TENUN IKAT NAGEKEO SEMAKIN TERBENAM

 

Membaca beberapa posting di FB tentang tenun, ada orang Flores yang bangga bahwa baju yang dikenakan presiden Obama dan presiden SBY adalah hasil tenunan Flores.tenun-pres

Dari pengalamanku lebih dari 6 tahun di industri batik dan tenun meyakinkan saya itu bukan tenunan Flores. Yang benar adalah pola tenun Flores ditiru oleh para penenun ikat di wilayah lain seperti Lombok, Bali dan Jepara.

Flores belum mengenal industri tenun. Yang ada selama ini hanya pengerajin tenun perorangan di rumah masing-masing. Sekitar tahun 1980 PT. Ramacraft di bawah pimpinan pembatik dan designer busana Iwan Tirta didampingi Juan Federer berkebangsaan Chile, tenun ikat menggunakan mesin ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) sempat hadir di Ende. Waktu itu Juan Federer, yang sangat tertarik pada Flores, dia ingin membuka peluang bagi pekerja-pekerja atau pengerajin Flores menikmati hidup lebih baik dengan atau melalui kerajinan tenun. Pada hal dari sisi bisnis ini hanya bikin repot. Orang Jepara , khususnya Troso bisa melakukan itu semua. Seorang penenun bisa menghasilkan 30 meter tenun ikat dalam waktu dua minggu bahkan lebih singkat.

Mengapa tenun ikat di Flores tidak berkembang maksimal? Parade tenun massa ratusan orang di Maumere belum mengindikasikan kemajuan kerajinan tenun ikat. Selama kegiatan tenun dibiarkan tanpa kordinasi yang baik, maka lama-kelamaan kapasitas tetap merosot. Bisa juga mati seperti tenun ikat (pete), tenunan kain sarung wanita ‘dawo ende’ di wilayah Nagaroro, Keo Tengah dan Mauponggo. Keo Tengah dan Mauponggo mati total. Nangaroro mungkin masih ada di kampung Tonggo, tetapi saya kurang tahu setelah lama tidak pernah berkunjung. Keo Tengah dan Mauponggo saya tahu persis, karena hanya bergantung pada ibi-ibu angkatan 1930an.

Daerah lain sudah menggunakan mesin ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) sementara kita tetap bertahan dengan alat tenun tradisional. Walau hasilnya lebih rapih dan unik, tetapi kapasitas produksi sangat terbatas. Mudah membedakan produksi tenun ATBM dan yang tradisional. Yang membedakan adalah pinggir tenunan. Yang tradisional karena ditarik sempurna dan dengan beberapa kali hentakan akan lebih kerap dibandingkan dengan hasil ATBM yang kendur tidak rata (berkerut).

Pemerintah daerah nampak melakukan sesuatu. Tetapi semuanya haya sekedar berbuat untuk memanfaatkan dana proyek. Mereka membeli mesin ATBM kemudian dionggokkan menjadi kayu bekas. Ya, mesin itu hanya terdiri dari balok dan papan kecil kayu.

Dari semua wilayah di Flores, Nagekeo memiliki kelebihan. Ada 3 macam tenun di Nagekeo. Satu tenunan wo’i yang menyisipkan benang pakan berwarna untuk pola seperti sulam. Hasilnya sangat terkenal dengan nama ragi, ragi Bay atau duka Tonggo.

Di wilayah Tonggo, Nagaroro dan Keo Tengah ada juga tenunan tanpa pola, yang memproduksi kain warna kotak-kota pada kain sarung yang dipakai untuk sehari-hari. Benang pakan selalu diganti berselang seling sehingga membentuk kotak. Kebiasaan tenun ini dipengaruhi oleh penduduk Pulau Ende. Saya masih ingat mama saya belajar tenun di rumah seorang nenek saya di Pulau Ende.

Di pesisir selatan selain duka wo’i ada tenun ikat ‘dawo’. Walau tenunan ini dikerjakan di Mauromba atau Maundai selalu disebut dawo Ende. Karena hampir semua pengerajin adalah penduduk beragama Islam yang kebanyakan kawin campur atau pun semua penduduk setempat. Para pengerajin tenun ikat hampir semua beragama Islam yang disebut sira ta Ende (karena Ende, pulau Ende identik dengan Islam).

Saya belum pernah menyaksikan sendiri bagaimana orang Nage memproses tenun ragi. Yang jelas itu adalah tenun ikat sama seperti yang ada di pesisir selatan dan Sumba. Pola dan warna tenun ikat Nage itu sangat khas. Hasil tenunan berupa ‘hoba’ memiliki keunikan dengan nilai jual tinggi di Nagekeo, karena banyak digunakan sebagai pemberian pada acara adat.

Kalau kini kita melihat banyak orang menggunakan untuk kain dan rok serta baju, dulu kain hoba atau kami di selatan menyebutnya sebagai dawo Nangge (Nage) lebih banyak dijadikan pemberian adat.

Pengerajin tenun ikat untuk ‘dawo Ende’ saat ini hampir tidak ada lagi. Dulu wilayah Tonggo, Maunura, Daja, Mauromba, Maundai, Maunori, Maukeo, Mauwaru, Maumbawa selalu ada orang mengikat dan menenun ‘dawo Ende’. Aroma bau rendaman tarum dan kayu kuning kembo (mengkudu) menyengat hidung di rumah para pengerajin. Bau itu tidak ada lagi di pesisir selatan. Tanaman tarum (talu) dan kembo atau kaju kune (mengkudu) juga jarang kelihatan.

Saat ini pembeli dan pemakai dawo Ende meningkat tajam, hampir semua wanita pesisir selatan dan memiliki ‘dawo ende’. Di wilayah Bajawa ada orang laki mengenakan dawo ende sebagai selimut, yang masih dikenakan hingga pagi. Sayangnya tidak ada lagi produksi di kampung sendiri. Semuanya dibeli dari Ende.

Apresiasi atas produk tenun terus meningkat. Kita semua merasa bangga bahwa presiden Amerika mengenakan kain tenun ikat. Tetapi adakah usaha kita untuk mengembangkan dan melestarikan tenun ikat. Siapa yang harus memulainya?

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s