BHANGGA UPACARA SYUKUR DALAM RITUAL ADAT NAGEKEO

Ngawu ko’o Ngga’e (harta milik Tuhan), wado ena Ngga’e (kembali kepada Tuhan) adalah ungkapan yang berhubungan dengan kelahiran dan kematian. Kearifan lokal yang memahami manusia adalah ciptaan dan milik Allah dan kalau pun manusia harus mengalami kematian, orang menganggapnya sebagai sebuah keharusan. Berasal dari Tuhan akan kembali kepada Tuhan sebagai pencipta dan asal mulanya.
Kelahiran dan kehadiran seorang anak manusia dalam satu keluarga dianggap sebagai berkat dari Tuhan. Banyak anak banyak rejeki, sebuah ungkapan yang mencerminkan bahwa berkat semakin berlimpah dengan kehadiran banyak anak.

Dalam ilmu ekonomi manusia disebut sumber daya. Tenaga kerja yang menghasilkan dan mengolah kebutuhan manusia. Anak dianggap sebagai sumber daya dan kekuatan ekonomi keluarga. Banyak anak (weki liwu) berarti banyak tenaga yang bisa menghasilkan kebutuhan. Menjadi kekuatan dan kebanggan keluarga.
Keluarga dengan banyak anak sepatutnya  mengucapkan syukur kepada Tuhan. Rasa syukur itu tidak saja dipahami oleh keluarga tetapi juga oleh keluarga besar. Dalam masyarakat adat, kehadiran keluarga dengan banyak anak menjadi pembicaraan masyarakat. Ada yang mengagumi tetapi ada juga yang merasa iri. Apresiasi positif atau pun  negatif dari banyak orang (wiwi liwu dema ngasu) ikut mempengaruhi kehidupan keluarga.

Pengertian Bhangga

Dalam budaya Nagekeo memiliki delapan (8) orang anak merupakan sebuah kepenuhan berkat. Keluarga ini disebut sebuah keluarga bahagia. Rasa bahagia dinyatakan dengan upacara syukur yang disebut BHANGGA.

Bhangga pada dasarnya berarti batas atau membatasi. Secara biologis seorang ibu yang telah melahirkan banyak anak mengalami daya tahan rahim untuk mengandung dan melahirkan anak yang berikutnya. Keselamatan diri ibu dipertaruhkan, karena menurunnya daya tahan tubuh. Karena itu sering ada ibu yang menjadi korban dalam proses kelahiran.  Kematian ibu dan anak sesudah kelahiran yang kedelapan sering dianggap sebagai sebuah kelalain dalam mengucap syukur.
Bagi keluarga Nagekeo mengucap syukur itu sebuah kewajiban. Syukur itu ditunggu oleh banyak orang dan juga menjadi buah bibir banyak orang (wiwi nliwu dema ngasu). Keselamatan ibu dan anak juga dianggap ada kaitan dengan syukur.

Bhangga itu Membatasi
Arti dasar bhangga adalah batas atau membatasi. Seorang ibu demi kesehatan dan keselamatan cukup memiliki depan orang anak.  Upacara bhangga juga dianggap sebagai ritual syukur, karena keluarga telah mendapat berkat dari Tuhan dengan dikarunia delapan orang anak.

Perlengkapan Bhangga:
1. Kerbau, seekor kerbau jantan (kamba mosa)
2. Tali dengan sepuluh simpul(buku) untuk pegangan bagi bapa,ibu dan delapan anak secara berurut.
3. Parang dan tombak sebagai alat perlindungan yang ditempatkan di depan pintu masuk bersama kepala kerbau.

Upacara Bhangga:
1. Kerbau diikat di depan pintu rumah.
2. Keluarga ikut memegang tali bersimpul sepuluh yang disambungkan ke hidung kerbau korban.
3. Sebelum kerbau disembelih ada uacara wesa lela (memberi makanan dengan menaburkan beras) sambil berdoa (sua soda): Te pata ta’e mona deghe, mo’o bhide ko’o uru ju tau negha menga te. Mo’o weki ri’a do modo, mo’o tau ndi’i sa’o mera tenda. tau keu etu ne’e napa nia.  Mata sai wai kamba.
4. Kerbau lalu disembelih oleh embu mame (paman) dari keluarga laki.
5. Keluarga memasuki rumah melangkahi kepala kerbau dan tombak serta parang.
6. Di dalam rumah anggota keluarga direciki darah kerbau pada dahi oleh sang paman.
7. Tombak dan parang serta tali disimpan di atas loteng rumah.
Keluarga yang bersykur tidak ikut makan daging kerbau kurban, tetapi untuk mereka disediakan seekor babi (ana wawi go’o) untuk santapan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to BHANGGA UPACARA SYUKUR DALAM RITUAL ADAT NAGEKEO

  1. Rosa says:

    Terima Kasih om Vitalis, apa kabar? Saya pernah ikut Bhangga di Worowatu, tp waktu it belum mengerti. Membaca tulisan ini jadi lebih mengerti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s