PULU NAMU

Pada acara pernikahan di wilayah Boawae keluarga wanita tanya po’o pira (berapa bambu), artinya bawa berapa ekor kerbau. Ada jumlah yang tak pantas karena berkonotasi negatif (momo). Satu ekor, Dua ekor, Tiga ekor, lima ekor itu tidak boleh. Betul atau tidak saya sendiri tidak tahu. Tetapi ini saya dengar dari narasumber saya yang hari ini baru pulang bawa belis ke Boawae.
Pihak keluarga wanita sebenarnya sudah tahu bahwa kerbau yang dibawa bukan dari kandang sendiri. Pasti kerbau-kerbau itu didapat dengan susah payah. Mereka harus keluar rumah, mungkin pagi atau siang hari yang panas dan boleh jadi pada malam hari hanya untuk mendapatkan kerbau. Cara mendapatkannya bisa dengan beli kontan atau mungkin terpaksa berhutang.

Pihak keluarga pengantin wanita sudah tahu siapa-siapa yang membawa kerbau. Maka ketika kedua pengantin didandani dan keluar dari kamar, orang tua sang wanita menyerahkan kain adat (ragi) tau pulu namu (untuk pengganti kain yang basah). Pulu namu adalah berjalan di luar rumah sehingga pakaian kena embun (namu) dan basah. Maka pihak keluarga wanita memberikan penghargaan dengan meberikan kain pengganti.

Pulu namu juga merupakan pandangan masyarakat adat yang menjelaskan bahwa berhutang itu biasa dan dapat diterima. Siapa pun dapat memahami.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s