TANGE POTU DAN PAPA KENDA TRADISI SATRIA ANAK PANTAI NAGEKEO

Matahari semakin condong kebarat,  anak-anak laki berkulit gelap itu asyik bermain bola. Umumnya tidak berbaju. Kulit penuh keringat bercampur debu. Bola kaki pada masa itu terdiri dari daun pisang kering yang dibulatkan serta diikat dengan tali dari pelepah pisang. Besarnya bola terserah, tidak ada standarnya. Ikatan bola dibuat berlapis-lapis agar berdaya tahan atas tendangan dan injakan kaki para pemain. Tidak ada kesepakatan, tetapi semuanya bermain dengan kaki telanjang. Karena pada masa itu tidak ada yang punya sepatu.  Usia rata-rata pemain antara 9 sampai 12 tahun.  Dengan badan penuh keringat mereka berhenti lalu beramai-raamai menuju pantai untuk mandi. Menanggalkan pakaian dan dengan badan telanjang mereka mencebur ke laut. Permaianan tidak segera berhenti.  Kalau tadi ada adu ketangkasan kaki di darat, mereka sekali lagi beradu kaki di laut.  Mereka akan saling tendang (papa kenda) untuk merebutkan benteng (tange potu). Benteng yang dimaksudkan adalah hanya batu besar dengan ujung yang menonjol ke atas permukaan laut. Semua ingin merebut kesempatan berdiri di atas permukaan batu. Sementara yang lain terus saja berenang mendekat, menyeret kaki orang yang berdiri di atasnya.  Orang yang diatas akan segera meloncat menendang mereka yang ingin mendekati batu. Dan yang ditendang segera menyelam dan kemudian menyeret lawannya menjauhi batu. Permainan ini dilakukan dalam kelompok.

Tange potu dan papa kenda  menghadapkan dua lawan yang setara. Dalam keliarannya nampak adanya medan yang adil. Semuanya terjadi di dalam air. Ada tempat menghindar yang nyaman di dalam air.  Tempat yang diperebutkan adalah batu yang bersih. Maklum ada batu-batu yang dipenuhi lumut dan kerang karang (tile) akan membahayakan.  Permainan tange potu dan papa kenda dilakukan sampai semua merasa lelah dan bosan.  Tidak ada dendam antara yang kalah dan yang menang. Semuanya suka cita. Karena ini adalah sebuah permaianan yang disepakati. Pembagian kelompok pun diatur seimbang.

Dari tange potu dan papa kenda tercermin naluri manusia. Dimana-mana manusia itu sama saja.  Selain memiliki naluri yang halus dan berbelas kasih, tersimpan dalam manusia naluri kekerasan, kejam dan sewenang-wenang.  Ini yang menghadirkan sebuah tradisi keberanian yang satria dan terhormat.

Orang Nagekeo mengenal budaya etu, yaitu tinju tradisional. Dua orang diadu tetapi masing-masing  dikendali oleh orang di belakangnnya (sipe). Hasilnya bisa saja ada orang yang berdarah-darah tetapi kemenangan atau keunggulan tidak serta merta membangun kebanggaan yang merendahkan yang lain. Dan pihak yang berdarah-darah tidak menyimpan marah dan dendam. Ini sebuah permainan dan pertandingan  yang mematuhi kode etik dan memadukan kekuatan belas kasih dan kekerasan.

Tarian caci di Manggarai, Silat Betawi atau mungkin tontonan pertarungan matador di Spanyol termasuk dalam pentas budaya yang mencerminkan bahwa manusia memang memiliki dua macam naluri. Naluri manusiawi yang penuh kasih pada satu sisi serta naluri kekejaman pada sisi yang lain. Selama pertarungan terjadi seimbang maka pertandingan ini akan menghasil kesatriaan. Yang menang merasa terhormat dan yang kalah tetap mendapat penghargaan sebagaimana pertandingan tinju. Semuanya hanya terjadi antara dua kekuatan yang sama kelasnya. Tange potu dan papa kenda adalah pertandingan antara kelompok anak-anak yang disepakati baik usia dan kekuatan. Pertandingan yang membangun kekuatan fisik dan keberanaian melawan sesama dengan tetap memperhatikan keselamatan sesamanya. Tange potu dan papa kenda adalah merupakan pentas satria anak-anak pesisir Mauromba saat ini semakin ditinggalkan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s