Mata Golo

Kemarin diundang makan siang di rumah Johanes Gore Jemu yang berhari ulang tahun. Teras depan duduk semua saudara berbahasa Bajawa. Saya ikut bergabung. Sudara Hans Obor dan teman-teman berbahasa Nagekeo di ruang terpisah, mereka pulang beberapa saat setelah saya tiba.

Cerita seorang anak Bajawa yang meninggal kena strom dihantar ke Flores dengan peti jenazah mahal dibiayai bosnya.
Sebagai orang Bajawa jenazahnya pasti tidak dibawa masuk rumah. Tetapi ditempatkan di tenda darurat. Karena meninggal karena kecelakaan bagi orang Bajawa adalah kematian yang tidak wajar atau yang disebeut mata golo.

Peristiwa mata golo itu merupakan sebuah kutukan akibat tidak terpenuhi urusan adat. Peristiwa mata golo memiliki kaitan historis dengan para leluhurnya yang juga mengalami mata golo.

Upacara mata golo biasa dipimpin seorang yang memiliki kemampuan khusus. Pemimpin upacara akan mulai memanggil roh dan menanyakan sebab kematian. Panggilan bsa berulang-ulang sampai mendapat jawaban biasa berupa bunyi burung.

Dengan melakukan ritual ‘tibo’ sang pemimpin upacara dapat mengetahui sejarah berlapis-lapis dari turunan orang yang telah meninggal. Sang pemimpin yang berkekuatan dukun magis lalu mewartakan dengan jelas semua masalah pelanggaran adat yang pernah dilakukan leluhur orang yang baru meninggal.

Perlakuan pada jenazah orang mata golo sungguh memprihatinkan. Ditempatkan di tenda darurat terbuat dari bambu bulat atau batang pisang. Pakaiannya diikat pada sebatang bambu yang ditegakkan.
Makam pun tidak boleh di pemakaman umum. Dimakamkan jauh dari kampung dan di tempat yang sunyi.
Himbauan pastor tidak mempan untuk merobah tradisi ini.

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Mata Golo

  1. Palmer Keen says:

    Hallo, saya senang menemui blog anda. Saya Palmer, peneliti dari Amerika yang tinggal di Bandung. Saya punya website (www.auralarchipelago.com) tentang musik tradisional di Indonesia – untuk website ini, saya keliling2 Indonesia untuk mendokumentasikan musik tradisional yang unik dan langka. Salah satu kesenian yang saya ingin mendokumentasikan adalah nyanyian Gore yang ada di Nagekeo…masalahnya saya tidak ada kontak di daerah itu dan saya tidak tahu kalau masih ada kampung yang gore masih dinyanyikan…kalau bisa bantu saya, saya akan senang sekali…mungkin kita bisa berkolaborasi? Bisa hubungi saya di auralarchipelago@gmail.com, atau di FB atas nama Aural Archipelago, atau atas nama saya Palmer Keen. Terima kasih banyak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s