TAK ADA JENDELA DI TIRAI BAMBU (Catatan dari China 1)

Hampir tidak ada waktu untuk menyiapkan perjalananku ke China. Waktu saya mau pergi Ke Jepang, saya siapkan buku saku kata-kata Jepang sehari-sehari buat bekal. Saya juga belajar mengenal makanan Jepang. Saya juga membaca buku tentang orang Jepang. Demikian juga ketika saya ke Korea, saya belajar bahasa dan bahkan tulisan Korea. Tetapi ketika saya ke China, sama sekali tak sempat melakukan persiapan apapun. Koper saya sudah penuh berisi pakaian untuk kemungkinan tinggal selama 2 minggu. Dari seorang sahabat di Jepang, katanya musim dingin. Isteri saya mengisi koper saya dengan penutup kepala, kaus tangan dan juga padding jacket serta dua pakaian yang cukup ampuh melindungi tubuh saya dari kedinginan. Tak ada satu pun kata-kata bahasa China yang masuk dalam kepala saya.

Kata orang sedia payung sebelum hujan mengandung kebenaran. Kita perlu mempersiapkan diri bila tidak ingin terjebak dalam kesulitan. Karena berbagai masalah saya dan teman perjalanan Ahn In Kyu asal Korea menjadi penumpang terakhir yang naik pesawat China Southern Airline pada tanggal 22 November 2012. Ketika kami tiba di Baiyun International Airport, di Guangzhou segera ambil bagasi. Hanya saya yang mempunyai bagasi sedang teman saya hanya sebuah kopor dengan hand carry. Saya hanya membawa satu tas kulit berisi buku bacaan dan kamera serta alat tulis. Hujan gerimis kesulitan datang. Payung bahasa ternyata tidak siap.
Kami harus meneruskan perjalanan lanjutan ke Whenzou Airport. Tujuan akhir kami adalah Ruian City, sebuah kota industri. Dan tujuan utama kami adalah Economic Development Industry Zone di Zhejiang, China. Bandar Udara Baiyun, Guangchou lumayan besar. Begitu banyak ruang tunggu yang harus melalui berbagai lorong dan tangga. Tanpa menguasai beberapa kata China sungguh menyulitkan. Kami tidak bisa menemukan tempat boarding yang tepat. Berbagai bahasa tubuh tidak memberikan cukup pengertian. Karena orang China memiliki sikap tertutup dan menolak memberikan informasi. Sulit dan sulit, walau pada akhirnya kami menemukan tempat boarding.Teman saya sempat berteriak, sudah susah cari tempat boarding ada telepon dari Jakarta yang membuat dia naik darah. Saya setelah berusaha mencari tahu, lalu duduk. Di hadapan saya seorang gadis muda dengan rok pendek, duduk memelototi mobile phone menulis pesan. Yang membuat saya tidak nyaman adalah dia selalu menggetarkan kedua kakinya, sehingga kadang-kadang pahanya setengah terbuka. Sejumlah wajah asing melintas di depanku dengan pakaian aneka model.Ada yang berjaket bulu dan kebanyak mengenakan rok super pendek dengan stocking gelap. Aku tidak kuasa menahan pandangan mataku. Mereka mungkin sama melihatku sebagai makhluk asing berwarna kulit dan rambut yang tidak umum itu. Tidak pernah ada komunikasi bahasa antara kami dengan mereka.

Perjalanan lanjutan kurang dari dua jam ke Wenzhou diliputi kabut dan gerimis. Beberapa kali para penumpang diminta mengikat tali pinggang karena turbulensi awan. Goncangan badan pesawat agak kencang. Kami akhirnya tiba dan disambut oleh tuan rumah kami suami isteri pemilik sebuah pabrik mesin di sana. Komunikasi tidak sulit karena keduanya bisa berbahasa Inggris, walau tidak terlalu luar biasa. Setelah kami dibawa ke Hotel, mereka kembali dan menjemput kami keesokan harinya.
Kesulitan komunikasi bahasa sangat membatasi ruang gerak. Tidak bisa menggunakan taksi dan kendaraan umum lainnya. Orang China akan menolak kita berbicara dan meminta bantuan. Memesan makanan di restoran menjadi tidak mudah. Saya mengalamai ketika ingin mencari makan pagi. Untuk memesan kita harus menunjukkan bahan-bahan makanan yang yang akan dimasak. Karena kesulitan komunikasi saya mendapat sajian yang prosinya tidak sedikit. Satu ekor ikan dipotong-potong. Ketika sedang dipotong saya memberi tanda, sedikit saja dengan gerakan seolah cukup separuh. Dia memahami gerak tangan saya lalu menafasirkan dan memotong ikan lebih kecil. Tetapi porsinya tetap satu yang cukup untuk makan 4 orang. Pagi itu saya makan ikan sampai kenyang tetap dengan banyak sisa. Pagi itu rasa bumbu ikan terasa lengket di lidah dan organ mulutku.

Kata-kata yang sangat mendunia semisal Airport atau Bank banyak orang China tidak tahu. Saya menanyakan ada Bank dengan berbagai cara mau mengatakan tentang Bank tidak ada yang paham. Bahkan ada yang menolak untuk memberikan penjelasan. Tertutup sudah membuka jendela hatinya untuk berkomunikasi. Tak ada cela karena jendela utama bahasa tidak ada. Aku terkurung dalam kesendirian dan mereka merasa sudah nyaman dalam zona budayanya. Mereka berada dalam zona aman, sementara aku dalam kesesakan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s