UDU KERE ENDE, EKO NAPA JAWA ADALAH MANIFESTO PALAPA ALA NAGEKEO

Maklumat Palapa ala Nagekeo (photo: Mosa Yoga)

Saya mengambil foto ini dari sebuah posting di group Facebook Nagekeo Bersatu. Saya tertarik untuk mengomentari ini.

Ini sejenis sumpah , manifesto atau pernyataan dalam skala kecil dalam perbandingan dengan sumpah Palapa, yang memandang kebersamaan dan kekeluargaan itu sangat luas. Udu kere Ende dalam masa dahulu pemahaman Timur itu adalah matahari terbit (dera singga). Dan menetapkan ujung timur sejauh mata memandang di Ende sana, itu juga adalah keluarga kita.

Eko Napa Jawa seperti mengandung kebenaran. Pulau Jawa dalam pemahaman orang tua yang sudah sangat jauh. Sedikit orang pantai selatan yang berlayar. Masa lalu ada keluarga di Tonggo, ada di Mauromba memiliki perahu.Sayang tidak ada dokumentasi foto dan tulisan pada masa itu. Di bawah kolong rumah kakek saya (orang tua ibu) ada sebuah perahu tua, katanya pernah berlayar sampai banyuwangi dan Kalimantan. Pelayaran itu disebut ‘mbana nembo, bepergi jauh berbulan-bulan diiringi makan perpisahan mengharukan dan juga makan bersama penuh suka cita ketika kembali.

Seperti terlihat dalam “Eko Napa Jawa”, ada kata napa berarti kelak. Ingat bahwa persaudaraan kita tidak hanyaa melingkupi ruang sempit di desa, nua oda (tubu nusaa ora nata) tetapa kelak (napa), atau nantinya begitu jauh sampai di pulau Jawa sana.

Tubu nusu ora nata, (kampung) ana ko’o nua, embu ko’o oda (anak cucu) , ena tee mere wewa dewa (dalam forum yang besar) kita harus memegang prinsip persaudaraan kita seluas-luasnya. Kita harus siap merangkul dan hidup bersama dengan orang lain.

Inilah konsep persaudaraan ala orang Nagekeo hampir sejalan dengan BHINEKA TUNGGAL IKA. Ini juga yang menjadi dasar toleransi bagi orang Nagekeo.

Nuamuri -Tunuata adalah lokasi gereja dibangun. Ini kebetulan dalam kaitan dengan pesta Intan gereja saja. Tetapi Pernyataan Udu Kere Ende, Eko Napa Jawa, Tubu Nusu Ora Nata dengan sambungan ana ko’o nua embu ko’o oda, bila duduk bicara dalam forum yang luas (ena te’e mere wewa dewa) memang sudah meresap dalam jiwa ine embu (leluhur).

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s