KONDE WA’U dan WULA WANDO

Sudah hampir tidak banyak bergaung lagi kata ini. Tetapi sekali-kali ada yang mengatakan kata ini ‘konde wa’u.  Konde keluar dari sarangnya (Konde wa’u). Sampai sekarang tidak jelas apakah konde nama pribadi atau nama seekor ular naga raksasa. Konde keluar (konde wa’u) terjadi bila keadaan sangat darurat. Situasi sangat kacau yang menimbulkan kemurkaan luar biasa.

Dikisahkan bahwa di hulu sungai ada penghuni seekor ular raksasa. Kata yang punya cerita ular ini adalah seekor naga raksasa bermahkota. Ular ini menghuni hulu sungai persis di tempat aliran air. Dia terus berjaga dan menutupi aliran air  dengan  lingkaran tubuhnya seperti sebuah gong raksasa. Selama gong raksasa ini tetap menutupi aliran air, maka orang akan menjumpai kali kering (kali mati) penuh pasir dan batu, yang hanya sesekali berair di saat hujan lebat dan lama.

Kapan konde wa’u (Konde keluar). Konde keluar apabila manusia melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tidak umum jadi bahan tertawaan untuk sesuatu hal yang tidak lucu. Seperti dikisahkan di sebuah kampung pada sebuah bukit tinggal dua orang ibu yang sedang melahirkan. Pada siang itu tidak ada orang di dua gubuk itu. Seorang ibu ingin meminta bara api dari rumah ibu di rumah yang lain  Masing-masing tidak bisa meninggalkan rumah karena baru melahirkan bayi untuk mengambil atau memberikan api (dai api).  Timbul ide kreatif dari sang ibu yang rumahnya sedang memasak. Anjing dipanggil namanya lalu diberi makan. Anjing segera menghabiskan makanan.  Ketika sedang makan  dia mengambil sepotong kayu bakar dari tungku yang menyala lalu diikatkan pada ekor anjing dari rumah yang membutuhkan api. Anjing dengan kayu berapi pada ekornya lalu berjalan menuju rumah yang lain. Dan ibu tetangga tersebut melepaskan tali ikatan kayu pada ekor anjing. dia pun akhirnya bisa memasak siang itu. Ketika sore penduduk yang bekerja di kebun kembali ke rumah, kedua ibu ini menceritakan kisah ini. Semua orang menertawakan kisah lucu ini.  Sebuah malah petaka terjadi. Hujan turun dengan lebatnya, dan naga raksasa marah besar atas ulah manusia yang  memanfaatkan anjing dengan cara yang tidak umum.  Naga yang melingkar di hulu sungai lalu merentangkan tubuh yang tergulung membentuk lingkaran seperti sebuah gong raksasa.  Dalam sekejap terjadilah banjir bandang yang menumbangkan pohon raksasa dan menghanyutkan kayu serta batu-batu besar sampai ke laut.  Peristiwa malapetaka yang terjadi disebut oleh orang kampung sebagai ‘wula wando’ (terbongkar dan terguling).

Dalam kehidupan harian orang-orang tua melarang anak-anak agar jangan berbuat yang tidak umum dan melanggar adat. Karena semua ulah yang tidak biasa dan menimbulkan tertawaan akan menimbulkan hukuman yang disebut ‘wula wando. Kisah terjadinya ‘konde wa’u’ atau banjir bandang pasti pernah terjadi. Sebagai bukti peristiwa wula wando dan konde wa’u  ada kali mati dan bergelimpangan batu-batu besar dan lahan penuh pasir gunung di Mauromba.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s