BUDAYA NGAFA dan KARYAWAN PT. NGAFA

Masa lalu ‘ watu dhadi’ (batu asah) tidak semua rumah punyai. Pada hal sesuatu yang bisa dicari di alam dan bisa dimiliki siapa saja. Ini urusan mau dan rajin.

Pada masa mosalaki berjaya dan berwibawa, rumah mosalaki biasa didatangi warga masyarakat pencari keadilan dan meminta sumbang saran. Karena itu rumah mosalaki sering ramai dengan banyak tamu, dan istri mosalaki sungguh sibuk, menyuguhkan kopi dan terkadang ada yang ikut makan.

Tamu-tamu rumah mosalaki ada 3 macam.

1. Orang bermasalah yang mencari sumbang saran dan bila perlu dua pihak yang bermasalah dihdapkan pada mosalaki bijak.

2, Orang yang ingin belajar pada mosalaki. Orang ini biasa ingin mendengar dan belajar kearifan seorang mosalaki. Mereka mendengar dengan cermat. Orang tersebut biasa berlama-lama di rumah mosalaki. membantu mosalaki. Tau keri kodi, tau mada api bako (untuk menggaruk daun lonar buat linting rokok dan mengambil bara api untuk menyulut rokok). Pada masa lalu tidak ada rokok bungkus, dan juga tidak ada korek api.

3. Orang yang memang tidak punya kepentingan. Seorang penganggur, yang sering hidupnya agak kekurangan. Biasa mendatangi halaman rumah mosalaki, berpura-pura mengasah parang (dhadi topo) lama kelamaan ikut nimbrung bicara dan mengisap rokok serta minum kopi. Tamu jenis ini biasa hanya sebagai pendengar yang ingin tahu, dan sering membuat kasak kusuk. Kebiasaan ini yang disebut ‘ngafa pata’.
Ngafa pata ( datang menyambut tutur kata orang) lalu menafsirkan dan membuat kasak kusuk ke tempat lain. Dalam bahasa Nagekeo orang seperti ini disebut ‘tuka tusu roge’ (orang yang suka menghasut).

Ngafa sekarang berkembang dalam dunia modern. Orang yang tidak bekerja dan hanya mencari keramaian dan teman bicara, kalau ditanya apa pekerjaannya, maka secara bercanda orang menyindir dengan istilah bekerja di PT. NGAFA. Orang-orang yang dicap ngafa biasanya penganggur dan juga umumnya tidak trampil.

Ketika kita memaknai ngafa sebagai budaya, maka ngafa adalah sebuah tradisi buruk yang sudah saatnya dihilangkan. Kalau ngafa hanya sekedar olok-olokan, maka ngafa pantas dibabat habis karena ngafa hanya untuk penganggur yang malas bekerja dan cuma sekedar menyosorkan mulutnya untuk bicara.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to BUDAYA NGAFA dan KARYAWAN PT. NGAFA

  1. Rosa says:

    Hehe, dari judul sudah bikin ketawa om Vitalis.
    Sy dulu sering dengar “ngafa ngeo” kalau saya kebanyakan nonton TV atau melakukan hal tidak jelas. “Ma’e mbay ngafa” Kalau cuma ngafa dalam ari menonton dan menjawab rasa keingin tahuan sih boleh-boleh saja tapi kalau sampai harus “ngafa pata” itu yang bikin malas.

    Salam, semoga Om sehat selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s