SEKOLAH MOSADAKI ADALAH PENDIDIKAN KEBIJAKSANAAN

Waktu masih kecil saya sering berkunjung ke rumah bapa Tonggo Nende. Isteri bapa Tonggo Nende di Rombawawo adalah kakak kandung mama. Dia adalah tanta saya.  Setiap hari tanta saya sibuk. Rumah mereka selalu ada saja orang datang duduk. Hampir tak pernah minum kopi pagi sendirian.  Tonggo Nende adalah seorang mosadaki (mosalaki) yang sangat terkenal. Dia cerdas dan bijaksana. Banyak orang kampung datang dan meminta nasehatnya.

Kebijaksanaan memang didapatkan dari pengalaman hidup. Cara-orang-orang desa saya belajar kebijaksanaan ini hampir mirip dengan para biksu dalam agama Budha.  Mereka belajar dari guru mereka melalui sebuah pengalaman. Bukan saja dari interaksi dengan manusia tetapi juga dengan alam sekitarnya. Mereka bisa belajar dari seekor nyamuk yang menggigit mereka. Sebagai seorang Budha mereka tidak boleh membunuh termasuk nyamuk. Ketika nyamuk menggigit mereka, yang mereka pelajari adalah bagaimana mereka terus bisa meditasi sambil mengatasi gangguan nyamuk. Karena itu mereka menyebut nyamuk adalah guru kehidupan mereka. Maka nyamuk disebuh Ajahn nyamuk.

Guru mosadaki adalah bagaiamana orang berguru pada mosadaki. Anda mungkin heran ada orang muda yang setia melayani mosadaki kampung.  Duduk dengar dan membantu menghaluskan daun lontar buat gulung rokok (keri kodi). Sementara mosadaki terus berbicara dengan tamunya. Para mosadaki kampung umumnya memiliki guru kehidupan. Mereka sering duduk dan mendengarkan. Dan itulah cara satu-satunya memahami pata pede (omongan) gaya mosadaki. Tidak ada sumber lain untuk belajar memahami hukum adat dan berbicara tentang adat.  Semua orang desa sadar sepenuhnya guru yang terbaik adalah mengalami dan hidup bersama gurunya.

Sekolah mosadaki adalah beljar bagaimana bersikap, berpikir dan bertutur gaya mosadaki. Belajar bagaimana kebijaksanaan seperti seorang mosadaki. Orang Nagekeo sangat menghargai kearifan atau kebijaksanaan para mosadaki. Tidak ada sekolah untuk menjadi mosadaki. Menjadi melalui proses belajar yang panjang. Duduk, mendengarkan mosadaki (ndi’i wee ne’e mosadaki).  Belajar mosadaki seperti orang kampung di Keo  adalah dengan cara ikut mengalami kehidupan mosadaki. Mulai dengan melayani mosadaki seperti dengan kebiasaan keri kodi dan pu kop. Menghaluskan daun lontar serta menyajikan kopi.  Belajar rendah hati dengan melayani. Dan dari sana mereka belajar menjadi orang bijaksana. Pengalaman adalah guru terbaik bagi kehidupan seorang mosadaki.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s