SULU FU MUDA NGI’I MENGABADIKAN TRADISI

 Kapan dan Bagaimana Menentukan Sulu Fu Muda Ngi’i

Sulu fu muda ngii sebuah istilah untuk pewaris dan pemegang kuasa dalam rumah tangga.

Penunjukkan seorang pewaris dan pemegang kuasa kepala rumah tangga  dibicarakan saat wafatnya seorang kepala keluarga besar dan dihormati .  Orang menyebut wafatnya kepala soma  sebagai ‘mata ta loa mosa, jata metu.

Penunjukkan seorang penerus dan kepala soma yang baru diawali dengan wuku toku (seruan yang lantang) oleh seorang mosalaki. Setelah menyapa semua lalu mengatakan:

Ke kami  negha wuku toku, te negha mboka ka wai lo’a mosa, mbembe ka wai jata metu, bhide miu ka’e ari sa’o tenda, udu dudu eko dolo ta negha mboto reta todo,  miu toki ka weke  bhide tewu toni, tuju ka weke bhide muku muda, mo’o kami mo’o mbeo.
Bhide taku udu wuku,  eko enga,  negha ne’e ta tau bhoe tewa, ta juru tau su’u wangga negha datu, ta sulu fu muda ngi’i.

Telah dimaklumi bahwa kita telah kehilangan seorang yang ditokohkan (loa mosa, jata metu), maka semua kerabat (kae ari sao tenda) semua yang berada dalam rumah (udu dudu eko dolo) matangkan dan satukan pendapat di dalam rumah (mboto reta todo) silahkan tunjuk dengan jelas bagai menanam  batang tebu (miu toki weki bhide tewu toni) seperti menanam batang pisang (tuju bhide toni muku), supaya kami semua mengetahui (mo’o kami mo’o mbe’o).
Dengan demikian apabila  ada orang di kampung  memanggil akan ada yang menjawab   ( bhide taku udu wuku, eko enga,  negha ne’e ta tau bhoe tewa), ada yang meneruskan tanggungjawab (sulu fu muda ngii)
Biasanya pihak keluarga akan menunjuk seorang sebagai pengganti kepala soma dengan jawaban: Ke menga ke …(itu dia sambil menyebut nama)

Setelah tahu ada kepala soma baru pengganti dan penerus tanggung jawab, maka dilanjutkan dengan minta para hadirin untuk menyampaikan bila ada hutang piutang dengan yang sudah meninggal.
Kita negha mbe’o,  modo punu sai songgo woso uta kapa. Sepu rada ta imu negha mada ko’o nua oda. Ngara sa’i ka kombe pata mona ka punu. “  (Kami telah mengetahui. Baiklah mari kita bicara tentang hutang piutang dengan orang sekampung. Bagi siapa saja yang memiliki hutang piutang dengan yang sudah meninggal silahkan sampaikan sekarang. Bila lewat malam mini semuanya tidak akan dibahas lagi (Ngara sa’i ka kombe pata mona ka punu)

Peran dan Tanggungjawab Sulu Fu Muda Ngi’i

Tugas dari ‘sulu fu muda ngii adalah sebagai kepala soma. Sebagai kepala soma, seorang  mengurus dan mengtur keluarganya.  Karena itu dia juga bertanggungjawab atas semua tindakan  dari yang sudah meninggal terutama hutang kepada pihak lain.

Sebagai kepala soma seorang  memiliki hak bicara dan mengambil segala macam tindakan yang perlu. Tetapi berhubungan dengan adat, siapa pun kepala soma dalam forum adat selalu berbicara melalui juru bicara kepala soma keluarga besar (suku). Dia didaulat sebagai kepala suku dan juru bicara dalam semua kesempatan.
Dalam pembicaraan adat semuanya serba tertib. Selalu ada yang membuka (gagi) lalu kesempatan diberikan kepada seorang mosalaki yang memang biasa mbabho. Mosalaki tuka mbabho berperan sebagai moderator  pengambil keputusan. Semua para pihak bicara melalui juru bicara. Kalau pun ada sanggahan selalu disampaikan melalui juru bicara.  Mosalaki tuka mbabho pata selalu mendengar dan melemparkan kembali ke forum untuk dimatangkan. Tetapi putusan akahir ada pada moderator, mosalaki tuka mbabho.

Sulu Fu Muda Ngi’i Tidak Membawa Perubahan

Seorang kepala soma sebagai sulu fu muda ngii, tidak serta merta bisa berbicara atau mengambil keputusan di dalam forum resmi. Seorang  tidak  dapat melakukan perubahan cara berpikir yang tercermin dalam tindakan. Karena semua  diharuskan tunduk pada adat dan tradisi budaya. Semuanya tertuang dalam ungkapan ‘ana sulu fu, sulu nolo gidi udu, embu muda ngi’i, muda nolo wili ngeti. (kalau menggantikan rambut cukup sekitar kepala, dan ganti gigi sebatas gusi). Tidak lebih dari batas itu. Orang harus tetap patuh pada tradisi. Jangan jauh lebih dalam merubah adat dan kebiasaan yang berlaku. Ini adalah tradisi, sebuah kebiasaan yang turun temurun diwariskan. Sebuah kekayaan yang terus dijaga.

Perubahan seharusnya bisa dilakukan. Perlu sebuah terobosan. Semakin kita tenggelam dalam trdisi, semakin kuat dukungan mengabadikan kebiasaan lama. Dengan demikian kita juga ikut tenggelam dalam cara pikir dan pola tindak masa lampau. Untuk dapat keluar dari tradisi tanpa melupakan nilai-nilai luhur dari pada sebuah tradisi, dibutuhkan sebuah tekad dan dukungan dari pemerintah serta institusi agama dalam hal ini gereja.

Dari  sisi agama Islam sudah sangat posistif menentang dan mengabaikan tradisi budaya konsumtif seperti belis dan upacara-upacara adat yang membebankan. Banyak urusan dalam masyarakat sudah jauh lebih sederhana. Sementara dalam masyarakat non-Muslim terus saja tenggelam dalam kebiasaan lama. Karena siapa pun harus patuh pada falsafah  ‘ Ana sulu fu nolo gidi udu,  embu muda ngi’i nolo wili ngeti. Tugas angkatan muda tidak lebih dari sekedar penyambung adat dan tradisi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

One Response to SULU FU MUDA NGI’I MENGABADIKAN TRADISI

  1. Pingback: Sail Komodo – NTT 2013 | Inilah Kebudayaan Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s