KOPO PA’A DAN SAKA LUKA

Kopo pa’a atau juga disebut pa’a sangga  adalah tempat pesembahan  yang biasa ada di dalam rumah dan di belakang dekat kolong rumah.  Di belakang rumah biasa dengan sebuah pondok kecil dan di bawahnya disusun batu buat sajian (sesajen).  Pembuatan kopo pa’a  ada hubungan dengan saka luka. Yang dimaksudkan dengan saka luka adalah seuatu pertemuan mistik seorang dengan roh-roh bisa dalam wujud orang atau suara-suara gaib yang dapat didengar dengan jelas. Hal  ini bagi kita dalam dunia modern dianggap aneh. Tetapi dalam masyarakat tradisional dan primitif adalah hal yang sering terjadi. Pengelihatan yang ajaib ini disebut saka luka. Orang yang dijumpai dalam suasana mistik ini biasanya para leluhur. Karena itu orang yang mengalami pertemuan mistik ini memberikan sesajen yang disebut kopo paa.

Perlengkapan yang dipersiapkan untuk kopo pa’a adalah wadah sesajen. Dalam rumah biasa dibuat sebuah wadah terbuat dari belahan bambu kemudian digantung pada kuda-kuda rumah.
Wadah di belakang rumah berupa sebuah pondok kecil dan sering dipagari (kopo) Di bagian tengah pada lantai dibuat semacam altar dari batu. Ada batu yang pipih rata ditopang  tiga batu penunjung. Di atas batu ini ditempatkan semua perlengkapan sesajen.

Perlengkapan tambahan sesajen adalah emas dan rantai mas (donda) terbuat dari daun lontar.  Kerbau dibentuk dari buah pepaya dengan tanduk dari lidi dan kuping dari daun lontar. Ada kuda dari buah pisang batu dibuat berkaki dari lidi dan kuping  dari daun lontar. Ada mondi yaitu patung orang sebagai hamba (oo) dibuat dari pohon damar. Selain itu ada rokok, dan sirih pinang.  Mondi (patung) hamba yang bertugas sebagai pembantu (roki nua kuni nggena).   Ada tempat makan dan minum (bhaso dama) terbuat dari daun lontar.

Apabila semuanya sudah siap, maka semua barang-barang itu ditempatkan di wadah atau lokasi sajen kemudian melafalkan doa (sua soda. Ada pun sua soda itu berbunyi sebagai berikut:

Te kami ti’i ka pati minu uru miu ta negha pela welo  nambu kami mbana luka dora tambu. Dae dondo miu menga te. Miu ma’e na mbana mbana wadi. Kami tii ka pati minu mo’o ama kami weki ria do modo, Kami tii ri’a pati pawe ti’i miu mo’o do kami tolo weki kami waja. Mo’o kema tei ghawo luka. Tau weta weki nee sa ngara, tau ndii da’e ne’e mera dondo. Te kami ti’i miu ne oo, mo’o tau roka noa kuni nggena, tau supu simba ko’o miu. Tau reu we’e ko’o miu ma ke.

Tujuan daripada doa adalah memberi makan dan minum kepada leluhur agar mendapat berkat. Memperoleh kesehatan, agar mendapat kemudahan dalam mencari rezeki. Dengan demikian membawa nama baik, dan kokoh berada di tempat.  Dan dengan memberikan hamba untuk bisa diperintah bila perlu dan mengurus hewan ternak.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s