BALI MEMANG BERSAMPAH

Seorang wanita asing yang ku jumpai di pelabuhan tak berfungsi Buleleng, mungkin pemerhati lingkungan. Dia  mengeluh mengapa orang Bali selalu saja membuang sampah setiap kali ada upacara. Dimana-mana sampah berserakan setelah ada upacara. Pemilik sebuah galeri, seorang berkebangsaan Australia beristrikan Ibu Sumi, seorang wanita Timor  mengeluhkan hal serupa. Karena orang-orang tersebut saya jumpai di kabupaten Buleleng, maka yang mereka keluhkan  adalah masalah  sampah yang ada di Buleleng.

Kalau sekarang orang sejagat tahu Bali sebagai neraka karena sampah, kita musti sepakat dengan kerendahan hati Gubernur Bali I Made Mangku Pastika. Beliau mengakui benar Bali penuh sampah.  Kalau saja Bali tidak mempunyai daya tarik luar biasa dan menjadi tempat tujuan wisata, penumpukan sampah di Bali tidak jadi hal luar biasa. Kita ingat Bandung sempat jadi kota berbau sampah. Jakarta  dan Bantargebang di wilayah Bekasi menjadi saksi bahwa Jakarta juga adalah kota penuh sampah.

Dimana ada manusia hidup pasti ada sampah. Berarti sampah harus diterima sebagai sesuatu yang memang ada. Masalahnya adalah bila tidak mengurus dan membuang sampah pada tempatnya. Sampah memang menjadi masalah yang membutuhkan perhatian dan kerja sama dengan semua pihak. Membuang sampah di got dan kali masih menjadi kebiasaan penduduk Bali seperti yang kami saksikan di Singaraja. Hasilnya ketika hujan tiba semua sampah mengalir ke laut yang kemudian dihempaskan  ombak  ke pantai. Pantai bagaikan padang  sampah.

Wisatawan berjemur di pantai Lovina bersampah

Pantai Buleleng tiada hari tanpa sampah

Sebagian sampah di Lovina yang dimanfaatkan jadi kayu bakar

Pemilik hotel di pantai Lovina berterima kasih pada para pedagang asongan pantai, yang setiap hari mengumpulkan sampah dan menguburkannya di dalam pasir pantai secara sukarela.

Photo: Vitalis Ranggawea

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BALI THE LOST PARADISE

Kuta dan Sanur adalah pantai pulau Bali yang selalu mengundang wisatawan. Kemacetan lalu lintas di Denpasar dan keramaian yang luar biasa pantai Kuta dan Sanur ditambah dengan bebagai bagunan di sekitar pantai membuat Bali menjadi pulau yang gerah. Masih pantaskah pulau Dewata ini disebut The Lost Paradise?

Ada beberapa gambar yang saya ambil ketika berada di pantai Lovina. Pantai Lovina di kabupaten Buleleng, pasirnya tidak  putih dengan bibir pantai yang tidak seberapa luas karena termakan ombak. Pantai Lovina terbilang sepi. Lovina adalah Bali The Lost Paradise.

Damai....

Kegembiraan anak anak Bani Adam yang telanjang

Aku Anak Dewata..

Menemukan The Lost Paradise

Biarkan aku istirahat dan sejenak bermimpi di taman ini...

My God...

Photo: Vitalis Ranggawea

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KACAMATA SEORANG SAHABAT

Pagi ini ada SMS dari seorang “met pagi pk, kemarin k dtg ke rmh tp kosong, hr ini sy blh main“. Sore kemarin, saya dan istri keluar. Kami pergi membeli daging burung belibis  selingan kesukaan kami. Kami biasa goreng sendiri setelah televisi menyiarkan bahaya menggunakan minyak goreng bekas. Para pedagang gorengan biasa mengunakan minyak  bekas yang diputihkan  dengan  zat kimia berbahaya.  Ketika kembali istri saya mengatakan pasti ada orang yang sudah masuk halaman, karena posisi kunci sudah berubah. Dan benar teman saya pernah datang ke rumah.

Pagi-pagi dia sudah datang sebelum saya buka SMS. Saya masih mengenakan sarung dan belum mandi.  Dia merasa sangat dekat dengan saya, dia juga datang hanya bercelana pendek.  Saya bilang padanya, maaf saya mandi dulu. Dan dia saya biarkan baca harian Kompas.

Teman saya Petrus, ketika menjadi seorang tenaga kerja tanpa ijin alias illegal di Korea dia dipanggil Pedro. Saya bertemu Pedro di Muji Sangga, sebuah Rumah Singgah TKI di kota Changwon,  dekat  bandara  Kimhae tak jauh dari Busan.

Teman saya ini baru beberapa hari lalu dioperasi usus buntu. Dia juga sempat memperlihatkan bekas torehan pisau bedah dengan bekas jahitan yang baru saja sembuh. Saya sedikit risih melihat bekas luka operasi. Terasa ngilu sendiri kulit badan saya. Operasi berkaitan dengan uang. Dan dia mgatakan bahwa uangnya yang disiapkan untuk kembali ke Korea sebagai TKI terpaksa dipakai. Pedro sudah mendaftarkan diri menjadi calon TKI di Korea. Dan namanya sudah terdaftar TKI siap kirim (Sending). Tinggal tunggu ada majikan di Korea yang siap memberikan visa.

Pedro minta ijin menggunakan komputer dan internet di ruang kerjaku. Ketika saya diminta mengetik situs, dia mengeluh tidak bisa baca dengan jelas. Maklum pengelihatannya memang kurang normal dan hari ini dia seperti biasa membawa sifat lupa. Dia tidak membawa kacamata.  Saya jadi ingat, perkenalanku dengnan Pedro gara-gara kacamata. Ketika pertama kali saya tiba di Changwon, saya berjumpa dengannya di Rumah Singgah (Worker House). “He kamu lihat nggak kacamata saya?” Dia dengan agak terhuyung-huyung menunjuk jari kepada saya. Karena saya tidak kenal kepribadiannya, saya merasa agak tersinggung. Dalam hati saya menggerutu, ini anak mana kurang ajar begini. Anak kecil pake panggil saya dengan he he segala kaya binatang.  Sekejap saya tahan emosi. Ada seorang TKI lain menenangkan saya, maaf dia memang begitu. Saya berusaha menurunkan amarahku yang sempat naik ke titik didih.

Kami kemudian menjadi akrab dan saya berusaha untuk lebih menerima dan mengertinya. Berdua akhirnya mencari kacamata. Kami ke toko kacamata dan dia membeli kacamata sambil minta pendapat saya. Sejak pertemuan itu dan lebih lagi sejak  membeli kaca mata, dia kelihatan semakin percaya diri dihadapan teman-temannya. Dan terkadang dia juga berani beda dalam berpakaian. Karena dia juga saya akhirnya mengenal gereja Katolik disana. Saya malah menjadi Lektor, bahkan pernah diminta berkotbah. Pedro dalam kesahajaannya ternyata banyak menolong saya selama beberapa bulan berkelana di Korea.

Pedro siap lagi ke Korea. Dia meminta saya menghubungi teman-teman di Korea agar bisa segera mendapat perusahaan pengguna tenaga kerja. Sambil menunggu dia tak lupa minta dicarikan tempat kerja sementara. Untuk dua hal itu sedang saya usahakan. Urusan informasi ke Korea mungkin mudah walau belum tentu berhasil. Saya cuma bisa kirim e-mail. Tetapi urusan cari kerja sementara pasti tidak mudah karena berbagai pertimbangan bagi para bekas TKI di luar negeri.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

AKU HARUS BERBAGI

Mari Berbagi adalah tema pendalaman iman umat Katolik Keuskupan Jakarta selama masa Prapaskah 2011. Ini cara orang Katolik mempersiapkan diri secara bersama menyambut pesta Kebangkitan Tuhan Yesus, PASKAH. Kali ini diberi sub judul Aku Diberi Maka Aku Memberi, Berbagi Dalam Kekurangan, Ekaristi Sumber Berbagi dan Komunitas Kristiani Komunitas Yang Berbagi. Kalau semuanya ini didiskusikan dan dirumuskan lalu dipraktekkan maka dunia serasa surga. Orang Kristen sudah pasti jadi terang dunia. Tetapi karena pada umumnya hanya ceria  diomong-omongkan, sayang  redup semangat bahkan mati rasa  nampak dalam tindak. Pada hal katanya Tuhan ada dalam hati. Hati adalah tabernakel Tuhan berada. Tuhan dekat dalam iman, namun terpisah jauh dalam kehidupan nyata.

Masa persiapan Paskah sesungguhnya ada 7 minggu. Jadi masih ada waktu 3 minggu lagi. Buku panduan pertemuan umat basis hanya ada 4 pertemuan. Pemandu pertemuan dalam lingkungan umat basis tidak selalu orang yang sangat pintar, tetapi ditunjuk oleh Ketua Lingkungan. Hampir setiap pertemuan saya selalu dimintakan pendapatnya dalam sharing. Omong-omong atas bahan yang dipersiapkan orang lain terasa nyaman dan enak saja. Tapi kali ini saya diminta persiapkan dan memandu.

Memandu artinya kita mengarahkan orang menuju suatu tujuan yang kita sebagai pemandu tahu.  Bagaimana saya bisa pandu kalau saya sendiri tidak tahu arahnya. Saya belum punya bahan-bahan cukup untuk jadi bekal memandu. Membaca, ya setiap hari saya membaca. Tetapi kalau urusan yang berhubungan dengan agama dan kitab suci berhadapan dengan urusan iman dan keteladanan. Ini soalnya. Bicara tentang iman berarti kita sendiri harus lebih dulu beriman. Iman itu tidak hanya sekedar kata tetapi terwujud dalam tutur dan tindak. Iman nampak dalam perilaku. Ini yang harus membuat kita tunduk dan menepuk dada sambil mengucapkan lamat-lamat dalam lubuk hati:” aku tak layak” seperti kata Perwira Romawi. Sebagai perwira dia seorang yang ditakuti dan jadi model panutan. Tetapi  dalam kehidupan beriman dia mungkin bukan panutan.

Saya harus berbagi. Berbagi sesuatu kalau saya merasa punya. Lebih baik berbagi harta. Tetapi harta apa yang saya punya? Kantongku saja kembang kempis. Aku harus berpikir tentang berbagi yang lain. Berbagi duka dan suka.  Berbagi pengetahuan dan pengalaman.  Saya sedang mencari cari harta untuk dibagi. Aku jadi membuka-buka daftar isi buku-buku yang telah saya baca.  Mungkin aku hanya bisa berbagi apa yang ada dalam pikiran, yang juga dari hasil pembagian yang ku peroleh dari bacaan, dari pertemuan dengan sahabat  dan juga dari pengalamanku sendiri. Aku harus berbagi karena aku pun menerima bagiannya. Tuhan pasti akan memberi ku pada waktunya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

AME MIU DAU MBO’O MBU

Judul diatas berarti, Ame kamu  di sana memangnya sangat makmur. Kemakmuran dalam bahasa Keo menggunakan kata mbo’o sampai mbu. Mbo’o mbu (makan sampai kekenyangan luar biasa). Mbu berarti  mabuk. Maka mbo’o  mbu berarti makan sampai mual dan pingin muntah lagi. Itu  pertanyaan kakek kami  Opa Dombo Sina kepada salah satu cucunya Gaspar Sue (almarhum) ketika berlibur di Flores.

Opa menyebut semua nama cucunya yang sudah pergi merantau ke pulau Jawa. Dia menyebut satu persatu mulai dengan Vitalis dan semua adik-adik serta nama cucu dari keluarga yang lain. Dia bilang “ngedo miu simba kai mbeja dau, ai dau ke negha todo mbo’o mbu oo..” (kamu semua pada pergi ke tempat yang sama, apakah memang di sana sangat makmur),  Gaspar cucu tukang bual dengan santai sambil senyum mengatakan:” embu dau uwi jawa me’a sama pu’u pa’a”.  (opa, di sana ubi jalar sampai sebesar paha orang dewasa). Opa menggerak-gerakan dagunya ke kiri dan kanan dan kadang ke atas dan ke bawah mengagumi cerita bual cucunya. Saudara kami yang satu ini orang marketing asuransi, tukang bual kelas kakap.

Opa  kami memang tidak pernah pergi jauh. Sekali dia pernah pergi ke kota Ende dan menginap di rumah salah satu cucunya, Pius Dipu putera dari puteri kakek.  Waktu itu pertama kali kakek menikmati penerangan listrik dari lampu neon dan juga penyegar udara dari kipas angin. Melihat sepotong kaca panjang mengeluarkan cahaya putih menerangi ruangan. Kipas angin sengaja dihidupkan untuk menyenangkan kakek. Di kampung kakek biasa menggunakan kipas dari pelepah pinang (weto kobha eu) sebagai penyejuk badan. Selain sebagai kebutuhan, saudara saya ini juga ingin memamerkan pada kakek.  Semuanya disambut senyum dan gelengan kepala tak henti-hentinya. Piu kau tu’u mbe’e (Pius kau benar hebat).

Orang Nagekeo juga orang Indonesia. Listrik masih mimpi di Mabhambawa

Kembali ke kampung Opa bercerita tak ada habisnya. Dia mengatakan tidak ada yang lebih hebat dari cucunya yang bernama Pius. Bayangkan saja “lapu bhide fata kaju” (lampu sebesar  batang kayu). Maklum waktu itu Opa kami selalu mendapat penerangan dari lampu minyak dari botol tinta atau kaleng susu. Kalau ada penerangan yang lebih baik adalah lampu tembok bersemprong kelas sedikit di bawah lampu gas (petromax). Penerangan petromax hanya ada pada saat acara dengan banyak orang. Lampu tembok juga tidak semua orang memilikinya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

GENERASI KETIGA

Tidak ada perubahan apa pun dalam blog ini. Kalau ada seperti Anda lihat pada foto makhluk berkepala plontos di atas persis di halaman depan blog ini. Kepalanya gundul, dan ini adalah gundul pertama sejak dilahirkan. Dan mungkin ini sekali-kalinya yang punya kepala mau digunduli. Ini gundul paksa. Apa boleh buat. Dia juga tak kuasa atas dirinya sendiri. Seperti manusia lain tak ada yang bisa mengatur diri dan memilih orang tua dan tempat kelahirannya. Matanya bulat bernyala menyapa semua pembaca blog ini, teristimewa orang-orang Nagekeo katanya: Jao ata Nagekeo. Jao ata Keo Tengah. Jao ata Ma’u.

Laeticia nama anak wanita gundul ini. Dia adalah yang pertama dari generasi ketiga keluarga Ranggawea, yang lahir pada 20 September 2009  di Depok, Jawa Barat.  Generasi pertama keluarga Ranggawea, Vitalis Ranggawea tiba di Jakarta pada tanggal 14 Juli 1975. Berangkat dari Ende naik KM Ratu Rosari. Ketika itu Vitalis masih berstatus frater dari kongregasi Serikat Sabda Allah. Sebagai seorang frater yang menyelesaikan ujian Sarjana Muda Filsafat harus melakukan tugas pelayanan di luar asrama yang disebut kerja praktek. sebelum melanjutkan studi teologi dan menyelesaikan Sarjana Satu. Kerja praktek ini  di Jakarta dikenal dengan Tahun Orientasi.  Tempat prakteknya yaitu di SMA Suradikara, Ende.

Mengapa sampai mendarat di Jakarta? Datang ke Jakarta untuk belajar bahasa Jerman. Ini gara-gara seorang  teman koresponden bahasa Jerman. Seorang sahabat orang  Jerman mengusulkan untuk belajar bahasa Jerman agar bisa lebih sempurna. Dan waktu itu dia juga mengajar bahasa Jerman di SMA Suradikara. Waktu liburan sekolah  dimanfaatkan untuk kursus bahasa Jerman di Jakarta.  Tetapi ternyata mengisi waktu dengan cara ini dianggap melanggar aturan Kongregasi. Atas dosa asal biara yang namanya kepatuhan, Vitalis Ranggawea akhirnya tidak diperkenankan mengulangi kaul biara. Dan sampai sekarang menetap di Jakarta. Dia tidak sendirian, karena kemudian 5 orang saudaranya datang menyusul.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BAKAL BUKU

Saya membaca  di dalam satu blog ada judul bakal buku. Dalam bahasa tumbuhan dikenal kata lembaga. Lembaga arti asal mula atau benih. Lembaga daun artinya benih yang bakal jadi daun. Lalu bakal buku sama dengan lembaga buku artinya berbagai tulisan yang bakal jadi buku.

Menulis buku pasti sesuatu yang terlalu ideal untuk banyak orang. Saya pernah ingat seorang kakak kelas saya yang sangat bersemangat setudi Filsafat. Berbagai buku dilahap dengan rakus. Dia selalu ingin menulis sesuai bidang setudinya.  Dia berambisi keras untuk menulis buku. Dia mengatakan bahwa kelak saya akan saksikan dia menulis buku. Tanpa mengurangi teman tadi, karena beberapa tulisannya saya baca di media massa, tetapi bahasanya masih bahasa planet. Dia menggunakan bahasa dan gaya pengungkapan yang membuat pembaca harus mengerlingkan kening  sampai jidat berkeriput. Orang harus berpikir untuk memahami. Pada hal tulisan ini merupakan  sebuah penjernihan dan uraian dari keruwetan pemahaman untuk membumikan suatu pemahaman.

Buku adalah  beberapa helai kertas berisi tulisan yang disatukan untuk dibaca. Menulis untuk bakal buku berarti mengisi tulisan pada kertas-kertas. Untuk mendapatkan seratus halaman tentu dimulai dengan satu halaman. Agar dapat menulis tiga bab maka mulai dengan bab yang pertama. Menulis bakal buku secara terbuka melalui blog, memberikan ruang luas kepada pembaca untuk membaca secara bertahap. Karena dalam setiap blog terbuka ruang untuk memberikan komentar, maka penulis menerima cicilan masukan dari pembaca. Karena sejak awal sudah mendapat kritikan  maka buku  menjadi lebih sempurna pada saat diteribitkan.

Penulis bakal buku tentu adalah penulis buku. Setiap buku tentu punya sasaran pembaca sendiri. Orang yang sangat gemar membaca pun akan mencari buku sesuai dengan kesukaannya. Ini berhubungan dengan tema atau pokok pikiran dasar yang dibahasa dalam tulisan. Bicara tentang tema berarti bicara tentang minat pembaca. Setiap pembaca memiliki ketertarikan pada pokok pikiran yang diminati. Dari sekian banyak topic, pasti ada topic yang spesifik dan sangat disukai. Demkian juga penulis yang memiliki bidang spesifik yang diuskainya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan tema tersebut dibacanya. Karena itu dia memiliki sekian referensi.  Buku yang ditulis seorang penulis merupakan hasil endapan dari sekian banyak pemikiran yang berkaitan dengan tema tersebut. Buku menjadi sari pati ide yang pernah dibaca dan dituangkan kembali.

Menjadi pembaca sesungguhnya mudah. Tetapi menjadi penulis sungguh  tidak mudah. Apalagi menjadi penulis buku. Forum pembaca tentu patut berterima kasih kepada para penulis, yang selalu membagi khazanah pribadi dari kotak Pandora ilmunya. Ada pembaca yang terkagum-kagum akan nilai dan cara dia mempresentasinya.

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment