NARO TRADISI KISAH LISAN

Sebagaimana masyarakat tradisional umumnya, orang Keo tidak mempunyai tradisi tulis-menulis. Semua kebiasaan dan hukum adat diwariskan secara turun temurun. Riwayat keluarga, asal usul atau semua peristiwa yang terjadi diturunkan melalui tradisi lisan.

Yang menarik dalam budaya orang Keo adalah dalam setiap acara adat yang besar seperti pembangunan peo (lambang persatuan), upacara syukur yang disebut pala selalu ada kesempatan orang mengkisahkan asal usul (dhuju nama).  Tradisi lisan yang dilakukan secara resmi pada upacara adat disebut naro.  Naro adalah cerita mengenai asal usul sira ta ndi’i mudu mera do’e (mereka yang pertema menghuni kampung),  menyusul dheko ngati ( menurut suku)  masing-masing. Orang sangat memperhatikan apa yang dikisahkan dalam naro.  Semua kisah diungkapkan sesuai urutan peristiwa dan faktanya.  Dari naro orang bisa mngetahui asal usulnya dan juga kedudukannya dalam keluarga besar. Dalam naro juga dikisahkan bagaimana keluarga besar bekerja sama dengan pihak lain. Sebagai keluarga baru mereka keu kambe (meminta bantuan ) dari mosalaki dari kampung lain.

Ada dua macam naro.  Ada naro dhuju nama (asal) keluarga yang merintis dan berjuang bagi kehidupan bersama.  Dalam upacara Peo ada naro kaju. Dalam naro kaju ada kisah asal usul kayu untuk peo. Melalui naro dikisahkan tentang pemilik lahan tempat tumbuh kayu. Bagaimana perjalanan kayu peo, termasuk semua peristiwa yang terjadi dalam perjalanan menuju tempat penanam peo. Walau sudah mulai ada budaya tulis menulis, tetapi legitimasi sejarah keluarga besar orang lebih berpegang pada naro.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to NARO TRADISI KISAH LISAN

  1. Peter says:

    ada tidak cerita tentang ritual adat kelahiran, mulai dari dalam kandungan sampai dg anak tersebut beranjak dewasa bagi masyarakat Nagekeo????

  2. atanagekeo says:

    Sdr. Peter, pertama terima kasih sudah datang berkunjung. Sangat sedikit orang bicara tentang kehadiran janin dalam kandungan. Tetapi pasti setiap budaya ada. Nanti saya akan gali. Karena niat saya memang pelan-pelan mencatat ulang berbagai hal menyangkut adat dan budaya lisan di kampung halamanku. Sudah lebih dari 60 catatan pendek saya dalam blog ini tetapi masih banyak hal yang belum saya gali dan catat ulang. Semoga kelak bisa terkumpul dan ditulis kembali dalam sebuah buku. Karena itu saya butuh masukan. Salam dan terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s