SA’O TUDU MENGGUGAH HAK INE TANA AME WATU

sao tudu
Foto lama ini mungkin menjadi satu-satunya dokumen yang saya buat ketika SAO TUDU masih kokoh berdiri.
Kini sao tudu dalam proses pembangunan kembali setelah runtuh. Hari ini sedang membuat lubang pda tiang (teka deke). Pembangunan sa’o tudu di Kodiinggi hampir mirip dengan pembangunan peo di Witu. Masalah Ine Tana Ame Watu digugat.
Masalah Peo di Witu terus bergulir, banyak pihak terutama dari pihak Udi Bedo Wodowatu beranggapan itu bukan sebagai peo tana watu. Tetapi lebih sebagai peo kebesaran, peo isi uwi kamu pale.Karena itu mengundang polemik dalam kelompok. Ingat peristiwa tete leto laka tau ike kamba (membuka tempat tambatan kerbau). Orang Wodowatu menganggap batas tanah ke timur sampai ‘dange tana’. (semen dekat wuwu dewa).
Sao Tudu Kodiinggi kembali membangun solidaritas dan pengakuan pada ine tana ame watu, yang dihasilkan dalam sebuah pertemuan adat dan menghasilkan penerimaan pihak udu go’o eko bhoko Kodiinggi (Bedo) berada dalam udu mere eko dewa Wodowatu.

Keluarga Kodiinggi mulanya menempati kampung Bedo di atas tanah Wodowatu dan masih bertalian keluarga dengan Wodowatu. Kemudian karena ‘epu jara weghu’ (gempa dahsyat) mereka pindah ke Kodiinggi.

Baik orang Udi dan juga Wodowatu mengaku bahwa turunan mereka berasal dari Koto. Ta ndi’i mudu mera do’e nua Udi adalah dua bersaudara Doke ne’e Dede. Salah seorang dari keturunannya bernama Rangga Ameari.
Ta ndi’i mudu mera do’e nua Wodowatu adalah Taku Nuru yang melahirkan Ake.
Peran Ake dan Rangga sangat signifikaan sebagai pewaris dan penjaga tanah ulayat. Mereka dianggap punya wibawa sangat besar sehingga dikatakan: Ake ne’e Rangga ta tau jaga tana mo’o maa’e udhu adha watu ma’e weru we.

Pembangunan Sao Tudu di Kodiinggi mempunyai makna tersendiri. Peo dan sa’o enda atau sa’o jara berada di kampung induk. Tetapi di sebuah kampung pemekaran dari kampung induk yang berada dalam wilayah yang sama (tana ha bhabha watu ha di’e) cukup dibangun sebuah sa’o tudu dan sejenis tiang simbol pemersatu berupa ‘madhu’.

Tanggapan Pater Philipus Tule SVD.

Dhei ria tabe pawe kae Talis! Kau punu sama wie bhida jao tulis ena Buku Longing…….. nee waktu bhotu rede nua Bedo atau Kodinggi minggu ta mudu ke ena tee mere wewa dewa tau ndena wado koo muri nua mera oda rede nua oda kita Udu Mere Eko Dewa Udu Munde Mali Eko Kota Oja (Wodowatu), Udu watu diti eko peka tedu (Udi), dan Udu Goo Eko Bhoko Udu Watu Mere Eko Wuwu Dewa (Bedo/Kodinggi).
Nambu nde waktu sira kae bapa ari ana dau nua Bedo mungkin agak teledor atau kurang teliti dalam proses adat ritual memulai soka doka kenda wewa dan suasana konflik internal dau sao Tiko Embo sebagai Tuka Timba Mata Dasi, maka mosa nua daki oda Worowatu sebagai Ine Tana Ame Watu bhia ndua hadir moo keo kombe dera tau nggedho nggae wawi ndua alias nggae kaju tau kema madhu nee sao tudu bhangga itu. Suasana potensial konflik sangat terasa. Maka jao ambil inisiatip wado nua dan mengajak semua sira kae bapa ari ana utk mencari solusi dari potensi konflik itu.
Jao usulkan waktu bhodhu ena wewa Ia Nambe ena wewa sao koo Embu Tiko Embo agar kita PADA sira Ine tana Ame Watu moo tau nete niro wado semua proses tata ritual yg cacat.
Maka saya dan anak Helibertus Moda diutus ke Wodowatu.
Saya dan didampingi (bhenggo) oleh mosadaki Udi serta beberapa dari generasi muda dari Bedo menuju Wodowatu pd tgl 7 Juni.
Saya dan rombongan diterima baik (sipo ria sagho modo) oleh mosadaki dan semua warga kampung Wodowatu. Maka besoknya tgl 8 Juni hari Senin sira ndua dau Bedo. Waktu itu, peran mosadaki Bedo yg lasimnya sebgi tuka timba mata dasi, tak dapat berfungsi karna sedang dlm konflik. Maka, jao langsung fasilitasi agar mosadaki Wodowatu menjadi Juru mbabho tii kami.
Semua proses itu berjalan baik dan tuntas. Dengan demikian, seluruh proses ritual dan cacat cela awal telah di-nete nirokan atau dlm bahasa kita rua ta lagu sekola mere sii: sanatio kn radice (penyehatan sampai akarnya).
Bhida kae Talis koo situasi menjelang kema nua rede Bedo. Sekarang sdh sangat kondusif untuk perampungannya dengan keterlibatan semua udu mere eko dewa Wodowatu dan Udi, serta tentu akan diundang kae ari di Doka Rea, Witu, Giriwawo Niondoa, Wuji, Kedi, Mbae Nuamuri nee Maunori nee Maundai, rembu ana embu koo ata Bedo ta nambu ambo jaga, sola deo, kema ghawo, kuli tae pau nama reu tau nggae tuka moo tiwo liko wado pada perayaan puncak syukuran yg direncanakan terjadi setlh lebaran. Menurut info dari kampung katanya sekitar tgl 27 -28 Juli.
Modo kae Talis dan semua yg membaca dan mengerti pesanan ini!
Tuhan berkati dan ine embu sipo ria sahho modo kita!

  • Hubungan dg Doka Rea ke ide emba Pater ? Sehingga Embu Panda Tuku nee tanah rade eko nua Kodi Inggi tksh
Philipus Tule Sejarah telah ditradisikan bhw Bedo Dokarea itu adalah satu kesatuan tanah ritual adat, tana ha bhabha watu ha die nee ine tana ame watu Wodowatu sebelum peristiwa Leto Laka Witu pd 1937. Juga Bedo Dokarea adalah satu Udu Goo Eko Bhoko sebelum konflik menjelang pembangunan sao tudu bhangga, langga ia nambe dari Bedo lama rede eko Udi thn 1966. Waktu itu, sira mame Panda Tuku dan Ndua Tuku serta para pendukung tak mau ikut atau konflik atas dasar klaim masing2 siapakah yg kakak: Seso atau Tai. Konflik itu tak terselesaikan secara baik, entah dg hukum adat maupun hukum sipil. Malah, menurut saya, keluarnya atau terpisahnya nua Witu dan Mauara (Dokarea) dari Gemente Worowatu dan bergabung dgn Romba Ua adalah peristiwa segregasi perpecahan kesatuan tanah ritual. Tak apalah, itu sdh terjadi dan menjadi fenomena modernisasi yg menjarakkan dan memisahkan kami warga Bedo dan Dokarea secara geografis spasial, meski tanah ku lema nio tiko eu tako masih tetap dekat-dekatan tanpa batas tembok dan pagar. Ke depan, saya mengajak semua generasi muda Bedo Dokarea hrs belajar dsri sejarah konflik dan perpecahan itu untuk tidak meneruskan nya. Kita hendaknya kembali bersatu. Kapan? Segeralah ! Kuundang semua duduk bersama pd hari syukuran puncak renovasi monumen budaya Bedo, pd akhir Juli yad. Kita Bedo Dokarea adalah KAE ARI ODO. Mai ka kita sama2 minu kita papa pinda ana embu koo Je Lendo Tiko Embo, ana Embu koo Seso nee Tai

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s