INE TANA AME WATU PEMEGANG HAK ULAYAT

Ine tana ame watu adalah pemegang hak ulayat karena mereka adalah penduduk pertama (ta ndi’i mudu mera do’e). Dengan perkembangan dan pertumbuhan penduduk maka tanah diberikan kepada warga atau anggota keluarga besar.  Tanah dibagi kepada anak-anak dalam keluarga besar. Dari sini muncul para penggarap tanah. Karena mereka masih dalam hubungan keluarga dengan pemilik hak ulayat yang pertama kali menghuni (ta ndi’i mudu mera do’e). Gelar yang diberikan pada penggarap dalam anggota keluarga besar adalah ine ku ame lema (pemilik sepenggal tanah dan tuan atas tanah yang digarap).
Hak ine ku ame lema adalah juga hak ine tana ame watu. Tetapi hak ulayat tidak dimiliki secara pribadi. Hak mengolah tanah dan menikmati hasil usaha adalah milik pribadi. Karena itu keberhasilan dan kemakmuran tergantung dari keuletan seorang bekerja. Maka kita akan saksikan tuan tanah (ine tana ame watu) secara otomnatis makmur.

Pada masa lalu pemilik tanah cukup murah hati. Tanah sering diberikan juga kepada pihak luar sebagai tempat kediaman dan juga diberi juga tanah untuk digarap.  Pemilik tanah garapan ini tidak disebut sebagai  ine ku ame lema (hak pemilik ulayat setara dengan ine tana ame watu).

Deke, Mboda dan Gata

Dalam perhelatan adat orang akan dengan mudah mengenal siapa anak-anak yang berasal dari keluar pemilik tanah (ine tana ame watu). Turunan dari keluarga disebut pula ‘deke’ (tiang). Jumlah ‘deke’ disesuaikan dengan jumlah anak. Karena itu kita mendengar ‘deke rua (2)  atau deke wutu (4)  dan sebagainya.
Seorang dihargai apabila memenuhi kewajibannya. Kewajiban biasa dalam kerja bersama seperti dalam pesta upacara adat. Kewajiban dalam mengumpulkan hewan disebut ‘eko’ (ekor). Ketika kewajiban mengumpulkan babi maka disebut ‘eko wawi’ dan bila harus mengumpulkan kerbai maka disebut ‘ha eko kamba’.
|Kewajiban dalam mengumulkan makanan berupa padi atau beras disebut dengan takaran ‘mboda’. Kepala keluarga memiliki kewajiban ‘mboda’ dan turunan memiliki kewajiban ‘gata’ untuk diisi dalam mboda.
Pendatang yang diterima baik sebagai keluarga besar (keu mere kambe dewa) tidak memiliki beban yang besar. Mereka memberi sesuai dengan kemampuan. Mereka memberi sebagai tambahan (tutu mbotu penu mbora). Kewajiban adalah bukti keterikatan keluarga, maka seorang memberi menjadi bukti kedekatan dan keterikatan sebagai keluarga. Pengakuan atas hak karena itu menjalankan kewajiban.
Posisi tuan tanah pemegang hak ulayat berada dalam tangan anggota keluarga penghuni pertama atau yang siebut ta ndi’i mudu mera do’e. Hak ulyat tidak menjadi hak pribadi tetapi hak kelompok, yang secara masing-masing memgang hak ine ku ame lema. Sebagai anak-anak dari tuan tanah mereka memiliki tanah pribadi sejauh kuat menggarapnya, Karena itu penguasaan lahan sesuai dengan kemampuan garap ( mengolah, menanam).

Bukti kepemilikan tanah yang paling diakui adalah dengan luasnya tanah yang ditanam. Karena dulu umumnya ditanam kelapa dan pinang, maka pengakuan berdasarkan hasil tanaman jenis ini, Karena itu dikenal ada istilah ‘nio tiko eu tako (kelapa sudah mengelilingi lahan dan daun pinang pun sudah saling bertautan).

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s