WUKU TOKU

Wuku toku adalah pemberitahuan resmi setelah upacara pemakaman. Biasa dilakukan setelah upacara ngundu ngue (membakar anak ayam)  dan ka woda liwu (makan bersama sebelum pembubaran).

Bagi orang Nagekeo kematian  merupakan kedukaan bagi seluruh warga sekampung.  Kematian ditandai dengan bunyi meriam bambu setelah ada kematian. Segala bunyi-bunyian dan bahkan senda gurau yang menimbulkan ketawa sukacita sangat dihindari.  Bila ada orang yang tertawa berlebihan maka ada yang  marah dan mengatakan  :” kau ta podo sada” (engkau suanggi).   Hanya suanggi yang merasa suka cita atas kematian orang lain. Ratap tangis bersahut-sahutan tak ada henti. Ada orang  terdekat yang  selalu mendampingi jenazah dan terus menangis dan meratap   setiap ada pelayat yang juga ikut menangis dan meratap.  Tanpa ada perintah pasti selalu ada seorang yang disebut nangi kere (penunggu ratap). Seorang yang nangi kere akan terus meratap setiap ada orang yang datang melayat. Hati kita akan ikut  hanyut dalam duka mendengar setiap ratapan yang mengungkapkan hubungam, kebaikan dan rasa kehilangan  dalam kaitan dengan orang yang telah meninggal.

Beberapa saat setelah  orang  yang meninggal dimakamkan, anak-anak  diperintahkan untuk menangkap  anak ayam yang masih  kecil.  Setelah ayam kecil ditangkap dipegang kedua kakinya  lalu dibanting pada batu  (fesa) di dekat tangga rumah (kadi ngate) lalu dibakar sampai angus (jeka ngundu).

Tujuan membunuh dan membakar ayam  untuk sesaji bagi yang mungkin memiliki ilmu gaib  (ata madi).

Pata mboka mata do re’e, o’i tane bhoti tau ngundu ngue wai ana manu go’o, mo’o sira ta  tola madi nee pai wawi,  moo ngada pesa ka. Inilah upacara setelah orang meninggal dunia, dikuburkan, dengan  bakaran anak ayam  untuk  santapan  untuk meredahkan  ilmu gaib (bhoa tola madi pai wawi).

Sesudah upacara ngundu ngue (membakar hangus  anak ayam) akan disusul dengan  keda wawi (membunuh babi). Semua orang yang hadir makan besama  sebagai acara pembubaran (pesa ka woda liwu) sesudah itu ada upacara wuku toku (memanggil dan mewartakan)

Pesa ka woda liwu negha ke wuku toku (setelah makan bersama pembubaran  selesai) ada seorang mosadaki akan mengumumkan dengan suara lantang   (wuku toku):   Ongga rede…, ongga dau…, oo ongga mena., ongga  rade peka ke …….  orang secara bersama menjawab : Bhoeeeee (yaaa)

Pembicaraan  (wuku toku) dilanjutkan. Te ongga (ine) NN (menyebut nama yang meninggal) negha mata. Imu do negha moso tembo negha membu. Do negha moso kita negha roko, tembo negha membu kita negha moi. Negha pebhi remi moi modo ka imu,  negha tonggo ka ne’e tana tolo, pije ka nee watu mite. (Ini saudara (saudari) NN , yang tubuhnya telah busuk dan raganya telah rusak.  Kita telah menyembunyikan tubuh yang telah busuk dan  raga yang telah hancur  (roko do moso, moi tembo membu). Kita telah menyimpan dengan rapih (negha pebhi remi moi modo ka imu)  dan sudah dipadati dengan tanah merah (tonggo ne’e tana tolo) dan menutupinya dengan batu hitam (pije imu ne’e watu mite).

Ngara imu mata ta nitu niu nee ndewa enga, ke modo. Ngga’e welo, Ngga’e ghawe. Ngga’e moi, Ngga’e mada. Kau nggo sai nua nee bheto mbotu ena da’e ri’a, ndada sai oda, nee guru mutu ena dondo ta modo. Bila benar kematiannya memang karena kehendak ilahi (ndewa enga), maka baiklah (ke modo). Tuhan yang mencipta (Ngga’e welo), Tuhan yang memanggil(Ngga’e niu) , Tuhan menyimpannya (Ngga’e moi)  serta Tuhan yang mengambil (Ngga’e mada)

Ngara imu mata, kau ta nee ate lo rende ngewa, nee teka dima ngada jole, mbeja sa kita ma’e dheko degho…..Kalau saja dia mati, karena ada yang mungkin menyimpan marah di hati (kau taa nee ate loo rende ngewa), yang merasa ini akibat tindakan seorang  (ne’e teka dima ngada jole), mari  kita semua jangan ikut  (mbeja kita ma’e dheko)…..
Orang-orang yang hadir akan menjawab: kami bhia….(kami tidak mau)

Pembicaraan  (wuku toku) dilanjutkan.

Kami wiwi bidi dema mela, wiwi bidi dema mela, wiwi bidi bhodo bhide pili po’o. Dema mela deta bhide pili mbeda.  Pana ma’e dangga, poke ma’e ndore. Kau pana dangga,  poke ndore ne’e teka dima ngada jole ke ko’o kau.

Ke kita negha wuku toku ke…..
Kita negha wuku toku ena dera te,

Bhide kita mo’o punu songgo woso uta kapa, Koo sepu rada ta imu NN (menyebut nama) negha mada ko’o kita ta nua, kita punu dera te ena te’e mere wewa dewa mo’o keluarga imu mbe’o. Ngara sa’i ka komba pata negha mona punu.
Pada saat itu kalau ada yang punya piutang akan menyampaikan secara resmi. Karena kalau sudah lewat malam (sa’i ka kombe) tidak ada pembicaraan lagi (pata negha mona punu.

Apabila seorang mosalaki yang terhormat meninggal atau yang disebut mata ta lo’a mosa,  jata metu, ta kepala soma, maka wuku toku awalnya sama lalu dilanjutkan dengan:

Ke kita negha wuku toku, te negha mboka ka wai lo’a mosa, mbembe ka wai jata metu, bhide miu ka’e ari sa’o tenda, udu dudu eko dolo ta negha mboto reta todo,  miu toki ka weke ka bhide tewu toni, tuju ka weke bhide muku muda, mo’o kami mo’o mbeo.
Bhide taku udu wuku eko enga negha ne’e ta tau bhoe tewa, tau tanggo jawa negha datu, ta sulu fu muda ngi’i. Pihak keluarga langsung menunjuk seorang pengganti sebagai kepala soma.  Ke menge ke NN (itu dia yang bernama….)

Lalu dilanjutkan , Kita negha mbe’o,  modo punu sai songgo woso uta kapa. Sepu rada ta imu negha mada ko’o nua oda. Ngara sa’i ka kombe pata mona ka punu.  Bicarakan tentang hutang piutang. Hutang yang dia ambil  dari orang-orang di kampung kita.  Bila malam tiba, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Lalu kalau ada, maka  orang akan menyampaikan  hutang piutang yang belum dilunaskan.

Inilah  adalah acara sesudah pemakaman dan makan bersama sebagai penutup sebagai acara pembubaran (ka woda liwu). Saya perlu menegaskan bahwa dicatat  disini adalah kebiasaan orang Nagekeo wilayah pesisir selatan yang disebut Ata Ma’u, yaitu  sebelah timur Wodo Wata sampai Nagaroro.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s