Festival Tari Flores/NTT di Nagekeo

Tour de Flores  acara lomba balap sepeda dunia sudah mencapai akhirnya hari ini 23 Mei 2016,  di Labuan Bajo.Saya berpikir positif,  TDF sudah berjalan dengan sukses. Selamat buat penggagas dan panitia. Walau Primus Dorimulu kelihatan jalan sendiri, gagasan ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2011 bersama Wakil Menteri Pariwisata Osman Sapta di Gand Hyat Hotel.

(foto: dokumentasi sahabat)penggagas tour de flores

Saya terhibur karena Nagekeo tidak menjadi kampung tanpa penghuni. Di sepanjang jalan dari Nagaroro ada orang yang berdiri di jalan. Ada kerumunan di beberapa tempat, bahkan di Boawae sebuah kota budaya Ketua DPRD dan Wakil Bupati hadir bersama warga. Ada penjualan hasil keajinan Nagekeo. Kita sudah berbuat. Kalau ada dari kita yang kecewa, wajar saja. Tidak mungkin semua orang bisa puas untuk hal yang sama.

Dapat dipahami  rasa kecewa dari orang Nagekeo karena para pembalapnya tidak memasuki ibu kota kabupatennya. Mereka pantas kecewa, karena panitianya adalah putera-putera yang lahir dan dibesarkan di Nagekeo. Tetapi semuanya untuk Flores dan Indonesia.

Mbay itu ibu kota kabupten Nagekeo. Disinggahi atau dilewati para pembalap, Mbay tetap eksis sebagai ibu kota Nagekeo.Kita tidak  saja punya potensi karena padang rumput luas yang belum digarap, pertanian dan peternakan kita pun unggul.

Kalau ditanya apa yang paling khas dari Nagekeo. Busana Nagekeo berupa kodo dan hoba serta kesenian Ndoto dan Todagu benar-benar autentik, 100 per sen produk lokal dan jelas unik. Lalu bagai mana membuat orang menyaksikan keunikan itu. Kita harus kreatif melakukan sesuatu dan membuka peluang usaha serta pasar atas produk lokal kita.

Dimana ada massa disitu ada kebutuhan dan tentu pasar. Kita harus segera gagaskan membuat sebuah festival. Selenggarakan sebuah pesta perlombaan tarian adat tradisional se Flores/NTT. Para tamu diinapkan/ homestay di rumah penduduk. Berarti akomodasi tidak perlu dipikirkan. Manfaatkan kesempatan ini untuk menjual hasil kerajinan dan makanan. Sebuah bisnis jangka waktu satu sampai tiga hari.

Kepanitiaan tentu orang Nagekeo. Tetapi Dewan Juri harus  tokoh-tokoh pakar seni nasional. Hadirkan Menteri Pariwisata dan lakukan usaha ekstra untuk publikasi melalui media nasional. Ini perlu agar tidak mengulangi TDF, dari sisi publikasi saya anggap lemah, karena  tidak ada dukungan dari media cetak bahkan siaran langsung TV.

Jadikan ajang ini sebagai festival rutine 3 tahun sekali, saya yakin  Nagekeo menjadi terkenal. Banyak anak Nagekeo yang bergerak di bidang tourisme, bawa para turis menyaksikan even ini. Murah meriah, gegap gempita. Rore kamba ta la tau mbasa tana, mo’o tana ma’e udhu adha. Mai to’o jogho wangga sama.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Festival Tari Flores/NTT di Nagekeo

  1. adrianus pati says:

    Semoga segera terwujud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s