Penggrebekan di Kantor Bea dan Cukai

Jumat 25 Januari 2013 jam 8.30 saya meninggalkan rumah dalam keadaan hujan rintik.  Begitu memasuki jalan raya hujan semakin deras. Saya kemudian mengangkat telepon genggam  dan menghubungi boss saya yang sudah beberapa kali memanggil. Saya meminta maaf tidak bisa mendengar telepon karena hujan lebat.
Memasuki  tol lingkar luar dari Cijantung  menuju Tanjung Priuk,  hujan terus menggurus deras, beberapa tempat di pinggir tol ada genangan air. Saya sempat kaget luar biasa karena percikan air dari sebuah mobil yang berlari kencang di samping saya. Memasuki periuk ternyata kering saja. Dalam bayangan udara sedikit mendung saya memasuki sebuah halamaan perkantoran sempit. Beberapa teman sudah duduk minum kopi di sebuah warung di ujung bangunan persis di tengah dua bangunan kantor yang berhadapan.  Rupanya warung ini menjadi tempat pangkalan para pengurus ekspor impor barang. Saya pun menjumpai 2 orang yang berurusan dengan impor barang di sini.
Ketika masih di jalan saya diminta untuk melengkapi surat kuasa agar saya mewakili pemilik barang untuk menghadap bea cukai.
Saya di beri informasi bahwa mereka sudah membicarakan tentang uang bagi petugas bea dan cukai. Tetapi kalau saya datang supaya hanya menjawab seperlunya. Jangan singgung tentang uang karena semua sudah dibicarakan. Hati-hati karena semua terpantau kamera.  Ketika saya benar bertemu,  sang pegawai  langsung membuat pertanyaan menekan. Dia membuat seolah perusahaan kami sudah beberapa kali mengimpor barang yang sama. Saya katakan tidak. Dia lalu memberikan surat yang saya butuhkan.
Sehari sebelumnya ketika bersama kawan-kawan pengurus eksim (ekspor-impor), seorang teman mengatakan dia menyaksikan sendiri kisah dramatis di kantor Bea dan Cukai. Beberapa hari seorang petugas KPK menyamar menjadi seorang petugas Eksim. Hari menjelang sore. Tiba-tiba sekelompok orang bersenjata dan bertopeng berhamburan masuk kantor bea cukai. Di luar ruangan ada yang berteriak KPK. Terdengar suara dari prajurit bertopeng :” Berdiri di tempat dan jangan bergerak.” Para petugas bea cukai yang sedang bekerja mematuhi perintah, berdiri kegugupan, sopan dan tidak bergerak. Lalu seorang wanita yang sangat paham komputer, membuka data. Polisi KPK menemukan uang di laci dan juga ada yang disembunyikan dalam kaus kaki.  Drama sandra Bea Cukai berlangsung singkat dan hasilnya luar biasa. Tiga orang ditangkap.

Masih ada banyak pemerasan dilakukan oleh petugas Bea dan Cukai. Kerugian negara sebenarnya dimulai oleh mereka. Berlaku menekan tetapi pada sisi lain mengajarkan cara bagaimana mennggembos negara. Tak jauh beda dengan para petugas pajak. Seperti kata seorang pengusaha terkemuka yang santai bercerita dia mengatakan silahkan periksa dan hitung sendiri dengan nilai paling rendah yang kamu bisa nanti saya akan berikan kamu sejumlah sekian dari total penghasilan kena pajak yang sebenarnya.
Para pegawai pajak ternyata menjadi mata rantai korupsi dan penggelapan uang negera terbesar. Kasus Gayus Tambunan  dan Danang adalah contoh kasus.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s