TE’E MERE WEWA DEWA FORUM ADAT NAGEKEO

<Bukan karena tidak ada kursi orang duduk di tikar. Tetapi para pemuka masyarakat adat yang disebut mosalaki akan merasa jauh lebih nyaman membicarakan masalah adat di halaman lepas sambil duduk di atas tikar. Inilah forum adat yang disebut te'e mere wewa dewa. Sebuah kebiasaan duduk runding masyarakat adat tradisional.

Pada masa dulu rumah-rumah orang Nagekeo selalu berhadapan. Bangunan kampung selalu membujur dari utara ke selatan (rede-ridi atau rede-dau). Rede udu, bagian atas atau utara dan ridi atau dau eko adalah bagian selatan. Untuk menjaga erosi kampung dibuat berundak dengan sususan batu-batu yang disebut kota. Setiap undakan ada dua rumah saling berhadapan. Di tengah kampung ada jalan umum yang melintasi kedua baris rumah. Di halaman dari dua rumah yang berhadapan ini merupakana tempat datar yang bermanfaat sebagai tempat bermain, tempat jemur kelapa, kacang dan juga tempat pertemuan.

Wewa dewa menggambarkan bahwa halaman (wewa) memang panjang (dewa) karena sambungan halaman (wewa) dari kedua rumah. Biasa di halaman ini orang laki-laki duduk untuk musyawarah. Semua orang duduk diatas tikar (te'e) dan karena tikar itu besar (mere) maka disebut te'e mere. Duduk di atas te'e mere (tikar besar) di halaman yang luas (wewa dewa) merupakan sebuah ruang terbuka yang dipakai untuk duduk bersama pada pesta-pesta adat dan juga untuk merundingkan hal-hal penting bersama.

Te'e mere wewa dewa merupakan sebuah ruang atau forum bersama orang melakukan perundingan dan perumusan tentang berbagai permasalahan adat. Weki negha demba rembu, taso mbapo ta udu mere eko dewa moo tau ndi’i duhdu mera papa gheo. Mo’o punu koo ata ena udu mere eko dewa. Segala keputusan yang pernah dirundingkan dalam forum te'e mere wewa dewa menjadi kekuatan hukum adat yang berlaku tetap. Berbagai peraturan atau hukum adat adalah hasil godokan dari te'e mere wewa dewa.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to TE’E MERE WEWA DEWA FORUM ADAT NAGEKEO

  1. Rosa says:

    Saya suka dengan gaya omongan pada waktu acara seperti itu. Mereka menggunakan kiasan yang artinya mendalam dan saya rasa sangat indah. sederhana tapi menyentuh. Sayang tempat duduk peremupan agak jauh jadi tinggal berani2 aja nguping dekat2, ato ga bawa alat dokumentasi biar bisa dengar dan liat dr dekat

  2. atanagekeo says:

    Terima kasih Rosa sudah mampir lagi di blog ini. Saya juga akhirnya mengenal berbagai istilah adat khusus dalam pertemuan adat di te’e mere di kampung baru-baru ini. Memang budaya kita masih belum memberikan penghargaan pada wanita dalam perundingan adat. Pembicaraan hanya dilakukan kaum lelaki yaitu mosalaki. Sementara kaum wanita disebut agak merendahkan yaitu ta fai ana go’o (wanita disejajarkan dengan anak-anak). Walau tidak kita pungkiri masyarakat Nagekeo menghargai tinggi wanita dengan sebut yang sangat terhormat faingga’e, ada kata ngga’e yang berarti empu atau tuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s