SULU FU MUDA NGI’I MENGABADIKAN TRADISI

Kemajuan ditentukan oleh kesiapan sumberdaya manusia.  Pendidikan adalah jalan menuju perubahan dan kemajuan. Karena melalui pendidikan manusia dicerdaskan. Orang Nagekeo boleh berbangga, saat ini sudah banyak anak-anak muda terdidik. Kalau di banyak tempat di pulau Jawa masih ada yang buta huruf atau sekedar tamat sekolah dasar, maka saat ini hampir setiap rumah di Nagekeo sudah ada pelajar sekolah menengah atas dan bahkan sarjana.

Apakah pendidikan telah mampu merubah tradisi?  Ternyata sampai saat ini orang Nagekeo masih terkungkung dalam adat dan dan tradisinya. Suatu ketika saya didaulat menggantikan posisi ayah saya, yang sudah renta dan meninggal dunia. Saya ditetapkan dalam pertemuan dengan para mosalaki kampung sebagai kepala soma (kepala keluarga besar). Apabila di Jakarta saya sudah biasa dengan cara berpikir terbuka, cerdas (smart) serta penuh logika, maka kali ini saya tunduk pada tatacara dan pola tutur lama dan baku sejak saya belum lahir. Saya disebut sebagai ta sulu fu muda ngi’i (rambut sisipan dan tanaman gigi baru). Saya ditetgaapkan sebagai penerus dan pengganti posisi almarhum ayah saya. Saya sebagai seorang kepala soma. Pengambil keputusan dan pembicara dalam forum adat.

Akhir-akhir ini saya bertanya. Apakah sebenarnya yang membuat semuanya tidak berubah dalam kehidupan adat dan budaya Nagekeo? Sulu fu muda ngi’i sebenarnya masih dapat dipahami dan diterima. Kita butuh pengganti, yang tentu lebih muda. Tetapi ternyata budaya dan adat istiadat memiliki pakem yang sangat jelas.  Kalau pun saya atau siapa saja generasi muda menjadi sulu fu muda ngi’i, tetapi tidak serta merta dapat melakukan perubahan cara berpikir yang tercermin dalam tindakan. Karena  seorang diharuskan tunduk pada adat dan tradisi budaya. Semuanya tertuang dalam ungkapan ‘ana sulu fu, sulu nolo gidi udu, embu muda ngi’i, muda nolo wili ngeti. (kalau menggantikan rambut cukup sekitar kepala, dan ganti gigi sebatas gusi). Tidak lebih dari batas itu. Orang harus tetap patuh pada tradisi. Jangan jauh lebih dalam merubah adat dan kebiasaan yang berlaku. Ini adalah tradisi, sebuah kebiasaan yang turun temurun diwariskan. Sebuah kekayaan yang terus dijaga.
Perubahan seharusnya bisa dilakukan. Perlu sebauah terobosan. Semakin kita tenggelam dalam trdisi, semakin kuat dukungan mengabadikan kebiasaan lama. Dengan demikian kita juga ikut tenggelam dalam cara pikir dan pola tindak masa lampau. Untuk dapat keluar dari tradisi tanpa melupakan nilai-nilai luhur dari pada sebuah tradisi, dibutuhkan sebuah tekad dan dukungan dari pemerintah serta institusi agama dalam hal ini gereja. Dari  sisi agama Islam sudah sangat posistif menentang dan mengabaikan tradisi budaya konsumtif seperti belis dan upacara-upacara adat yang membebankan. Banyak urusan dalam masyarakat sudah jauh lebih sederhana. Sementara dalam masyarakat non-Muslim terus saja tenggelam dalam kebiasaan lama. Karena siapa pun harus patuh pada falsafah  ‘ Ana sulu fu nolo gidi udu,  embu muda ngi’i nolo wili ngeti.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

One Response to SULU FU MUDA NGI’I MENGABADIKAN TRADISI

  1. Pingback: Sail Komodo – NTT 2013 | Inilah Kebudayaan Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s