CANDI KATOLIK ROMA DI JOGYA

Tanggal 15 Maret 2011 pagi kami meninggalkan rumah retret Kaliori menuju Jogyakarta. Singgahan kami berikut adalah Ganjuran.  Kami berdoa di pelataran sebuah Candi, Candi Hati Kudus Tuhan Yesus.  Ketika kami tiba suasana masih sepi. Beberapa orang berdoa  di kaki Candi dan yang lain sedang menyalakan lilin pada tempat lilin berbentuk pondokan. Disamping pondokan beratap seng ada wadah beriisi pasir. Nampak sisa-sia lidi dupa. Ada keluarga Tionghoa membakar shio di sana.  Kami duduk di bawah atap tenda luas sementara di salah satu ujung  ada peziarah yang duduk-duduk menanti malam. Mereka akan melakukan tirakatan di sekitar Candi. Selalu saja ada orang yang menghabiskan malam sambil berdoa di sekitar candi.

Candi terletak disamping gereja berbentuk Joglo dengan  pilar-pilar dan altar yang sangat dekoratif. Di sebelah kiri dalam gereja ada ruang luas berisi gamelan Jawa lengkap. Ketika kami memasuki gereja ada sejumlah orang sedang berlatih gamelan untuk mengiringi upacara liturgi gereja. Berada di gereja dan candi Ganjuran suasana inkulturasi kental terasa. Tuhan sungguh dekat dan menyatu dengan umatnya. Allah menjadi Bapak yang menyapa umat dengan segala aspek budayanya. Di Ganjuran Allah sungguh menjadi Tuhan orang Jawa.

Meninggalkan pondok retret Kaliori

Memasuki halaman yang sepi di Gereja Ganjuran bergaya Joglo

Altar Gereja Ganjuran dengan nuansa kultur Jawa

CANDI KATOLIK HATI KUDUS TUHAN YESUS

Banyak orang menaiki tangga candi dan berdoa di hadapan Patung Hati Kudus Tuhan Yesus. Dan kami pun tidak ketinggalan, kami masing-masing menapaki anak tangga candi dan sejenak bersujud dan berdoa di hadapan Patung Hati Kudus Tuhan Yesus yang berada di puncak candi.

 

HATI KUDUS TUHAN YESUS

Istri saya Christine sedang melakukan doa pribadi di Kubah Candi

Posted in Uncategorized | Leave a comment

RUMAH RETRET DAN GUA MARIA KALIORI

Perjalanan kami berempat  dari Jakarta ke Jogya pada tanggal 14 Maret 2011 dengan sebuah Avanza tidak memiliki tema istimewa.Inisiatif datang dari teman dan tetanggaku.  Saya mengajak untuk bermobil ria dan wisata ke Bali.  Saya pikir dengan itu ada banyak tempat bisa disinggahi atau dikunjungi. Tetapi pasangan tetangga saya  orang Jogya punya kerinduan untuk pulang kampung. Berangkat dari Jakarta jam 6 pagi. Membawa bekal makan pagi dari rumah. Saya yang semula memiliki kebiasaan bertualang tanpa bekal, akhirnya berterima kasih bahwa santapan pagi itu adalah urutan pertama dari semua yang pernah kami cicipi sepanjang perjalanan pergi dan pulang. Filet ikan kakap asam manis dengan nasi pulen hangat, mengenyangkan dan sedap. Perjalanan menyenangkan penuh canda dan tawa. Tidak ada banyak hambatan sampai Gua Maria Kaliori di Purwokerto.

Kami menginap di pondok  Caecilia, rumah retret terbaru sumbangan seorang penderma dari Jakarta. Memiliki 4 kamar tidur yang besar berpendingin udara  dan air panas untuk kamar mandi. Sebuah tempat tidur besar berkasur empuk dengan satu tempat tidur ekstra. Ruang duduk dengan meja makan yang lega. Layaknya sebuah vila peristirahatan ketimbang ruang doa dan bermeditasi.

Foto diambil oleh seorang Imam OMI (Oblat Maria Immaculata)

Gerbang sebelum menapaki banyak anak tangga menuju gua

Berdoa di gua Maria

Rumah Retret

Kenyamanan ruang tidur Pondok Caecilia di rumah retret Kaliori

Ruang duduk berplafon tinggi

Posted in Uncategorized | Leave a comment

POTRET RUMAH BALI

Selama ini saya hanya numpang lewat pulau Bali. Kala ingin pulang ke kampung kami Mauromba, Flores pesawat pasti singgah di Denpasar sebelum ke Ende atau Maumere. Ketika bekerja di sebuah perusahaan dekorasi interior, saya pernah masuk beberapa hotel ternama di pulau Dewata. Suatu kali saya pernah menginap di hotel di pulau Bali karena pesawat terbang mengalami gangguan teknis. Saya juga pernah mengendarai mobil sendirian dari Jakarta sampai pulau Flores. Otomatis saya melewati pulau Bali. Bali yang saya kenal cuma sambil lewat. Bersama istri dan anak sempat dua malam menginap di Bali setelah menjenguk orang tua sambil memperkenalkan istri. Kalau memang ada keperluan ke Bali, pasti paling lama dua malam dan setelah menyelesaikan urusan segera kembali ke Jakarta.

Pada medio Januari saya berkunjung ke Bali. Seorang kerabat membantu menyiapkan sebuah kendaraan sewa. Setelah sedikit urusan di Denpasar, saya menuju Singaraja. Di Singaraja saya sempat menginap dan itu untuk pertama kali saya menginap di rumah orang Bali. Satu minggu saya menikmati kebaikan dan kemurahan hati keluarga Bali, yang juga rekan usaha saya. Selebihnya selama tiga minggu saya berpindah-pindah mondok di guesthouse di pantai Lovina.

Ada yang sangat saya kagumi adalah hampir semua tembok pagar halaman gedung di Bali penuh ukiran. Di beberapa tempat saya jumpai tembok pagar lebih mahal dari pada bangunan yang dipagari. Kalau ada gambaran bahwa raja selalu dikelilingi dengan kemewahan, tidak demikian dengan seorang raja Buleleng. Dari orang-orang yang berada di sekitar rumah raja, saya mendapat kisah kesahajaan dan keluhuran sikap sang raja. Dia sungguh raja yang merakyat.

Saya memotret  rumah bangsawan, rumah orang sederhana dan rumah raja  Buleleng  Ki Barak Panji Sakti, yang  sangat  sederhana layaknya tempat  para pertapa.

 

Rumah orang sederhana

Rumah kediaman Ki Barak Panji Sakti, raja Buleleng

Rumah Kediaman Ki Barak Panji Sakti, Raja Buleleng

Tempat Tidur Sang Raja

Tembok rumah kediaman Ki Barak Panji Sakti dan kendi air dari tembikar di lantai masih tetap dipertahankan

Oranamen dinding rumah Ningrat Bali

Pendopo panjang dan masih ada bangunan-bangunan tambahan lainnya

Foto: Vitalis Ranggawea

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BALI MEMANG BERSAMPAH

Seorang wanita asing yang ku jumpai di pelabuhan tak berfungsi Buleleng, mungkin pemerhati lingkungan. Dia  mengeluh mengapa orang Bali selalu saja membuang sampah setiap kali ada upacara. Dimana-mana sampah berserakan setelah ada upacara. Pemilik sebuah galeri, seorang berkebangsaan Australia beristrikan Ibu Sumi, seorang wanita Timor  mengeluhkan hal serupa. Karena orang-orang tersebut saya jumpai di kabupaten Buleleng, maka yang mereka keluhkan  adalah masalah  sampah yang ada di Buleleng.

Kalau sekarang orang sejagat tahu Bali sebagai neraka karena sampah, kita musti sepakat dengan kerendahan hati Gubernur Bali I Made Mangku Pastika. Beliau mengakui benar Bali penuh sampah.  Kalau saja Bali tidak mempunyai daya tarik luar biasa dan menjadi tempat tujuan wisata, penumpukan sampah di Bali tidak jadi hal luar biasa. Kita ingat Bandung sempat jadi kota berbau sampah. Jakarta  dan Bantargebang di wilayah Bekasi menjadi saksi bahwa Jakarta juga adalah kota penuh sampah.

Dimana ada manusia hidup pasti ada sampah. Berarti sampah harus diterima sebagai sesuatu yang memang ada. Masalahnya adalah bila tidak mengurus dan membuang sampah pada tempatnya. Sampah memang menjadi masalah yang membutuhkan perhatian dan kerja sama dengan semua pihak. Membuang sampah di got dan kali masih menjadi kebiasaan penduduk Bali seperti yang kami saksikan di Singaraja. Hasilnya ketika hujan tiba semua sampah mengalir ke laut yang kemudian dihempaskan  ombak  ke pantai. Pantai bagaikan padang  sampah.

Wisatawan berjemur di pantai Lovina bersampah

Pantai Buleleng tiada hari tanpa sampah

Sebagian sampah di Lovina yang dimanfaatkan jadi kayu bakar

Pemilik hotel di pantai Lovina berterima kasih pada para pedagang asongan pantai, yang setiap hari mengumpulkan sampah dan menguburkannya di dalam pasir pantai secara sukarela.

Photo: Vitalis Ranggawea

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BALI THE LOST PARADISE

Kuta dan Sanur adalah pantai pulau Bali yang selalu mengundang wisatawan. Kemacetan lalu lintas di Denpasar dan keramaian yang luar biasa pantai Kuta dan Sanur ditambah dengan bebagai bagunan di sekitar pantai membuat Bali menjadi pulau yang gerah. Masih pantaskah pulau Dewata ini disebut The Lost Paradise?

Ada beberapa gambar yang saya ambil ketika berada di pantai Lovina. Pantai Lovina di kabupaten Buleleng, pasirnya tidak  putih dengan bibir pantai yang tidak seberapa luas karena termakan ombak. Pantai Lovina terbilang sepi. Lovina adalah Bali The Lost Paradise.

Damai....

Kegembiraan anak anak Bani Adam yang telanjang

Aku Anak Dewata..

Menemukan The Lost Paradise

Biarkan aku istirahat dan sejenak bermimpi di taman ini...

My God...

Photo: Vitalis Ranggawea

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KACAMATA SEORANG SAHABAT

Pagi ini ada SMS dari seorang “met pagi pk, kemarin k dtg ke rmh tp kosong, hr ini sy blh main“. Sore kemarin, saya dan istri keluar. Kami pergi membeli daging burung belibis  selingan kesukaan kami. Kami biasa goreng sendiri setelah televisi menyiarkan bahaya menggunakan minyak goreng bekas. Para pedagang gorengan biasa mengunakan minyak  bekas yang diputihkan  dengan  zat kimia berbahaya.  Ketika kembali istri saya mengatakan pasti ada orang yang sudah masuk halaman, karena posisi kunci sudah berubah. Dan benar teman saya pernah datang ke rumah.

Pagi-pagi dia sudah datang sebelum saya buka SMS. Saya masih mengenakan sarung dan belum mandi.  Dia merasa sangat dekat dengan saya, dia juga datang hanya bercelana pendek.  Saya bilang padanya, maaf saya mandi dulu. Dan dia saya biarkan baca harian Kompas.

Teman saya Petrus, ketika menjadi seorang tenaga kerja tanpa ijin alias illegal di Korea dia dipanggil Pedro. Saya bertemu Pedro di Muji Sangga, sebuah Rumah Singgah TKI di kota Changwon,  dekat  bandara  Kimhae tak jauh dari Busan.

Teman saya ini baru beberapa hari lalu dioperasi usus buntu. Dia juga sempat memperlihatkan bekas torehan pisau bedah dengan bekas jahitan yang baru saja sembuh. Saya sedikit risih melihat bekas luka operasi. Terasa ngilu sendiri kulit badan saya. Operasi berkaitan dengan uang. Dan dia mgatakan bahwa uangnya yang disiapkan untuk kembali ke Korea sebagai TKI terpaksa dipakai. Pedro sudah mendaftarkan diri menjadi calon TKI di Korea. Dan namanya sudah terdaftar TKI siap kirim (Sending). Tinggal tunggu ada majikan di Korea yang siap memberikan visa.

Pedro minta ijin menggunakan komputer dan internet di ruang kerjaku. Ketika saya diminta mengetik situs, dia mengeluh tidak bisa baca dengan jelas. Maklum pengelihatannya memang kurang normal dan hari ini dia seperti biasa membawa sifat lupa. Dia tidak membawa kacamata.  Saya jadi ingat, perkenalanku dengnan Pedro gara-gara kacamata. Ketika pertama kali saya tiba di Changwon, saya berjumpa dengannya di Rumah Singgah (Worker House). “He kamu lihat nggak kacamata saya?” Dia dengan agak terhuyung-huyung menunjuk jari kepada saya. Karena saya tidak kenal kepribadiannya, saya merasa agak tersinggung. Dalam hati saya menggerutu, ini anak mana kurang ajar begini. Anak kecil pake panggil saya dengan he he segala kaya binatang.  Sekejap saya tahan emosi. Ada seorang TKI lain menenangkan saya, maaf dia memang begitu. Saya berusaha menurunkan amarahku yang sempat naik ke titik didih.

Kami kemudian menjadi akrab dan saya berusaha untuk lebih menerima dan mengertinya. Berdua akhirnya mencari kacamata. Kami ke toko kacamata dan dia membeli kacamata sambil minta pendapat saya. Sejak pertemuan itu dan lebih lagi sejak  membeli kaca mata, dia kelihatan semakin percaya diri dihadapan teman-temannya. Dan terkadang dia juga berani beda dalam berpakaian. Karena dia juga saya akhirnya mengenal gereja Katolik disana. Saya malah menjadi Lektor, bahkan pernah diminta berkotbah. Pedro dalam kesahajaannya ternyata banyak menolong saya selama beberapa bulan berkelana di Korea.

Pedro siap lagi ke Korea. Dia meminta saya menghubungi teman-teman di Korea agar bisa segera mendapat perusahaan pengguna tenaga kerja. Sambil menunggu dia tak lupa minta dicarikan tempat kerja sementara. Untuk dua hal itu sedang saya usahakan. Urusan informasi ke Korea mungkin mudah walau belum tentu berhasil. Saya cuma bisa kirim e-mail. Tetapi urusan cari kerja sementara pasti tidak mudah karena berbagai pertimbangan bagi para bekas TKI di luar negeri.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

AKU HARUS BERBAGI

Mari Berbagi adalah tema pendalaman iman umat Katolik Keuskupan Jakarta selama masa Prapaskah 2011. Ini cara orang Katolik mempersiapkan diri secara bersama menyambut pesta Kebangkitan Tuhan Yesus, PASKAH. Kali ini diberi sub judul Aku Diberi Maka Aku Memberi, Berbagi Dalam Kekurangan, Ekaristi Sumber Berbagi dan Komunitas Kristiani Komunitas Yang Berbagi. Kalau semuanya ini didiskusikan dan dirumuskan lalu dipraktekkan maka dunia serasa surga. Orang Kristen sudah pasti jadi terang dunia. Tetapi karena pada umumnya hanya ceria  diomong-omongkan, sayang  redup semangat bahkan mati rasa  nampak dalam tindak. Pada hal katanya Tuhan ada dalam hati. Hati adalah tabernakel Tuhan berada. Tuhan dekat dalam iman, namun terpisah jauh dalam kehidupan nyata.

Masa persiapan Paskah sesungguhnya ada 7 minggu. Jadi masih ada waktu 3 minggu lagi. Buku panduan pertemuan umat basis hanya ada 4 pertemuan. Pemandu pertemuan dalam lingkungan umat basis tidak selalu orang yang sangat pintar, tetapi ditunjuk oleh Ketua Lingkungan. Hampir setiap pertemuan saya selalu dimintakan pendapatnya dalam sharing. Omong-omong atas bahan yang dipersiapkan orang lain terasa nyaman dan enak saja. Tapi kali ini saya diminta persiapkan dan memandu.

Memandu artinya kita mengarahkan orang menuju suatu tujuan yang kita sebagai pemandu tahu.  Bagaimana saya bisa pandu kalau saya sendiri tidak tahu arahnya. Saya belum punya bahan-bahan cukup untuk jadi bekal memandu. Membaca, ya setiap hari saya membaca. Tetapi kalau urusan yang berhubungan dengan agama dan kitab suci berhadapan dengan urusan iman dan keteladanan. Ini soalnya. Bicara tentang iman berarti kita sendiri harus lebih dulu beriman. Iman itu tidak hanya sekedar kata tetapi terwujud dalam tutur dan tindak. Iman nampak dalam perilaku. Ini yang harus membuat kita tunduk dan menepuk dada sambil mengucapkan lamat-lamat dalam lubuk hati:” aku tak layak” seperti kata Perwira Romawi. Sebagai perwira dia seorang yang ditakuti dan jadi model panutan. Tetapi  dalam kehidupan beriman dia mungkin bukan panutan.

Saya harus berbagi. Berbagi sesuatu kalau saya merasa punya. Lebih baik berbagi harta. Tetapi harta apa yang saya punya? Kantongku saja kembang kempis. Aku harus berpikir tentang berbagi yang lain. Berbagi duka dan suka.  Berbagi pengetahuan dan pengalaman.  Saya sedang mencari cari harta untuk dibagi. Aku jadi membuka-buka daftar isi buku-buku yang telah saya baca.  Mungkin aku hanya bisa berbagi apa yang ada dalam pikiran, yang juga dari hasil pembagian yang ku peroleh dari bacaan, dari pertemuan dengan sahabat  dan juga dari pengalamanku sendiri. Aku harus berbagi karena aku pun menerima bagiannya. Tuhan pasti akan memberi ku pada waktunya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment