AGAMAKU PALING BENAR

Setiap pemeluk pasti meyakini bahwa agamanya yang paling benar.  Karena memang benar pasti baik dijadikan pegangannya. Sebagai seorang pemeluk setia kita  melakukan segala perintah agama dengan patuh. Semua yang dilakukan menjadi kewajiban tanpa paksa. Segalanya dilakukan  atas dasar keyakinan diri kita sendiri. Ini adalah  syahadat atau kredo. Tidak ada yang lain selain yang diyakini.

Mengklaim secara terbuka tentang  kebenaran dan kebaikan agamanya pasti tidak ada salahnya. Berarti mengatakan bahwa agamaku adalah yang terbaik tidak jadi masalah. Yang menimbulkan masalah adalah tatkala sambil menyatakan keunggulan agama sendiri  kita  melihat agama orang lain sebagai agama yang salah. Dengan demikian sebagai pemeluk agama, kita kehilangan tenggang rasa untuk menghargai orang lain dan keyakinannya.

Setiap agama mengajarkan kita bagaimana mendekatkan diri pada Tuhan. Dampak dari kedekatan diri pada Tuhan adalah rasa damai dalam batin. Seorang yang memiliki kedamaian batin akan menjadi orang yang lebih baik bagi sesama. Penghayatan agama harus muncul dalam perilaku. Semangat beragama yang baik (religius) nampak dalam kehidupan harian yang lebih manusia, memiliki cinta kasih kepada sesama dan punya tanggung jawab sosial.  Perilaku baik kita dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat menjadi indikasi bahwa agama yang dianut adalah benar dan baik.

Kekerasan dalam negeri kita seperti tak ada habisnya.  Berbagai peristiwa bom di gereja-gereja, bom Bali, bom di Kedutaan Australia dan Hotel J.W. Mariot. Ada kelompok yang ditindas. Kekerasan  terhadap kelompok Ahmadiyah di Cekeusik  dan terakhir deretan bom buku yang dimulai dari Utan Kayu Jakarta Pusat.

Kita sedang berhadapan dengan teroris berlabel agama. Adakah agama mengajarkan kekerasan? Semua agama yang baik pasti mengajar kasih pada sesama. Agama Buddha bahkan mengajarkan harus menyayangi alam dan segala isinya. Kekerasan kaum terorist dikutuk dan dihindari karena menyimpang dari ajaran agama yang benar. Karena kekerasan adalah perilaku pribadi menyimpang dari orang-orang yang beragama. Harus kita pisahkan antara agama dan perilaku manusia yang mengaku beragama.  Masih pantas kita mengakui agama dianut adalah  yang paling benar. Namun kita menolak dan mengutuk keras  orang-orang yang mengaku pendidik dan pemuka agama tetapi mendalangi kekerasan terhadap orang-orang sebangsanya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SANKSI ADAT POKE WAWI

Ada dua istilah yang dikenal dalam budaya Nagekeo yang berkaitan dengan membunuh babi. Keda (membunuh dengan membelah tengah kepala babi) dan poke (melempar dengan tombak atau lembing). Keda wawi adalah membunuh babi secara umum. Dalam posting saya terdahulu pernah ditulis bagaimana cara orang Nagekeo membunuh babi. Bagi orang luar Flores, cara ini terlalu sadis. Babi dalam keadaan kaki-kaki terikat lalu dihujamkan ujung parang ketengah kepala berkali-kali.  Darah dan otaknya akan segera keluar dan ditampung. Sampai sekarang masih terus berjalan.

Poke wawi adalah  membunuh babi dengan cara melemparkan lembing  atau tombak ke badan babi. Lemparan tombak dan lembing hanya sekedar melumpuhkan dan kemudian tetap melalui proses keda wawi (membelah kepala). Istilah poke wawi banyak digunakan dalam sanksi adat lingkungan.

Masyarakat adat memiliki larangan-larangan tertentu, khusus berkaitan dengan menjaga lingkungan. Yang melanggar akan dikenakan denda adat. Pelanggaran adat yang berkaitan dengan lingkungan adalah mengambil atau mencuri bambu dan kelapa orang lain, teristimewa pada saat larangan (tanda). Ada tanda nio (kelapa) dan tanda peri (bambu). Orang Nagekeo khususnya di Keo Tengah memiliki kebiasaan menghormati alam dan menjaga untuk pemulihan selama masa tertentu. Sanksinya selalu berupa babi dengan ukuran yang besar. Bila saat pengenaan sanksi tiba, maka yang bersalah harus mempunyai babi. Bila tidak ada, pemuka adat menentukan babi yang ada di kandang milik orang lain. Terkadang babi milik orang lain yang sedang berkeliaran tanpa dikandang. Masa lalu banyak orang membiarkan babi-babi hidup bebas. Pada waktu memberi pakan, pemilik akan memanggilnya. Yang aneh bahwa setiap babi mengenal suara pemiliknya, walau bunyi yang keluar sama yaitu mae…maeee.

Pada masa kini semua hewan sudah dikandangkan. Menangkap babi cukup dengan mendatangi kandang dan mengikat babi. Tetapi penangkapan dan penyembelihan babi untuk sanksi adat disebut  poke wawi. Dalam suatu pelanggaran adat yang luar biasa dikenakan sanksi poke kamba(membunuh kerbau). Tetapi poke kamba berkaitan dengan pelanggaran susila yang berat.

Posted in ADAT & BUDAYA | Tagged , , , , , | Leave a comment

KETIKA SEMUA JALAN SUDAH TERTUTUP

Judul posting ini saya ambil dari sebuah buku terbitan Obor, karangan Heri Kartono,OSC.  Saya belum baca buku Kisah Nyata Kesaksian Iman  ini. Saya tertarik membeli buku yang dijual di sebuah tenda di depan Gereja St. Aloysius Cijantung.  Setiap kali membeli buku saya melihat judul dan pengarang. Saya juga memperhatikan nama penerbitnya. Tidak semua tulisan dapat diterbitkan oleh Penerbit ternama. Jadi ada jaminan isi dan juga redaksionalnya.  Yang paling menentukan saya membeli buku adalah berbagai kata pengantar di belakang atau punggung buku. Dan saya beli buku ini karena tertarik dengan komentar di punggung buku.

Ketika Semua Jalan Sudah Tertutup menurut pemberi komentar di punggung buku adalah kisah dan kesaksian pergulatan hidup manusia yang sangat berat.  Dan menurut Ir. Salahudin Wahid, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, setiap pemeluk agama yang menjalani kehidupan dengan berdasar pada ajaran agamanya, akan memperoleh sumber kekuatan. Artinya masih ada jalan yang terbuka karena merasakan kehadiran Allah dalam kesulitan hidupnya.

Hari ini ada misa dengan tiga orang konselebran atau misa konselebrasi. Misa dengan beberapa imam secara bersama-sama. Ada seorang imam bekas pastor paroki kami, kali ini datang untuk mencari dana pembangunan gereja mereka, Gereja Kristus Raja di Pejompongan, Jakarta Pusat yang sedang direnovasi. Selain pastor paroki kami, ada pastor ketiga. Dia datang berkunjung ke gereja kami. Karena di tempat ini, pastor tamu  tersebut pernah beberapa bulan tinggal di paroki kami.

Pastor tamu dari pedalaman Kalimantan Timur ini punya pengalaman luar biasa. Ketika enam orang dokter memberi vonis bahwa dia tidak bisa tertolong dia datang ke Cijantung. Kata pastor tamu tadi, bahwa setiap hari dia mengalami perdarahan sangat banyak sekitar tiga mangkuk. Harapan hidup sangat tipis. “Namanya orang kepepet”, saya lalu datang ke Cijantung. di tempat kami ada seorang pastor penyembuh, yang adalah Romo Rochadi Widagdo, Pr. Romo tersebut hari ini juga ikut misa dalam rangka pencarian dana pembangunan gereja.

“Satu saja permintaanku Tuhan, berikan saya kesempatan untuk merayakan ulang tahun tahbisan imam sekali saja. Sesudahnya terserah pada Tuhan.”  Pada akhir Misa Romo yang mengalami penyembuhan memberikan kesaksian, bahwa pada hari raya Jumat Agung, hari dalam pekan suci dia mengalami penyembuhan. Sampai hari ini sudah 10 tahun setelah kesembuhan mengerankan itu, dia mengatakan pada orang tuanya bahwa mereka tidak usah sedih kalau Tuhan akhirnya memanggilnya. Karena dia sudah mendapat bonus anugerah kehidupan luar biasa selama 9 tahun.

Ketika semua jalan tertutup, janganlah putus asa. Ketika hidup itu berat dan kelam seperti tidak tertanggungkan, juga termasuk manakala penyakit yang di mata manusia dan para ahli tak tersembuhkan, Tuhan adalah tempat anda berlari. Kita memang terkadang merasa kepepet ibarat menghadapi tembok, tak ada lagi tempat berlari. Semua jalan sudah tertutup. Tuhan akan membukakan jalannya.

Menurut Romo Rochadi Widagdo semuanya harus dengan doa. Melalui doa kita bisa mendapat kesembuhan. Pertolongan datang dari Tuhan melalui doa.

Posted in Uncategorized | 5 Comments

AL JAZEERA LEMPAR BATU SEMBUNYIKAN TANGAN CERDIK INDONESIA

Isu penggantian kabinet reda  bagai angin lewat. Media massa gempar menyajikan opini publik. Para elit politik terutama anggota partai Demokrat ngotot omong berbusa-busa tentang perlunya penggantian anggota kabinet.  Para profesor tidak kalah gertak.  Pak Tjipta Lesmana salah satu dari sekian orang pintar yang mencuap-cuap adanya penggantian kabinet.  SBY mendiamkan itu semua. SBY tak mau dipaksa dan terpaksa lakukan  penggantian menteri.

Media massa negeri Kanguru menulis berita miring tentang istana. SBY mendekapkan telapak tangan di dada. Ibu Ani Yudhoyono katanya meneteskan air mata. Media massa kita ikut menaikkan titik didih masalah. Indonesia memang penuh dengan orang pintar. Media massa kita ramai mencari dan menjaring pendapat para pakar mengungkit dan mengangkat isu yang sama.

Libya diserbu rudal sekutu agar rezim yang berkuasa turun, mengekor gerakan demokrasi Tunisia dan Mesir. Al Jazeera mengangkat isu kudeta di negeri kita.  Kekerasan kelompok agama dianggap sebagai skenario untuk menjatuhkan pemerintah yang sah artinya ada kudeta.  Ada yang tegas menyatakan perlu penggantian rejim.  Kelompok Islam garis keras  bahkan sudah punya pilihan  presiden dan anggota kabinet sendiri. Pemerintah yang sah seperti ditampar wajahnya. Kata anak preman jalanan, jangan sok kuasa, mau tahu kami juga punya kekuatan. Pemerintah kita hanya punya semangat tapi tak bertenaga. Nafsu besar, tetapi tenaga kurang.

Saya tertarik pada apa yang diucapkan oleh Kristian Wibisono dan Hendro Priyono.  Hendoro Priyono meminta agar jangan ada bantahan resmi tentang apa yang tertulis di media massa asing. Yang diperlukan adalah media massa Indonesia merapatkan barisan memberitakan hal-hal positif yang ada dalam negeri ini semaksimal mungkin. Media massa Australia dan Al Jazeera adalah media asing yang eksis secara global. Kristian Wibisono mengatakan dalam forum Lions Club bahwa   media massa asing ini hanyalah corong yang dipakai oleh orang cerdik Indonesia.

Posted in Politik | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

KUDETA PRESIDEN SBY

Pasti ini bukan forum yang pas untuk memuat isu besar ini. Bukan untuk sensasi pula diangkat di ruang sempit dan sepi ini. Apa pun namanya kudeta atau revolusi berdarah juga revolusi damai selalu mengorbankan rakyat. Sebuah keprihatinan bila  Presiden SBY  dianggap lemah dan gagal karena itu ingin digulingkan.

Kabar ini merebak beberapa hari belakangan. Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto mengaku sudah mendengar isu kudeta ini. “Saya sudah tahu dari seminggu-sepuluh hari yang lalu,” kata Djoko, usai pembukan JIDD, di Jakarta Convention Center, Rabu 23 Maret 2011.

Aksi penyerangan berlatar belakang konflik keagamaan yang terjadi belakangan ini bertujuan  untuk menyudutkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Aksi ini didalangi  sejumlah purnawirawan jenderal  dengan tujuan agar SBY makin lemah dan mudah dikudeta.

Isu kudeta ini  jadi ramai setelah diberitakan oleh Al Jazeera. Para purnawirawan itu, begitu bunyi berita itu, memakai kelompok garis keras guna merubuhkan SBY. “Aya-aya wae, kita kan sudah mengembangkan demokrasi di negara ini,” kata dia. Menurut Djoko, tahapan demokrasi sudah ditentukan dan hal itu sudah diatur dalam undang-undang.

Djoko menambahkan pemberitaan tersebut tidak terlampau menganggu kinerja pemerintahan, Dia juga mengatakan, tidak ada langkah tertentu yang diambil pemerintah menghadapi rumor itu.

Sebelumnya, Al Jazeera, menurunkan laporan ekslusif tentang ‘purnawirawan jenderal senior’ yang secara rahasia mendukung kelompok Islam garis keras dalam usaha menumbangkan kekuasaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Termasuk, merancang penyerangan 1.500 orang di Cikeusik, Pandeglang, Banten yang menewaskan tiga jemaah Ahmadiyah secara tragis. Diduga kuat, kata Al Jazeera, penyerangan ini sistematis.

“Jenderal ini menggunakan grup garis keras untuk menggulingkan Presiden Yudhoyono, karena mereka menganggap SBY terlalu lemah dan terlalu reformis,” demikian laporan koresponden Al Jazeera, Step Vassen dalam rekaman Al Jazeera yang ditayangkan Selasa 22 Maret 2011 malam.

Dalam laporannya itu, Al Jazeera mewawancarai beberapa orang termasuk Ketua Umum Gerakan Reformis Islam (GARIS) Haji Chep Hernawan.

“Para pensiunan jenderal sudah muak dengan SBY. Mereka juga menganggap SBY gagal. Karena itu, para purnawirawan ini mengangkat isu lain seperti pelarangan Ahmadiyah,” kata dia. Ditambahkan Chep, para mantan jenderal memberi dukungan, teruskan jihad. Namun revolusi itu harus damai.

Sumber: VIVAnews

Posted in Politik | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

BERBOHONG DAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI

Pagi ini saya ditelepon oleh seorang teman asal Bali, yang sedang berada di Jakarta.  Ketika dia menanyakan posisi saya, saya spontan mengatakan saya sedang di kantor.  Pada hal saya berada di rumah.  Saya langsung berbohong karena ingin hindari pertemuan dengannya.

Seorang teman yang sedang saya antar ke Bandara Soekarno Hatta mengatakan bahwa dia sudah di Bandara tetapi lagi berbicara dengan teman. Saya yakin teman bicara sambil menoleh sana sini mencari tahu keberadaannya. Kenyataan kami masih sangat jauh dari Bandara dan terjebak macet luar biasa.

Isteri saya sering menelpon menanyakan posisi saya dalam perjalanan. Saya juga sangat sering berbohong mengatakan keberadaan saya yang sebenarnya.

Berbohong menjadi jauh lebih sering dan mudah dilakukan sejak ada telepon genggam. Ternyata teknologi komunikasi ini berkontribusi cukup besar pada perobahan tingkah laku manusia.  Dan sejak ada telepon genggam saya lebih banyak berbohong. Bagaimana dengan anda?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PAWE PAWE KEO NAGE SOO PAWE

Senin 21 Maret 2011, Didimus  orang sedesaku datang ke rumah.Teman saya ini dulu dipanggil ame goo susu, karena pernah jadi anak manja yang terus menyusu.Ame goo (laki), ine goo (wanita), ame tolo (laki) atau ine tolo (wanita) itu panggilan umum untuk anak-anak yang tidak disebutkan namanya. Nama di dalam budaya Nagekeo selalu diambil dari nama anggota keluarga yang sudah meninggal. Ketika nama yang dihidupkan adalah dari seorang yang dituakan dan dihormati, maka orang sungkan menyebut nama itu. Ame goo sudah bertahun-tahun dia tidak pernah datang ke rumah kami.  Sedikit cerita tentang keluarga dan pekerjaan, kami bicara tentang kampung halaman. Desa kami Witurombau. Nama desa kami merupakan gabungan dari tiga kampung yaitu Witu, Romba dan Ua. Witu (Witu dan Mauara), Romba (Romba Wawo, Romba Wena, Nuamuri) serta Ua.

Ketika kami berbicara tentang kampung halaman, saya membuka laptop dan memperlihat foto dokumentasi perjalanan saya di Nagekeo termasuk kampung dan desa kami. Kata orang foto diri selalu punya warna sendiri, karena itu dilihat lagi dan lagi. Demikian saya memperlakukan foto-foto kampung halaman saya. Saya melihat kembali berulang-ulang. Ada keindahan, karena memang banyak tempat indah di Flores, termasuk di Nagekeo. Selain indah, foto kampung halaman membawa nostalgia. Bahagian masa lalu yang memberi andil pada perjalanan hidup sendiri. Kebahagiaan karena semuanya selalu membuat rindu untuk kembali. Sebaik apa pun di tanah rantau, tanah tumpah darah selalu lebih akrab dan nyaman.

Kami bercerita, ya sebenarnya saya yang bercerita tentang kampung halaman. Saya bicara tentang keadaan  kampung kami hari ini. Kalau dulu hanya diterangi lampu minyak tanah dalam botol tinta atau kaleng susu, kini sudah ada listrik. Kalau dulu orang desa kami harus berjalan kaki atau berperahu ke kota, kini sudah ada sarana transportasi kendaraan roda empat. Kalau dulu orang tua bersurat dan menitipkan pada pastor paroki, kini sudah komunikasi langsung via telepon genggam atau pesan tertulis (SMS). Banyak hal sudah berubah.

Hasil bumi utama desa kami dulu adalah kelapa, yang dijadikan kopra dan minyak goreng.  Cara mengolah kopra, kalau dulu orang mengupas, membelah dan mengeringkan, kemudian melepaskan daging dari batoknya,maka kini orang langsung membelah kelapa berkulit langsung dijemur. Kelapa sekarang bertumbuh lebih subur dan berbuah lebat.

Hasil bumi kampung kami sekarang bertambah, sudah ada vanili, cengkeh, jambu mede dan kakao di samping kelapa. Masih ada banyak hasil pertanian lainnya, seperti pisang, nanas, mangga. Sayang tiga jenis produksi tanaman ini berkelebihan dan dijadikan pakan babi atau busuk sia-sia.

Posted in Uncategorized | Leave a comment