Semba dan Paki adalah Tanda dalam Budaya Nagekeo

Para pengemudi kendaraan tahu akan tanda dilarang parkir. Hanya ada huruf ‘P’ yang diberikan garis miring di tengahnya. Kita juga menemukan berbagai tanda, yang dipahami sebagai pemberitahuan atau perintah serta larangan. Ini adalah bahasa tanda-tanda, sebuah isyarat yang sudah lama dikenal sejak zaman batu.
Semba
Orang Nagekeo memiliki bahasa ‘tanda’. yang disebut ‘semba’.  Semba adalah tanda atau isyarat larangan. Bahasa larangan lebih mengungkapkan sebuah penolakan yang umumnya didasari ketidakpuasan atau amarah. Ungkapan kemarahan melalui tanda larangan yang disebut ‘semba’ tidak mengenal kompromi. Selalu tiba-tiba tanpa pemberitahuan atau perundingan lebih dahulu.

Akhir-akhir ini banyak masalah timbul di perkampungan Nagekeo. Orang Nagekeo mendirikan kampung  di atas tanah keluarga besar atau suku. Karena itu tidak heran bila orang sekampung merupakan kerabat dekat. Dengan perkembangan jumlah penduduk dan terjalinnya kawin-mawin semakin  banyak orang yang membangun rumah pada lokasi kampung (nua oda). Ketika masih dalam bentuk rumah adat yang tidak permanen pemilik tanah tidak pernah persoalkan. Tetapi ketika orang akan membangun rumah dari semen secara permanen timbul masalah. Pemilik tanah merasa haknya bakal dikuasai dan dimiliki oleh orang lain. Ketika tahu bahwa ada yang ingin membangun rumah permanen sang tuan tanah menunjukkan reaksinya. Reaksi penolakan dinyatakan dalam bentuk ‘semba’. Semba itu dibuat dari daun-daun entah kelapa atau pinang,  Pelepah kelapa penuh daun sebanyak dua buah dipancangkan ke tanah secara bersilang. Atau ada yang langsung menanam sebatang anak pisang.

Dalam banyak peristiwa ‘semba’, tanda larangan untuk membangun di atas sebuah lahan hampir tidak pernah bisa dikompromikan. Yang membuat larangan dan yang mendapat larangan masing-masing menjaga harga diri. Sekali kena semba atau larangan maka hampir pasti pembangunan tidak bisa dilanjutkan. Kedua pihak masing-masing akan berdiam diri dan membangun benteng pemisah berkepanjangan.

Selain semba atau larangan yang berkaitan dengan tanah, kita bisa jumpa di Nagekeo semba pada pohon-pohon produktif. Ada orang yang menaruh ranting pohon atau di pesisir pelepah atau ujung pelapah daun kelapa disilangkan pada batang pohon kelapa. Batang pohonnya ditakik dengan parang kemudian daun-daun itu diselipkan pada batang pohon.  Ini berarti pohon kelapa ini dilarang naik oleh orang lain, yang mungkin selama ini menikmatinya.

Paki
Berbeda dengan semba sebagai tanda larangan paki adalah murni tanda atau petunjuk yang menyatakan persetujuan. Tanda ini disebut ‘paki’ karena cara yang dilakukan adalah dengan membuat takikan (paki) yaitu memotong dengan parang pada pohon atau tiang.
Jika tanda itu dilakukan pada pohon kelapa atau pohon kayu adalaah tanda bahwa pohon itu telah dipilih untuk dipotong. Dalam budaya Nagekeo ada istilah ‘sudu dhu repa nggena’. Sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa apa yang sesuai ukuran boleh diambil atau dipotong serta digunakan. Tetapi ini selama dalam kaitan dengan keluarga besar. Orang boleh mengambil milik kerabatnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dalam hal seorang yang membutuhkan memberitahukan terlebih dahulu, maka pemilik akan memberikan tanda yaitu ‘paki'( takik atau toreh).

Paki juga dilakukan pada kayu pada pinggir balai-balai rumah (tenda). Ada istilah yang sudah mulai jarang didengar ‘paki tangi weda tenda’.  Orang menakikkan parang pada tangga (tangi) atau tenda (balai). Paki tangi weda tenda berakitan dengan perkawinan, yaitu orang yang menjadi perantara memasuki rumah untuk pertama kali melamar gadis. Pelamar biasa utusan khusus yang disebut ‘a’i rada’ (perantara). Dalam hal ini tindakan paki sesungguhnya tidak dilakukan. Penanda lamaran hanya dilakukan dengan mendatangi rumah dan bertemu dengan keluarga wanita. Kedatangan perantara diibaratkan membuat tanda ‘paki’ pada tangga (tangi) dan memotong (weda) pada tenda (balai).
Tanda paki juga merupakan sebuah tanda orang meminjam barang yang bernilai seperti kerbau besar. Orang sungguh melakukan tanda dengan menoreh pada kayu bangunan rumah di balai-balai. Tetapi sudah hampir tidak pernah dilakukan lagi. Sementara paki pada pohon sebagai tanda persetujuan mengambil masih dibuat sampai hari ini.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s