TU TODO PERSEMBAHAN MENOLAK BALA

Tu todo berarti datang menyerahkan diri. Todo berarti diri. Todo sama dengan weki (badan).  Dalam bahasa Keo ada ungkapan todo kau  itu sama artinya weki kau (badan atau dirimu), terserahlan itu urusan dirimu. Kata todo juga dikenakan pada rumah. Ada ungkapan reta todo ( di dalam rumah) atau todo sao (rumah).   Ungkapan ini mempunyai makna bahwa rumah itu adalah sesuatu yang hidup, ibarat tubuh. Karena itu orang Keo selalu membangun rumah dengan sembilan tiang berkaitan dengan jumlah lubang pada tubuh manusia [(mata (2), kuping (2) hidung (2) mulut (1) pembuangan(2)]

Anda mungkin bertemu seorang sedang memberikan semacam sesajen di jalan. Orang Nagekeo mempunyai kebiasaan menempatkannya persembahan  di pertigaan atau perempatan jalan, yang dalam bahasa Keo disebut rada segha. Di lokasi semacam ini merupakan titik temu kalau orang berjalan dari berbagai arah.  Yang mungkin bermasalah dengan kita bisa datang dari mana saja serta melewati jalan ini.

Dalam kepercayaan orang Nagekeo malapetaka atau kesusahan kita bisa berkaitan dengan rasa iri  atau ketidakpuasan orang lain atas apa yang kita punyai atau apa yang telah kita lakukan.  Tetapi semuanya merupakan sebuah praduga. Tidak ada kepastian. Hanya yang pasti bahwa malapetaka tidak datang tanpa sebab. Dan sebab utama menurut orang Nagekeo adalah rasa iri. Karena  bila  merasa sedang dimusuhi dan ingin selamat, orang akan datang sendiri pribadi (tu todo) dan memberikan sesuatu (menyajikan).

Tu todo bukan persembahan kepada leluhur. Bagi orang Nagekeo leluhur sebagaimana orang tua selalu berbuat baik dan mengasihi. Mereka selalu ‘sipo ri’a, sagho modo (menjaga dan melindungi). Tu todo adalah persembahan untuk mereka yang mungkin dalam keseharian tidak senang ( ate lo rende ngewa).  Pemberian kepada mereka yang tidak  menerima pembagian makanan (bhaso dama kura). Sua soda,  doa atau ucapan yang dikatakan  pada upacara tu todo :  Miu ta wa’u mena, nee miu ta wa’u rade, Miu ta rede nee miu ta ridi. ke bhaso dama miu menga ke. Taku ta kura, te ko’o miu.  Taku ate miu lo, rende miu ngewa, menga te ko’o miu, te bhaso dama miu.  Lalu menyerahkan beras, telor, sirih pinang, tembakau, beras, telor  (pale, tedo, weti bako). Caranya dengan meletakkan di pinggir dan ditempatkan di atas batu.

Harapannya agar bala yang mungkin ditimbulkan karena sakit hati akibat tidak memberitahu (ghewo sodho) atau tidak cukup mendapat bagiannya (pati mbai kura) bisa dipulihkan.  Masyarakat tradisional sangat bertenggang rasa, karena umumnya sangat perasa. Bila tidak memberitahukan untuk ikut hadir, mereka akan katakan apakah sudah melupakannya dan betapa mudah melupakannya ( ghewo ka, ghewo negha mbai ha noa). Orang-orang yang merasa dilecehkan akan tersinggung dan bila tersinggung akan menyerangnya secara gaib.  Makanya upacara tu todo dilakukan sebagai cara menolak bala atas orang banyak (wiwi liwu dema ngasu).

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s