RIWAYAT SILSILAH KELUARGA EMBU RITU DEA DI MAUARA, KECAMATAN KEO TENGAH

OLEH
KANISIUS KAKA, SE.MM

SEJARAH NENEK MOYANG DI KEO TENGAH
Menurut cerita para leluhur mengatakan bahwa nenek moyang sesuai urutan yang paling mendahului yang sempat diingat adalah Embu Sadhu Mbe’e dengan istrinya Embu Pau asal dari kampung Pajo Reja. Pasangan ini sehingga dicatat dan dimasukan kedalam silsilah keluarga besar Mauara karena dalam turunannya pengaruh kawin mengawin sehingga berkembang pesat anak cucunya berkembang pesat di Mauara sekarang ini.
Riwayat Embu Sadhu Mbe’e kawin dengan Pau melahirkan anak bernama Ndana. Selanjutnya embu Ndana kawin dengan Leku Bhoko dari Jawawo melahirkan 2 orang anak bernamaTuku Ndana dan Gudhu Ndana. Tuku Ndana mendapat suami bernama Nggajo Nanga melahirkan 5 orang anak masing-masing bernama (1) Gati Tuku suami dari Nida Tolo melahirkan Mado, Wea, Rangga dan Jawa. Veto. (2) Veto Tuku belum tahu jelas hanya menurut om Goris Jae mengatakan untuk mendapatkan infomasi yang jelas dari keluarga ini yang lebih tahu persis di Kampung Giriwawo. Kemungkinan orang di Giriwawo adalah keturunan dari dari Veto Tuku. (3) Ndiwa Tuku kawin dengan istrinya bernama Ngode Bude melahirkan 3 orang anak bernama Ndore Ngode, Badia Ngode dan Keka Ngode. Ndore Ngode (Romba) kawin dengan Goo melahirkan Ndiwa dan Tuku. Ndiwa Goo kawin dengan Ngode melahirkan Nggajo Ngode dan Gabriel Ngode (Nama-nama ini sumber datanya masih belum lengkap, mohon masukan dari sumber yang mengetahuinya). Hanya Tuku Goo turunannya adalah Usman Bake dan Guru Tuku. (4). Mite Tuku mengenai anak dan istrinya belum tahu jelas hanya menurut om Goris Jae mengatakan untuk mendapatkan infomasi adalah keturunan dari Bapak Blasius Biku. (5). Ude Tuku kawin keluar (nuka sa’o) di Wuji dan data keturunannya belum diketahui dengan jelas. Kelima nama embu tersebut menurut om Goris Djae mengatakan mereka-mereka tersebut tinggal terpencar sesuai dengan hak warisannya masing-masing.

Silsilah keluarga ini teknik penulisannya diambil berdasarkan garis keturunan garis lurus ditambah dengan hubungan suami istri karena ada kawin masuk (status perempuan mengikuti suami pada keluarga ini) dan kawin keluar perempuan (ana weta) mengikuti suami ke tempat lain. Kalau ditinjau dari hukum adat status hak phhak perempuan (ana weta) mereka harus keluar dari keluarga ini, namun pengaruh hubungan darah untuk mengenal lebih dekat kendatipun hak pusaka mereka berada ditempat lain maka dalam buku ini masih tetap dicatat. Bagi perempuan yang masih bertahan pada keluarga ini apabila statusnya untuk menduduki hak apabila garis keturunan garis lurus tidak ada anak laki-laki yang diberikan hak untuk memegang ahli waris.

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis telusuri ternyata turunan keluarga Embu Ritu Dea sudah banyak dan kebanyakan sudah tidak mengenal satu sama lain terutama generasi anak cucu semakin bertambah. Dengan adanya perkembangan teknologi semakin canggih akibat jodoh dengan suku-suku lain terutama bagi generasi anak cucu yang merantau sudah tidak kembali lagi ke kampung halaman nenek moyangnya, maka dirasa perlu untuk saling menginformasikan data keluarga baik melalui HP atai facebook agar dapat terhimpun. Bertambahnya generasi anak cucu di daerah-daerah lain kebanyakan sudah tidak mengenal lagi dari mana seharusnya nenek moyang mereka di Mauara. Faktor lain pengaruh budaya dan adat di Mauara masih berpegang pada warisan nenek moyang, untuk turunan garis lurus kebanyakan tidak mau kembali lagi ke Mauara dan rasanya mereka merasa lebih nyaman mencari hidup di daerah orang lain.

Dalam kitab cuci yang penulis kutip dari injil Lukas Pasal 2 ayat 1 sampai ayat yang ke 7 dijelaskan bahwa Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah untuk mendaftarkan diri masing-masing di kotanya sendiri. Untuk orang-orang yang keluar dari Mauara apakah sampai saat ini sudah mengikuti jejak perintah Kaisar Agustus, seperti pimpinan Mosadaki untuk memerintahkan orang-orang yang berasal dari Mauara untuk kembali mendaftarkan diri ke kampung halamannya masing-masing. Tentu hal ini menjadi tanda tanya karena persediaan warisan nenek moyang di Mauara apakah mampu untuk menampung keluarga-keluarga yang sudah berada di Perantauan.

Berdasarkan penulis telusuri ternyata banyak keluarga-keluarga turunan Embu Ritu Dea sampai saat ini sudah tidak mengenal lagi satu sama lain, maka untuk itu terdorong penulis untuk menginventarisir generasi anak cucu Embu Ritu Dea kemanapun mereka berada agar bisa saling mengontak dan mencaritahu hubungan darah mereka dari status nenek moyang yang sama.

Berdasarkan data keluarga yang kami himpun yakni Ritu Dea kawin dengan Embu Tolo melahirkan 2 orang anak laki-laki bernama Embu Kami Tolo, Embu Wadja Tolo dan 1 orang anak perempuan bernama Embu Nida Tolo. Dari ketiga anaknya Embu Ritu Dea ini masing-masing Embu Kami Tolo kawin dengan Embu Mbupu melahirkan 2 orang anak bernama Embu Wadja Mbupu dan Embu Wea Mbupu. Mengenai Embu Wadja Tolo kawin dengan Embu Ue Sangu melahirkan 5 orang anak bernama Ude Ue, Pati Ue, Goo Ue, Wewo Ue dan Ea Ue. Sedangkan Embu Nida Tolo kawin dengan suaminya Embu Gati Tuku (cucunya Embu Sadhu Mbe’e) melahirkan 3 orang anak bernama Mado Nida, Rangga Nida dan Djawa Nida.

Riwayat Silsilah Keluarga Embu Kami Tolo dan istrinya Mbupu
Sehubungan penjelasan tersebut di atas, pertama-tama penulis menelusuri anak cucunya Embu Ritu Dea yang dimulai dari turunan Embu Kami Tolo dilanjutkan dengan turunan Embu Wadja Tolo dan Embu Nida Tolo. Setelah hasil telusuri kelihatanya hubungan perkawinan antara turunan Embu Kami Tolo jarang terjadi (papa mada wado) dengan turunan keluarga Embu Wadja Tolo atau keturunan Embu Nida Tolo.

Berdasarkan data yang penulis telusuri biasa hanya terjadi hubungan perkawinan antara turunan Embu Wadja Tolo sendiri atau turunan Embu Wadja Tolo dengan turunan Embu Nida Tolo. Untuk turunan Embu Kami Tolo data anak cucunya sebagian kami sudah catat dan data ini kami peroleh pada aanak cucunya sendiri. Untuk penulisan ini pertama-tama kami telusuri silsilah keluarga Embu Kami Tolo yakni Embu Kami Tolo mengambil istri bernama Mbupu melahirkan 2 orang anak yakni Wadja dan Wea. Menurut cerita dari anak cucunya Embu Kami Tolo mengatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Rumah adat Witu (Sa’o Sumbu). Berarti Embu Kami Tolo sebenarnya juga menduduki hak di deke Embu Ritu hanya jalur keturunan sampai anak cucunya masih ditelusuri. Embu Kami Tolo kawin dengan Embu Mbupu melahirkan 1 orang perempuan bernama Embu Wea Mbupu dan 1 orang laki-laki bernama Embu Waja Mbupu. Embu Wea Mbupu melahirkan 6 orang anak bernama Rendo, Rangga, Monda, Ngula, Ae dan Ora. Sedangkan Embu Wadja Mbupu belum sempat kami peroleh data keluarganya, sedangkan turunan Embu Wea Mbupu generasi anak cucunya seperti pada tabel berikut ini.

Selanjutnya saudara kandung dari Embu Mado Nida seperti Embu Rangga dan Embu Jawa menurut pendapat keluarga Benediktus Babo Goo di Gilikoli dan keluarga Eo Goo Tonggo sewaktu berbincang-bincang di Rantedosa Ambai mengatakan bahwa embu Rangga keturunan sampai dengan keluarga embu Sawo (Haji Ibrahim) dan embu Jawa sampai dengan keluarga Jago Beku di Maukeli. Penulis menanyakan jalur keturunan sampai dengan Embu Sawo (Haji Ibrahim) dan jalur keturunan embu Jawa sampai dengan keluarga Jago Beku di Maukeli beliau belum mengetahui jalur ceritanya. Untuk itu sangat diharapkan kepada para pembaca tulisan ini bila mengetahui jalur ceritanya mohon informasikan kepada penulis agar dalam penyusunan ini lebih lengkap dan generasi penerus dapat mengenal status keluarganya kemanapun mereka pergi ke tanah rangauan. Untuk itu status kedua Embu Rangga Nida dan turunan Embu Djawa Nida masih ditelusuri asal usul sampai anak cucunya sampai turunan terakhir. Untuk itu disarankan kepada pembaca tulisan ini mohon berikan masukan yang positif tentang data keluarga dan disampaikan kepada kami untuk dilengkapi.

Riwayat Silsilah Keluarga Embu Nida Tolo dan Suaminya Gati Tuku
Nida Tolo adalah anak dari Ritu Dea mengikuti suaminya di Jawawo (nuka sa’o) dengan Gati Tuku melahirkan anak Mado, Rangga dan Jawa. Neneknya Gati Tuku bernama Sadhu Mbe’e dan istrinya bernama Pau asal Pajoreja. Sadhu Mbe’e kawin dengan Pau melahirkan anak bernama Ndana. Selanjutnya embu Ndana kawin dengan Leku Bhoko dari Jawawo melahirkan 2 orang anak bernamaTuku Ndana dan Gudhu Ndana. Tuku Ndana mendapat suami bernama Nggajo Nanga melahirkan 5 orang anak masing-masing bernama (1) Gati Tuku suami dari Nida Tolo melahirkan Mado, Wea, Rangga dan Jawa. Veto. (2) Veto Tuku belum tahu jelas hanya menurut om Goris Jae mengatakan untuk mendapatkan infomasi yang jelas dari keluarga ini yang lebih tahu persis di Kampung Giriwawo. Kemungkinan orang di Giriwawo adalah keturunan dari dari Veto Tuku. (3) Ndiwa Tuku kawin dengan istrinya bernama Ngode Bude melahirkan 3 orang anak bernama Ndore Ngode, Badia Ngode dan Keka Ngode. Ndore Ngode (Romba) kawin dengan Goo melahirkan Ndiwa dan Tuku. Ndiwa Goo kawin dengan Ngode melahirkan Nggajo Ngode dan Gabriel Ngode. Mungkin masih ada saudaranya yang belum sempat diketahui dengan jelas. Hanya Tuku Goo turunannya adalah Usman Bake dan Guru Tuku. (4). Mite Tuku mengenai anak dan istrinya belum tahu jelas hanya menurut om Goris Jae mengatakan untuk mendapatkan infomasi adalah keturunan dari Bapak Blasius Biku. (5). Ude Tuku kawin keluar (nuka sa’o) di Wuji dan data keturunannya belum diketahui dengan jelas. Mengenai turunan dari Embu Mado Nida karena dia kawin lagi dengan saudara sepupunya Embu Goo Ue dan mengenai anak-anaknya sebagiannya sama dengan cerita Jalur Embu Ude Ue tersebut di atas yakni Embu Mado Nida dari Jawawo kawin dengan Goo Ue di Mauara melahirkan Dhima Goo, Dhae Goo, Ue Goo dan Babo Goo (saudara se ibu dengan Ora Nena). Sehubungan dengan bagan tersebut di atas, pertama-tama penulis menelusuri anak cucunya Embu Ritu Dea yang dimulai dari turunan Embu Kami Tolo dilanjutkan dengan turunan Embu Wadja Tolo dan Embu Nida Tolo. Setelah hasil telusuri kelihatanya hubungan perkawinan antara turunan Embu Kami Tolo tidak ada yang saling mengambil (papa mada dhato) dengan turunan keluarga Embu Wadja Tolo atau keturunan Embu Nida Tolo. Berdasarkan data yang penulis peroleh kebanyakan turunan Embu Wadja Tolo selalu berpasangan dengan turunan Embu Nida Tolo atau saling mengambil (papa mada dhato) antara turunan Embu Wadja Tolo sendiri atau turunan Embu Nida Tolo sendiri. Untuk turunan Embu Kami Tolo nama-nama keluarganya sebagian kecil sudah kami ketemu langsung dan mewawancarai dengan mereka. Untuk penulisan ini pertama-tama kami telusuri silsilah keluarga Embu Kami Tolo yakni Embu Kami Tolo mengambil istri bernama Mbupu melahirkan 2 orang anak yakni Wadja dan Wea. Menurut cerita dari anak cucunya Embu Kami Tolo mengatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Rumah adat Witu (Sa’o Sumbu). Berarti Embu Kami Tolo sebenarnya juga menduduki hak di deke Embu Ritu hanya jalur keturunan sampai anak cucunya masih ditelusuri. Berdasarkan data yang kami peroleh bahwa Embu Kami Tolo mengambil istrinya bernama Mbupu melahirkan 1 orang perempuan bernama Embu Wea Mbupu dan 1 orang laki-laki bernama Embu Waja Mbupu. Embu Wea Mbupu melahirkan 6 orang anak bernama Rendo, Rangga, Monda, Ngula, Ae dan Ora. Sedangkan Embu Wadja Mbupu belum sempat kami peroleh data keluarganya, sedangkan turunan Embu Wea Mbupu generasi anak cucunya seperti pada tabel berikut ini.. Selanjutnya Embu Wadja Tolo mengambil istri bernama Ue Sangu melahirkan anak bernama Ude Ue, Pati Ue, Goo Ue, Wewo Ue dan Ea Ue. Embu Kami Tolo mengambil istri bernama Mbupu melahirkan anak bernama Wea Mbupu dan Wadja Mupu. Mereka berdua kakak beradik menduduk di hak pusakanya Embu Ritu Dea. Sedangkan Embu Nida Tolo adalah anak perempuan dari anaknya Ritu Dea kawin dengan Gati Tuku suaminya di Jawawo. Embu Wadja Tolo kawin dengan Embu Ue Sangu (belum diketahui jelas asal dari Embu Ue Sangu) melahirkan 1 orang anak laki-laki bernama Ude Ue dan 4 orang anak perempuan bernama Pati Ue, Goo Ue, Wewo Ue dan Ea Ue (Pihak anak weta).

Dari kelima anak ini 1 orang anak laki-laki bernama Ude Ue adalah anak laki-laki garis keturunan lurus dari Embu Wadja Tolo yang diberi hak untuk menetap yaitu menduduki dan mengolah tanah hak warisan ayahnya. Untuk keempat anak perempuan ini masing-masing bernama Pati Ue, Goo Ue, Wewo Ue mereka adalah kawin keluar mengikuti suaminya (nuka sa’o) antara lain Embu Pati Ue mengikuti suaminya Embu Djogo Ndara dan posisi anak cucunya berada pada keluarga Embu Djogo Ndara. Mengenai Embu Goo Ue kawin keluar mengikuti suaminya (nuka sa’o) mengikuti suaminya Embu Djari Ndara melahirkan anak bernama Ora yang sekarang Embu Ude Ue mengangkatnya menjadi anaknya sendiri. Selanjutnya belum ada cerita yang jelas dari leluhur (pihak ine embu) tentang Embu Goo Ue, apakah setelah Embu Djari Ndara meninggal atau cerai, hanya posisinya Embu Goo Ue kawin lagi dengan Embu Mado Nida di Jawawo menurut cerita dari orangtua dulu, warisan anak cucunya Embu Mado Nida sebenarnya di Jawawo. Sedangkan Embu Wewo ada 2 suami yakni (a). Suami pertama dengan Embu Piru Bhala melahirkan Embu Wudu, Embu Soo, Embu Wae, Embu Meo. (b). Suami kedua dengan Embu Bheda Mema melahirkan Embu Ndero, Embu Kaka, Embu Tolo dan Embu Wini. Sebenarnya anak-anak mereka hak warisan mengikuti ayah mereka masing-masing.

Embu Ea mengikuti Dewa Tonggo dan mengenai perjalanan hidupnya penulis mengetahui jalan ceritanya), demikian juga Embu Pati Ue mengikuti suaminya Djogo Ndara perjalanan hidupnya penulis juga mengetahui jalan ceritanya.

Untuk jelasnya riwayat dari kelima anaknya Embu Wadja Tolo masing-masing seperti berikut ini.
1. Turunan Embu Wadja Tolo.
Dari kelima orang anak ini status hak pusaka yang diwariskan oleh Embu Waja Tolo adalah 1 orang anak laki-laki bernama Embu Ude Ue (mera da’e) dan 4 anak adalah pihak anak perempuan (nuka sa’o) masing-masing dengan penjelasan sebagai berikut :
1.1. Status Embu Ude Ue.
Mengenai Embu Ude Ue mengambil istri sah bernama Nena (belum diketahui jelas asal dari istrinya) dan hasil perkawinannya tidak mempunyai anak. Oleh karena mereka tidak mempunyai anak seperti yang telah disebutkan di atas , maka untuk melanjutkan keturunan garis lurus yang seharusnya dipegang hak warisan oleh anak laki-laki, maka Embu Ude Ue mengambil anak dari saudara perempuannya bernama Goo Ue yang bernama Ora dan diberi nama Ora Nena untuk yang dijadikan sebagai keturunan yang sah. Ora Nena sebenarnya adalah anak dari suami istri bernama Jari Ndara dan Goo Ue melahirkan anak Ora yang sekarang disebut Ora Nena karena Embu Ude Ue mengangkat menjadi anaknya sendiri (ana mera da’e Embu Ude Ue), maka nama Ora Goo namanya dirubah menjadi Ora Nena.

Selanjutnya Embu Ora Nena mengambil istri bernama Kutu dan Mbojo dan hasil perkawinannya ternyata juga tidak mempunyai anak. Oleh karena tidak mempunyai anak dia memanggil Dhima Goo dari Jawawo untuk menduduki di hak pusaka (ku lema) Mauara bersama dengan istrinya Embu Dhima Goo bernama Tolo Eju. Sewaktu mereka dipanggil Embu Ora Nena ke Mauara Embu Dhima Goo membawa bersama keponakannya (ana podu) dari Embu Tolo Edju bernama Embu Wea Bhoko bersama dia ke Mauara di tempat warisan Embu Ora Nena.

Untuk membuktikan permasalahan tersebut di atas, semasa Embu Ora Nena masih ada menurut para leluhur (ine ame embu kajo ta punu) mengatakan bahwa anak laki-laki pertama dari Dhima Goo bernama Tomas Ude dijodohkan dengan mama Kristina Noo dari Sa’o bele nua Mauara pada saat mama Kristina Noo masih dalam kandung mamanya dan mengatakan bahwa kalau lahir anak perempuan menjadi milik bapak Tomas Ude dalam hal ini kalau sudah besar kawin dengan Bapak TomasUde. Sesuai hukum adat yang berlaku di Mauara mengatakan bahwa untuk menduduki tempat (ndi’i mera da’e) harus dibuat dengan hukum adat (tau nee ngawu), maka untuk itu Ora Nena mengurus istrinya bapak Tomas Ude sesuai dengan hukum adat yang berlaku. Demikian juga anak laki-laki kedua bernama bapak Andreas Meo diurus oleh Embu Mbojo (istri sah Embu Ora Nena) kawin dengan mama Mere Nggua mengurusnya hal yang sama dengan caranya berbeda. Semasa hidup Embu Mbojo, keluarga bapak Andreas Meo tinggal bersama dengan Embu Mbojo dan mengurus makan dan minum (ka pesa) bersama dengan mama Goo Ue sampai embu Mbojo meninggal. Pada saat itu mereka tinggal di Kuwulaja dekat pantai menuju Mauponggo. Bapak Andreas Meo dengan istrinya mama Mere Nggua melahirkan 2 orang anak perempuan bernama Albina Tolo dan Anastasia Noo. Setelah mama Mere Nggua meninggal, bapak Sedangkan bapak Andreas Meo kawin lagi dengan mama Petronela Sobha melahirkan 2 orang anak laki-laki bernama Primus Jodo dengan Marius Ritu.

Mengenai bapak Hendrikus Nggajo sudah masuk rumah tangga baru tinggal bersama dengan embu Mema Teku (istri dari embu Dhae Goo) saudara kandung dari Dhima Goo. Embu Mema Teku ini adalah anak dari embu Bheda Mema (saudara kandung dari embu Ora Teku (orangtuanya bapak Benyamin Nggadi). Dia kawin dengan Embu Dhae Goo melahirkan anak perempuan 1 orang bernama Goo Mema. Menurut perkiraan penulis bahwa embu Dhae Goo ini andai kata mempunyai anak laki-laki juga menduduki hak yang sama dengan embu Ora Nena karena dilahirkan dari rahim yang sama. Embu Mema Teku ini dimasa tuanya dia menyusui dan merawat anak-anak dari Bapak Hendrikus Nggajo yang berlokasi di rumah Eko Witu. Embu Mema Teku ini pada saat memasuki ajalnya dia diurus oleh mama Marta Muwa (istri dari Bapak Hendrikus Nggajo) di rumah adat Sa’o Sumbu sampai embu Mema meninggal di rumah adat “Sao Sumbu”. Pada saat itu yang tinggal menjaga rumah adat dan merawatnya dengan baik adalah bapak Rangga Wea dengan istrinya Bhoko Ude beserta anak-anaknya. Yang lucunya anaknya Bapak Rangga Wea bernama Maria Beka dijodokan dengan anaknya Bapak Susu Ndana hasil perkawinan dengan mama Ea Tolo anak dari embu Dhima Goo bernama Pius Ritu (panggilan sehari-hari bernama Goo Ea). Hasil perkawinan anaknya Pius Ritu (Goo Ea) dengan anaknya Beka Bhoko melahirkan anak bernama Magdalena Nena dan Severinus Ngguwa.

Selanjutnya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut dari para orangtua mengatakan bahwa Ora Nena kawin gelap dengan hambanya sendiri (vai wado ne’e O’o imu) dengan Dombe Ugha melahirkan anak bernama Enda. Hal ini menjadi problem dalam rumah tangga Ora Nena karena pihak anak weta yang lain menggunakan kesempatan agar mereka juga masuk memegang warisan Embu Ude Ue, sebenarnya semua mereka adalah turunan dari pihak anak cucunya Embu Wadja Tolo termasuk dari pihak perempuan.

Menurut hukum adat yang berlaku di kampung Mauara mengatakan bahwa status Dombe Ungha ini adalah tenaga yang sehari-hari membantu pekerjaan Ora Nena yang istilah bahasa setempat mengatakan bahwa Dombe Ugha ini besar kemungkinan bukan anak sah Ora Nena karena statusnya hamba (O’o), karena yang mengawini Dombe ini juga termasuk Kei Kamba dan Dhae Keka dengan masing-masing memiliki anak.

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, andai kata Embu Ora Nena mempunyai anak kandung dari istri yang sah (Embu Kutu dan Embu Mbojo), maka otomatis anak cucu dari pihak anak perempuan yang lain semuanya tergeser dan tuntutan anak cucu dari pihak perempuan dari Embu Ude Ue tidak dipenuhi, karena garis keturunan yang diberi hak ahli waris adalah pihak anak laki-laki, sedangkan pihak anak perempuan setelah kawin yang disaksikan oleh mosa daki, mereka harus keluar mengikuti suami. Hak warisan yang mereka akan peroleh ditempat yang baru dimana mereka diberikan hak ahli waris dari garis keturunan pihak suami.

Untuk membantu pekerjaan rumah tangga Embu Ora Nena, dia dibantu oleh beberapa pembantu adat dan pada jaman leluhur mengatakan hamba (O’o). Peran seorang hamba dulu dianggap rendah dan belum tentu harta warisan diberikan kepada mereka, oleh generasi penerus malahan mereka diusir.

Peran pembantu pada jaman sekarang lebih kreatif untuk melayani tugas-tugs roda perputaran ekonomi, karena pimpinan (baik Kepala Kantor atau Direktur perusahaan) tidak akan lancar tugas-tugasnya kalau tidak ada pelayanan yang efektif.

Jaman sudah berubah antara dulu dan sekarang, yang sekarang dianggap anak turunan dari pihak pembantu atau hamba (O’o), malahan posisi saat ini yang dulunya dianggap turunan hamba (O’o) sekarang posisinya berubah dan menurut pengamat penulis yang dulunya status nenek moyangnya O’o dan malahan sekarang usahanya banyak yang berhasil. Sebaliknya Nenek moyang mereka dulu dianggap orang terhormat malahan nasibnya sekarang tidak karuan.

Keturunan Embu Ora Nena yang berasal dari budaknya (O’o) sendiri tanpa melalui proses hukum adat yang berlaku (tau nee ngawu), oleh anak cucu laki-laki dari pihak anak perempuan (anak weta) tidak mengakuinya/menyetujuinya agar keturunan Embu Ora Nena yang berasal dari budaknya (O’o) diberikan hak terutama menjadi pimpinan (kepala soma). Sesuai hukum adat (mera ena nua orda) kalau anak yang dilahirkan tidak melalui proses hukum adat (tau nee ngawu) maka anak yang dilahirkan dianggap tidak sah (ana kombe me’re). Permasahan yang dihadapi ditingkat anak cucunya dari pihak Embu Waja Tolo baik Embu Ude Ue yang mengangkat Ora Nena menjadi anaknya, maupun pihak anak perempuan dari Embu Waja Tolo sebagai berikut :

Permasalahan :
Pertama dari salah satu sisi anak yang dilahirkan Ndombe secara biologis adalah anak hasil hubunganya dengan Ora Nena (anak kandung), tetapi kalau dipandang dari hukum adat anak yang dilahirkan dianggap tidak sah (nua ggedhe mbeo).

Kedua, anak laki-laki yang dilahirkan dari pihak anak perempuan (ana weta) dianggap tidak sah kalau tidak dibuat dengan hukum adat kampung (mbeo nua) karena status anak perempuan adalah kawin keluar (nuka sao).

Ketiga, dari pihak anak perempuan (anak weta) tidak mengakui keturunan dari pembantu (O’o) sebagai anak sah karena Dombe Ugha selain berhubungan dengan Ora Nena, dia juga berhubungan dengan Kei Kamba dan Dhae Keka masing-masing mempunyai anak (tidak tentu suaminya yang sah), sehingga dari pihak anak perempuan (anak weta) mencari kesempatan yang baik untuk ingin masuk mendapatkan warisan tersebut.

1.2. Status Pati Ue.

Embu Pati Ue kawin keluar mengikuti suaminya Jogo Ndara melahirkan anaknya 1 orang perempuan bernama Djou Pati. Selanjutnya Djou Pati kawin dengan suaminya asal Maumere melahirkan Wanggo, Pi’o, Ndona, Nembo, Mbupu dan Wuda (untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel Silsilah Keluarga.

1.3. Turunan Goo Ue.
Jalan ceritanya sama dengan penjelasan turunan Embu Ude Ue mengangkat Ora Goo menjadi Ora Nena. Embu Goo Ue, pertama kawin dengan Jari Ndara melahirkan Ora yang sekarang diberi nama Ora Nena. Cerita ini merupakan kelanjutan dari cerita tersebut di atas dan sebagai tambahan Embu Goo Ue kawin dengan Embu Mado Nida melahirkan empat orang anak yakni Embu Dhima, Embu Dhae, Embu Ue dan Embu Babo. Mereka berempat saudara kandung seibu dengan Embu Ora Nena).

Embu Mado Nida dan Embu Goo Ue statusnya masih saudara sepupu satu kali yakni anak weta mada ana nala. Kalau hukum Gereja sekarang sudah dilarang model perkawinan yang mempunyai hubungan keluarga terlalu dekat, mengingat pada zaman saat itu sumber daya manusia masih kurang dari pada tidak ada keturunan terpaksa biar saudara dekat (papa mada wado) tidak menjadi masalah karena dapat diatur dalam hukum adat (nua mbeo).
Status hak warisan Dhima Goo dan Embu Dhae Goo sebenarnya di Jawawo karena bapaknya berasal dari Jawawo (embu Nida nai aki nee embu Gati Tuku melahirkan anak yakni Embu Mado Nida). Mengingat Ora Nena merasa diri tidak mempunyai anak dia memanggil Dhima Goo dari Jawawo untuk menduduki di hak pusaka (ku lema) Mauara bersama dengan istrinya Embu Dhima Goo bernama Tolo Eju. Sewaktu mereka dipanggil Embu Ora Nena ke Mauara Embu Dhima Goo membawa bersama keponakannya (ana podu) dari Embu Tolo Edju bernama Embu Wea Bhoko bersama dia ke Mauara di tempat warisan Embu Ora Nena.

Untuk membuktikan permasalahan tersebut di atas, semasa Embu Ora Nena masih ada menurut para leluhur (ine ame embu kajo ta punu) mengatakan bahwa anak laki-laki pertama dari Dhima Goo bernama Tomas Ude dijodohkan dengan mama Kristina Noo dari Sa’o bele nua Mauara pada saat mama Kristina Noo masih dalam kandung mamanya dan mengatakan bahwa kalau lahir anak perempuan menjadi milik bapak Tomas Ude dalam hal ini kalau sudah besar kawin dengan Bapak TomasUde. Sesuai hukum adat yang berlaku di Mauara mengatakan bahwa untuk menduduki tempat (ndi’i mera da’e) harus dibuat dengan hukum adat (tau nee ngawu), maka untuk itu Ora Nena mengurus istrinya bapak Tomas Ude sesuai dengan hukum adat yang berlaku. Demikian juga anak laki-laki kedua bernama bapak Andreas Meo diurus oleh Embu Mbojo (istri sah Embu Ora Nena) kawin dengan mama Mere Nggua mengurusnya hal yang sama dengan caranya berbeda. Semasa hidup Embu Mbojo, keluarga bapak Andreas Meo tinggal bersama dengan Embu Mbojo dan mengurus makan dan minum (ka pesa) bersama dengan mama Goo Ue sampai embu Mbojo meninggal. Pada saat itu mereka tinggal di Kuwulaja dekat pantai menuju Mauponggo. Bapak Andreas Meo dengan istrinya mama Mere Nggua melahirkan 2 orang anak perempuan bernama Albina Tolo dan Anastasia Noo. Setelah mama Mere Nggua meninggal, bapak Sedangkan bapak Andreas Meo kawin lagi dengan mama Petronela Sobha melahirkan 2 orang anak laki-laki bernama Primus Jodo dengan Marius Ritu.

Mengenai bapak Hendrikus Nggajo sudah masuk rumah tangga baru tinggal bersama dengan embu Mema Teku (istri dari embu Dhae Goo) saudara kandung dari Dhima Goo. Embu Mema Teku ini adalah anak dari embu Bheda Mema (saudara kandung dari embu Ora Teku (orangtuanya bapak Benyamin Nggadi). Dia kawin dengan Embu Dhae Goo melahirkan anak perempuan 1 orang bernama Goo Mema. Menurut perkiraan penulis bahwa embu Dhae Goo ini andai kata mempunyai anak laki-laki juga menduduki hak yang sama dengan embu Ora Nena karena dilahirkan dari rahim yang sama. Embu Mema Teku ini dimasa tuanya dia menyusui dan merawat anak-anak dari Bapak Hendrikus Nggajo yang berlokasi di rumah Eko Witu. Embu Mema Teku ini pada saat memasuki ajalnya dia diurus oleh mama Marta Muwa (istri dari Bapak Hendrikus Nggajo) di rumah adat Sa’o Sumbu sampai embu Mema meninggal di rumah adat dimaksud. Pada saat itu yang tinggal menjaga rumah adat dan merawatnya dengan baik adalah bapak Rangga Wea dengan istrinya Bhoko Ude beserta anak-anaknya. Yang lucunya anaknya Bapak Rangga Wea bernama Maria Beka dijodokan dengan anaknya Bapak Susu Ndana hasil perkawinan dengan mama Ea Tolo anak dari embu Dhima Goo bernama Pius Ritu (panggilan sehari-hari bernama Goo Ea). Hasil perkawinan anaknya Bapak Yosep Rangga dengan anaknya mama Ea Tolo melahirkan anak bernama Magdalena Nena dan Severinus Ngguwa.

1.4. Status Wewo Ue
Setelah di Mauara Embu Wea Bhoko dikawinkan dengan Embu Kaka Wewo saudara sepupunya Dhima Goo (ine kae ari). Kalau dipandang dari Jawawo status embu Wea Bhoko di pihak anak karena dia adalah anak dari kakaknya Embu Tolo Edju, sedangkan kalau dipandang dari Mauara status embu Kaka Wewo adalah setingkat dengan embu Dhima Goo dan embu Ora Nena.

1.5. Turunan Ea Ue.
Embu Ea Ue kawin keluar mengikuti Dewa Tonggo melahirkan anaknya 1 orang laki-laki bernama Ritu Ea, dan 2 orang anak perempuan bernama Edju Ea dan Ndana Ea. Selanjutnya Embu Ritu Ea kawin dengan Embu Ua Mere melahirkan anak perempuan bernama Daki Ua, Mbeu Ua Ora Ua Asa dan Nggua Ua. Cerita dari leluhur tentang status Embu Ea datanya belum masuk pada penulis sangat diharapkan kepada para pembaca dapat melengkapinya namun untuk keturunan Embu Ea Ue untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel Silsilah Keluarga tersebut di atas.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to RIWAYAT SILSILAH KELUARGA EMBU RITU DEA DI MAUARA, KECAMATAN KEO TENGAH

  1. BESI RALE BOBA JA POA
    LABU YANG BUNGANYA BAGAIKAN MEKAR DI SAAT MUNCUL SINAR MATAHARI DI PAGI HARI).
    Lagu ini mempunyai kisah tersediri !
    Sewaktu saya masuk pertama kali masuk di Akademi Administrasi Niaga (AAN) Palu Tahun 1982 seperti biasanya pada disetiap perguruan tinggi syarat mutlak yang harus diikuti adalah oleh setiap mahasiswa adalah harus mengikuti Masa Orientasi Penerimaan Anggota Baru (OSPEK) dan dibuktikan dengan sertifikat OSPEK. Kalau tidak maka status mahasiwa tersebut dianggap tidak sah dan tidak akan diikutkan pada ujian skripsi nanti kalau mahasiswa tersebut mau menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Posisi saya pada saat itu sudah terlambat masuk kuliah karena berangkat dari Flores tiba di Palu di bulan Oktober 1982, sedangkan mahasiswa lain baru selesai mengikuti Ospek di bulan September 1982 dan saya baru masuk kuliah di pertengahan bulan Oktober 1982 berarti dengan sendirinya belum mengikuti Ospek. Sewaktu hari pertama saya masuk kuliah ada temandan kepala temaku itu kepala botak (kepalanya tidak semua tumbuh rambut) yang mengantar saya mengatakan bahwa didalam ruangan itu adalah orang Timor (namanya RK). Hati saya merasa senang karena ada juga orang Timor yang menemani saya di tanah rantauan dan apalagi mahasiswa yang mengikuti kuliah di AAN tersebut yang asalnya dari berbagai macam suku di Indonesia dan sebagai mahasiswa baru tentunya merasa was-wasan jangan sampai tidak disukai oleh teman-teman lain. Dari latar belakang agama, teman tersebut beragama muslim sedangkan saya katolik, namun kedua-duanya berasal dari Pulau Flores dan teman tersebut berasal dari kabupaten Flores Timur sedangkan saya berasal dari kabupaten Ngada (sekarang sudah dimekarkan menjadi kabupaten Nagekeo). Agama yang dianut oleh orang Flores yang asli adalah islam dan katolik tetapi semuanya masih status saudara yang berasal dari nenek moyang yang sama dan kalau dalam hukum adat terlebih pada posisi upacara adat semunya bergabung sebagai saudara dan yang bedanya menu makanan karena yang islam tidak makan daging babi dan daging anjing. Oleh karena masih berada pada nenek moyang yang sama maka agama islam di Flores tidak fanatik kendatipun pada saat makan selalu bersama-sama. Berkaitan dengan pelaksanaan Ospek yang dimaksudkan di atas di Akademi Administrasi Niaga (AAN) sebenarnya posisi pada saat itu saya sudah di Tingkat II (kalau sekarang semester III) seperti yang saya kemukakan tadi bahwa Ospek adalah syarat mutlak yang harus diikuti oleh setiap mahasiswa. Jadi untuk mendapatkan sertifikat Ospek, terpaksa saya walaupun sudah ditingkat II harus bergabung dengan mahasiswa lain yang baru masuk kuliah untuk mengikuti kegiatan Ospek selama 2 minggu. Bagi mahasiswa yang sudah kuliah duluan dan belum masuk Ospek diistilahkan kambingtua dan pada pelaksanaan Ospek berlangsung kambingtua selalu menjadi sasaran dan selalu dipanggil untuk berbuat apa saja didepan kelas termasuk menyanyi lagu daerah asal kelahiran. Pada waktu kegiatan Ospek berlangsung karena saya status kambingtua maka di kelas tempat pelaksanaan Ospek saya selalu dipanggil kedepan dan selalu disuruh berdiri satu kaki dan tangan membentuk huruf K berarti pulau Sulawesi. Ditanya dimana letak Palu ? Saya adalah orang Nagekeo yang pertama masuk di Akademi Administrasi Niaga (AAN) dan orang Flores kami ada 2 orang berada pada kelas yang sama, namun untuk kegiatan Ospek teman yang satu sudah mengikuti tahun sebelumnya dan saya terlambat mengikuti Ospek. Seperti yang saya katakan tadi karena status saya pada saat itu termasuk kambingtua, oleh karena itu maka kalau dihukum saya selalu dipanggil kedepan dan diperintahkan berdiri satu kaki dan tangan membentuk huruf K dalam arti pulau Sulawesi dan selalu menanyakan dimana letak Palu. Saya selalu ditertawakan oleh teman-teman Ospek karena ditanya dimana letak kota Palu, mereka merasa lucu kenapa tidak ditanya letak kota-kota lain seperti Manado, Kendari atau Makasar. Saya disuruh menyanyi lagu-lagu dari Nusa Tenggara Timur, sebenarnya saya tidak ada hobi untuk menyanyi karena dipaksa saya harus menyanyi maka saya pilih lagu “Besi Rale Boba Ja Poa” . Besi bahasa Keo artinya togu dan kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya labu. Kalau kata-kata itu digabung membentuk sebua lagu yang artinya bunganya bagaikan mekar di saat matahari bersinar di pagi hari. Rale boba artinya nama tempat di Boba bagian barat dari kecamatan Mauponggo dan kalau diartikan secara keseluruhan artinya labu yang bunganya bagaikan mekar bersinar di pagi hari di kampung Boba dan kampung tersebut berada dipantai selatan kabupaten Ngada sekarang dekat dengan Gunung Inerie. Gunung Inerie ini menurut cerita para leluhur artinya mama dan kebetulan gunung ini posisinya berada di pantai mengenangkan seorang mama yang selalu sedih mengingat anaknya dan untuk melempiaskan rasa sedihnya mama selalu menyanyi dan berjalan dipinggir pantai. Nyanyian ini kalau ukuran orang Nagekeo memang populer tetapi lagunya kurang disimpati oleh banyak orang, apakah mereka sudah bosan mendengar atau tidak paham saya sudah tidak tahu lagi. Nyanyian itu untuk ukuran orang Palu mereka mengatakan bahwa lagu tersebut bagus sekali karena merdu kedengaran walaupun mereka tidak mengetahui arti yang sebenarnya. Yang satu lagi disuruh saya menyanyi, saya pilih lagu Bajawa “Ine le, ine ine le … dan lagi itu kalau ukuran orang Bajawa atau Nagekeo rasanya sedih dan selalu menyapa mama karena mama yang melahirkan kita. Apalagi lagu tersebut kalau dinyanyikan oleh anak yang didengar oleh mamanya, perasaan seorang mama tentu merasa terharu dan apalagi kalau anak sudah tinggal di perantauan dan posisi mama masih hidup. Hal ini menanandakan bahwa kasih sayang mama terhadap anaknya tinggi karena selalu menuturkan air mata sementara memikirkan nasib anaknya diperantau. Tetapi nyanyian tersebut dijadikan ukuran orang Palu mereka mengatakan bahwa lagu itu tidak bagus membuat mereka mengantuk karena nada dasar lagu tersebut rendah dan pelan, maka olehnya itu mereka mengatakan bahwa lagu itu tidak bagus dan apalagi mereka tidak mengetahui artinya. Gara-gara selalu suruh saya berdiri satu kaki dan membentuk huruf K dan menyanyikan lagi “Besi Rale Boba” nama saya menjadi populer dan mereka bukan memanggil nama baptis, tetapi selalu dipanggil nama Fam Nenek moyang sampai sekarang bila kalau mereka bertemu dengan saya pada saat dimana saja dan kapan saja. Kalau ukuran orang Flores kalau panggilan nama fam nenek moyang dianggap kasar (tidak sopan) tidak menghormati leluhur. Setelah Orang Flores masuk menjadi keluarga Allah, untuk sekarang nama-nama anak selalu dipanggil nama baptis, sedangkan fam nenek moyang selalu dihindari karena hal ini dengan maksud mau menghormati nama nenek moyang dari pada nama orang kudus. Dalam hal ini oleh orang Flores lebih menghormati nama leluhur dari pada nama yang diambil dari nama orang kudus, Dengan demikian nama orang-orang kudus yang diberikan kepada mereka semacam kurang dihormati. Trims
    Jadi dalam penulisan ini yang ditonjolkan adalah “kasih seorang mama kepada anaknya” karena baik atau buruknya nasib anaknya di tanah rantauan masih dalam bayang-bayangan, maka karena kasih oleh seorang mama dan pada saat kesedihannya mama selalu menuturkan air mata. Jadi penulisan ini saya lukiskan. Pertama menyanyikan lagu “Besi Rale Boba Ja Poa”. Dasar lagu ini dinyanyikan karena kampung Boba berada dikaki gunung Ineria dan ari Ine artinya mama. Kedua menyanyikan lagu Bajawa Ine ine le… juga artinya mengenangkan kasih seorang mama namun nada dasar yang digunakan rendah. Lagu ini top ukuran seorang ibu orang Flores dan kalau di kota Palu yang lebih top adalah lagu Besi Rale Boba Ja Poa, karena nada dasarnya tinggi. Jadi masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Trims (penulis nama depanK dan nama belakang juga K).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s