KAJU MBENU UJU, AE NEGHA MBENU PO’O SAAT NGOA NGI’I DI NAGEKEO SELATAN

Ngoa ngi’i (potong gigi) adalah salah satu upacara ritual adat yang selalu dipenuhi seorang wanita. Ngoa ngi’i di belahan Nagekeo Utara adalah tanda bahwa anak wanita telah dewasa dan layak dilamar. Pada saat itu gigi wanita dipotong (dikikir) atau disebut ngoa ngi’i (koa ngi’i).

Acara potong gigi wanita di wilayah Nagekeo selatan dilakukan bila sang wanita sudah hamil. Artinya seorang wanita sudah lengkap menjadi seorang ibu sejati. Oleh orang Nagekeo dikiaskan sebagai ‘kaju mbenu uju, ae negha mbenu po’o’ (ikatan kayu sudah penuh dan air sudah penuh bambu).

Acara potong gigi biasa dilakukan di rumah keluarga wanita. Pada acara ini ada kewajiban-kewajiban adat yang harus dipenuhi oleh pihak keluarga laki-laki. Pihak keluarga lelaki biasa dan wajib membawa:  1. Kamba topo taka: seekor kerbau  2. Jara ra’a  ngi’i : seekor kuda 3. Wea dhedhe : perhiasan emas 2 pasang (wea ha diwu) terdiri dari wea liti (yang tidak berjuntai) dan wea wunu (yang memiliki juntaian). 3. Piso topo (pisau dan parang) berupa barang keperluan harian. 4. Longo langga (seekor kambing jantan bertanduk).

Tujuan pemberian: kerbau dan emas untuk orang tua. Sedangkan kuda untuk saudara laki sang wanita yang mendapat tugas mengawali upacara  initiasi potong (kikir gigi) yang disebut ra’a ngi’i.

Selain barang-barang bawaan piso topo, longo langga, pihak keluarga laki masih juga membawa nata manu (sejenis daun sirih tak berbuah).  Khusus untuk nata ini dibuat tujuh ikat, masing-masing 7 (tujuh) lembar daun sirih.  Nata dikat atau dalam bahasa daerah disebut pepe (diikat). Ini diartikan sebagai ikatan hubungan wanita dan laki-laki yang selalu bersama (papa dhepi) dalam pengertian persetubuhan.  Jumlah 7 (tujuh) menjelaskan bahwa bahwa hubungan suami isteri (persetubuhan) hanya dibatasi sampai usia kehamilan tujuh bulan (wuda dima rua).  Dalam kearifan budaya Nagekeo, bulan kedelapan dilarang melakukan hubungan suami isteri. Ko’o odo wua bidi wuda dima rua. Oi wuda dima rua mona ngada wua. Jaga taku lajo mede. (Boleh muat cukup sampai bulan ketujuh. Sesudahnya dilarang menaikkan muatan. Ingat jangan sampai perahu tenggelam).  Ngara mesu fai, mesu ana, muri fai aki ngesi mbe’o. Fonga ambo, nedha nadu so’o woso. (Bila sayang isteri dan anak seorang harus paham. Bila ingin berlayar harus siapkan bekal). maksudnya harus menahan diri.

Dalam budaya Nagekeo ada larangan hubungan suami isteri: pada saat gempa bumi, hujan dan halilintar, angirn ribut, bulan purnama karena takut akan terjadi gerhana (wuda tano), juga dilarang berhubungan bila ada saat kematian.

Dalam kaitan denganmasa kesuburan dan hubungan suami isteri ada petuah-petuah seperti: Ngara mo’o wua ngawu, ono wuda meti. Meti loa, meti mbenu oo meti juju nuka. Ngara loa lenga, wado wai kima kae, ke oda ai ko’o sira ta suko aki. (saat tertentu untuk mendapatkan anak laki). Atau meti de dheso ( saat hubungan setelah dua-tiga hari menstruasi). akan memperoleh anak perempuan.

Pada acara potong gigi pihak keluarga wanita mempunyai  kewajiban memberikan barang. 1. Duka dawo (sarung adat). 2. Wawi mere (babi jantan besar). 3. Plae rea (beras) 4. Te’e dani (tikar dan bantal. 5. Dako (anjing) untuk petugas potong gigi (utu ata ta kasa lo ngoa ngi’i).

Wawi mere (babi) untuk disembelih, duka dawo (sarung adat) untuk wanita yang dikikir giginya yang  disebut dengan ‘dipi pipi, wa weli (alas pipi dan rahang). . Te’e dani (tikar bantal) untuk dipakai sebagai alas tidur sang wanita.

Potong sebelum melahirkan merupakan wajib. Karena itu bagaimana pun setiap wanita yang akan melahirkan, yang mungkin tidak ingin giginya dipotong, tetap dilakukan upacara potong gigi sekedar upacara. Caranya dengan mengenakan kikir pada ujung gigi (ra’a ngi’i). Bila tidak dianggap sebagai ‘dhadhi ngi’i bhala (melahirkan anak dengan gigi masih putih). Ingat pada masa dahulu semua ibu makan sirih inang dan giginya berwarna putih. Itu adalah gigi anak gadis yang berbeda dengan gigi kaum ibu yang sudah dipotong giginya dan makan sirih pinang.

 

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s