OUTSOURCING ADALAH PERBUDAKAN JAMAN MODERN

Masih saja orang berkelit dan mencari legitimasi atas pengadaan tenaga kerja dengan sistim outsourcing.  Istilah keren in kedengaran mentereng. Tetapi di balik tembok banyak yang meratapi nasib. Mereka menjadi sapi perahan. Setiap bulan hasil keringat mereka  dipotong  serta diambil tanpa hak runding dan masuk ke kantong yayasan atau perusahaan penyedia tenaga kerja.

Apa sih jasa mereka? Mereka tidak pernah mengeluarkan uang untuk memberikan pelatihan. Perusahaan outsourcing hanya berbekalkan iklan lowongan kerja. Kemudian mereka diserbu oleh pencari pekerjaan yang memang berlimpah. Ada banyak pencari kerja, semntara lowongan terbatas.  Dalam kesempitan lowongan ini, ada keleluasaan bagi sebagian orang untuk mencari kesempatan. Hanya dengan berbekal informasi dari perusahaan yang membutuhkan mereka menerima tenaga kerja dan menyalurkan kepada perusahaan yang membutuhkan.

Tenaga kerja outsourcing bekerja dan diperlakukan aturan ketat sebagai seorang pekerja. Tetapi di tempat kerja mereka tidak dihargai sama dengan pekerja tetap. Ada yang gajinya jauh lebih murah dengana fasilitas yang terbatas.  Dari gaji yang lebih sedikit itu masih juga harus berbagi dengan pemberi informasi lapangan kerja. Yang paling menyedihkan adalah uang gaji dipotong secara teratur setiap menerima gaji.

Tenaga kerja outsourcing memang malang. Tidak mendapat tunjangan layaknya seorang karyawan pabrik. Bila bermasalah, sang karyawannya dipulangkan ke perusahaan outsourcing (penyedia daya). Dipulangkan sama dengan keluar, dan karena bukan sebagai karyan tetap maka tidak memperoleh pesangon.

Outsoucing istilah modern perbudakan. Ada orang yang bekerja untuk orang lain. Sang pemilik perusahaan outsoucing hanya dengan ongkang kaki menerima hasil jerih payah anak buahnya. Outsourcing selayaknya dibubarkan. Berikan hak-hak layak bagi karyawan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s