AME MIU DAU MBO’O MBU

Judul diatas berarti, Ame kamu  di sana memangnya sangat makmur. Kemakmuran dalam bahasa Keo menggunakan kata mbo’o sampai mbu. Mbo’o mbu (makan sampai kekenyangan luar biasa). Mbu berarti  mabuk. Maka mbo’o  mbu berarti makan sampai mual dan pingin muntah lagi. Itu  pertanyaan kakek kami  Opa Dombo Sina kepada salah satu cucunya Gaspar Sue (almarhum) ketika berlibur di Flores.

Opa menyebut semua nama cucunya yang sudah pergi merantau ke pulau Jawa. Dia menyebut satu persatu mulai dengan Vitalis dan semua adik-adik serta nama cucu dari keluarga yang lain. Dia bilang “ngedo miu simba kai mbeja dau, ai dau ke negha todo mbo’o mbu oo..” (kamu semua pada pergi ke tempat yang sama, apakah memang di sana sangat makmur),  Gaspar cucu tukang bual dengan santai sambil senyum mengatakan:” embu dau uwi jawa me’a sama pu’u pa’a”.  (opa, di sana ubi jalar sampai sebesar paha orang dewasa). Opa menggerak-gerakan dagunya ke kiri dan kanan dan kadang ke atas dan ke bawah mengagumi cerita bual cucunya. Saudara kami yang satu ini orang marketing asuransi, tukang bual kelas kakap.

Opa  kami memang tidak pernah pergi jauh. Sekali dia pernah pergi ke kota Ende dan menginap di rumah salah satu cucunya, Pius Dipu putera dari puteri kakek.  Waktu itu pertama kali kakek menikmati penerangan listrik dari lampu neon dan juga penyegar udara dari kipas angin. Melihat sepotong kaca panjang mengeluarkan cahaya putih menerangi ruangan. Kipas angin sengaja dihidupkan untuk menyenangkan kakek. Di kampung kakek biasa menggunakan kipas dari pelepah pinang (weto kobha eu) sebagai penyejuk badan. Selain sebagai kebutuhan, saudara saya ini juga ingin memamerkan pada kakek.  Semuanya disambut senyum dan gelengan kepala tak henti-hentinya. Piu kau tu’u mbe’e (Pius kau benar hebat).

Orang Nagekeo juga orang Indonesia. Listrik masih mimpi di Mabhambawa

Kembali ke kampung Opa bercerita tak ada habisnya. Dia mengatakan tidak ada yang lebih hebat dari cucunya yang bernama Pius. Bayangkan saja “lapu bhide fata kaju” (lampu sebesar  batang kayu). Maklum waktu itu Opa kami selalu mendapat penerangan dari lampu minyak dari botol tinta atau kaleng susu. Kalau ada penerangan yang lebih baik adalah lampu tembok bersemprong kelas sedikit di bawah lampu gas (petromax). Penerangan petromax hanya ada pada saat acara dengan banyak orang. Lampu tembok juga tidak semua orang memilikinya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

GENERASI KETIGA

Tidak ada perubahan apa pun dalam blog ini. Kalau ada seperti Anda lihat pada foto makhluk berkepala plontos di atas persis di halaman depan blog ini. Kepalanya gundul, dan ini adalah gundul pertama sejak dilahirkan. Dan mungkin ini sekali-kalinya yang punya kepala mau digunduli. Ini gundul paksa. Apa boleh buat. Dia juga tak kuasa atas dirinya sendiri. Seperti manusia lain tak ada yang bisa mengatur diri dan memilih orang tua dan tempat kelahirannya. Matanya bulat bernyala menyapa semua pembaca blog ini, teristimewa orang-orang Nagekeo katanya: Jao ata Nagekeo. Jao ata Keo Tengah. Jao ata Ma’u.

Laeticia nama anak wanita gundul ini. Dia adalah yang pertama dari generasi ketiga keluarga Ranggawea, yang lahir pada 20 September 2009  di Depok, Jawa Barat.  Generasi pertama keluarga Ranggawea, Vitalis Ranggawea tiba di Jakarta pada tanggal 14 Juli 1975. Berangkat dari Ende naik KM Ratu Rosari. Ketika itu Vitalis masih berstatus frater dari kongregasi Serikat Sabda Allah. Sebagai seorang frater yang menyelesaikan ujian Sarjana Muda Filsafat harus melakukan tugas pelayanan di luar asrama yang disebut kerja praktek. sebelum melanjutkan studi teologi dan menyelesaikan Sarjana Satu. Kerja praktek ini  di Jakarta dikenal dengan Tahun Orientasi.  Tempat prakteknya yaitu di SMA Suradikara, Ende.

Mengapa sampai mendarat di Jakarta? Datang ke Jakarta untuk belajar bahasa Jerman. Ini gara-gara seorang  teman koresponden bahasa Jerman. Seorang sahabat orang  Jerman mengusulkan untuk belajar bahasa Jerman agar bisa lebih sempurna. Dan waktu itu dia juga mengajar bahasa Jerman di SMA Suradikara. Waktu liburan sekolah  dimanfaatkan untuk kursus bahasa Jerman di Jakarta.  Tetapi ternyata mengisi waktu dengan cara ini dianggap melanggar aturan Kongregasi. Atas dosa asal biara yang namanya kepatuhan, Vitalis Ranggawea akhirnya tidak diperkenankan mengulangi kaul biara. Dan sampai sekarang menetap di Jakarta. Dia tidak sendirian, karena kemudian 5 orang saudaranya datang menyusul.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BAKAL BUKU

Saya membaca  di dalam satu blog ada judul bakal buku. Dalam bahasa tumbuhan dikenal kata lembaga. Lembaga arti asal mula atau benih. Lembaga daun artinya benih yang bakal jadi daun. Lalu bakal buku sama dengan lembaga buku artinya berbagai tulisan yang bakal jadi buku.

Menulis buku pasti sesuatu yang terlalu ideal untuk banyak orang. Saya pernah ingat seorang kakak kelas saya yang sangat bersemangat setudi Filsafat. Berbagai buku dilahap dengan rakus. Dia selalu ingin menulis sesuai bidang setudinya.  Dia berambisi keras untuk menulis buku. Dia mengatakan bahwa kelak saya akan saksikan dia menulis buku. Tanpa mengurangi teman tadi, karena beberapa tulisannya saya baca di media massa, tetapi bahasanya masih bahasa planet. Dia menggunakan bahasa dan gaya pengungkapan yang membuat pembaca harus mengerlingkan kening  sampai jidat berkeriput. Orang harus berpikir untuk memahami. Pada hal tulisan ini merupakan  sebuah penjernihan dan uraian dari keruwetan pemahaman untuk membumikan suatu pemahaman.

Buku adalah  beberapa helai kertas berisi tulisan yang disatukan untuk dibaca. Menulis untuk bakal buku berarti mengisi tulisan pada kertas-kertas. Untuk mendapatkan seratus halaman tentu dimulai dengan satu halaman. Agar dapat menulis tiga bab maka mulai dengan bab yang pertama. Menulis bakal buku secara terbuka melalui blog, memberikan ruang luas kepada pembaca untuk membaca secara bertahap. Karena dalam setiap blog terbuka ruang untuk memberikan komentar, maka penulis menerima cicilan masukan dari pembaca. Karena sejak awal sudah mendapat kritikan  maka buku  menjadi lebih sempurna pada saat diteribitkan.

Penulis bakal buku tentu adalah penulis buku. Setiap buku tentu punya sasaran pembaca sendiri. Orang yang sangat gemar membaca pun akan mencari buku sesuai dengan kesukaannya. Ini berhubungan dengan tema atau pokok pikiran dasar yang dibahasa dalam tulisan. Bicara tentang tema berarti bicara tentang minat pembaca. Setiap pembaca memiliki ketertarikan pada pokok pikiran yang diminati. Dari sekian banyak topic, pasti ada topic yang spesifik dan sangat disukai. Demkian juga penulis yang memiliki bidang spesifik yang diuskainya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan tema tersebut dibacanya. Karena itu dia memiliki sekian referensi.  Buku yang ditulis seorang penulis merupakan hasil endapan dari sekian banyak pemikiran yang berkaitan dengan tema tersebut. Buku menjadi sari pati ide yang pernah dibaca dan dituangkan kembali.

Menjadi pembaca sesungguhnya mudah. Tetapi menjadi penulis sungguh  tidak mudah. Apalagi menjadi penulis buku. Forum pembaca tentu patut berterima kasih kepada para penulis, yang selalu membagi khazanah pribadi dari kotak Pandora ilmunya. Ada pembaca yang terkagum-kagum akan nilai dan cara dia mempresentasinya.

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SELESAI DAN SAYA TIDAK BISA BERKOMUNIKASI

Laptop dinyalakan. Saya melihat jam di sudut  kanan bawah. Pukul 3.56 pagi hari. Suara orang  berdoa di mesjid sekitar rumah terdengar sayup. Internet gagal dinyalakan. Di sudut kiri bawah ada tulisan merah selesai. Oh, ya  hari Jumat , tanggal 1 April  2011 saya belum membayar telepon termasuk langganan speedy.

Kami merasa nyaman saja walau lalai membayar telepon  rumah, karena komunikasi tidak pernah masalah. Masing-masing mempunyai telepon genggam alias HP, malah ada yang memiliki dua nomor. Istri saya masih di dalam nyenyaknya. Saya sudah berada di ruang kerja. Di ruang kecil ini saya merasa jadi penjara. Tidak bisa leluasa bertemu sahabat dan menambah wawasan dengan bersilancar di liukan gelombang indah dunia maya. Melalui dunia maya, dunia serasa begitu kecil. Semua sahabat seperti sedang berada di sebuah kota. Kedekatan dengan kerabat di belahan bumi lain serasa masih dalam sebuah penginapan yang sama.

Kemarin sore jam 6.45 saya masih berkomunikasi dengan saudara yang tinggal di Sao Paulo, Brasil. Di Brasil pukul 8 lewat. Karena kesibukan, sudah lama kami tidak berbasa-basi. Tiba-tiba saya lihat namanya muncul online di situs Yahoo. Kami sama-sama punya e-mail address di Yahoo. Saya langsung menulis hallo Poli, apa kabar. Dan seterus kami saling membalas ucapan, yang semuanya dalam bahasa daerah. Suasana komunikasi dalam bahasa daerah menambah hangat percakapan kami. Saudara saya memberikan dukungan dengan menegaskan bahwa sukses  bukan ditentukan oleh  harta, tetapi yang istimewa membesarkan, menghantarkan anak menyelesaikan pendidikan dengan baik. Dan teristimewa membuat keluarga tetap baik dalam kehidupan beriman. Saya merasa kotbahnya menyentuh. Menyinggung tentang harta. Keuangan saya kebetulan lagi seret se seret-seretnya. Ini hari-hari paceklik karena menjelang akhir bulan. Maklum gajian kami jatuh pada setiap tanggal 5.  Walau demikian seharus tidak sesulit hari ini.  Perjalanan ke Bali dan Jogya sedikit banyak menguras isi kantong. Maklum orang Indonesia tidak seperti orang Negara maju, yang semua perjalanan wisata sudah dipersiapkan minimal setahun.

Ketika saya berkelana di pantai Lovina, Buleleng saya berjumpa dengan banyak wistawan manca Negara. Yang menarik bagi saya adalah tukang jamu dan sopir taksi dari Inggeris, tukang sepeda dari Kanada mereka berlibur di Bali. Profesi yang di negeri wayang Mahabrata termasuk terpinggirkan. Tukang jamu Indonesia sampai saat ini hanya jadi etalase saja. Mereka ibarat tempat tumpukan jamu yang penuh bau ramuan. Sekali setahun dibersihkan dan disegarkan udaranya.  Mereka di pulangkan ke desanya dengan mudik gratis.  Sekelas tukang jamu ada para dukun yang punya pelanggan orang sekolahan. Tetapi mereka termasuk sekelas psikopat yang hanya tahu mengibuli. Mereka mendoakan agar orang jadi kaya. Mudah rejekinya. Sementara mereka tetap dalam bau asap dupa menyengat dengan tangan dekil, berjenggot dibalut pakaian yang berkesan kusam seperti makhluk yang baru keluar dari gua. Profesi sopir taksi, yang hanya mengejar setoran dan menyisakan sedikit uang buat keluarga. Yang tersisa adalah cerita penuh derita.

Selesai, demikian catatan merah di laptop saya. Jadilah saya offline. Saya lagi asyik-asyik punya jaringan komunikasi dengan beberapa sahabat manca Negara. Pada malam atau dini hari saya masih bisa berhubungan melalui e-mail atau Skype. Semuanya bisa dilakukan dari rumah.

Kenyamanan berkomunikasi pasti agak terganggu. Saya harus pindah tempat duduk dan membaca buku. Saya harus selesaikan dua buah buku. The Road to Peace karya Henri Nouwen dan Jalan Pengharapan tulisan Kardinal Francis Xavier Nguyen Van Thuan.  Beberapa tulisan Henri Nouwen sudah saya baca dan menarik. Buku Jalan Pengharapan adalah merupakan catatan pesanan yang ditulis setiap malam pada lembaran kertas bekas  kemudian dititip melalui seorang anak yang menjumpai Sang Uskup yang terpenjara karena imannya ,setiap pagi ketika matahari masih gelap.  Pesan-pesan ini disalin ulang dan dibagikan pada umatnya. Pesan uskup kepada umatnya  ini bernomor urut sampai 1001 mengingatkan kita akan cerita seribu satu malam.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENGISI TANKI DAN MENGISI WAKTU

Malam itu saya mengunjungi kenalan pastor dari Flores di rumah singgah biara SVD di Matraman Raya Jakarta.  Sekitar jam 9 malam datang pastor Yan Jawa SVD, dia pastor paroki St. Joseph bersebelahan dengan rumah singgah. Dia membawa beberaipa dos makanan kecil pemberian umat tempat dia mempersembahkan misa.

Saya tidak pernah lupa kejadian malam itu. Sambil membuka dos kue, dia mengeluh habis waktunya. Dia merasa tak ada waktu lagi. Saya harus isi tanki katanya. Artinya dia harus membaca. Semua waktu hanya habis untuk bicara saja. Dia merasa haus dan lapar akan wawasan baru, yang hanya bisa dapat dengan membaca.

Ketika kami masih jadi anak asrama di Ledalero, pater Fritz Braun SVD memarahi kami. Bersama teman kami menunggu beliau untuk pergi mengukur pipa air. Kami diminta bantuan untuk memikul alat ukur ke gunung yang oleh para frater disebut Monte Video (Saya melihat dari gunung). Memang dari tempat yang tinggi ini kami bisa melihat kampung-kampung di bagian lain wilayah itu termasuk kota Maumere.  Pater Fritz Braun SVD, salah seorang Jerman yang juga menyandang  gelar bangsawan von.  Mengapa kamu membunuh waktu, katanya. Coba hitung kamu 4 orang kali masing-masing  30 menit adan berapa menit kamu buang. Jangan buang waktu,  isi waktu dengan membaca. Lalu kami diberikan beberapa majalah.  Orang Indnesia memang masih kurang memiliki semangat baca.  Waktu harus diisi dengan membaca untuk menambah wawasan baru. Membaca seperti kata pastor Yan Jawa, SVD ibarat mengisi tanki. Kalau tanki berisi minyak maka yang dikeluarkan adalah minyak.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

INSPIRASI SANDAL JEPIT

Hari minggu lalu saya beli dua buku dari penerbitan Obor.  Salah satu buku telah selesai dibaca dan sudah kusontek  judulnya di dalam posting blog saya yaitu Ketika Semua Jalan Telah Tertutup sebelum membacanya.  Satu lagi berjudul Sandal Jepit Gereja  yang tidak kalah menarik. Pengalaman  hidup seorang dalam posisi paling bawah dalam  hirarki gereja Katolik.  Posisinya sama dengan Ketua Rukun Tetangga alias pak RT. Kalau soal urusan kerapihan hirarki selain militer, maka gereja Katolik jelas nomor wahid.  Roma Locuta causa finita  est,  semuanya dengar  apa kata  Roma (Paus).

Ketua Lingkungan posisinya paling rendah. Tapi jangan dianggap sebelah mata.  Saya selalu bilang sama orang yang datang meminta surat keterangan nikah, bahwa saya bukan RT. Hanya urusan administrasi. Ketua Lingkungan adalah saksi bahwa segala sesuatu benar. Saya pernah tidak mau mengeluarkan surat keterangan nikah.  Dia anak tetangga dan teman baik saya. Teman yang satu ini kritis bukan main gaya anak asrama seminari.  Anaknya ingin nikah di gereja Kristen pada hari Paskah. Sang anak putri menggerutu sambil mengatakan bahwa dia sebenarnya bisa saja melakukan itu tanpa surat dari ketua lingkungan.  Sampai sekarang sudah lebih dari tiga tahun, anak ini belum juga menikah. Kalau ada surat keterangan yang keluar bukan karena uang. Dan  memang ini tidak terkait dengan uang. Ini adalah pelayanan murni.  Ketika kami sibuk mengurus orang meninggal, seorang tetangga saya  yang beragama  Islam berbisik pasti ada envelop (uang). Maklum dia tidak tahu tugas dan tanggung jawab  jabatan yang satu ini.

Sebentar lagi saya selesai membaca Sandal Jepit Gereja. Saya angkat  topi tinggi salut pada penulis. Yang ditulisnya adalah hal-hal yang dialaminya  sebagai seorang ketua lingkungan. Jabatan yang oleh banyak orang dihindari ini dilakukannya dengan penuh sukacita dan kebanggaan. Saya banyak kali tersenyum dibuatnya. Saya banding-bandingkan dengan apa yang telah terjadi di tempat kami, lingkungan St. Yoseph semasa saya menjadi ketua lingkungan selama 7 tahun.  Dia dengan bangganya minta temannya memanggilnya Keling (ketua lingkungan) sambil canda. Beruntung nasibku karena  istilah itu tidak populer di lingkungan kami. Kalau tidak, saya kira akan ada yang  menyapaku Keling. Ini memperkuat cibiran atas kulit wajah ku. Walau kadang-kadang saya juga menerima dengan nyaman-nyman saja kalau dipanggil si hitam oleh tetangga baik saya. Dan saya tentu saja menghargai warna kulit saya yang matang ini. Ketika Tuhan mencipta dari tanah liat, saya termasuk orang yang mendapat kesempatan pertama dan lebih lama masuk dapur api pembakaran.

Kwalitas adalah hasil bandingan. Membaca  buku tulisan Anang, Y.B. membuat saya sadar diri bahwa apa yang telah saya lakukan tidak sebaik penulis buku ini. Dia menikmati posisinya. Dia bagaikan keledai jinak  tunggangan Yesus melintasi anak-anak Hibrani dengan daun palem di tangan. Sementara aku sering bagai kuda liar yang tidak merasa nyaman menerima beban di punggungku. Kalau ibarat sandal atau sepatu dia adalah sandal atau sepatu yang paling nyaman dipakai dan membuat tuannya bersukacita. Saya mungkin menjadi sandal keras atau sepatu tak pas dan berkerikil muat egoisme pribadi saya dan kurang memberi rasa nyaman bagi pemakainya yaitu umat yang hidup bersamaku.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

NAGEKEO DALAM PETA

Ketika membuka blog, ada referensi yang mengarahkan saya membuka situs petantt (http://www.petantt.com). Yang menyenangkan saya adalah ternyata  semua kabupaten di NTT sudah ada peta yang diperbaharui.  Sebagai anak Nagekeo, saya pasti tertarik mengklik kabupaten tempat tumpah darahku Nagekeo.

Karena sudah lama di luar kampung halaman, saya tidak tahu persis di mana lokasi beberapa kecamatan. Sekarang menjadi jelas bagi saya  lokasi kecamatan-kecamatan. Memang nama-nama kecamatan itu pernah disebut, tetapi dengan keterbatasan  transportasi tidak memungkinkan kita untuk melintasi semua wilayah kecamatan. Yang paling banyak saya tahu adalah kecamatan Mauponggo, karena wilayah kami Keo Tengah dulu berada dalam wilayah ini. Kecamatan Nangaroro sebelah timur Keo Tengah pasti tidak asing. Karena kalau orang pesisir selatan( ata ma’u) kalau mau ke Ende harus melalaui wilayah ini.  Kecamatan Boawae  sedikit ada gambaran, tetapi karena tidak ada kepentingan yang membuat Boawae hanya sekedar sambil lewat. Tidak ada gambaran tentang kampung-kampung yang sarat dengan tradisi budaya itu. Tiga kecamatan di belahan utara  Aesesa, Aesesa Selatan dan Wolowae menjadi lebih jelas bagi saya setelah melihat peta.

Memanfaatkan peta saya belajar dari sopir taksi di Jepang. Seorang sopir taksi akan membuka peta sebelum jalan. Ketika saya ingin pergi gereja di stasi SVD di Nagoya, saya pikir tidak jauh. Sang sopir membuka map, kemudian dia meluncur. Ternyata jauh.  Berbekal peta di tangan saya melakukan perjalanan darat solo Jakarta – Nagekeo (Flores). mengendarai mobil pribadi.  Ketika malam tidak membuka peta, saya kesasar di lokasi hutan lindung di Sumbawa.

Dua minggu lalu saya dan tetangga beserta pasangan masing-masing bepergian dengan kendaraan sendiri. Saya yang menyetir mobil ke Jawa Tengah. Kami bermalam di rumah retret Kaliori (Purwokerto), Jogya dan dalam perjalanan pulang ke Jakarta kami bermalam lagi di Baturraden (Purwokerto). Perjalanan ke Jogya sangat lancar, kami dipandu peta. Tetapi sebaliknya dalam perjalanan pulang kami hanya mematuhi petunjuk di jalan. Kami menghabiskan waktu lebih lama karena tidak menggunakan peta dan tidak tahu mana jalan tersingkat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment