yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Istilah-istilah korupsi berkaitan dengan uang masuk ada di hampir setiap daerah. Masyarakat Transparansi Indonesia mencontohkannya seperti berikut ini:

Medan

  1. Hepeng parkopi (uang kopi): Uang tambahan yang diberikan ketika melakukan suatu urusan, misalnya berkaitan dengan urusan administrasi
  2. Hepeng par sigaret (uang rokok): Uang yang dibayarkan oleh seseorang untuk mempercepat penyelesaian suatu urusan. Istilah ini muncul ketika warga harus berurusan dengan aparat, terutama ketika mengurus administrasi, seperti surat izin.
  3. Hepeng pataruon (uang antar): Uang yang diberikan kepada seseorang untuk meneruskan urusan kepada seseorang. Misalnya uang diberikan oleh warga kepada pegawai PDAM yang melakukan pencatatan meteran dan menagih pembayaranya. Warga bersedia melakukan itu karena merasa sudah ditolong sehingga tidak perlu bersusah payah membayar ke loket.
  4. Uang pago-pago: Uang yang diberikan suatu proyek atau kegiatan yang dibagi-bagikan. Misalnya, ketika mendapatkan proyek, kita harus memberikan uang pago-pago kepada pemberi proyek.
  5. Silua: Menggambarkan kebiasaan untuk membawa oleh-oleh ketika berkunjung ke rumah seseorang. Kebiasaan ini kemudian berkembang tidak hanya dilakukan ketika berkunjung ke rumah kerabat, tetapi juga dilakukan oleh bawahan ketika berkunjung ke rumah atasan agar memperoleh kenaikan jabatan.
  6. Manulangi: Membuat suatu acara dengan memberi makan kepada seseorang yang dihormati.
  7. Hepeng hamuliateon: Uang yang diberikan kepada seseoarang karena telah membantu mempercepat penyelesaian suatu urusan, misalnya dalam pengurusan administrasi.
  8. Hapeng siram: Uang yang diberikan untuk menyogok seseorang agar urusannya dipermudah.

Bandung

  1. Biong: Makelar tanah yang menjual tanah dengan harga tinggi untuk mendapatkan keuntungan yang besar meskipun itu tanah negara, dengan cara mempengaruhi masyarakat untuk menyerobot tanah negara dan dijual oleh makelar tersebut ke tangan orang lain dengan harga tinggi.
  2. CNN (can nulis-nulis acan): Artinya tidak pernah nulis. Merupakan plesetan dari nama stasion televisi Amerika. Digunakan untuk menggambarkan wartawan yang suka meminta uang dari para pejabat yang korup dengan mengancam jika tidakdiberikan maka kedok pejabat tersebut akan dibuka.
  3. Ceceremed: Artinya panjang tangan, suka mengambil yang bukan haknya. Digunakan untuk menggambarkan orang yang mengambil barang milik kantor atau milik negara, misalnya mengambil pulpen dari kantor atau bahkan uang.
  4. D3 (duit, duekuet dan dulur): Merupakan akronim dari duit (uang), duekuet (dekat) dan dulur (saudara). Digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi di mana jika seseorang ingin memperoleh pekerjaan makaia harus mempunyai D-3.
  5. Dikurud: Artinya dipotong, memotongi janggut atau kumis. Kemudian digunakan untuk menggambarkan anggaran yang dipotong atau mengambil benda yang bukan miliknya. Misalnya suatu daerah menerima dana program, seharusnya 5 juta, tetapi kenyataanya hanya 2 juta karena sudah dipotong 3 juta.
  6. Dipancong: Artinya terkena cangkul secara tidak sengaja, istilah ini kemudian digunakan untuk menggambarkan pemotongan anggaran, baik itu dana proyek maupun dana perjalanan.
  7. Injek: Digunakan untuk menggambarkan penyalahgunaan kekuasaan pejabat yang lebih tinggi untuk menekan pejabat yang lebih rendah yang dianggap menghalangi.

Padang

  1. Uang takuik: Uang takut, uang yang dipungut secara liar oleh preman dan agen liar di terminal atau di daerah-daerah tertentu yang dilewati oleh angkutan umum.
  2. Jariah manantang buliah: Setiap ada pekerjaan harus diberi imbalan.
  3. Bajalan baaleh tapak: Setiap ada perjalanan harus ada ongkosnya baik uang makan maupun uang yang diberikan ketika suatu urusan telah selesai.
  4. Bakameh: Uang yang diberikan kepada seorang pejabat yang akan dipindahtugaskan atau habis masa jabatannya. Orang yang memberikan bakameh adalah mitra atau rekan pejabat tersebut.
  5. Sumbar: Merupakan akronim dari semua uang masuk bagi rata. Misalnya, dalam suatu proyek ada dana sisa hasil proyek maka dana tersebut harus dibagi rata kepada semua orang yang terlibat dalam proyek tersebut.
  6. Uang danga: Uang dengar, yakni uang yang didapat dari kehadiran dan mendengar suatu transaksi yang bernilai jual.

Makassar

  1. Pamalli kaluru: Tindakan yang dilakukan oleh petugas yang meminta imbalan uang kepada warga yang mengurus suatu urusan/surat-surat. Pihak-pihak yang terlibat adalah petugas suatu instansi pemerintah yang berurusan dengan surat-surat resmi, seperti imigrasi, keluruhan dan ditlantas
  2. Pamalli bensing: Seseoarang yang meminta uang pembelian bensin kepada pejabat, jika ia akan bertugas karena diperintah oleh pejabat yang bersangkutan.
  3. Passidaka: Memberikan hadiah sebagai penghormatan kepada tokoh agama atau tokoh masyarakat. Kemudian berkembang, pemberian hadiah itu tidak hanya ditujukan kepada tokoh agama/masyarakat, tetapi juga kepada pejabat. Tujuannya agar mendapatkan posisi yang baik dalam pekerjaan, mendapatkan kenaikan jabatan atau agar urusan bisnisnya diperlancar.
  4. Pa’bere: Pemberian kepada seseorang yang berjasa membantu urusan seperti KTP, SIM atau STNK sehingga proses pembuatanya cepat dan mudah.
  5. Dikobbi: Tindakan yang dilakukan petugas/aparat ketika meminta sesuatu imbalan kepada yang berurusan, cukup dicolek saja agar urusan lancar. Istilah ini digunakan untuk memperhalus perilaku petugas yang meminta sogok.
  6. Amapo (uang amplop): Digunakan oleh wartawan yang biasa meminta amapo kepada pejabat yang diwawancarainya. Istilah ini menggambarkan praktek penyuapan.

Pelayanan publik berwawasan good governance akan dapat ditegakkan di negara kita menuju Indonesia yang lebih baik merupakan harapan dan  cita-cita kita semua. Merasul dan menjadi pahlawan merupakan tugas mulia  tetapi sulit. Tetapi  saya begitu yakin tidak ada yang mustahil, milailah dengan lingkungan kecil keluarga dan diri kita. Ketika saya akan ke Jakarta pesan opa saya Dombo Sina :”Koo ata koo ata … koo kita koo kita…” ditafsirkan jangan mencuri dan korupsi.   Semoga….. (  amrimunthe.wordpress).

Posted in Uncategorized | 2 Comments

ATA LOMBA dan MA’U LOMBA

Ata Lomba adalah kelompok masyarakat adat di pulau Flores, yang berada di wilayah kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo. Nama Lomba kemudian oleh orang Ende menyebutnya Romba yang berarti insang. Apakah ini berkaitan dengan insang ikan? Yang jelas wilayah ini berada  persis di bibir pantai selatan, yang tekenal dengan garangnya hempasan ombak laut Sawu. Mauromba artinya pantai (ma’u) yang penuh dengan tebaran insang ikan (lomba).

Pantai ini dulu menjadi singgahan nelayan dari Bugis.  Para nelayan Bugis yang tangguh dan terkenal dengan perahu phinisi berukuran kecil. Mereka melayari pesisir-pesisir pulau sambil menangkap ikan dan mengeringkannya. Menghindari ikan dari pembusukan, insang biasanya dikeluarkan dan dibuang saja di atas batu-batu di pinggir pantai. Ada kemungkinan nama kampung ini diberikan oleh para pelaut pendatang baru yang melihat  tumpukan insang ikan (lomba) yang berserakan di pantai. Pelaut-pelaut  pendatang baru lalu mengenang tempat itu dan member nama pantai insang (mau’lomba).

Dibibir pantai pada saat pasang surut ada banyak aliran air gunung yang nampak di pasir atau disela batu. Dengan sedikit mengangkat batu-batu kecil sampai menemukan pasir akan keluar semburan air tawar, yang mengalir dari gunung.Dalam bahasa setempat disebut ae kongga. Penduduk lokal biasanya mandi air laut setelah itu badannya dibilas dengan ae kongga untuk menghilangkan lengketan garam pada tubuh.  Air ini biasa dipakai untuk mandi  tapi  dalam keadaan terdesak pelaut memanfaatkan sebagai air minum.

 

WARGA BUGIS PENDATANG

Ada satu keluarga Bugis yang berdiam di tanah Romba. Rogo Rabi bersama isteri dan beberapa pelaut. Rogo membawa serta saudarinya Ito Rabi dan  Boti Bartaso. Rogo Rabi tinggal di Mauromba (Romba wena).  Banyak orang bercerita bahwa ada tempat mandi Rogo Rabi di pinggir pantai, dimana ada sebuah sumur yang dangkal. Lokasi sumur tersebut ada tidak jauh dari pantai batu persis di sebelah bawah jalan umum antara Dokamboa dan Mauromba.  Disamping sumur itu terdapat sebuah batu lonjong sebesar seekor kuda. Sayang batu itu telah pecah.

Kehidupan Rogo Rabi terancam setelah Rogo Rabi dan keluarganya melecehkan seorang warga asli Mauromba bernama Ejo Keo. Ejo Keo ditertawai karena berpakaian kotor dan sangat sederhana. Setiap Ejo Keo bertamu dan meninggalkan tempat duduk, mereka segera mencuci tendanya dengan air karena dianggap sebagai tuma ma (kuman penyakit). Ejo Keo merasa dipermalukan dan kemudian Ejo Keo  menyampaikan kepada kerabatnya di Udi.

Ejo Keo akhirnya mengadakan rapat dan kesepakatan  di Udi. Setelah pertemuan itu  Todi Wawi dan keponakannya Rangga Ame Ari menghadapi Rogo Rabi dan ingin mengusir dia keluar dari Mauromba. Rogo Rabi kemudian mencari cara damai  dengan warga setempat. Rogo Rabi menyerahkan saudarinya Ito Rabi menjadi isteri  Todiwawi  dan Boti Bartaso menjadi isteri dari Rangga Ame Ari.

Walaupun telah diadakan perdamaian dan kedua wanita Bugis dinikahi Rangga Ame Ari dan keponakannya Todiwawi, dendam untuk mengusir bahkan membunuh Rogo Rabi terus membara. Kebencian ini tidak saja karena telah menghina Rogo Rabi. Rogo Rabi adalah seorang lelaki petualang. Dia juga menjalin hubungan gelap (ana mbue) dengan orang di Kedi Diru.

Maka dirancanglah sebuah usaha untuk membunuh Rogo Rabi. Pertama mereka berusaha membunuh Rogo Rabi di Kedi Diru. Ada usaha untuk menemui Rogo Rabi di Kedi Diru. Pembunuhan  dirancang.  Mereka berusaha membuat minuman beracun. Akar pohon pinang dicampur dengan arak, yang membuat orang yang minum menjadi mabuk. Kampung Kedi Diru akhirnya dibakar, tetapi usaha membunuh Rogo Rabi belum sampai terlaksana. Rogo Rabi selamat.

Rogo Rabi terus dicari (ata nepi) Rogo Rabi bersembunyi di Mbeku di rumah Meo Sia. Dari sana Rogo Rabi menuju Pei Poo. Melalui saudarinya diketahu rahasianya untuk membunuh Rogo Rabi yang memegang ilmu. Ternyata dengan sebuah batu kecil saja dia bisa dihabisi nyawanya. Rogo Rabi akhirnya dibunuh kemudian  dimakamkan di Pei Poo tidak jauh dari rumah saudarinya sendiri.

Posted in ALBUM KENANGAN | Leave a comment

PATA AI PAMIT PULANG DALAM RAPAT ADAT

Saya beberapa kali mengikuti pertemuan adat dalam tahun 2009 di kampung.  Ketika bapa saya meninggal dunia, secara resmi saya dikukuhkan mengganti bapa almarhum dan menjadi kepala soma. Saya jadi kepala keluarga besar ditunjuk dan diumumkan dalam rapat itu. Yang menarik dalam setiap rapat-rapat adat orang Nagekeo adalah ketika pembicaraan resmi dimulai. Rapat dimulai dengan saling menunjuk seorang untuk menggerakkan agar pembicaraan resmi dimulai. Tau gagi pata adalah peran seorang yang dengan suara lantang mengatakan ai tau sai kita.. (mari kita mulai). Seorang yang disebut sebagai tau gagi pata akan mengatakan ai…(menyebut nama pemuka adat) tau sai kita (ayo kita mulai).  Seorang mosadaki  yang biasa berbicara tidak serta merta memulai. Dia akan melempar kepada yang lain. Tau sai simba ena.. (sudah lanjutkan saja disitu). Yang memngatakan tau simba ena sesungguhnya yakin dia adalah seorang yang punya autoritas bicara. Kerendahan hati atau basa basi berusaha saling melemparkan kewajiban.  Pembicaraan resmi baru mulai sampai beberapa orang mengatakan modo…(menyebut nama) tuu mbee tau sai laka oi onda (betul mulai sudah biar segera selesai).

Tuka mbabho (ahli bicara) adalah orang yang punya karisma dan diakui untuk berbicara dan mengambil keputusan.  Tuka mbabho juga berperan sebagai moderator. Semua pembicaraan harus melalui tuka mbabho, dan tuka mbabho akan menerima masukkan dan kembalikan kedalam forum. Tuka mbabho akan mengambil keputusan akhir setelah ada masukan dan godokan dari yang hadir dalam pertemuan adat.  Tuka mbabho bisa beberapa orang tetapi keputusan disampaikan dan juga diserahkan pada mosadaki utama yang menjadi tuka mbabho. Pembicaraan sangat memakan waktu, karena setiap tanggapan selalu mengulangi kembali pembicara terdahulu. Dalam setiap tanggapan mereka selalu mengulang dengan kata bhide pata koo (nama disebutkan) dan mengulangi semua ucapannya, kemudian diberi tanggapan oleh yang berbicara.

Saya melakukan kesalahan, yang dikoreksi seorang adik bapa saya Hermanus Mbusa, yang juga hadir tetapi tidak berhak suara. Koreksi dilakukan setelah semua sudah selesai. Saya langsung membuka pembicaraan secara monolog dan tidak menyinggung pembicaraan orang lain atau pidi pata ata pesa. Mereka memberikan kesempatan saya berbicara. Ketika saya langsung mengucapkan kata terima kasih atas semua perhatian dan dukungan, ada yang berasa bahwa itu berarti semua pembicaraan sudah selesai. Ada suara yang mengatakan modo moo pata ai sai kita….. Pata ai adalah dua kata memohon yang disambung dengan ai..kami wado (kami pulang). Tetapi tuka mbabho selalu menunjukkan kearifan, tidak begitu saja menutup pertemuan karena saya menyampaikan itu. Mereka masih terus berbasa basi… Pembicaraan hari itu melelahkan.  Pembicaraan ditutup sampai mosadaki  tuka mbabho mengatakan” ai modo pata kita bhide ke nde..” atau modo sama ke… woda sai kita.

Posted in ADAT & BUDAYA | Tagged , , , | Leave a comment

MOSADAKI TUKA MERE KAMBU KAPA

Mosadaki bukan pangkat tetapi peran seorang dalam masyarakat.  Seorang disebut mosadaki bukan karena usia atau pendidikan serta gelar. Mosadaki adalah sebuah karisma berupa kemampuan-kemampuan istimewa sehingga nampak bijak dalam kata dan laku.  Ketika berbicara orang mendengarkan dan ketika mengungkapkan pendapat dan sikap dijadikan pegangan. Dia memang jadi tempat orang memanut karena  panjang akal dan juga besar kesabarannya.

Tuka mere kambu kapa (usus besar dilingkari  lapisan lemak) adalah sifat yang dimiliki oleh seorang mosadaki yang bijak.  Dalam berbagai pertemuan adat, mosadaki menjadi pemuka dan pendengar yang bijak atas segala macam persoalan masyarakat.  Berbagai suara sumbang yang sering menimbulkan masalah seorang mosadaki menanggapinya dengan dingin dan berusaha mencari solusi menenangkan dan menyenangkan semua pihak. Kesabaran yang luar biasa dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan  yang membuat seorang mosadaki memiliki tuka mere kambu kapa.  Tuka mere (perut besar) yang membuat dia mampu menelan segala makanan termasuk yang pahit dan pedas. Kambu kapa (lapisan lemak) yang menjaga agar tubuh tetap hangat dan kuat menahan lapar  dan kekurangan. siap menghadapi semua masalah.

Posted in ADAT & BUDAYA, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

BHASO DAMA SIRA TA MBANA

Ketika kami masih anak-anak begitu sering ada pesta adat. Pada pesta adat orang berkumpul  di salah satu kampung dengan konsentrasi rumah yang punya perhelatan. Pada upacara-upacara adat selalu ada nado mere (jamuan makan besar). Pada jamuan makan nado mere ini menu utama hanya tiga, yaitu nasi, daging dan sayur. Sayur yang selalu ada pada pesta adalah muku loto. Sayur muku loto adalah pisang yang masih muda, kulit luarnya yang berwarna hijau dikupas dengan cara memotong ujung pisang dan dicabik lapis hijau dari kulit buah. Buah pisang di potong menjadi beberapa bagian agar mudah dimasak dan dihacurkan. Yang dimasak bersama muku loto adalah jeroan atau usus hewan yang telah dibersihkan dan dipotong-potong. Pisang yang sudah masak diaduk-aduk sampai hancur dan jadilah semacam bubur berwarna agak bnerwarna abu-abu. Pisang direbus bersama daging dan bumbu-bumbu diaduk sampai menjadi bubur. Itulah muku loto.

Dalam nado mere kaum lelaki dewasa dan anak-anak duduk di tikar-tikar yang dibentang di halaman rumah. Pada pesta adat acara makan atau nado dimulai setelah makanan dibagi-bagi kepada semua warga di rumah-rumah sekampung atau beberapa kampung tergantung dari besarnya pesta adat. Warga yang ada di rumah umumnya wanita dan anak-anak kecil yang tidak ikut ayahnya ke tempat nado. Disetiap rumah semua orang menyiapkan piring kosong masing-masing di depannya. Ada urutannya pertama dibagi  pora (daging) nasi,  sayur uta muku loto  dan paling akhir seorang akan memberikan satu iris kecil dari hati hewan yang disembeli. Pembagi makanan harus orang yang punya ketrampilan khusus. Maklum kalau tidak tahu atur maka akan kekurangan daging untuk begitu banyak orang.  Jumlah orang menjadi lebih banyak karena yang mendapat jatah termasuk anggota keluarga yang tidak ada di rumah dan merantau jauh. Jadi ada piring untuk anak yang merantau jauh dan mereka katakan te bhaso koo ana jao ta dau (ini bagian dari anak saya yang di rantau sana) atau bhaso sira ta mbana  (porsi mereka yang sedang bepergian).  Selain itu ada bhaso sao adalah porsi yang diberikan untuk rumah yang kita diami. Rumah seolah bernyawa maka diperhitungkan dengan bhaso sao (porsi untuk rumah). Bhaso atau bhaso dama menjadi bukti betapa semua anggota keluarga selalu diperhitungkan dan disayangi. Bhaso dama sira ta mbana menjadi bagian dari doa akan keselamatan dan rindu keluarga untuk sekali waktu kembali. Karena dengan adanya bhaso khusus berarti ada pengakuan bahwa masih hidup.

Setelah semua orang-orang di rumah sudah dibagi jatahnya, baru giliran para bapa dan anak laki  yang duduk di tikar-tikar.Semua orang dibagi wadah piring kemudian makanan dibagi pora (daging), pale (nasi) dan uta muku loto serta irisan hati. Setelah semua makan dan minum tuak baru ada omong-omong adat.

Posted in ADAT & BUDAYA | Tagged , , | 4 Comments