BHANGGA dan E NGARO adalah PESTA SYUKUR

E ngaro adalah salah satu janji keluarga pada saat kritis. Janji semacam ini ditujukan kepada Yang Maha Kuasa. Isi janji adalah bila Tuhan menyelamatkan kehidupan seorang anggota keluarga, maka keluarga besar akan mempersembahkan atau menyembelih hewan kurban berupa babi atau kerbau.

Bhangga adalah e ngaro yang berhubungan dengan kondisi ibu yang melahirkan. Bhangga adalah janji kepada Tuhan berhubungan dengan keselamatan ibu yang telah melahirkan anak yang kedelapan. Rata-rata ibu yang telah melahirkan putera yang kedelapan mengalami kesulitan dalam melahirkan. Sering sang ibu mengalami sakit yang luar biasa serta bisa membawa kematian.

Bhangga merupakan sykur atas kelahiran anak yang ke delapan. Syukur karena telah memiliki banyak anak (dhadhi mbi mesa kapa).  Misalnya ada seorang lelaki tunggal. Dia menginginkan mempunyai banyak anak. Ternyata melahirkan banyak anak wanita. Pada saat isteri mengandung anak yang ke delapan, seorang bapa bisa berbuat nazar. Nazar itu berbunyi: asa ana ta aki, ede go’o-g’o ana kamba’ (jika lahir seorang putera, sekecil apa pun akan bunuh seekor kerbau).

Bhangga dibuat karena memang ada janji. Bhangga diselenggarakan tidak pada saat seorang baru melewati masa kritis. Bhangga bisa seperti e ngaro yang lain diselenggarakan lama sesudah janji itu diucapkan. Karena pelaksanaan janji seperti ini dalama bentuk upacara adat yang besar, maka semuanya perlu perencanaan matang. Harus ada pertemuan keluarga dan menyampaikan kepada semua kerabat dalam keluarga besar.

Karena jarak yang sangat jauh dengan masa krisis, maka pesta ini sesungguhnya dilakukan dalam suasana yang baik. Kegiatan ini lebih menonjol sebagai pesta syukur. Keluarga yang pernah mengucapkan janji e ngaro mengajak keluarga besar dan warga masyarakat luas udu -eko untuk merayakan pesta ini. Sebagai pesta adat, maka pesta bhangga merupakan sebuah kenduri yang dihadiri banyak orang.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s