TUHAN BUKAN PUJAAN ORANG NAGEKEO

Melalui blog ini seorang menanyakan bagaimana konsep Tuhan dalam budaya Nagekeo.  Lalu saya coba mencaritahu sperti apa  orang Nagekeo menyebut Tuhan dan kapan menyebut Tuhan. Ada ungkapan ‘dede Ngga’e (terserah pada Tuhan), Ngga’e rade ne’e Ndewa reta (Allah penguasa tanah di bawah dan Allah penguasa langit). Ketika orang mengharapkan dan tidak mencapai sesuatu ada yang mengatakan “Ngga’e mona ti’i” (Tuhan tidak memberikan).  Pada saat kematian orang mengatakan “wado ena Ngga’e” (kembali ke pangkuan illahi).

Ungkapan yang menarik adalah “tama tuka ine” (kembali ke rahim ibu).  Ungkapan ini dikatakan pada saat kematian.  Bahwa kematian adalah kembali ke perut  ibu. Ibu dan perut atau kandungan ibu merupkan rahim. Tempat seorang anak menikmati kebaikan. Tempat semua kebutuhan manusia terpenuhi, terlindungi dan damai. Kembali ke rahim ibu (tama tuka ine) menjadi sebuah titik akhir perjalanan manusia di bumi.

Kematian ternyata bukan saat memutuskan hubungan secara total. Karena orang Nagekeo juga menyebut “miu ta mera papa ndala” (kamu yang tinggal di tempat yang terang).  Orang yang sudah meninggal menghuni tempat yang terang dan mereka bisa menyaksikan manusia yang hidup di bumi ini.  Para orang yang meninggal termasuk para leluhur (ine ame, embu kajo ta mata mudu re’e do’e) bisa melihat dan memimpin serta menjaga kita yang di bumi.

Merujuk pada doa-doa orang Nagekeo, saya tidak menemukan  jejak bahwa orang Nagekeo berharap, berpegang serta bersykur pada Tuhan. Tuhan sepertinya bukan merupakan tempat mereka memohon dan berharap. Doa-doa orang Nagekeo terdapat dalam “sua soda” pada setiap upacara sama sekali tidak menyebut Tuhan.

AMA RIA
Ine ame embu kajo
ta mata mudu ree doe
ta mbeo doa ghewo doa
mai ka papa fala
minu papa pinda

Moo weki ria do modo
ta ndii sao mera tenda
weki tolo do waja
dhadhi mbi mesa kapa

wiwi liwu dema ngasu
kedi mena wodo rade
sao todo basa damba
ngii ki ngongo tangi
nitu jimu ndii wiki
miu mere medha
Moo ndii sao mera tenda
nee keta fa mera ja
moo umu dewa kamu dema
tau ndii sao mera tenda
moo wesi wawi ngi’i, peni manu tala
moo mbi mbi mbeka mbeka…

OA TAU TUTU SAO (DOA)
Sao jao sumbi sua
di dima rua
dhu reta tuka ruma
kota rade tenda mbudu tedu
kau ju jubu
kau pengga dhongga
kau ono mona tei
kau meno mona nggena
ghumhu ngere nunu
bhabha ngere tana
Ate (atap) sai dae dondo te
moo
(wete ngara dhapi nee embu kajo) ho miu dhongo
(weta ngara) gegha miu eta
(weta ngara) beju ai ha papa
ate miu keta ngere keda rede kedi
ja bhide ae dau (mesi)
ngai miu mbenga negere mbutu.
Orang kampung biasa mengucapkan ini di muka rumah mirip bhea sebanyak 4 kali)

SAKE SULA (SUMPAH ADAT)
Ine ame embu kajo
Ta mata mudu ree doe
Kami tii negha mona wiki
pati negha moda dai
sai ta tii wiki
nee pati dai
napa moo mota imu bhide koja
mesa imu bhida mina
mbu nge dae sao
kola tembu dewu.

TI’I RIA PATI PAWE

Kami ti’i mona wiki
kami pati mona dai
asa miu to’o mae ndi’i
mbangga ma’e mera
Miu punu ma’e todo dangga
poke ma’e todo ndore
miu wiwi mae isi
dema ma’e de’e
Ngara to’o ndii mbanga mera
poke todo ndore, wiwi isi dema deu
ko’o kami wado ena kami.

Tu todo adalah persembahan untuk mereka yang mungkin dalam keseharian tidak senang ( ate lo rende ngewa).  Pemberian kepada mereka yang tidak  menerima pembagian makanan (bhaso dama kura). Sua soda,  doa atau ucapan yang dikatakan  pada upacara tu todo :  Miu ta wa’u mena, nee miu ta wa’u rade, Miu ta rede nee miu ta ridi. Ke bhaso dama miu menga ke. Taku ta kura, te ko’o miu.  Taku ate miu lo, rende miu ngewa, menga te ko’o miu, te

SUA SODA Nambu WESA LELA

Ine embu ta mata mudu re’e do’e, ta ngala tana watu
ta ndi’i mudu mera do’e,
miu sipo ri’a sagho modo,
niu rembu ine embu ta udu mere eko dewa,
ne’e koo sumbi tuki mada sagho.
Rembu ha miu sipo ri’a sagho modo,
kami mo’o kema tau weta weki sa ngara miu.
Miu ti’i ri’a pati pawe ti’i kami.
kema ma;e mesa, ghawo ma’e aso.
Ti’i kami kema nge, pati kami ghawo dagho,
tau weta weki sa ngara ko’o miu ine embu kami.

Mboi Mbaka Loka Laka adala sumpah adat sebagai dasar hukum tula jaji.

Weda sai eja mae mesu eja (bunuhlah iparmu lupakah kasihmu)

paki sai fai mae mesu fai  (bunuhlah isteri abaikan cintamu)

moo kita tau kae ria ari pawe (utamakan hubungan persaudaraan sejati)

jeka tana die nee watu wonga (hingga bumi menghasilkan buah dan batu menguncupkan kembang)

nee poso sa mboko tau lenga foko (petik satu buah muda sebagai pelepas dahaga)

nee pui sa die tau mboo tuka (petik saja sebuah sekedar pengenyang perut)

jeka nau ana pembe embu (hingga anak cucu kelak)

ngara sai ta bheke mere nee bheja bhuku (siapa yang membentak keras dan menghardik kasar)

imu moo napa kola die sao nee mbunga tembu dewu ( banjir bandang menghampiri kolong dan rumah)

mota koo imu bhide koja ( binasa seperti kenari)

nee mesa koo imu bhide mina (hancur bagai lemak)

kee ngara mbana todo ka nee dora todo minu ( biar bisa makan dan minum selama perjalanan)

asa mae so dhoi (selama tidak ada yang dibawa pulang)

Berikut ini doa yang saya susun dalam konteks iman Katolik.

DOA UNTUK INE AME EMBU KAJO
Dibawakan dalam  Paskah Bersama warga Nagekeo se Jabodetabek, 26 April 2012

Bapa reta surga.
Kami reke mona kedo ne’e sira ta mata mudu,
nenga mona ghewo ne’e sira ta re’e do’e
Ke, Ine ame, embu kajo, kae ari ne’e mbeja minda woe sa Nagekeo

Sira ta kame jeka mbade,
ta welo papa dheko,
tau Nage jeka Keo,
tau ta ka’e puu odo goo, mo’o ta ari wadi jeka ebho geo.

Sira nepe peka kami ta muda ngi’i, tau tadi pau sa widha,
Wadi sira pendo peka kami ta sulu fu, tau kodo pau sa toko.

Bapa reta Surga,
Kami mete sewe Kau ti imu ko’o da’e ta ri’a,
wadi kami ama woso Kau pati imu ko’o dondo ta modo.
Ke, Surga da’e ta tau ndi’i ko’o imi ko’o ta modo,
ne’e dondo ta tau mera imu ko’o papa oko ne’e Kau, Ngga’e ne’e Ndewa kami.

Seperti yang terungkap dalam berbagai doa ini dapat disimpulkan bahwa orang Nagekeo tidak pernah memohon atau berdoa kepada Tuhan. Kekuatan dan pegangan mereka pada ‘ine ame embu kajo” (leluhur) yang telah mendahului atau meninggal dunia (ta mata mudu re’e do’e).  Dan kedamaian yang paling indah adalah berada dalam suasana rahim (tama tuka ine). Rahim ibu adalah tempat peristirahatan yang damai.

Konsep Tuhan dalam budaya Nagekeo sebagai “nitu ndewa”(kekuatan gaib) belum sepenuhnya menjelaskan tentang Tuhan. Karena nitu ndewa yang dikenal melalui peringatan ‘nitu dhego’( nitu mengetuk kepala) dapat  dianggap sebagai peringatan dari para leluhur. Lalu apakah sesungguhnya konsep Allah dalam masyarakat adat Nagekeo? Bersama pembaca blog ini saya juga masih mempertanyakan apakah atau siapakah Tuhan dalam pemikiran orang Nagekeo asli. Karena dalam semua persembahan dan doa-doa permohonannya  tidak sekali pun menyebut Tuhan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to TUHAN BUKAN PUJAAN ORANG NAGEKEO

  1. alfons no says:

    saya biasa mendengar sebutan “Ngga’e Ndewa” atau Ngga’e rade, ndewa reta…..saya coba memahaminya sebagai berikut;
    1. ungkapan ngga’e sebenarnya dipakai juga dalam pengertian ” orang atau pribadi”. contoh : “Ngga’e sai ke?” (siapakah orang itu? pertanyaan seperti ini dalam budaya orang keo menuntut jawaban atau keterangan yang lengkap tentang seseorang, yakni: nama, asal usul daerah atau keluarga, pekerjaan, jabatan, sifat2, kharakter dan lainnya seputar kepribadian orang tersebut.
    dalam hal ini saya memahami bahwa ketika orang Keomenggunakan kata ngga’e yang dipakai untuk menyebut tentang suatu Wujud Tertinggi, maka mestinya ada keyakinan yang dalam tentang Wujud Tertinggi itu sebagi Suatu Pribadi
    2. Ngga’e dalam penggunaan sehari-hari juga berarti “milik, kepunyaan” atau “pemilik” atau juga “Tuan”. orang Keo memahami segala sesuatu itu “ne’e ngga’e imu” atau segala sesuatu ada pemiliknya, ada tuannya. Dalam konteks pengertian ini, Wujud tertinggi itu dipahami sebagai ‘Pemilik”. artinya, Wujud tertinggi itu adalah Pemilik, yang empunya segala sesuatu yang ada di bumi. ini termaktub dalam ungkapan “Ngga’e rade” atau pemilik dari segala sesuatu yang ada di bawah (bumi). saya belum tahu secara pasti apakah ini juga berkaitan dengan konsep tentang penciptaan, bahwa Wujud Tertinggi yang disebut sebagai Pemilik itu, juga sekaligus berarti sebagai Asal atau pencipta dari segala sesuatu yang dimilikinya?
    3. Ngga’e juga berarti Tuan. dalam pemahaman saya pengertian tentang tuan di sini lebih dekat artinya dengan “kekuasaan dan hak untuk mengatur”. Dengan kata lain Ngga’e juga diyakini sebagai penguasa, pengatur atau penyelenggara segala sesuatu yang ada di bumi. maka kita bisa memahami ungkapan doa pasrah dalam masyarakat Keo “dede ngga’e” atau “terserah pada Penggatur atau Penyelenggaranya” atau “terserah pada Penguasa”
    4. sebutan Ndewa, sejauh pemahaman saya tidak ada penggunaan lain selain sebutan untuk suatu wujud tertinggi. sebutan Ndewa tidak pernah dipakai sendiri, tetapi selalu dalam frasa “Ndewa reta”. pengertian Ndewa selalu menunjuk pada Sesuatu yang di atas, di tempat yang tinggi, dengan kata lain, Ndewa adalah Suatu Wujud yang melampaui manusia dan segala sesuatu yang ada di bumi. Ndewa itu lebih besar dan kuat dari manusia dan alam semesta. dan Ndewa itu berada di tempat yang tinggi.
    5. Rade dan Reta berarti “di bawah” dan “di atas”. kedua kata ini juga sering dipakai dengan pengertian tersebut dalam percakapan sehari-hari. Tetapi dalam hal konsep tentang “Wujud tertinggi”, saya menginterpretasikannya sebagai “totalitas, keseluruhan” alam semesta. Dalam pemahaman ini, “Ngga’e rade, Ndewa reta” berarti suatu Wujud tertinggi adalah suatu yang menjadi Pemilik, pengatur, penguasa seluruha alam semesta, baik yang di bawah (di bumi) dan di atas (di luar bumi: termasuk segala sesuatu yang ada di atas permukaan bumi, bulan, bintang, matahari, planet dan tata surya).
    Atau, rade dan reta dapat juga berarti dunia kini (dalam kehidupan manusia) dan dunia nanti (sesudah kematian). ada unggkapan orang keo yang meyakini bahwa orang-orang mati itu “miu ta mera papa ndala”. ungkapan ini sebenarnya menyiratkan suatuu keyakinan akan adanya kehidupan sesudah kematian. dunia sesudah kematian itu adalah dunia terang. disanalah tempat tujuan kehidupan orang keo sesudah kematian.
    dalam pengertian ini, “Ngga’e rade, Ndewa reta” menyiratkan suatu keyakinan bahwa Wujud tertinggi yang menjadi pemilik dan penguasa alam semesta itu juga sekaligus menjadi pemilik dan penguasa di dalam kehidupan sesudah kematian.
    6. saya memahami konsep tentang “miu ta mera papa ndala”, ada kedekatan dengan konsep teologi kristiani. dalam konsep kristiani, Allah itu adalah Terang. Yesus menyatakan dirinya sebagai Terang Dunia. dan banyak kesaksian Kitab Suci yang menyatakan kehidupan sesudah kematian adalah kehidupan dalam Terang. Allah adalah Terang yang tidak dapat dipandangi (bdk. Agustinus n Thomas Aquinas). surga penuh dengan terang kemuliaan Tuhan, yang adalah Terang itu. maka, saya memahami dalam ungkapan “miu ta mera papa ndala”,dan “Ngga’e Rade, Ndewa Reta” orang Keo meyakini Wujud Tertinggi itu sebagai pemilik, penguasa dan penyelenggara bumi (alam semesta) dan surga.

    itu interpretasi saya, mohon ditanggapi, dikoreksi….dan kalau ada benarnya mohon dilengkapi……modo

  2. alfons no says:

    “tama tuka ine” dan “mera papa ndala”, menurut saya merupakan konsep tentang kehidupan sesudah kematian.
    “tama tuka ine” (masuk kembali ke dalam rahim ibu) menurut saya ada dua pengertian;
    1. bahwa seorang yang mati itu kembali kepada Asal atau Mula kehidupan. “tama tuk ine” itu sebuah kiasan. menurut saya dengan ungkapan itu, menyiratkan suatu keyakinan bahwa Asal atau sumber dan tujuan dari kehidupan manusia keo sebenarnya Satu. dengak kata lain sumber kehidupan itu identik dengan tujuan dari kehidupan.
    2. ‘tama tuka ine’ dapat diinterpretasikan juga sebagai gambaran tentang situasi atau keadaan tempat kehidupan sesudah kematian orang Keo. rahim sebagai tempat yang nyaman, terlindungi, terjamin bagi kehidupan manusia. begitu juga situaasi dalam dunia sesudah kematian, yang menjadi tempat tinggal orang-orang yang sudah mati.

    konsep ‘tama tuka ine’ dalam pengertian yang ke-dua itu, menurut saya sepadan dengan ungkapan “mera papa ndala”. ndala artinya terang. terang adalah suasana yang meungkinkan orang mengalami segala betuk kebaikan. kita kenal juga sebuatan “ata re’e” yang artinya orang jahat, setan, roh jahat. tempat manifestasi ‘ata re’e’ selalu dalam kegelapan (mere). gelap atau mere selalu bermakna sesuatau yang tidak diharapkan, buruk, jelek, tidak enak, tidak baik.
    maka, boleh saya menyimpulkan bahwa suasana dalam rahim ibu (tuka ine) dan tinggal dalam terang (mera papa ndala) merupakan suasana ideal yang dapat dibayangkan oleh orang keo tentang suasana kehidupan sesudah kematian.
    dan, saya berasumsi konsep tentang kehidupan sesudah kematian, mesti ada kaitannya dengan konsep ke-tuhanan. saya masih coba mencari tahu, apa dasar eksistensi dari “tuka ine’ dan “mera papa ndala’ ini menurut konsep religi keo. apakah itu ada dengan sendirinya? atau ada yang ‘mengadakannya’?

  3. atanagekeo says:

    Ame Alfons No, terima kasih banyak sudah dua kali memberikan komentar yang memperkaya pemikiran tentang keonsep Tuhan dalam masyarakat Nagekeo. Dalam forum Facebook Nagekeo Bersatu saya memancing opini lain. Dan seorang theolog dari Ledalero memberikan tanggapan.

    Akhir-akhir ini saya berkomunikasi intensif dengan orang-orang di kampung, yang saya pilih sebagai narasumber. Semuanya saya lakukan untuk mengumpulkan berbagai informasi tentang adat dan budaya Nagekeo untuk posting di blog ini, tanagekeo.wordpress.com.
    Ada kesimpulan sementara berdasarkan doa-doa (sua soda) dalam pesta-pesta atau upacar adat, saya tidak menemukan kata Tuhan. Kesimpulannya adalah bahwa orang Nagekeo tidak memuja Tuhan. Karena doa-doa selalu ditujukan kepada ‘sira ta mata mudu re’e do’e’ (yang telah meninggal dunia, ta ndi’i mudu mera do’e (yang pertama kali menghuni kampung), ine ame embu kajo (leluhur). Pengalaman pribadi juga mempertegas pendapat ini. Saya dan mama serta saudara-saudari saya berdiri di makam ibu dan nenek saya. Saya tak kuat mengatakan sesuatu, dan mereka mengangkat doa. Dan doa itu diarahkan langsung pada sira ta mata mudu, re’e do’e.

    Tanggapan dari Alfons memperkaya pemahaman saya tentang konsep Tuhan dan kehidupan sesudah kematian sesuai alam pemikiran orang Nagekeo.
    Tertima kasih woso…

  4. Yos says:

    Salam ame Vitalis…. saya adalah cucu dari kepala suku di Sela Lejo yang dimana di kampung kami punya PEO ENDA… Orang dulu masih melakukan pemberian sajen utk menghormati leluhurnya.. dalam setiap ritual apapun di sana masih memakai bahasa asli.. saya kesulitan menuliskan do’a dalam bahasa SelaLejo karena bahasa kami agak berbeda karena tidak ada aksara dalam bahasa indonesia yang disepakati.. paling bagus dengar sendiri.. mengegenai Tuhan sepertinya tidak pernah disebutkan… saran saya buat yang mau susun tesis jangan satu tempat saja di riset.. dia harus pergi ke SELALEJO, NGERA, DAN KE KAMPUNG AME VITALIS…. KARENA MEREKA BISA MENEMUKAN RITUAL YANG ASLI.. JANGAN LIPUT DOA HARIAAN DI SEBUAH DAERAH TAPI LIPUT UPACARA PEBHA ATAU PENTABISAN PEO ENDA ITU AKAN MENEMUKAN DOA DAN MAZMUR ADAT.. DOA Harian bisa saja sudah terpengaruh masuknya agama.. kata GA’E, NDEWA DLL biasa saya dengar kalau ada ritual yang tidak berhubungan dengan PEO ENDA…
    terimakasih buat blog ini sangat bagus…
    salam dan TUHAN YESUS MEMBERKATI

  5. atanagekeo says:

    Yos, saya mengucapkan banyak terima kasih. sudah mampir dan terutama atas komentarnya. Sebetulnya saya bukan seorang peneliti. Gara-gara buat blog ini saya terdorong untuk menulis tentang kampung halaman. Akhirnya saya terus menulis macamp-macam tentang adat sekitar kampung saya, yang saya tahu. Setelah 37 tahun di Jakarta, baru sadar ada kekayaan budaya kita.
    Pemujaan pada leluhur dan bukan pada Tuhan adalah kesimpulan saya berdasarkan pengalaman dan doa yang saya kumpulkan. Saya menyesal sekarang tidak berkesempatan mencari tahu lebih banyak. Tetapi dari 46 tulisan kecil-kecil (adat dan budaya) yang ada dalam blog ini mendorong saya untuk mengumpulkan lebih jauh.

    Yos kalau bisa tolong bantu saya dengan tulisan tentang doa adat Selalejo, walau tidak agak sulit dieja, mona apa. Saya yakin bisa dipahami dan diusahakan persamaannya. Atau kalau bisa minta mereka mengurutkan tata cara ritual adat pebha (rore kamba), kema peo atau mungkin sembah berhala di pohon- atau batu. Dhei ri’a, tabe woso

  6. alfons no says:

    dera bapa…jao memang sepaham bahwa dalam ungkapan doa-doa kita reta, ditujukan kepada ‘ine ame embu kajo”.
    apakah mungkin, ada konsep tentang ‘ke-PENGANTARA-an. maksud jao, sebagai mana dalam tradisi katolik, kita juga berdoa kepada bunda Maria, memohonkan rahmat dan perlindungan dari padanya.
    sekalipun demikian, kita percaya Maria memeperoleh rahmat yang dapat ia berikan kepada kita dari Allah (Bapa,Putra dan Roh kudus).
    apakah mungkin, bahwa sekalipun doa-doa dalam budaya kita rade ditujukan kepada “ine ame embu kajo”, mereka memperoleh segala kebaikan yang dapat diberikan kepada kita dari Ngga’e ndewa…..
    kalaupun tidak demikian, jao masih penasaran, kira-kira KAPAN konsep tentang NGGA’E NDEWA itu mulai ada dalam budaya kita?
    atau, apakah konsep itu kita adopsi dari suatu pengaruh budaya lain?
    kalau Ngga’e ndewa merupakan konsep asli dalam budaya kita, menurut jao mesti ada hubungannya dengan konsep tentang “ine ame embu kajo’ sebagai tujuan doa-doa dalam budaya kita reta.
    jao piki idi ke, modo….

  7. atanagekeo says:

    Saya sempat hidup dekat dengan kakek saya, nenek dan seorang tanta bapa dalam satu rumah. Tanta dari bapa saya katanya ne’e odo tepu dheo. Lagu ghao podo itu kata orang dari luar dan juga kadang-kadang nenek saya bilang begitu. Nenek (tanta dari bapa) ini sering cerita ketika masih agak muda (dia janda) sering dititip ada seorang (ghao tola mogha) untuk jaga. Ini atas permintaan opa saya (embu kami Dombo Sina). Dan kata ibu ini (Mbewu Sina) seorang berpesan kalau ada bunyi burung malam hari di belakang pohon itu artinya saya datang. Dan Embu Mbewu Sina langsung tahu bahwa dia dijaga. Ini cerita langsung.

    Dalam kaitan dengan Tuhan, Ngga’e apakah dengan perantaraan mereka doa kita dikabulkan atau tidak. Saya punya pengalaman, Anak pertama saya jatuh di rumah calon suaminya. Dia merasa dicekik. Seorang pendoa asal Manggarai datang. Karena anak saya selalu minta panggil papa. Saya dan isteri datang. Saya bawa sekeping kulit kayu obat dari kakek saya (Dombo Sina). Anak saya masih belum pulih. Saya celupkan kayu itu pada air panas dan saya katakan :” te kaju ta ne’e nete nadu ko’o embu jao Dombo Sina.” Dan segera setelah diminum, anak saya langsung siuman.

    Mengapa doa-doa kita selalu ditujukan pada Ine ame embu kajo? Menurut saya konsep Tuhan dan kata Ndewa datang belakangan. Yang ada pada awalnya di masyarakat adat Nagekeo adalah nitu noa (nitu jimu) dan yang jahat ulu mbole kedua makhluk ini dianggap penjaga bumi. Referensinya doa-doa. Sayang sekarang doa-doa kita sudah dikarang bahkan ditulis tangan oleh angkatan muda, yang sudah tercemar pemikiran Kristen.

    Dhei ri’a, tungga tau rame diskusi Alfons.

  8. alfons no says:

    mona tungga tau rame bapa…odo punu kita te ne’e guna, mo’o kami peka te, ta dhi nuwa rade wena mbe’o…iwa mudu jao wado rade nua, jao ade ana-ana ko’o ka’e jao Rabu Esi, ha di ne’e sira bapa Anton Rangga….jao ade tentang ko’o Nu Nange ta biasa bapa jao Toni Embu cerita tii kami, tapi imu ko’o mona mbe’o….padahal menurut jao, ne’e ajaran moral, falsafah hidup ko’o ine ame embu kajo ena ko’o nu nange peka ke….dhei ri’a…

  9. atanagekeo says:

    dhei ri’a, Alfons, kau tau jao bersemangat tau tuli wado adat istiadat kita reta nua.

  10. Putra Diding says:

    salam ame ka’e. saya keturunan nagekeo kecamatan keo tengah kampung ngera. saya sedang belajar budaya kebetulan ada sedikit tugas mengenai tradisi daerah asal kami. saya mohon maaf sebelumnya, kalau boleh dapat, saya mohon ka’e bsa membantu dalam memberi sedikit mengenai tradisi nagekeo yang paling menonjol. Trima kasih sebelumnya ame ka’e. Malam Bae

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s