MANU KALE KATA DASAR MEMBAYAR MAS KAWIN NAGEKEO

Setiap suku memiliki adat dan budaya serta peraturan yang tertuang dalam hukum adat berbeda-beda. Dalam adat dan budaya Indonesia umumnya dan Nagekeo khususnya, pengikatan janji sehidup semati dalam perkawinan secara hukum adat dipahami mengandung dampak kerugian bagi pihak wanita secara pribadi dan keluarganya. Makanya pihak lelaki mempunyai kewajiban untuk memberikan ganti atau kompensasi atas kerugiaan ini. Kompensasi ini yang disebut dengan mahar atau mas kawin.

Mahar atau Mas kawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki (atau keluarganya) kepada mempelai perempuan (atau keluarga dari mempelai perempuan) pada saat pernikahan. Mahar aatau mas kawin ini dikenal dengan istilah belis atau dalam bahasa Nagekeo ‘tau ngawu’. Ngawu berarti benda atau harta.
Sebaliknya bila pemberi mahar adalah pihak keluarga atau mempelai perempuan, sebagai imbalan atas pemberian pihak lelaki disebut dengan istilah sundo bhando (beri balasan) Secara antropologi, belis atau tau ngawu adalah bentuk lain dari transaksi jual beli sebagai kompensasi atas kerugian yang diderita pihak keluarga perempuan karena kehilangan beberapa faktor pendukung dalam keluarga seperti kehilangan tenaga kerja, dan berkurangnya tingkat fertilitas dalam kelompok.
Bicara tentang kompensasi atas kerugian dilihat dari dua sisi:
Keluarga: kehilangan faktor pendukung tertutama kehilangan tenaga kerja serta tingkat kesuburan (fertilitas) dalam kelompoknya). Ada sesuatu yang diambil dari haknya.
Bagi wanita secara pribadi adalah seolah merelakan diri dan melepaskan semua harga dirinya. Bahkan dianggap kehilangan harga dirinya akibat ulah mempelai laki-laki terhadap mempelai perempuan. Kehadiran seorang lelaki dalam kehidupan pribadi wanita dianggap seperti manu kale kata (ayam yang mengais dan mengacak sangkar) dan melakukan tindakan merusak ibarat topo kai kaja (parang yang membelah dan merusak dinding). Wanita mengorbankan harga diri dan menderita, karena itu pihak lelaki juga harus memberikan jenis mas kawin yang disebut dengan Wea Solo. Wea Solo adalah emas perhiasan sebagai penghibur (solo) atas penderitaannya.

Wea (perhiasan emas Nagekeo)


Penetapan belis berdasarkan tradisi: manu kale kata ( 2 ekor kerbau jantan) topo kai kaja (1 parang adat) serta wea solo (dua pasang perhiasan emas atau we ha diwu).
Kompensasi kepada keluarga ada untuk ibu diberikan penghargaan air susu (ae susu ta ine), teman penghangat tidur buat nenek (kudhu kete), untuk paman diberikan pengganti tenaga bantu yang hilang (a’i dima) lalu diberikan jara saka (kuda tunggang).
Pihak keluarga mempelai wanita akan memberikan balasan yang disebut dengan sundo bhando berupa babi dan kain adat. Semuanya disesuaikan dengan setiap pemberian dari pihak keluarga mempelai lelaki.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s