PELA NIA

 

Orang Nagekeo tidak punya budaya berkunjung pada hari raya Natal, Tahun Baru atau Paskah. Demikian juga bagi keluarga Muslim pada hari Idul Fitri. Tidak hadir pada acara-acara pesta suka cita tidak terlalu dipermasalahkan.

Solidaritas orang Nagekeo yang paling menonjol adalah pada saat orang meninggal dunia. Inilah kesempatan keluarga besar, handai taulan berkumpul. Kalau di daerah lain ada tempat sumbangan uang, orang Nagekeo mengutamakan ‘pela nia’ (memperlihatkan muka). Yang lebih berarti adalah kehadiran.

Kemarin Sabtu 14 Mei 2016, saya mungkin orang terakhir yang datang pada misa 40 hari meninggalnya pak Yoseph Lea Wea. Misa yang direncanakan jam 11 siang diundur sampai jam 12 siang karena menunggu pastor. Ketika saya datang upacara misa dan makan siang sudah berlangsung. Pastor paroki sudah keluar dari mulut gang Antriksa. Sebagai orang Nagekeo saya telah bayar hutang ‘pela nia’.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s