MATA META DAN KEMA META

Kematian adalah hal biasa. Karena setiap orang pada akhirnya pasti akan meninggal dunia. Meninggal pada usia tua menyedihkan bukan saja bagi yang ditinggalkan tetapi juga pada orang yang meninggal. Usia yang tua menggerogoti daya ingat dan juga merosotkan tingkat kebugaran. Hasilnya seorang tua menjadi pikun dan tidak berdaya, bahkan ada yang mengalami rasa sakit yang tidak menyenangkan. Dalam keadaan tertentu orang tua yang penuh dengan penderitaan menjadi beban bagi anggota keluarga yang lain.

Meninggal dalam usia tua orang anggap sebagai suatu yang wajar. Tidak terlalu memberi rasa duka yang dalam bagi keluarga. Orang hanya merasa kehilangan seorang yang pernah berbuat baik dan memberikan kesan istimewa.

Mata meta dalam bahasa Nagekeo diartikan meninggal (mata) dalam keadaan sangat segar (meta).  Meninggal pada usia yang produktif atau bahkan masih sangat belia disebut mata meta. Seorang yang masih memiliki masa depan panjang dan berpotensi besar serta menjadi asset keluarga pasti menjadi kebanggaan dan harapan. Orang-orang yang masih belia dan sangat produktif dianggap masih segar (meta)  dan memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh. Ada yang menggantungkan harapan pada orang orang berpotensi dan masih muda.

Meninggalnya orang muda atau orang yang produkti disebut mata meta adalah bila seorang meninggal tanpa sakit. Meninggal tiba-tiba, pada hal baru beberapa saat lalu masih bercengkerama dan berada bersama keluarga dan sahabat.

Dalam kaitan dengan mata meta orang Nagekeo mengkaitkan dengan kema meta. Mata meta adalah meninggal muda atau meninggal tiba-tiba tanpa sakit. Kema meta adalah istilah untuk pekerjaan yang setengah jadi.  Orang Nagekeo mengenakan istilah kema meta dikaitkan dengan rumah. Seorang meninggal tiba-tiba tanpa sakit (mata meta)dan meninggalkan juga pembangunan yang belum selesai diselesai (kema meta).

Bagi orang Nagekeo sama seperti makhlum manusia lain sejagat menerima kematian sebagai alamiah. Tetapi dalam kaitan dengan ‘mata meta dan kema meta’ dianggap sebagai meninggal yang tidak wajar. Secara medis kita bisa katakan karena gejala biasa, tetapi bagi orang Nagekeo akan mulai mengaitkannya dengan berbagai keadaan sekitar. Mata meta dan kema meta selalu dikaitkan dengan iri hati, sirik dan ilmu hitam. Kematian seperti mata meta selalui dihubung-hubungkan dengan perbuatan orang lain. Ada anggapan bahwa kematian ini akibat dari rasa iri orang lain. Maka mata meta dan kema meta selalu menjadi perhatian masyarakat karena dianggap tidak wajar dan menjadi pergunjingan masyarakat..

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s