TEMPAT UNTUK TUHAN

 

Sebulan berada di Bali dan seminggu penuh saya live-in dalam rumah keluarga orang Bali di Singaraja. Selebihnya saya berpindah-pindah penginapan di Lovina.

Suatu sore ada tamu datang, sebelum masuk rumah dia memberikan sedikit makanan kecil pada patung penjaga di gerbang. Melihat keheranan di wajah saya, sang tamu langsung menjelaskan bahwa dia (sang penjaga) berjasa melindungi kita.

Pada kesempatan lain di Jakarta saya berkunjung dan sempat beberapa kali makan bersama di rumah seorang yang sangat religius Katolik. Yang menarik adalah sebuah kursi tidak pernah diduduki orang tetapi katanya untuk Tuhan. Menurutnya Tuhan hadir selalu bersama kita, juga di meja makan.

Ketika saya memasuki sebuah ruang doa penuh dengan patung dan simbol agama, ada dua kursi. Satu kursi untuk sang tuan rumah bermeditasi dan kursi yang lain dikhususkan untuk Tuhan.

Dalam budaya Flores ada kebiasaan memberi makan kepada leluhur (ti’i ka pati minu) bagi orang yang sudah meninggal. Kebiasaan ini sama seperti dalam budaya Toraja, yang selalu membawa makanan kepada orang yang telah meninggal karena ada kepercayaan bahwa orang-orang yang telah meninggal masih menjadi bagian dan ada bersama keluarga.

Tuhan dan para leluhur yang telah meninggal diyakini hadir bersama orang-orang yang masih hidup.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s