INE AME EMBU KAJO

Ine ame embu kajo, para leluhur selalu dipanggil dan disebut mengawali doa. Ta mata mudu re’e do’e (yang telah berpulang ) adalah tujuan doa. Doa ditujukan pada orang yang telah meninggal (ta mata mudu re’e do’e)  yaitu para leluhur (ine ame embu kajo).  Doa-doa dalam upacara adat baik permohonan mau pun syukur selalu ditujukan pada ine ame embu kajo, ta mata mudu re’e do’e.

Para leluhur yang telah meninggal merupakan tempat orang hidup ini menghadap untuk mengucap syukur dan memohon. Bagi orang Nagekeo wafat adalah perpindahan saja. Pindah kembali ke rahim ibu (tama ena tuka ine). Kalau rahim adalah ke baikan, kenyamanan dan kebahagiaan, maka orang yang telah meninggal berada di tempat yang lebih berbahagia. Mereka juga dikatakan mera ena papa ndala (di tempat yang terang).  Papa ndala dalam pandangan orang Nagekeo adalah tempat yang selain terang, juga mereka bisa melihat semua yang ada di dunia ini walau di tempat yang tersembunyi dan gelap sekali pun.

Para leluhur (ine ame embu kajo) yang telah mendahului kita (ta mata mudu re’e do’e) hidup (muri) di tempat yang terang (ena d’e ta papa ndala).  Sebagai makhlum yang hidup, roh para leluhur bisa beraktivitas. Mereka bisa berbuat sesuatu. Mereka aktif.  Sesuai dengan sifat baik para leluhur, tugas mereka adalah sipo ri’a sagho modo (melindungi dan mengayomi). Para leluhur selalu berbuat baik. Menyayangi anak cucu dan melindungi (sipo ri’a sagho modo).  Seperti umumnya orang tua mereka tidak menginginkan anak-anaknya bermasalah. Karena itu ketika seorang luput dari sebuah malapetaka dikatakan ‘ ine ame embu kajo mona fonga.’  Keselamatan terjadi karena ada perlindungan dari para leluhur.

Ine ame embu kajo merupakan tempat orang memohon dan berharap. Sebagai bagian dari masyarakat manusia dan hidup, maka harus diberikan makanan (ti’i ka) atau juga wesa lela (menaburkan makanan). Dengan demikian orang yang hidup, anak cucu (ana embu) bisa hdiudp dengan baik, sehat dan selamat.  Keselamatan bisa terjadi karena perlindungan (sipo ri’a sagho modo) dari para leluhur.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to INE AME EMBU KAJO

  1. atanagekeo says:

    Saudara Yuan Meresare telah meminta saya untuk membaca ratusan artikel di Ledalero. Dia mengatakan bahwa dia telah menulis tesis tentang Agama dan konsep Tuhan menurut orang Nagekeo.

    Saya mengatakan bahwa saya menemukan dalam doa-doa orang Nagekeo khusus di orang Keo (Keo Tengah) tidak ada ucapan tentang Tuhan. Doa selalu dibuka dengan Ine ame, embu kajo (para leluhur), ta mata mudu re’e do’e( Yang telah mendahului atau meninggal dunia). Hari ini saya membuat catatan kecil di tanagekeo.wordpress.com dengan judul Ine Ame Embu Kajo.

    Doa-doa selalu diawali dengan “ine ame embu kajo”( para leluhur), ” ta mata mudu, re’e doe”(yang telah mendahului kita). Ada kepercayaan bahwa hidup sesudah kematian. Ada hubungan antara orang yang telah meninggal dan yang masih hidup. Para leluhur itu tinggal di alam yang terang (mera papa ndala), yang menurut saya tidak dalam konsep kristiani. Papa ndala (terang) artinya mereka selalu bisa melihat para anak cucu (ana embu) yang masih hidup baik berada dalam tempat yang gelap dan kesulitan.

    Para leluhur itu hidup (muri ena da’e ta papa ndala) dan menjalankan perannya melindungi (sipo ri’a sagho modo) dan membimbing anak cucu dalam keseharian kita. Ingat bila kita terluput dari malapetaka ada yang bilang memang dilindungi leluhur. Para leluhur tidak rela (ine ame embu kajo mona fonga) anak cucu mengalami hal yang terburuk.

    Para leluhur itu hidup dan mendapat hormat dari para anak cucunya dengan memberikan makan (ti’i ka) atau wesa lela. Anda mungkin menyaksikan kalau ada pesta besar masih ada ‘bhaso dama’ (porsi sajian) untuk leluhur di kamar rumah.

    Orang Nagekeo tidak memuja Tuhan adalah kesimpulan yang saya peroleh melalui doa-doa orang Nagekeo. Dan saudara Juan Meresare memperlihatkan sebuah do’a dengan tambahan Ga’e zale Dewa zeta. Ini fakta sekarang bahwa orang menyebut Ngga’e rade, Ndewa reta (Ga’e zale, Dewa zeta) tidak saya pungkiri. Tetapi saya juga mengumpulkan sejumlah doa adat di kampung saya hidup di wilayah Keo Tengah tidak ada kata Tuhan atau Ngga’e Ndewa. Meninggal pun orang kami mengatakan “negha tama tuka ine”( kembali ke rahim ibu).

    Saya tidak mengatakan orang Nagekeo tidak percaya pada Tuhan, tetapi yang jelas dalam berbagai kesempatan doa tidak pernah mengucapkan atau memanggil Tuhan. Maka pertanyaan saya kepada siapa mereka memuja? Dan saya menemukan bahwa Ine ame embu kajo ta mata mudu re’e doe. Ta mera papa ndala, ta tau sipo ri’a sagho modo. Terima kasih dan salam saya kepada saudaraku Mosa Yoga yang membuat saya terus mengamati dan mencatat lagi adat dan budaya kampung halaman saya.

    (Ini adalah salah satu tanggapan saya pada sebuah posting saudara Mosa Yoga di dalam facebook group Nagekeo Bersatu)

  2. Terima kasih dan saya coba mau menanggapi atau menambahkan untuk ingin tahu yakni menyangkut doa-doa untuk ine ame embu kajo. Melihat situasi yang berkembang di kampung saat ini kebanyakan kubur-kubur untuk keluarga-keluarga yang sudah meninggal semuanya dibuat dibagus yakni dipasang dengan keramik dan gambar orang kudus. Dengan melihat cara-cara tersebut saya lagi kebingungan terutama pada saat kita anak-anak atau cucu-cucunya mau buat kubur yang baik dan bagus untuk ine ame embu kajo terutama kata-kata awal yang mau diungkapkan pada saat pertama kali gali fondasi kubur dan modelsekarang kita tentu harus pasang dengan keramik, buat dengan gambar orang kudus pada kubur ine ame embu kajo ta negha mata mudu re’e do’e. Doa atau kata-kata yang mau diungkapkan atau minta permisi bahwa kubur tersebut kita mau gali dan membuat kuburnya dengan bagus. Tentu awalnya ada kata-kata yang mau disampaikan atau didoakan bukan dengan nama Tuhan tetapi ke nama ine ame embu kajo yang sudah meninggal dengan kata-kata yang bagus didengar seperti orang-orangtua kita di kampung. Bagi para pembaca atau yang mengetahuinya mohon tanggapan ! terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s