KUDHU KETE JENIS BELIS PERKAWINAN ADAT NAGEKEO

Pernikahan adat sedikit ritual tetapi banyak bicara tentang belis. Belis atau mas kawin merupakan pemberian dari pihak keluarga pengantin pria kepada pihak keluarga pengantin wanita, yang dalam bahasa adat disebut tau ngawu atau mendi ngawu (membawa barang).  Pemberian balasan kepada keluarga laki-laki disebut sundo bhando (pemberian balasan).

Pihak yang diuntungkan dan diperhitungkan dalam memberi barang (tau ngawu) adalah keluarga pengantin wanita yaitu orang tua (ine ame) dan paman (embu mame). Embu mame (paman) memiliki peran sangat sentral dalam budaya Nagekeo. Dalam pernikahan adat mereka selalu mendapat yang terbaik dari pihak laki-laki. Dalam berbagai upacara adat, membangun rumah misalnya embu mame memiliki peran sebagai peletak batu. Dalam Uapacara kematian embu mame sebagai penutup peti jenazah. Ketika peti jenaza belum ada mereka mempunyai tugas menyiapkan tikar untuk alas jenazah, kain penutup jenazah (loko lupa). Dalam adat ada kewajiban adat yang selalu dilakukan oleh embu mame yaitu memberikan kain, beras dan babi besar. Dan setiap perhelatan adat dan embu mame menjalankan perannya selalu mendapat imbalan berupa kerbau, kuda,  parang, emas (kamba, jara, topo, wea).

Dalam pernikahan adat embu mame mendapat belis dari pihak laki-laki salah satunya disebut KUDHU KETE. Kudhu kete secara harafiah berarti teman tidur memberi kehangatan pada saat dingin (kete). Kehadiran anak-anak yang hidup bersama bahkan tidur bersama selalu memberikan kehangatan. Ketika seorang anak gadis dibawa ke luar dari rumah akan menghilangkan kehangatan, dan sebaliknya keluarga merasa dingin (kete). Karena itu ketika seorang anak wanita diambil menjadi isteri, maka keluarga dalam hal ini pihak ’embu mame’ harus mendapat kompensasi. Penggantinya untuk memberi kehangatan dalam jenis belis disebut ‘kudhu kete.’

Berbicara mengenai kudhu kete, ada yang meminta (ndoi) kerbau atau kuda, tetapi ada juga yang meminta manusia. Meminta tenaga pengganti. Pemberian ini merupakan jenis perbudakan dalam budaya Nagekeo yang disebut ho’o (hamba). Mereka menjadi manusia pekerja. Jenis lain pemberian manusia terjadi juga dari pihak keluarga wanita kepada keluarga lelaki. Ada istilah dhoko toto mendi mema yang berarti wanita kaya ketika pindah dia juga dihibahkan beberapa jenis harta dan disertai wanita yang disebut tau mbae mboda (untuk memikul bakul). Keluarga turunan kudhu kete dan dhoko mboda sering dianggap rendah. Tetapi toleransi dan kemajuan membuat orang hanya bisik-bisik dan tidak mempersoalkan kelompok ini.

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to KUDHU KETE JENIS BELIS PERKAWINAN ADAT NAGEKEO

  1. Rosa says:

    Informatif sekali om, terima kasih.
    Semoga kudhu kethe yang ditukar dengan manusia tidak berlaku lagi😦

  2. Riwu Ngongo says:

    Bagus untuk memperkaya pemahaman generasi penerus kita tentang ndi’i nua mera oda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s