SAO TENDA DAN NUA ODA

Sa’o tenda  berasal dari sa’o yang berarti rumah. Karena rumah adat selalu berkolong dan bertenda orang selalu menyebutnya sao tenda.  Nua oda berarti kampung. Baik nua maupun oda memiliki arti kata yang sama. Bagi  orang Nagekeo umumnya dan  Keo khususnya, kampung (Nua )   bukan sekedar kumpulan rumah-rumah (sao). Kampung merupakan satu ikatan sosial. Sejak awal mendirikan kampung  yang disebut dengan koe nua kadi oda, ada kesepakatan bersama dalam memilih lokasi. Dan penghuni kampung biasanya bermula dari satu turunan. Mungkin saja bermula dengan satu rumah pertama. Ini yang disebut dengan sa’o pu’u. Sesuai dengan perjalanan waktu dan perkembangan keturunan, sa’o puu dibuat dengan ukuran yang besar. Maka rumah besar ini disebut dengan sa’o mere.

Rumah besar merupakan tempat keluarga besar dapat berkumpul (tau tiwo liwu). Rumah-rumah anggota keluarga yang lainnya kemudian dibangun di lokasi itu. Sao mere pada masa lalu dibangun sangat besar dengan memiliki bangunan dapur tersendiri yang selalu di sambung dengan  dengan rumah induk. Kemegahan sebuah sa’o mere merupakan prestise keluarga besar, sebagai bukti waka nga ngai ngande  (wibawa) dari pemilik rumah. Dan ini merupakan kehormatan dan kebanggaan keluarga besar.

Tiang rumah kampung orang Nagekeo umumnya berjumlah sembilan. Rumah ibarat tubuh manusia. Dan kesembilan tiang sama jumlahnya dengan lubang yang ada pada tubuh manusia. Tiang-tiang kokoh itu menutupi kelemahan lubang-lubang penting pada tubuh. Ada lobang telinga (2) Lobang mata (2) lobang mulut (1) lobang hidung (2) dan lobang pembuangan (2). Karena setiap tiang merepresentasi bagian tubuh maka tiang harus tidak boleh terbalik.

Dapur Rumah
Pada masa lalu dapur, tempat memasak makanan terletak dalam rumah. Dapur dibuat dengan membuat kota segi empat kemudian dialasi dengan daun pisang kemudian ditutup dengan tanah. Diatas tanah dibangun tungku untuk menaruh periuk masak. Di samping kotak tanah (dapur) diberi ruang yang longgar untuk menaruh kayu bakar serta kelapa seperlunya. Diatas tungku dibuat semacam para-para (ghala), sebuah tenda kecil untuk menaruh barang keperluan. Tempat ini disebut ‘onggi dapu (sudut dapur).

Dalam rumah-rumah besar yang menampung keluarga besar dapur dibuat beberapa buah. Pada tenda wena orang menerima tamu. Tenda wawo orang juga membangun dapur. Bila rumah terdiri dari tiga tingkatan tenda, maka tenda wawo disebut tenda ora (tenda tengah). Diatas lagi masih ada satu tingkat disebut tenda one atau disbut reta one. Biasanya ada pintu untuk masuk bagian rumah yang disebut reta one.  Dapur juga dibuat di tingkat reta one.  Jumlah dapur tergantung pada jumlah anggota keluarga yang menempati rumah. Biasa dilihat dari berapa jumlah adik kakak yang berkeluarga dan menghuni rumah.

Sesuai dengan fungsi dan lokasi bangunan orang Keo member nama berbeda untuk rumah (sao). Sao adalah rumah umum untuk tinggal dan berada di kampung. Sekecil apa pun rumah tinggal yang berada di kampung disebut rumah.

Keka: Keka adalah bangunan tempat tinggal di kebun. Orang Keo pada masa lalu tidak tinggal di kebun. Mereka selalu kembali dan tinggal serta bermalam di kampung.  Kalau pun ada orang yang menetap lama di kebun dan rumahnya dibangun agak besar, orang tetap menamainya keka. Atau bahkan mempertegasnya dengan keka donggo. Keka (pondok) di luar kampung (donggo).

Basa: adalah bangunan rumah kecil tetapi lebih umum untuk tempat upacara dan penyimpanan benda adat. Karena itu kita kenal dengan istilah basa damba, atau basa jara.

Kuwu: Dalam budaya orang Keo ada dua macam jenis bangunan yang disebut kuwu. Ada kuwu tua yaitu pondok tempat orang memasak dan menyuling tuak. Dan satu lagi yaitu kuwu si’e tempat orang memasak air laut untuk menghasilkan garam.

Ungkapan kuwu atau  basa adalah cara orang mengatakan tentang rumah dengan cara merendahkan diri. Itu kuwu basa kami.

Rumah-rumah orang Keo pada masa lalu selalu bertangga (tangi). Ketika muncul pembangunan rumah tembok atau rumah tanah, untuk membedakan orang menyebutnya rumah adat yang bertangga sebagai sao tangi.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s