WATU BUKAN SEMBARANG BATU

Berjalan di tengah kampung Nagekeo orang merasa seperti berjalan di tengah ruangan terbuka. Nilai seorang ditentukan ketika sedang berjalan di tengah kampung orang Nagekeo. Seorang akan disapa ketika melewati jalan tengah kampung. Bila perlu ada yang mengajak merokok, minum kopi dan kalau perlu ikut makan bersama.

susunan pagar batu (kota) (photo: David Sema)

Yang menarik bagi saya adalah sebahagian kampung dibangun membujur dari gunung ke laut. Karena itu orang selalu mengatakan udu mbe’i kedi (dari atas gunung)a’i ndeli mesi (berujung sampai ke laut). Rumah selalu berhadapan dan selalu dibuat pembatas berundak dengan susunan batu (kota). Pagar-pagar atau susunan batu berundak ini bertujuan menghalangi erosi pada musim hujan dan juga pemisah anta rumah.

Ditengah kampung ada batu-batu yang lain yang mempunyai nilai historis dan monumental. Batu yang umum di bangun dan selalu ada adalah Watu Ia dan Watu Nabe. Watu Ia selalu berdiri tegak, dan watu nabe (nambe) adalah yang lebar merata di samping watu Ia. Watu Ia mernunjukkan simbol lelaki yang berdiri dan watu nabe sebagai simbol wanita. Watu Ia dan WAtu Nabe adalah semacam prasasti berdirinya kampung (koe nua kadi oda).

Ia dan Nabe di Tudiwado, Worowatu (photo: Vitalis Ranggawea)


Watu Ia dan Nabe (photo: Mosa Yoga)

Watu Waka adalah salah satu jenis batu yang merupakan tempat pengumuman atau tempat orang memberikan nasihat adat.

Watu Waka (photo: Frans Mado)

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to WATU BUKAN SEMBARANG BATU

  1. BESI PARALEL BOLA JA POA
    LABU YANG BUNGANYA BAGAIKAN MEKAR DI SAAT MUNCUL SINAR MATAHARI DI PAGI HARI).
    Lagu ini mempunyai kisah tersediri !
    Sewaktu saya masuk pertama kali masuk di Akademi Administrasi Niaga (AAN) Palu Tahun 1982 seperti biasanya pada disetiap perguruan tinggi syarat mutlak yang harus diikuti adalah oleh setiap mahasiswa adalah harus mengikuti Masa Orientasi Penerimaan Anggota Baru (OSPEK) dan dibuktikan dengan sertifikat OSPEK. Kalau tidak maka status mahasiwa tersebut dianggap tidak sah dan tidak akan diikutkan pada ujian skripsi nanti kalau mahasiswa tersebut mau menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Posisi saya pada saat itu sudah terlambat masuk kuliah karena berangkat dari Flores tiba di Palu di bulan Oktober 1982, sedangkan mahasiswa lain baru selesai mengikuti Ospek di bulan September 1982 dan saya baru masuk kuliah di pertengahan bulan Oktober 1982 berarti dengan sendirinya belum mengikuti Ospek. Sewaktu hari pertama saya masuk kuliah ada temandan kepala temaku itu kepala botak (kepalanya tidak semua tumbuh rambut) yang mengantar saya mengatakan bahwa didalam ruangan itu adalah orang Timor (namanya RK). Hati saya merasa senang karena ada juga orang Timor yang menemani saya di tanah rantauan dan apalagi mahasiswa yang mengikuti kuliah di AAN tersebut yang asalnya dari berbagai macam suku di Indonesia dan sebagai mahasiswa baru tentunya merasa was-wasan jangan sampai tidak disukai oleh teman-teman lain. Dari latar belakang agama, teman tersebut beragama muslim sedangkan saya katolik, namun kedua-duanya berasal dari Pulau Flores dan teman tersebut berasal dari kabupaten Flores Timur sedangkan saya berasal dari kabupaten Ngada (sekarang sudah dimekarkan menjadi kabupaten Nagekeo). Agama yang dianut oleh orang Flores yang asli adalah islam dan katolik tetapi semuanya masih status saudara yang berasal dari nenek moyang yang sama dan kalau dalam hukum adat terlebih pada posisi upacara adat semunya bergabung sebagai saudara dan yang bedanya menu makanan karena yang islam tidak makan daging babi dan daging anjing. Oleh karena masih berada pada nenek moyang yang sama maka agama islam di Flores tidak fanatik kendatipun pada saat makan selalu bersama-sama. Berkaitan dengan pelaksanaan Ospek yang dimaksudkan di atas di Akademi Administrasi Niaga (AAN) sebenarnya posisi pada saat itu saya sudah di Tingkat II (kalau sekarang semester III) seperti yang saya kemukakan tadi bahwa Ospek adalah syarat mutlak yang harus diikuti oleh setiap mahasiswa. Jadi untuk mendapatkan sertifikat Ospek, terpaksa saya walaupun sudah ditingkat II harus bergabung dengan mahasiswa lain yang baru masuk kuliah untuk mengikuti kegiatan Ospek selama 2 minggu. Bagi mahasiswa yang sudah kuliah duluan dan belum masuk Ospek diistilahkan kambingtua dan pada pelaksanaan Ospek berlangsung kambingtua selalu menjadi sasaran dan selalu dipanggil untuk berbuat apa saja didepan kelas termasuk menyanyi lagu daerah asal kelahiran. Pada waktu kegiatan Ospek berlangsung karena saya status kambingtua maka di kelas tempat pelaksanaan Ospek saya selalu dipanggil kedepan dan selalu disuruh berdiri satu kaki dan tangan membentuk huruf K berarti pulau Sulawesi. Ditanya dimana letak Palu ? Saya adalah orang Nagekeo yang pertama masuk di Akademi Administrasi Niaga (AAN) dan orang Flores kami ada 2 orang berada pada kelas yang sama, namun untuk kegiatan Ospek teman yang satu sudah mengikuti tahun sebelumnya dan saya terlambat mengikuti Ospek. Seperti yang saya katakan tadi karena status saya pada saat itu termasuk kambingtua, oleh karena itu maka kalau dihukum saya selalu dipanggil kedepan dan diperintahkan berdiri satu kaki dan tangan membentuk huruf K dalam arti pulau Sulawesi dan selalu menanyakan dimana letak Palu. Saya selalu ditertawakan oleh teman-teman Ospek karena ditanya dimana letak kota Palu, mereka merasa lucu kenapa tidak ditanya letak kota-kota lain seperti Manado, Kendari atau Makasar. Saya disuruh menyanyi lagu-lagu dari Nusa Tenggara Timur, sebenarnya saya tidak ada hobi untuk menyanyi karena dipaksa saya harus menyanyi maka saya pilih lagu “Besi Rale Boba Ja Poa” . Besi bahasa Keo artinya togu dan kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya labu. Kalau kata-kata itu digabung membentuk sebua lagu yang artinya bunganya bagaikan mekar di saat matahari bersinar di pagi hari. Rale boba artinya nama tempat di Boba bagian barat dari kecamatan Mauponggo dan kalau diartikan secara keseluruhan artinya labu yang bunganya bagaikan mekar bersinar di pagi hari di kampung Boba dan kampung tersebut berada dipantai selatan kabupaten Ngada sekarang dekat dengan Gunung Inerie. Gunung Inerie ini menurut cerita para leluhur artinya mama dan kebetulan gunung ini posisinya berada di pantai mengenangkan seorang mama yang selalu sedih mengingat anaknya dan untuk melempiaskan rasa sedihnya mama selalu menyanyi dan berjalan dipinggir pantai. Nyanyian ini kalau ukuran orang Nagekeo memang populer tetapi lagunya kurang disimpati oleh banyak orang, apakah mereka sudah bosan mendengar atau tidak paham saya sudah tidak tahu lagi. Nyanyian itu untuk ukuran orang Palu mereka mengatakan bahwa lagu tersebut bagus sekali karena merdu kedengaran walaupun mereka tidak mengetahui arti yang sebenarnya. Yang satu lagi disuruh saya menyanyi, saya pilih lagu Bajawa “Ine le, ine ine le … dan lagi itu kalau ukuran orang Bajawa atau Nagekeo rasanya sedih dan selalu menyapa mama karena mama yang melahirkan kita. Apalagi lagu tersebut kalau dinyanyikan oleh anak yang didengar oleh mamanya, perasaan seorang mama tentu merasa terharu dan apalagi kalau anak sudah tinggal di perantauan dan posisi mama masih hidup. Hal ini menanandakan bahwa kasih sayang mama terhadap anaknya tinggi karena selalu menuturkan air mata sementara memikirkan nasib anaknya diperantau. Tetapi nyanyian tersebut dijadikan ukuran orang Palu mereka mengatakan bahwa lagu itu tidak bagus membuat mereka mengantuk karena nada dasar lagu tersebut rendah dan pelan, maka olehnya itu mereka mengatakan bahwa lagu itu tidak bagus dan apalagi mereka tidak mengetahui artinya. Gara-gara selalu suruh saya berdiri satu kaki dan membentuk huruf K dan menyanyikan lagi “Besi Rale Boba” nama saya menjadi populer dan mereka bukan memanggil nama baptis, tetapi selalu dipanggil nama Fam Nenek moyang sampai sekarang bila kalau mereka bertemu dengan saya pada saat dimana saja dan kapan saja. Kalau ukuran orang Flores kalau panggilan nama fam nenek moyang dianggap kasar (tidak sopan) tidak menghormati leluhur. Setelah Orang Flores masuk menjadi keluarga Allah, untuk sekarang nama-nama anak selalu dipanggil nama baptis, sedangkan fam nenek moyang selalu dihindari karena hal ini dengan maksud mau menghormati nama nenek moyang dari pada nama orang kudus. Dalam hal ini oleh orang Flores lebih menghormati nama leluhur dari pada nama yang diambil dari nama orang kudus, Dengan demikian nama orang-orang kudus yang diberikan kepada mereka semacam kurang dihormati. Trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s