MAKNA SYMBOL BUDAYA NAGEKEO

PEO :   Pada masa lalu masyarakat masih sering berpindah dan menempati sebuah daerah baru yang masih kosong  yang dalam bahasa daerah disebut dengan ‘tana ine mona, watu ame nggedhe. Ketika keluarga mulai berkembang biak mereka membangun Peo.  Perpindahan juga terjadi karena kalah perang, maka  di tempat tana ine mona , watu ame nggedhe (tanah tak bertuan ) komunitas pendatang mendirikan Peo .   Peo yang paling baru di Kayo, Maukeli sebenarnya memberikan catatan berbeda. Peo ini dibangun dengan  permohonan khusus. Kalau saya tidak salah ada keturunan dari Bengga yang ikut serta migrasi mengikuti keluarga yang pindah karena pernikahan. Setelah beberapa generasi mereka berkembang dan tetap memiliki kekhasan tersendiri.  Kemudian mereka meminta (keu kambe) kepada kampong induk agar dapat mendirikan Peo sendiri.  Peo seperti ini tidak menunujukkan kekuasaan atas wilayah, karena ini adalah wilayah yang diberikan (ti’i pati). Karena  dalam budaya Nagekeo mengenal istilah ti’i mona wiki pati mona dai (pemberian ikhlas tanpa imbalan) maka keluarga pendatang merasa memiliki. Mereka membentuk kampung dan mengukuhkan keberadaan dan kedaulutan hukum adatnya dengan  mendirikan Peo.

Peo adalah lambang pemersatu dan kedaulatan hukum adat.  Peo selalu dibuat dengan cabang dua berbentuk huruf V. Ini symbol kelamin wanita. Peo adalah ibu, rahim yang melahirkan semua anak dan selalu memberikan kasih dan menyatukan.   Peo yang berkelamin wanita harus selalu memiliki pendampingnya yaitu lelaki yang dipresentasikan dengan Madhu.

MADHU:  Madhu  dibuat dari sebatang kayu tertentu yang ditancap tegak lurus. Pada ujung Madhu ada patung laki-laki  telanjang sebagai lambang kejantanan.

Penempatan Peo dan Madhu sesuai dengan makna syombol, posisi Madhu (laki) berada di tempat  yang lebih tinggi (wawo) dan Peo (wanita) ada di posisi bawah (wena). Posisi ini tidak saja menunjukkan  kekuasaan laki-laki tetapi juga menunjukkan posisi hubungan laki dan wanita dalam berhubungan badan  (muri nambu fai aki). Ta fai wena,  ta aki papa wawo (wanita di bawah dan laki di atas).

SAO ENDA:  sao-enda-di-negera

Sao Enda atau Enda merupakan bangunan rumah kecil sebagai tempat tinggal keluarga suami isteri. Di depan Sa’o Enda selalu ditempatkan patung kuda yang ditunggangi laki-laki dan wanita .

Kuda atau Jara adalah sarana transportasi bagi keluarga. Kehidupan keluarga yang sempurna harus memiliki sarana untuk bekerja.

Dalam rumah atau sa’o enda biasa disimpan  patung laki dan wanita yang disebut Ana jeo. Ada ana jeo ta fai dan ana jeo ta aki (patung wanita dan laki). Selain Ana Jeo juga ada perlengkapan rumah tangga berupa  anga (periuk) tora (piring dari buah labu) kadho dan idhe (alat tampi beras) kao (senduk besar).

Jara dan Enda selalu selalu berada berdekatan tak terisahkan satu sama lain.

SAO TUDU:  Sao tudu adalah sebuah bangunan di tengah kampung untuk melakukan upacara adat.  Orang Nagekeo biasa memasak daging di tengah kampung dan dilakukan oleh kaum laki-laki. Kegiatan memasak  (pedhe teti, seo nga’e) yang berhubungan dengan ritual adat  teristimewa untuk keperluan persembahan kepada leluhur dilakukan di ‘Sao Tudu.  Sao tudu juga dibangun di kampung-kampung kecil pemekaran yang sudah permanen dengan izin dari kampung induk.

BASA DAMBA:  Basa Damba adalah sebuah bangsal atau bangunan kecil semuanya di tengah kampung, khusus untuk menyimpan peralatan seni gong dendang, kepala kerbau (udu kamba) rahang babi(kangge, weli wawi) hasil dari pesta-pesta adat yang besar.

Bangunan Sao Tudu,  Basa Damba dan Sa’o Dando selalu bertiang empat.  Ini berpegang pada falsafat ‘ulu rua taga wutu’ (dua kepala kaki empat).  Menjelaskan bahwa wanita dan laki yang hidup bersama harus selalu bersatu ‘ulu rua taga wutu (kakinya empat).

SAO DANDO:  Sa’o Dando sebenarnya adalah rumah tinggal keluarga, yang dikhususkan untuk menyimpan  wudi dando ( kalung dari kerang) untuk upacara.

WATU WAKA:   Watu Waka adalah sebuah batu besar yang berpermukaan rata dan dibuat topangan kaki dari batu untuk dijadikan tempat duduk.  Watu Waka menjadi tempat untuk memberikan pengumuman dan pesan umum kepada seluruh warga.  Watu Waka adalah tempat Wuku Toku (maklumat). Dalam budaya Nagekeo  masyarakat sangat patuh pada hukum dan perintah demi kepentingan bersama. Hal ini tercermin dari ungkapan ‘Udu supu tutu, eko watu mbana , Sang pemimpin (kepala) memerintah,  bawahan (eko) yang diperintah (watu) langsung bergegas jalan (mbana). Semua perintah adat  (supu tutu) dilakukan dengan berdiri di atas Watu Waka.

Dalam kaitan dengan Watu Waka ada pemuka adat (mosalaki) yang disebut wiwi dema (juru bicara). Orang tersebut memang dari leluhurnya menjadi wiwi dema(juru bicara), karena orang Nagekeo mengenal istilah : Mosa ta oda wuku udu, daki ta odo enga eko. Mosa wuku bhuku, daki enga bhiu. (Pemuka yang memang bertugas untuk menyampaikan pesan).
Sang Juru bicara memulainya dengan: Ja’o moda bhodo wuku, bhodo enge. Ja’o tau du supu tutu, eko watu mbana. Kita mo’o mutu kita jogho mumu mo’o kodo kita sa toko.  Dhemu kita jogho dema, mo;o tadi kita sa tembu. Ta ndate tau fe’a, ta reu tau we’e. Papa tiwo kita noa ha go’oi mo’o tau woso. ( Mari kita bersatu dan bergotong royong, mari sumbang saran  demi kebersamaan dan kesatuan (kodo sa toko, tadi sa tembu).

IA  : Ia adalah tugu batu. Tanda kemenangan. Orang Nagekeo mengenal istilah ‘papa tau’ (perang)  Dalam situasi ‘papa tau’ dianggap selesai bila pemimpinnya dibunuh. Bila sang pemimpinnya telah terbunuh maka  dilakukan Poto udu tana (mengambil kepala ). Tentu jenazah tetap tinggal di kampung yang kalah, tetapi di kampung sang pemenang dilakukan dengan menanam tiang batu. Ini yang disebut Watu Ia. Watu Ia biasa di tanam di halaman Sa’o Mere atau Sa’o Pu’u (Rumah induk)  di kampung pemenang.  Watu Ia bisa beberapa buah tergantung  pada jumlah aktivitas ‘papa tau’ (perang).

NAMBE : Watu Nambe adalah sebuah batu yang ditanam di tengah kampung sebagai bukti kepemilikan tanah. Nambe sendiri adalah lambang tanah. Watu Nambe berbentuk datar sedangkan Watu Ia dibuat tegak sebagai menumen lambang kemenangan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s