SAO ATA NAGEKEO

SAO ATA  NAGEKEO

Rumah selain sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan manifestasi dari keyakinan para penghuninya. “Sao” tidak sekedar bangunan. Rumah bagi orang Nagekeo memiliki nilai spiritualnya. Rumah merupakan tempat ritual suci membawa persembahan (ti ka pati minu) kepada leluhurnya.

Membangun rumah adalah membangun tempat tinggal dan juga membangun tempat persembahan pada leluhur. Makanya sejak sebuah rumah dibangun, ketika pertama kali meratakan tanah (tara da’e) diawali dengan doa dan orang menempatkan sebuah batu datar di tengah lahan yang akan dibangun dan sebuah lagi di bagian depan rumah. Inilah batu penjuru yang bakal ditempatkan pada tiang utama (deke raja). Tiang-tiang rumah-rumah adat tidak ditanam tetapi ditempatkan pada dasar batu sebagai alas pangkal tiang. Batu yang ditempatkan di halaman rumah agak kesamping biasa digunakan untuk tempat persembahan (ti’I ka pati minu). Pada saat menempatkan batu datar ini orang mengucapkan doa pada leluhur deengan mengucapkan: “Te watu tau ndi’I dae mera dondo. Kere ma’e sede, jari ma’e mati. Tau kere etu napa nia, tau weta weki sa ngara, tau dida dika mbanga anga. ( Inilah batu bagi penghuni tempat ini. Untuk terus berjaga, menunggu tanpa henti dan tak pernah mmbiarkan orang lain mengambil alihnya). Pada saat tanah di ratakan disembelih ayam atau babi dan darahnya di reciki di atas tanah dan juga pada batu bulat bakal alas tiang utama (deke raja) serta batu persembahan (ti’i ka pati minu).

Bagian depan dan belakang rumah yang lebar disebut atap ibu (ate ine) dan bagian samping disebut ate ana. Bubungan atap rumah merupakan symbol dari ubun-ubun manusia. Pintu depan dan belakang adalah symbol mulut dan anus. Jendela menjadi symbol telinga. Dinding merupakan bagian yang melindungi organ tubuh.

Pembangunan rumah sangat memperhatikan penempatan ujung dan pangkal kayu bangunan. Tiang bangunan sudah harus berdiri dengan pangkal berada di bawah. Posisi pangkal balok kayu selalu berada pada sebelah kanan (dilihat dari dalam rumah). Penempatan atap rumah ine ghako ta ana (ibu menggendong anak). Bagian utama depan dan belakang harus pada posisi bawah sementara bagian samping yang lebih kecil berada pada posisi atas. Posisi topangan kuda-kuda (soku do) harus tidak boleh jatuh pada bagian tengah pintu rumah.

Memasuki rumah baru ibarat memasuki sebuah tempat perlindungan (kopo). Biasanya rumah dibiarkan dalam keadaan gelap kemudian anggota keluarga memasuki rumah dan mengambil posisi duduk. Setelah semua duduk menitari tenda, lampu dinyalakan. Lalu disusul dengan memberikan sesajen (wesa lela), dan diiringi doa mohon perlindungan pada leluhur.
Doa (sua soda) pada saat memasuki rumah baru: Sambil menaruh makanan pada tempat khusus di tiang utama, dan juga di sudut dalam rumah sebelah kanan pelaksana wesa lela akan mendaraskan doa: Ke ine embu ta mata mudu re.e do’e. Miu ta ngala tana watu, ta  ngala da’e dondo. Kami negha kema sa’o, tau tutu mu ne’e kaju mara. Miu sipo ri’a sai ne’e sagho modo rembu kami ena sa’o ne’e mogha ana embu miu ta mbana nama peka ke ta nambu ngga’e ka, sipo ria sagho modo mbeja kami. Mo’o weki kami ri’a, do kami modo. Miu kopo kami bhide kopo longo. Miu asa kami bhide asa kamba. Ti’I do tolo, pati weki waja rembu ha kami ena sa’o mere tenda dewa.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s