ORANG KAMPUNG UDI MEMBANGUN PEO

Peo tidak sekedar tugu peringatan. Peo adalah lambang pemersatu. Peo itu tanda kemandirian dalam kekuasaan adat.  Peo adalah merupakan proklamasi kesatuan yang ditandai dengan peresmian ko’e nua kadi oda melalu menggali dan menanam Peo.  Sebagai lambang pemersatu, peo selalu diusahakan tegak. Dan ketika bangunan Peo sudah tidak layak lagi, maka dibangun sesuatu yang baru.

Terbetik berita bahwa orang Udi di Keo Tengah baru saya melakukan pertemuan adat untuk membangun kembali Peo.  Peo yang akan didirikan adalah untuk mengganti Peo yang sudah lama dan lapuk. Karena itu Peo ini dikenakan istilah kedhu ta mewu, pusi ta muri ( menarik keluar yang sudah lapuk dan diisi dengan yang baru). Berarti sebentar lagi kita akan menya ksikan sebuah pesta adat yang menarik

Nua Ora

Penduduk kampung Udi berasal dari Nua Ora. Nua Ora pada masa lalu berada di lekukan bukit (ndegho) sebelah barat antara Mabha dan Tudiwado.  Seorang pemuka yang sangat terkenal dari kampung Nua Ora adalah Rangga Ame Ari. Dia menikahi seorang perempuan jelita asal  bugis, saudari dari Rogo Rabi. Rogo Rabi adalah penghuni pertama di kampung Mauromba. Ketika Ejo Keo dan Meo Sia  warga kampung Kodiwuwu berperang melawan Rogo Rabi, Todi Wawi, keponakan dari Rangga Ame Ari menikahi seorang adik perempuan Rogo Rabi. Tujuan pernikahan Todiwawi adalah sebuah siasat untuk mengetahui kelemahan Rogo Rabi melalui saudarinya sendiri. Rogo Rabi kemudian terbunuh

Mengapa orang Nua Ora akhirnya pindah ke Udi? Orang-orang Nua Ora  pindah karena ada kecemasan air laut bakal naik jauh ke darat. Ada rasa takut yang luar biasa ketika pada masa itu ada kapal-kapal besar melintasi pantai di Maundai dan sekitarnya. Bunyi dan gelombang besar pada saat kapal membelah ombak merupakan pengalaman yang menakutkan.  Maka diperintahkan agar semua penduduk pindah. Pertama semua orang baik orang Worowatu mau pun Udi melarikan diri ke Ondo. Ondo berada sedikit di atas dari lokasi kampung Udi, dan Worawatu yang sekarang.  Pada akhirnya orang Udi dan Wodowatu sepakat membangun kampung  di tempat yang sekarang ada.

Udi dan Wodowatu memiliki kesatuan adat yang terpisah. Karena itu walau dua kampung ini sangat berdekatan, masing-masing memiliki Peo tersendiri.  Dan kini saatnya orang Udi mengerjakan Peo.

Tahap-Tahap mendirikan Peo

  1. Mutu tiwo Doka Go’o. Pertemuan internal kampung dalam lingkup udu go’o eko bhoko
  2. Soke doka, kenda wewa , sodho udu mere eko dewa. Moo too  jogho mbana sama (Akan mengundang kerabat dari kampung lain untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan besar ini).
  3. Sejak adanya pertemuan dan rencana pembuatan peo, gong gendang selalu dibunyikan baik siang mau pun malam sebagai tanda ada kegiatan adat besar.
  4. Nggae kaju. Usaha untuk mencari kayu yang baik untuk Peo.  Kepada masyarakat dari kampung lain ikut diberi tahu niat untuk mendirikan Peo. Bila ada yang melihat supaya disampaikan agar segera dikerjakan. Proses pencarian diberi istilah ‘nepi wawi’ (mengintai babi). Kalau ketemu segera tikam saja ( nepi wawi, taku tei pero ke simba poke).
  5. Kema Peo

Peo langsung dikerjakan dilokasi pohon kayu ditebang.  Kemudian kayu Peo dipikul dan diarak masuk ke kampung. Kayu ini dipikul dengan cara terhormat dan terkadang seorang ana susu (imam) menunggangi kayu Peo. Setelah sampai di lokasi sebelum ditegakkan, dilakukan pekerjaan finishing.

Arakan Kayu Peo

Arakan kayu peo dari tempat pemotongan kayu bisa  saja berjalan sangat panjang.  Tergantung dari lokasinya,  Dalam perjalanannya arakan mengusung peo sering singgaah di kampung-kampung lain. Para pengusung dijamu (luti) kemudian para mosalaki di kampung setempat terus bersama-sama (ka’e ari to’o jogho, mbana daka)  mengikuti iringan usungan kayu peo sampai ke tempat tujuan.  Kayu Peo diarak masuk bagai menerima tamu agung. Disambut dengan bunyi gong gendang serta  meriam bamboo terus dibunyikan.

Selama pekerjaan finishing dilakukan, ada doa-doa dan juga gong gendang mengiringi tarian. Tarian bertalian dengan pembangunan Peo semuanya diatur dan tidak liar. Suasana sebelum Peo ditegakan merupakan saat-saat sacral. Semua pasangan suami isteri harus tidak diperkenankan berhubungan suami isteri.

Penanaman Peo:

Sejak kayu peo masuk kampung dan dikerjakan secara rapih, ada keramaian. Ada bunyi gong gendang dan tari-tarian. Pada saat itu di lagukan syair-syair khas yang disebut Naro. Naro adalah syair yang berisi kisah-kisah sejarah asal usul keluarga sampai berkembang dan mendirikan peo sendiri. Naro kisah-kisah keluarga juga diungkapkan pada pesta adat Pala. Pala adalah upacara penyemebelian kerbau atas dasar e ngaro (janji adat) secara kolektif.

Peo ditanam dalam tanah. Pada dasar tanah biasa diberi minyak kelapa dan semacam daun perdu yang disebut wunu keta  dan disirami darah ayam oleh ana susu. Untuk mengawetkan batang kayu peo biasa diberi alas daun ijuk dan abu dapur.

Kuda (Jara ana Jeo)

Peo selalu berhubungan dengan kehadiran jara dan ana jeo.  Jara (kuda) biasa ditunggangi sepasang manusia (laki dan wanita) yang disebut ana jeo. Jara dan ana jeo selalu di tempatkan di bawah naungan sao enda (rumah perlengkapan).

Apabila Peo yang sedang dibangun adalah pengganti peo lama, maka jara yang lama, walau pun masih bagus harus disingkirkan. Sebelum jara disingkirkan dibuat sebuah upacara membunuh jara (pongga Jara). Ada kepercayaan bahwa apabila ada dua jara (kuda) maka akan saling menggigit dan membuat suasana kampung tidak aman. Apabila tidak dibunuh maka tidak ada kedamaian dan ketenangan yang membuat orang kampung tidur nyaman. Oleh karena ada upacara pongga jara (memukul untuk membunuh) yang lama, sehingga dengan demikian hanya ada satu jara yang tersisa.

Kita menunggu orang Udi membangun Peo yang baru.  Sebuah perhelatan adat yang menarik untuk diikuti. Pasti ada ritual membunuh kerbau yang disebut pala.  Dalam budaya Nagekeo ada dua jenis Pala. Satu pala yang berkaitan dengan pembangunan peo disebut pala jeme pu’u (ritual bunuh kerbau untuk memperkokoh fondasi) dan pala tau weki adalah ritual bunuh kerbau untuk keselamata orang sakit. Pala ini merupakan pala syukur.  Kalau ada banyak kerbau yang sisembelih artinya banyak keluarga telah mengucap janji yang selama ini belum terpenuhi. Inilah pala syukur. Karena itu pala ini sangat meriah layaknya sebuah syukuran.

(catatan ini masih bersifat sementara, akan terus ditambah dan di perbaiki).

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s