MAKAN DI WARUNG TENDA KOREA

Saya pernah menyewa Kosiwon, tempat penginapan bagi anak sekolah atau pekerja di Seoul Korea. Saya membayar sewa bulanan. Tempat penginapan seperti ini hanya untuk orang Korea. Selain pemilik, tak seorang pun yang berkenalan dengan saya. Semuanya tak peduli satu sama lain. Pagi buta sudah ada yang keluar. Mereka adalah para pekerja berasal dari luar Seoul. Dan juga sedikit anak sekolah, yang tidak peduli dengan keberadaan orang lain.  Kosiwon memiliki fasilitas air panas, mesin cuci dan nasi dalam mesin penanak nasi.  Karena biaya hidup harian Seoul mahal, saya pindah kota. Sambil mempertahankan kamar sewa, saya pindah ke Changwon, sebuah kota kecil di propinsi lain, tak jauh dari bandara Kimhae, Busan.

Di kota Changwon saya berkenalan dengan banyak tenaga kerja Indonesia. Semua yang saya kenal adalah karyawan illegal. Sejumlah relasi baru dibangun melalui aktivitas gereja dan juga referensi bisnis dari teman. Melalui gereja saya mendapatkan teman dan memberikan saya keleluasaan memanfaatkan kantornya. Saya diberi meja dan komputer. Atas dasar referensi teman, saya mengatur jadwal pertemuan. Dengan modal sebuah telepon genggam sederhana saya berjumpa dengan banyak orang.  Sampai visa kunjungan saya berakhir saya kembali ke Indonesia. Saya menginap lagi di Seoul di kamar sewa yang sama.

 

Malam menjelang kepulangan ke Indonesia, saya cari makan di warung tenda (boja mata) , maklum uang saya semakin terbatas. Saya ingin ada sisa buat beli oleh-oleh di Bandara. Seorang menyapa hallo. India, Pakistan? Saya jawab Indonesia. Meredeka katanya. Lalu orang Korea ngerocos pakai bahasa Indonesia. Saya memasan makanan. Sambil makan, teman saya bercerita bahwa dia dulunya seorang manager di proyek jalan toll Jagorawi. Beristeri orang Sunda dan mempunyai anak. Isteri tak tahan dengan kehidupan suaminya di Korea.  Kalau dulu bergaya di Jakarta, di Korea dia hanya sebagai penjaga malam di sebuah bank. Sang isteri minta cerai dan meninggalkan anak bersama suami di Korea. Teman bicara memesan minuman. Saya juga ikut minum. Kami minum makoli, sejenis minuman berkadar alkohol paling rendah. Warnanya putih seperti nira atau tua bhala di Mauromba. Dan rasanya mirip.  Cerita berakhir karena saya ingin kembali membereskan barang dan ingin tidur lebih awal, agar tidak kesiangan ke bandara.  Ketika bon warung disodorkan,  ternyata semua biaya makan dan minum menjadi beban saya. Dalam hati saya menggerutu. Mau menghemat malah membayar lebih.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MAKAN DI PINGGIR JALAN

Begitu sering tetangga saya mengajak untuk melakukan perjalanan bersama. Karena kami bukan anak baru gede, maka jalan bersama mungkin hanya sekedar makan-makan bersama.  Teman saya dan pasangannya sangat tahu tempat makan sederhana, murah dan enak. Dia merasa nyaman untuk duduk makan di tenda-tenda sederhana atau warung makan Tegal (Warteg).  Sebaliknya saya tidak terlalu nyaman makan di tenda-tenda.  Dengan menjadi anak asrama lebih dari 11 tahun, saya terbiasa makan, belajar dan tidur pada waktunya. Saya ingin makan di tempat tertutup atau makan masakan rumah, yang disediakan istri.  Istri saya sering mendapat hantaran makanan masakan tetangga, dan sebaliknya istri tetangga seperti berbalas pantun menerima hantaran kami.  Masakan rumah  lebih menyenangkan bagi saya.

Makan sambil jalan atau makan di tenda terpal hal biasa bagi orang kota. Hemat waktu, hemat biaya pula. Warung-warung makan sederhana,  secara higienis diragukan tetapi pangsa pasar besar luar biasa. Para pegawai berdasi, para pengacara, para jaksa dan hakim yang pada saat sidang bertoga hitam penuh wibawa, juga makan dari warung sederhana.  Saya pernah dibikin marah oleh isteri saya. Di kota Ende dia pingin makan baso di pinggir jalan. Saya menolaknya dan kembali ke hotel. Seorang keponakan saya akhirnya menemani dia makan baso.

Ketika saya mengikuti kursus bahasa Jerman tiga  hari setelah saya tiba di Jakarta, saya lihat teman satu kelas  membuka tas mengeluarkan kotak makan. Dia makan roti sendirian. Dia seorang isteri yang akan mengikuti suaminya belajar di Jerman. Belakangan saya tahu dia isteri seorang pejabat tinggi.  Seorang wanita teman kerja saya membeli gorengan untuk dimakan dalam kendaraan oplet. Itu pengalaman pertama penuh ketidaknyamanan makan dalam kendaraan umum sambil duduk berhadapan. Itu dilakukan disamping para penumpang lain.   Makan di bawah tenda saya lakukan pertama dipaksa oleh istri saya. Sebagai anak kelahiran Jakarta hal ini biasa.  Ketika anak kami masih kecil-kecil, isteri saya selalu mengajak makan di warung tenda pada malam hari. Tetapi dengan berjalannya waktu istri saya semakin paham itu tidak menyenangkan pasangannya.

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

NURDIN HALID DAN KISRUH PSSI

Sudah bulanan kisruh PSSI sebagai  sebuah organisasi sepak bola Indonesia begitu menghebohkan negeri ini. Yang menjadi sumber masalah adalah satu orang yaitu Nurdin Halid. Ini orang benar ngotot mau terus memimpin PSSI. PSSI seperti menjadi miliknya sendiri. Sampai-sampai dia masih terus memimpin walau di bui. Benar ini aneh. Tetapi di Indonesia seperti diterima wajar wajar saja. Katanya kalau orang masuk bui itu orang jahat, atau paling tidak orang tersebut dinilai melanggar hukum. Nurdin dianggap melakukan kejahatan, korupsi makanya dipasung hak hidup bebasnya. Tetapi Nurdin tetap saja bebas beraktivitas sebagai Ketua Umum PSSI.

Dalam penjara saja Nurdin memimpin PSSI. Mungkin Nurdin anggap PSSI itu sebagai perusahaan miliknya. Jadi pantas saja kalau sudah keluar dari penjara Nurdin ini merasa lebih kuasa lagi. Massa pencinta sepak bola sudah muak dengan kemandekan prestasi PSSI. Karena yang diurus Nurdin mungkin bukan PSSI untuk perjuangan pencapaian pamor bangsa. Tetapi Nurdin jadikan PSSI sebagai kudanya. Jadi kuda tunggangan untuk lebih cepat sampai pada tujuan pribadinya. Juga jadi kuda beban untuk memuat semua kebutuhannya sendiri.

Nurdin sudah pasti turun. PSSI harus terus naik dan berlanjut ke puncaknya. Sejarah sepak bola Indonesia akan tetap mencatat seorang Ketua Umum adalah Nurdin Halid. Nurdin juga tidak hanya tercatat dalam dunia sepak bola, Nurdin menjadi tokoh tidak sekedar kontroversial. Nurdin akan dijadikan contoh kasus seorang yang haus kuasa.

Isteri saya tanya apakah anak isteri dan keluarganya tidak malu melihat seorang seperti Nurdin yang terus dicerca. Saya bilang enteng, kalau mau jadi pemimpin harus punya muka tebal. Itulah muka badak dan tidak punya rasa malu. Pemimpin rakus dan haus kuasa ternyata selalu  pakai kacamata. Kacamata kuda. Peduli amat dengan kanan kiri. Karena dia tidak bisa melihat kiri kanan.

Yang mengherankan saya adalah semua orang sekitar Nurdin begitu membelanya. Mereka lengket dengan Nurdin seperti serbuk besi yang menempel pada medan maknit. Omongan mereka hanya ngotot. Kita yang orang kampung sampai diminta harus mengerti kata statuta, yang bukan masuk kosakata harian kita.  Kata Duta Indonesia yang terdengar di TV, “orang PSSI tidak tahu malu”. Jelas saja karena kalau mau jadi pemimpin harus muka berkulit badak dan berkacamata kuda.

Terima kasih pada warga bangsa yang berpanas terik, berkeringat turun ke jalan. Anda akan beristirahat dan berteduh di stadion kesayangan Gelora Soekarno  menyaksikan lagi TIMNAS berjaya diasuh oleh pengurus PSSI baru. Berterima kasih pula pada Nurdin Halid, pelajaran buruk yang dia berikan. PSSI tidak boleh jadi keledai bodoh yang terperosok masuk ke dalam lobang yang sama.  PSSI pasti dan harus lebih baik untuk menjadi alat menggelorakan perjuangan dan  pemersatu  serta ujung tombak promosi bangsa.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SUAKA AHMADIYAH

Saya warga Indonesia dan percaya pada Tuhan yang Esa, Pencipta dan Penyelenggara seluruh alam semesta. Saya juga yakin bahwa semua orang Indonesia pasti sama di depan Tuhan. Saya lebih yakin lagi kalau semua orang Indonesia tanpa beda suku, ras dan agamanya punya hak hidup yang sama.

Menghakimi dan menghukum orang lain secara adil hanya bisa dilakukan kalau kita berusaha menempatkan diri kita pada posisi yang dihakimi dan kena hukuman. Apa rasanya? Sebagai orang beriman saya coba berada dalam posisi saudara-saudara  penganut Ahmadiyah.  Mereka compatriotku. Mereka bagian dari kelompokku orang Indonesia. Berada dalam satu rumah bangsa, rumah Indonesia.  Tetapi rumahku tiba-tiba dibumihanguskan. Kemudian aku disuruh pergi dari tempatku berdiam. Kalau mau berdiam di tempat itu aku harus tidak boleh beraktivitas, ruang gerakku dipersempit.

Melalui televisi saya pernah menyaksikan para pencari pesugihan. Ketika di makam mereka melafalkan doa secara Islam. Begitu keluar dari pemakaman mereka menyetubuhi wanita atau lelaki yang dijumpai disekitar komplek. Begitu banyak paranormal yang berkomat kamit doa secara Islam. Yang mereka lakukan kalau perlu membunuh orang lain.  Upacara-upacara penyucian keris dan alat-alat yang dikeramatkan juga dengan doa secara Islam. Benda-benda itu dianggap memiliki gaib.  Pengusiran roh halus yang akrobatik penuh tipu muslihat ditayangkan juga di televisi. Tetapi keanehan ini tidak pernah dipersoalkan secara agama.

Kekerasan berkaitan dengan agama sudah menjadi biasa dan dibiarkan disini. Ada kelompok yang coba membumikan pemahaman doa dalam bahasa Arab ke dalam bahasa yang dipahami. Rumah mereka dihancurkan. Yang paling memilukan hati adalah kekerasan terhadap kelompok saudara sebangsaku orang Ahmadiyah. Tempat ibadah dan  rumah tinggal diserang. Peristiwa Cikeusik sebagai kulminasi segala tindakan kekejaman itu. Sampai ada jiwa yang melayang sia-sia. Semua bersuara dan bertindak. Ada yang membarakan api kebencian menjadi-jadi. Ada sebagian lain yang coba bersuara lemah meminta perhatian pemerintah.

Negara ini sepertinya mengarah ke sebuah Negara Federal. Bagaimana tidak konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia sepertinya tunduk pada Peraturan Daerah (PERDA). Muncul PERDA yang melarang kegiatan dan hak hidup Ahmadiyah. Tawaran sejuk dari Sri Sultan Jogyakarta. Bumi Jogyakarta adalah tanah air bagi semua orang, termasuk penganut Ahmadiyah.

Kemana kelompok Ahmadiyah di wilayah  Indonesia lainnya? Masihkan Indonesia tanah airnya? Lalu mengapa hak mereka dirampas ? Haruskah mereka menjadi manusia perahu seperti orang Vietnam? Atau mereka harus menyewa perahu sesama  bangsanya sendiri dan pergi ke negara lain? Mereka ditindas, dibatasi ruang geraknya dan dipersempit hak asasinya. Mereka dan anak-anak mereka ditindas.  Dimana tempat kelompok Ahmadiyah mencari suaka? Haruskan mereka mencari suaka? Pemerintah khususnya Presiden NKRI tentu tidak cukup dengan pernyataan keprihatinan. Hentikan kekejaman dan bubarkan kelompok radikal yang hanya menampilkan keangkuhan dan kekerasan. Agama adalah urusan batiniah dan pribadi. Agama tidak butuh pembela.  Yang dibela adalah hak hidup sesama yang ditindas. Dan kelompok Ahmadiyah, yang hak asasinya dirampas  harus dibela.

 

 

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

MESU TA MENA

Ajal bisa datang kapan saja.  Ibarat pencuri, kematian tak ada yang tahu kapan datangnya. Andai saja orang tahu saat ajal tiba, maka kematian seperti pindah rumah. Semuanya perlu disiapkan.  Kalau lokasi rumah baru  agak jauh maka ada yang menghantar dan ada rasa sedih baik  bagi yang akan pindah dan juga  tetangga sekitarnya.

Mesu ta mena artinya sayang pada yang ada disana.  Maksudnya sayang pada isteri dan anak-anaknya yang ia tinggalkan di kampung sebelah. Mesu ta mena (sayang yang di sana…) diungkapkan seorang bapak dalam kondisi sangat sehat tetapi saat itu dia yakin hidupnya akan berakhir. Dia begitu yakin dia akan mati dan meninggalkan keluarga yang dia tinggalkan.

Kisah ini diceritakan oleh ayahnya saya pada kakak perempuan saya. Kakak saya sebulan berada di Jakarta dan selama dua minggu jadi tamu di rumah saya sebelum kembali ke Flores tanggal 7 Maret 2011. Kami berdua punya banyak waktu duduk bersama bercerita tentang kampung halaman.  Mesu ta mena saya dengar dari saudari saya ini.

Waktu itu ada sebuah pesta adat di kampung Nasawewe. Sebuah kampung kecil di kaki gunung Kedi Watuwea (gunung mas) di Kecamatan Keo Tengah, Nagekeo. Seperti biasa pada pesta adat orang memasak daging babi menggunakan kuali besar. Untuk suatu perhelatan dengan banyak orang maka babi yang disembelih pasti berukuran besar. Babi-babi besar biasanya berlemak.  Dalam kebiasaan orang Nagekeo, memasak daging pada acara adat dilakukan oleh kaum lelaki. Semua orang berpartisipasi. Ada yang sekedar menyorongkan kayu api. Bumbu-bumbu sederhana biasanya berupa  cabe, garam dan asam serta daun sereh pasti selalu ada.

Pada saat masak ada yang bertugas untuk mencicipi. Mencicipi (mimi) dari kuali besar biasanya dilakukan oleh beberapa orang. Yang dicicipi adalah kuah daging babi yang disajikan dalam tempurung kelapa (ea). Ketika itu belum ada piring, orang Nagekeo menggunakan tempurung kelapa dijadikan pengganti mangkuk. Seorang bapak  dipinggil untuk  ikut mendapat kehormatan  mencicipinya.  Sang bapak mengangkat tempurung berisi kuah kemudian langsung menempelkan di bibir dan segera menumpahkan kedalam mulutnya dengan satu horokan panjang. Karena kuah berlemak, maka permukaan kuah panas kelihatan jernih dan tidak beruap. Setelah menelannya, kuah ternyata sangat panas bagaikan luapan letusan abu vulkanik menerjang ususnya. Oe… mesu ta mena (aduh sayang yang disana). Seketika dia ingat isteri dan anak-anaknya yang dikasihi di kampung Nuamuri. Sang bapak tidak tertolong, dia akhirnya menghembuskan nafas terakhir dalam kesadaran dia akan meninggalkan orang-orang yang dia kasihi. Mesu…mesu.. (sayang).

Posted in Uncategorized | 1 Comment

ANA SEPU TENDA

Sepu tenda artinya ujung tenda. Pada masa dulu rumah adat orang Nagekeo dibangun dengan tenda  (balai) bertingkat 3(tiga). Tenda wena(tenda sepu), tenda wawo dan reta todo (one sao). Tenda wena atau tenda sepu adalah tingkat tenda paling bawah, yang digunakan untuk duduk-duduk sambil merokok. Tamu untuk waktu pendek diterima di tenda wena. Sekedar merokok dan terkadang minum kopi. Pada salah satu ujung tenda wena (tenda sepu) biasa digunakan untuk menempatkan kayu bakar atau pakan ternak seperti batang pisang. Tenda wawo biasa untuk tamu yang terhormat, atau tamu yang bakal duduk agak lama dan berbicara serius.  Di tempat ini selain merokok, minum kopi, biasa disusul dengan makan bersama.

Tenda wena (tenda bawah)  atau tenda sepu memilik ujung yang disebut sepu tenda.  Fungsi  sosial sepu tenda hanya digunakan untuk mengaso sementara. Ini adalah tempat menyapa orang lewat dan juga tempat singgah  sesaat bagi orang yang disapa.  Fungsi lain adalah untuk tempat menyiapkan makanan babi. Batang pisang yang telah dipanen buahnya biasa ditempatkan pada ujung tenda wena (tenda bawah). Ada kalanya tenda wena (tenda bawah) juga dijadikan tempat menaruh ikatan kayu bakar sebelum ditempatkan di pinggir dapur (onggi).  Dapur orang Nagekeo biasa pada tenda wawo, juga bisa pada one sao.  Dapur selain sebagai tempat memasak makanan, juga dijadikan sumber pemanas pada musim dingin.  Orang berdiang (niru)  di dekat perapian.

Ana sepu tenda (anak di ujung balai) sebuah ungkapan negatif yang berarti seorang anak hasil hubungan lelaki yang lewat di depan tenda (balai). Ana sepu tenda juga disebut ana kombe mere (malam gulita). Ana kombe mere berarti anak hasil hubungan gelap. Anak hasil hubungan dengan lelaki yang mendatangi rumah pada malam hari tanpa ketahuan. Anak kombe mere adalah anak haram, hasil hubungan gelap. Dalam budaya Nagekeo, ana sepu tenda mau pun ana kombe mere diakui keberadaan, karena rata-rata seorang ibu hamil diminta dan harus mengakui siapa ayah sang jabang bayi. Ana kombe mere atau ana sepu tenda ini umumnya tetap tinggal bersama ibu dan kakek neneknya. Bila beruntung sang anak diakui keberadaannya oleh ayahnya. Bila tidak sang ana kombe mere tetap mengikuti ibu dan ayah non biologisnya. Sang ana kombe mere ini sering dipandang miring oleh masyarakat.

Masyarakat Nagekeo sangat toleran dan menjaga perasaan sesamanya. Ana kombe mere juga diperlakukan layak, kecuali apabila sikap anak hubungan gelap ini berulah yang menyakitkan. Maka akan dibilang dasar ana sepu tenda atau dasar ana kombe mere.

Posted in ADAT & BUDAYA, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

NAGEKEO DAN GEMA INDUSTRI RAKYAT

Omong tentang industri mungkin orang selalu pikir tentang sesuatu yang rumit dan jumlah rupiah yang besar. Industri artinya rajin. Maka kalau kita bicara tentang industri, kita omong-omong tentang kerajinan.  Kita bicara tentang bagaimana orang meningkatkan penghasilan melalui  ketrampilan tangan atau mesin.

Ketika akan ke Jakarta, saya sempat mampir di kantor bupati Nagekeo dan  sedikit tatap muka dan omong-omong dengan Bapa Bupati.  Sedikit pamer, saya membuka laptop memperlihatkan foto-foto orang Keo Tengah membuat kripik jagung.  Proyek makanan ringan dari jagung, pisang dan tepung ikan sempat didengung keras di Nagekeo. Sejumlah anggaran telah dihabiskan untuk mengirim orang-orang kampung menimba ilmu di Sulawesi. Disana-sini sejumlah orang membuat kripik jagung sebagai hasil pendidikan dengan biaya pemerintah daerah yang minim dana itu.

Departemen Perindustrian Kabupaten Nagekeo sempat membuat proposal untuk menginvestasi peralatan industri, menggoreng, mengepak  hasil kripik setengah jadi dari rakyat.  Saya sempat membaca proyek ideal itu dan pernah berpikir terlibat di proyek ini. Tetapi sayang sampai saat ini hanya berhenti sebagai program. Tidak ada realisasi.

Mengirim begitu banyak orang untuk belajar akhirnya menuai kesia-siaan. Seharusnya pemerintah cukup mengirim sejumlah orang yang punya jiwa wiraswasta. Kemudian dia kembali dengan ketrampilan dan menularkan pada karyawannya.

Mengangkat masalah industri di Nagekeo di sini bukan untuk mengurangi rasa hormat saya pada petinggi di sana. Saya hanya mau mengatakan bahwa sebagai orang Nagekeo, saya melihat banyak peluang disana. Semisal nanas dan pisang  yang terbuang di Keo Tengah masih bisa diolah menjadi keripik. Kita juga bisa mengemas kopi Nagekeo jadi buah tangan melalui bhoku-bhoku (tabung bambu). Juga arak dari pohon lontar bisa dikemas seperti minuman alkohol Bali.

Berbagai industri rakyat bisa digalakkan di Nagekeo. Ada tenun termasuk tenun ikat yang semakin di tinggalkan, anyaman  pandan dan lontar serta berbagai industri makanan kecil. Kita bisa belajar dari daerah lain di pulau Jawa selain minyak cengkeh dari Mauponggo.  Ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua yang mencintai Nagekeo. Modhe modhe Nagekeo soo modhe. Pawe pawe kita ta Keo Nage. Pawe pawe jeka nipi nande.  Mari kita bangun Nagekeo.

 

 

 

 

Posted in EKONOMI | 2 Comments