INE HA SUSU MITE AME HA DADU TOLO

Hidup bersama yang rukun dan bertoleransi bukan sebuah rahmat (granted) dan produk yang selesai. Harus selalu ada usaha yang terus menerus untuk secara sengaja membangun dan merawat kehidupan yang lebih saling menghargai dan mengakui keberadaan pihak lain. Sebagai anak Nagekeo dari wilayah Keo, atau Ma’u , pantai selatan Nangekeo, Flores, saya berbangga bahwa leluhur (embu kajo) punya legacy, warisan harta tak ternilai dan masih berlaku.Karena terpaksa keadaan saya banyak berjalan kaki di Jakarta. Saya pernah berjalan kaki dari Pancoran, Jakarta Selatan sampai Menteng, Jakarta Pusat. Saya juga pernah berjalan kaki dari Tanjung Priok, Jakarta Utara hingga Rawamangun di Jakarta Timur.
Mundur ke belakang teringat pengalaman jalan kaki menjelajahi wilayah pantai selatan Flores di wilayah daerah kelahiran saya. Ketika sekolah di Seminari Matoloko setiap tahun minimal 2 kali berjalan pulang pergi Muromba , kampung saya sampai Mataloko, bahkan pernah sampai Bajawa. Saya sudah pernah jalan kaki di wilayah Mauponggo sampai Pajamala. Saya juga pernah jalan kaki dari kampung sampai Raja Wolowea. Di wilayah Nangaroro saya sudah sampai Riti dan kampung sekitarnya. Nangaroro sampai Malapahdu. Suatu ketika saya bersama Donatus Kami berjalan kaki sampai Ende.

Berjalan kaki di wilayah selatan yang kami sebut Ma’u, sebuah wilayah yang disebut ‘udu mbe’ i kedi, a’i ndeli mesi (ujung atau hulu bersandar gunung, dan kaki menginnjak laut) mempunyai kesan yang istimewa. Berjalan-jalan atau bepergian di wilayah udu mbe’i kedi a’i ndeli mesi’ tidak membutuhkan bekal dalam perjalanan. Karena di mana-mana kami bisa dengan mudah mendapatkan minum dan makan tanpa harus mengeluarkan uang. Karena kami memiliki ikatan keluarga di mana-mana.
Orang Nagekeo selalu memaklumatkan dalam ‘bhea’ mengatakan kami wa’u pu’u ha sa’o poro pu’u ha todo (berasal dari rumah induk yang sama dan ‘ine ha susu mite ne’e ame ha dadu tolo’ yang berarti kami mempunyai anak-anak dari rahim dan menyusu dari ibu yang satu dan berayah seorang lelaki perkasa yang sama. Kami tidak perlu takut bepergian ke mana saja karena selalu dapat bertemu saudara yang bisa menolong.

Para leluhur kami ine ame embu kajo orang Keo mengajarkan kami untuk hidup lebih sosial dan terbuka menerima dan mengakui secara resmi orang-orang diluar lingkunan ine ha susu mite ameha dadu tolo. Ada dua warisan leluhur (legacy) yang ditinggalkan yang mengajarkan bagaimana bersikap dan berbuat baik pada sesama di luar lingkungan ine ha susu mite ame ha dadu tolo.

Keu Mere Kanggo Dewa
Orang Keo, karena lokasinya berada di wilayah pesisir (‘udu mbe’i kedi a’i ndeli mesi) sehingga disebut Ma’u (pantai) mudah orang singgah dan datang bahkan sampai membangun rumah di pinggir pantai. Salah satu pendatang paling terkenal dari Bugis bernama Rogo Rabi sempat berdiam di Mauromba. Sayang karena sikapnya yang arogan ia dibenci bahkan diusir. Akhirnya Rogo Rabi meninggal dalam upaya kasar mengusir pendatang Bugis tersebut. Seorang saudaranya yang menikah dengan lelaki setempat terbunuh bersama bayi dalam kandungan. Sedangkan seorang saudari Rogo Rabi yang lain menikah dengan orang Nua Ora di wilayah Udiworowatu.
Banyak pendatang yang terus menetap di pantai. Mereka kemudian tinggal dan menetaap serta menikahi orang setempat. Mereka yang tinggal lama (ndii ebho mera jena) diterima oleh keluarga besar (suku), keu mere kanggo dewa, mengulurkan tangan dan membuka rangkulan untuk mengakui sebagai ka’e dimba ari deta( beradik kakak atau bersaudara selamanya) dan diterima sebagai ka’e nua ari oda (masuk dalam persaudaraan kampung halaman).

Tula Jaji
Berbeda dengan Keu Mere Kanggo Dewa yang berlaku hanya untuk meneerima dan mengkui orang perorang ke dalam kekerabatan suku, maka Tula (Tuya, tura) adalah sebuah perjanjian (tase dare) perekat persaudaraan antar suku atau kampung.
Dalam perjanjian dengan jelas bahwa orang dari kampung atau suku lain diperkenankan untuk memetik hasil kebun hewan ternak sebatas ayam untuk makanan bila dibutuhkan dalam perjalanan. Ngada nai pode nio ari tau eta foko nambu mbana ena rada (bisa memanjat dan memetik kelapa muda sekedar untuk membasahi kerongkongan bila haus dalam perjalanan).
Bagi mereka yang memanjat kelapa atau memetik hasil kebun tidak boleh dimarahi atau disakiti. Karena berpegang pada perjanjian (tase dare),sumpah adat bahwa antara anggota keluarga antar kampung atau desa ini, bahwa mereka tidak boleh saling menyakiti seperti terungkap dalam pernyataan ini:”Dima ma’e papa dhepa, ede emu ma’e papa kebhu” (jangan pernah saling memukul, nyamuk di badan pun tabu ditampar).

Yang dapat dipetik dari keu mere kanggo dewa dan tula jaji adalah bahwa kebersamaan, persaudaraan dan toleransi bukan barang terima jadi (granted)tetapi butuh kebesaraan jiwa dan upaya terus menerus dan terobosan dengan sengaja. Pertemuan seperti Natal bersama 3 serumpun, Nangaroro, Keo Tengah dan Mauponggo, ana-ana udu mbe’i kedi a’i ndeli mesi merupakan usaha dengan sengaja mewarisi semangat para leluhur ine ame embu kajo untuk membangun kebersamaan, persaudaraan dan toleransi. Semangat keu mere kanggo dewa, semangat tula jaji.

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s