SU’U MBUPU WANGGA AME UWA KIASAN UNTUK MEMBANGUN KEMBALI PEO

Berbagai bahasa kiasan dalam pembicaraan adat. Dalam berbagai kesempatan pertemuan kita mendengar kata atau ungkapan aneh yang tidak jelas. Karena orang umumnya berbicara dalam bahasa kiasan. Berikut ini beberapa kata dan ungkapan yang lazim didengar.

Bahasa kiasan pada saat kematian..
Suatu saat ketika ayah saya meninggal dunia, saya ditetapkan resmi sebagai pengganti bapak sebagai penanggungjawab dan sekalian kepala keluarga. Mosalaki bertanya “sai ta sulu fu muda ngi’i”. Sulu fu berarti menganyam rambut dan muda ngi’i berarti menanam gigi. Ungkapan sulu fu muda ngi’i berarti pengganti. Penggantian ini berkaitan dengan kepergian seorang yang telah sepuh dan meninggal dunia. Meninggalnya seorang yang sudah tua dan sekalian adalah kepala soma (kepala keluarga) orang mengatakan ‘mata loa mosa, mbembe jata mite”. Loa mosa berarti kera besar dan jata mite merupakan seekor elang hitam. Ungkapan Loa mosa dikenakan pada orang laki, dan jata mite untuk wanita. Tetapi ungkapan loa mosa jata mite sudah menjadi ungkapan tetap. Mata loa mosa atau matinya loa mosa (kera besar) dan mbembe jata mita (jata mite terhempas ke tanah).

Bahasa kiasan pada saat perkawinan
Dalam menentukan belis atau mas kawin yang harus dibawa atau dibayar oleh pihak lelaki, para mosalaki menyebut alasan mengapa harus bayar. Dasar membayar belis diungkapkan dengan ‘manu kale kata, topo kai kaja ne’e wea solo’. Manu kale kata berarti ayam mengais atau mengacak sangkar. Topo kai kaja berarti parang untuk menusuk atau merobek dinding daun lontar. Wea solo berarti emas atau perhiasan sebagai penghibur(solo). Ini yang menjadi dasar mengapa seorang memberikan penghargaan. Karena sudah mengacak-acak atau menyingkapkan serta memperlakukan seenaknya, maka harus memulihkan dan menghargai. Dalam adat ditetapkan harus dibayar dengan dua ekor kerbau jantan. Topo kaja adalah belis yang ditetapkan atas perbuatan menikahi seorang yang masih perawan, yang diibaratkan dengan kaja atau kembi (dinding pembatas ruangan). Dan ditetapkan belis berupa ‘topo’ (parang adat). Wea solo, solo artinyaa menghibur. Wea solo atau wea tau solo merupakan tuntutan untuk membayar belis berupa emas sebagai penghibur bagi anak perawan, yang diberikan kepada orangtua.

Bahasa kiasan pembuatan Peo
Peo sebagai lembang pemersatu dan kemandirian suku secara hukum adat merupakan sebuah monumen yang dibangun oleh para leluhur. Mereka adalah orang-orang yang telah berani memproklamirkan kemerdekaan sukunya kepada kelompok suku lain. Sebagaimana diketahui bahwa orang Nagekeo sangat mengharomati leluhurnya. Doa-doa permohonan dan syukur selalu ditujukan pada para leluhur yang meninggal (ine ame embu kajo ta mata mudu re’e do’e). Para leluhur itu seolah masih terus ada dan membimbing (sipo ri’a sagho modo) anak cucunya (ana embu) yang masih hidup di bumi. Para leluhur tetap dan selalu dihormati sebagai orang yang selalu mengawasi dan tinggal di tempat yang lebih terang (mera papa ndala).

Membangun kembali Peo disebut dengan istilah ‘su’u mbupu wangga ame uwa’. Su’u mbupu berati menjunjung di atas kepala (su’u) yang tua (mbupu). Su’u mbupu berarti menjunjung tinggi atau menghormati yang tua. Wangga ame uwa , memikul (wangga) orang yang teleh beruban (uwa). Wangga ame uwa, memikul orang yang telah beruban berarti memberi hormat pada leluhur. Peo yang sudah lama diibaratkan dengan orang yang sudah sepuh dan beruban. Membangun kembali peo berarti menunjukkan cinta dan hormat pada para leluhur.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s