TUI MAE DAN TII KA PATI MINU ATA MATA RE’E

Tui artinya menggiring. Tui mae artinya menggiring arwah atau roh. Kata tui bisa diganti dengan kata tu artinya menghantar. Tui mae bisa juga disebut tu mae adalah aktivitas menggiring atau menghantar arwah. Tui mae atau tu mae adalah suatu upacara, yang menurut saya mungkin paling sakral dalam kehidupan masyarakat Nagekeo, khususnya Keo Tengah.

Dalam kepercayaan orang Nagekeo, sesudah meninggal dunia dan setelah beberapa hari dimakamkan, roh atau arwah orang yang meninggal masih berada dalam rumah kediaman sehari-hari. Roh orang yang meninggal masih berada di tengah-tengah keluarga. Roh ataua arwah ini harus dihantar keluar dari rumah dan dipisahkan dari kehidupan harian keluarga. Upacara sakral ini dilakukan pada hari ketiga setelah pemakaman. Malam ini disebut sawe kombe. Sawe kombe berarti malam (kombe) pemenuhan (sawe). Kata sawe sendiri berarti lengkap atau selesai. Pada malam ini merupakan malam terakhir melakukan upacara tu mae atau tui mae (menghantar atau menggiring arwah).

Setelah seorang meninggal dunia dimakamkan ada upacara kecil yaitu ngundu ngue (bakar hangus). Orang membunuh seekor ayam kecil (yang masih menciap) lalu dibakar sampai hangus. Upacara ini dilakukan sebelum upacara keda wawi (bunuh babi) untuk woda tane (pembubaran sesudah acara penguburan). Babi disembelih untuk nado woda liwu (pembubaran semua pelayat). Sesudah nado woda liwu disusul dengan wuku toku (pengumuman) atau pemberitahuan tentang kematian dan masalah hutang piutang yang berkaitan dengan orang yang meninggal.

Suasana berkabung bagi masyarakat Nagekeo berakhir dengan sawe kombe (malam pemenuhan atau malam penutup). Pada malam ini dilakukan upacara sakral, yang bagi kebanyakan orang bisa membangun bulu kuduk berdiri, merinding ketakutan. Inilah upacara tui mae atau tu mae (menggiring atau menghantar arwah). Upacara tui mae dibaeringi dengan upacara Ti’i Ka Pati Minu (Memberi makan dan minum) pada orang yang telah meninggal.

Dalam budaya Nagekeo, upacara tii ka pati minu adalah upacara memberi makan minum pada arwah leluhur (ine ame, embu kajo ta mata mudu re’e do’e). Ini merupakan bukti sembah dan hormat serta minta perlindungan pada leluhur. Ti’i ka pati minu dilakukan pada banyak kesempatan sesuai dengan ujud-ujud khusus. Ti’i ka pati minu (memberi makan minum) pada orang yang meninggal (ata mata) pada hari ketiga merupakan acara makan perpisahan. Ini adalah sajian makanan terakhir sebelum arwah berpindah dan memasuki alam lain serta menjauh dari rumah.

Cara memberi makan (ti’i ka pati minu) adalah dengan menempatkan makanan berupa sedikit nasi dan daging pada punggung tangana kiri. Saat upacara posisi siku rata dada dengan telapak agak lurus ke depan. Pendoa duduk disekitar tempat jenazah dibaringkan dengan muka menghadap ke timur tempat matahari terbit (dera singga). Kemudian melemparkan makanan dengan cara melibaskan punggung tangan ke belakang di sisi barat, tempat mata hari terbenam (dera mese).

Pada saat upacara dilakukan semua menjaga ketenangan, pintu rumah dibuka dan tidak boleh ada orang di depan pintu. Pintu harus lapang dan kosong untuk jalan arwah pergi keluar dan berpindah ke alam lain untuk selamanya.Pada saat prosesi tuntun arwah (tui mae) dan tii ka pati minu diucapkan doa atau sua soda khusus sebagai berikut:

Te, kau (sebut nama) ta negha mudu mbana. Kami roka ri’a nduda modo. Nggere mo’o mbana kami ti’i kau ka. Te ka niwu, Ka niwu, ka miu negha nighu sepu siku, sibha donggo dima (makanan di punggung tangan segera dikibaskan ke belakang).
Mbana sai kau ne’e bheto mbotu guru mutu ena da’e ta ri’a dondo ta modo. Imu sai ne’e ika iu. Woe saia ne’e kodo ngole. Ongga sai wai dako dala. Dika sai wai engga kima, bhaso sai wai mba’o.
Mbana sai kau ena dera mese. Mese ne’e dera, wa sai kau ne’e ae.Ndua sai kau lowo lau. Kolu bhide kuku manu. Kau ngha sui bhide uwi, po’i ka bhide pale. Bhide kami nipi sai ma’e tei, mbalo ma’e pela.
Terjemahannya: Engkau (sebut nama) yang sudah lebih dahulu pergi. Kami menghantarmu dengan baik. Sebelum pergi kami ingin memberi makan. Inilah makananmu, makanan yang terletak pada punggung tangan ini (makanan segera dibuang ke belakang).
Pergilah engkau bersama dengan semua potongan bambu ini, pergilah ke tempat yang aman dan damai. Berkerabatlah bersama ikan hiu. Bersahabat karib dengan undur-undur. Bertegur sapalah dengan anjing malam. Tungku dapurmu dari kerang dan piringmu dari pelepah pinang.
Pergilah ke tempat matahari terbenam. Terbenamlah bersama mata hari senja, tenggelamlah ke dasar air laut. Turunlah bagaikan bersama lairan air. Luruh bagaikan kupasan kulit kuku ayam. Engkau menjadi lembut bagai ubi rebus dan patah bagaikan biji beras. Biarlah kami tidak melihat lagi engkau dalam mimpi dan semoga bayangan penampakanmu jangan kau perlihatkan.

Upacara tu mae atau tui mae dirasakan sebagai sebuah upacara sakral, yang mistis dan terkadang membangun bulu roman orang-orang di sekitarnya. Upacara ini dilakukan pada malam hari yaitu pada malam sawe kombe (malam penutup) kabung. Menurut saya mungkin ini upacara yang paling magis dan sakral dalam baudaya orang Nagekeo. Menghantar dan menggiring pergi roh orang yang sudah meninggal agar keluar dari rumah dan lingkungan hidup keluarga.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s