VERBA VOLANT SCRIPTA MANENT

Posting ini sudah lama saya tulis, yaitu pada Senin tanggal 27 Oktober 2008 yang tersimpan dalam arsip. Waktu berjalan terus, tetapi sebuah catatan adalah abadi. Ingat pepatah Latin kuno ‘verba volant scripta manent’. Dan catatan ini ternyata masih saja tersimpan. Benar  kearifan pepatah kuno, apa yang ditulis tetap tertingga

Hari ini Senin 27 Oktober 2008. Jam komputer saya menunjukkan pukul 11.20 WIB sementara jam yang tergantung pada tembokbagian dalam pintu masuk waktu menunjukkan pukul 11.30. Ternyata jam kantor kami dipercepat sekitar 10 menit. Cepat datang cepat pulang itu hitungan karayawan.

Saya memasuki ruang bos saya. Saya tanya apakah sibuk. Dia mengatakan tidak sibuk. Saya kemudian memulai pembicaraan yang selama ini  terlalu berat saya ungkapkan. Saya mengatakan  berniat untuk kembali ke kampung Mauromba, Keo Tengah, Nagekeo, Flores. Bos saya menanggapi dingin dan ramah. Tetapi beberapa saat kemudian ada tanda e-mail masuk. Dia katakan, let’s talk later. Dan saya kembali ke ruang kerja saya dan mengetik posting ini.

Aku merasa lega, walau belum ada pembicaraan yang sempurna. Karena saya telah mengawali sesuatu yang saya anggap paling sulit untuk memecahkannya.

Wado Nua. Pulang kampung dan bekerja serta menetap disana kini sudah menjadi obsesi saya. Berdiam di Mbay pasti banyak hal yang harus dipikirkan. Belum ada rumah, belum ada pekerjaan.  Ngapain pulang kampung….. Saya nekad pulang. Di Jakarta yang paling sulit saja saya bisa atasi. Masa saya tidak bisa mengatasi hidup di kampung sendiri. Kali ini saya tidak datang ke Romba untuk mendapatkan atau merebut hak atas tanah warisan. Karena semua anggota keluarga saya tidak terlalu membicarakan hal yang satu ini. Bagi saya tidak usah merebut. Karena saya adalah hak anak sulung. Saya bisa mendapatkan semuanya tanpa minta. kalaupun saya ada di jakrta apa saja yang terjadi mengatasnamakan saya.

Lalu mengapa pulang. Tidak tahu dari mana saya mendapatkan ide itu. Saya sekarang ingin memilih jalan yang  saya tolak dari dulu. Aku ingin mendaftarkan diri menjadi anggota legislatif.  Tantangan tidak kecil. Ketika saya di Bajawa, saya bertemu dengan pak Melky seorang kontraktor asal Nagekeo. Dia bilang politik itu busuk super busuk. Dia tidak mau menyentuh itu. Tetapi dia bermain dalam kekotoran itu. Dia menghabiskan waktu dan uangnya. Tujuan satu. jangan sampai orang yang tidak dikenedakinya menduduki kursi nomor satu di kabupaten Nagekeo. Dia mengeritik kebusukannya dan dia sendiri memainkannya.

Lalu mengapa saya memasuki wilayah penuh intrik dan kritik ini. Pada hal saya sekarang nyaman makan dan minum dari hasil keringat sendiri. Saya mencobanya. Dasarnya adalah ketika saya bekerja di perusahaan, hanya perutku yang kenyang. Dalam bahasa Keo : Mbo’o ta mbana. Saya harus bisa memberikan kontribusi pada masyarakatku.  Untuk itu saya harus ke luar dari zona amanku ini.  Dan hari ini saya mulai mengatakannya.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s