PEMUKIMAN TKI ASAL NAGEKEO DI MALAYSIA

Naik motor hutan menuju lokasi pemukiman TKI Nagekeo

Dengan naik motor hutan kami menuju lokasi pemukiman. Disebut motor hutan karena motor ini tanpa plat nomor dan semua ijin yang sah. Motor tanpa STNK dan pengemudi juga tanpa SIM. Cara membelinya pun ilegal.  Hanya digunakan di area hutan kelapa sawit dan karet saja.

Kami naik taksi menuju pinggiran hutan. Taksi yang kami pilih adalah taksi yang sudah dikenal oleh seorang TKI yang bekerja di tempat kami menginap. Penginapan yang kami tempati adalah milik warga negara Inggeris.  Pemiliknya menempati sebuah rumah mewah, yang dibeli dari pejabat kedubes Jepang. Sementara tempat penginapan dikelola oleh pasangan muda suami isteri dari Nagekeo.

Jalan menuju pemukiman adalah jalan tanpa aspal. Jalan yang hanya digunakan untuk mengangkut hasil kebun kelapa sawit dan karet. Lahan-lahan luas ini adalah milik kerajaan Malaysia, yang diberikan hak kelola pada swasta.

Hari semakin gelap. Beberapa ekor anjing segera mengerubuti kami. Dengan perasaan agak takut kami mendekati tempat penginapan. Pondok-pondok TKI terbuat dari bahan-bahan bangunan sederhana dan rapuh. Hampir semua  ata pondok TKI terbuat dari bahan plastik.  Pondok pertama yang kami singgahdalah milik Dorus, putera dari Seke Bhengu dan cucu dari bapak Uku Dodo dari Rombawawo. Nenek dari Dorus masih kerabat ibu saya. (Foto:  Dorus dan isterinya duduk di kanan saya)

Memangku anak wanita adalah TKI asal Lere, Mauponggo. Lelaki memangku anak laki bersama isterinya berasal dari Dongga, Riti.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in PHOTO. Bookmark the permalink.

One Response to PEMUKIMAN TKI ASAL NAGEKEO DI MALAYSIA

  1. ATA NAGEKEO ADA DIMANA-MANA.
    Selain ke Malaysia mencari duit untuk kebutuhan hidup keluarga, ada juga yang mengikuti program pemerintah untuk menempatkan orang-orang Flores seperti di Papua, Sulawesi, Kalimantan dan juga ada ditempat-tempat lain. Kebetulan saya ada di pulau Sulawesi khususnya di Provinsi Sulawesi Tengah ternyata dari utusan Flores lebih banyak orang Nagekeo disana. Lokasi Unit Pemukiman Transmigrasi yang sering saya kunjungi antara lain di wilayah Kabupaten Buol hampir setiasp kecamatan banyak keluarga asal dari Nagekeo. Nama lokasi diberi nama Modo (kalau bahasa Nagekeo artinya baik,. benar) berarti lokasi yang ditempatkan ata Nagekeo cukup baik karena tanahnya dapat dikelola dengan baik. Saya sempat bergabung dengan mereka selama 3 bulan di lokasi tersebut bertepatan dan tugas saya dalam rangka mengukur batas kawasan hutan antara hutan Negara dengan hutan yang dikelola oleh masyarakat. Ada juga di kabupaten Toli-Toli nama lokasi Pagaitan, mareka hanya satu pemukiman saja, namun kalau mencari uang mereka ke kota Toli-Toli kontrak becak untuk mengantar penumpang. Ada juga di kabupaten Banggai nama lokasi Banpres, saya pernah kesana dan dilokasi tersebut Kepala Desanya orang dari Nagekeo. Ada juga di Kabupaten Morowali nama lokasinya Molores dan nama Molores ini adalah singkatan dari Mo = suku Mori, Lo = suku Lombok dan res = suku Flores. Nama lokasi ini diberi nama setelah orang Nagekeo bermukim ditempat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s