TETA LOKO TRADISI MENGENANG MUSIBAH

Dalam tradisi budaya Nagekeo, pada saat kematian anggota keluarga dari pihak embu mame (paman) serta ame nala (saudara laki) biasa datang membawa kain sarung adat berupa ragi berwarna hitam dan berkembang kuning serta selembar hoba (kaian tenun ikat khas Nage) berwarna mera sogan atau biru tua dengan kembang ukir berwarna putih) serta babi dan tikar. Semua bawaan sebagai penghormatan bagi yang sudah meninggal. Ini yang disebut tau loko dalam tradisi budaya Nagekeo. Sarung adat berupa ragi dan hoba disebut tau loko lupa atau pembungkus jenazah (lupa = bungkus). Tikar sebagai alas membaringkan jenazah  tau wa (untuk alas) serta babi tau keda (untuk disembelih) pada saat setelah jenazah dimakamkan atau disebut tau woda liwu (pembubaran (woda) banyak orang (liwu)).

Dalam peristiwa kematian yang tidak wajar akibat kecelakaan seperti karena jatuh di jurang, hanyut di sungai atau laut serta kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kematian di lokasi, ada semacam upacara khusus. Dalam budaya Ngada (Bajawa) kematian demikian disebut  mata golo. Jenazah orang yang meninggal demikian tidak dibawa masuk ke dalam rumah. Tetapi jenazah di tempatkan di balai di ruang di luar rumah beralaskan batang pisang. Sementara dalam budaya Nagekeo orang tetap memberi penghormatan kepada jenazah dan dibawa serta ditempatkan di dalam rumah.  Semua upacara dan penghormatan kepada jenazah tetap seperti biasa. Namun orang Nagekeo melakukan sebuah penghormatan yang disebut TETA LOKO.

Teta loko adalah sebuah penghormatan (loko) kepada orang yang telah meninggal pada lokasi kejadian kecelakaan. Pihak keluarga orang yang telah meninggal biasa menggelar (teta) selembar kain tenun tradisional pada sebatang bambu seperti umbul-umbul di lakasi kejadian. Kain utuh diikatkan pada bambu dan ditancapkan pada tanah. Karena itu sering kita bisa melihat di pinggir laut, atau di pinggir jurang atau pinggir kali serta pinggir jalan raya ada semacam umbul-umbul dari kain sarung yang utuh. Teta loko masih dilakukan sampai saat ini sebagai penghormatan bagi yang meninggal dan ditempatkan di lokasi kejadian.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to TETA LOKO TRADISI MENGENANG MUSIBAH

  1. Rosa says:

    Semakin mengerti, ternyata setiap bawaan adat ke rumah orang yang meninggal itu artinya sangat mendalam, bukan sekedar kewajiban yang harus dibawa sebagai keluarga. Terima kasih om Vitalis, atas tulisannya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s