E NGARO IKRAR JANJI PADA SAAT SEKARAT

E ngaro  adalah janji yang diungkapkan pada saat seorang anggota keluarga sakit keras. Apabila ada anggota keluarga sakit keras, maka sering ada seorang anggota keluarga, biasanya kepala keluarga mengucapkan janji. Keluarga sederhana biasa berjanji untuk membunuh babi apabila kesehatan seorang pulih. Bagi keluarga yang mampu berjanji akan bunuh kerbau.  Dalam adat dan budaya Nagekeo, janji-janji seperti ini (e- ngaro) akan selalu ditepati. Janji-janji adat untuk membunuh hewan ternak berupa kerbau atau babi besar sudah hampir tidak ditemui. Perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi membuat orang termasuk orang desa memahami bahwa sakit disebabkan oleh penyakit. Hal ini menghapus kepercayaan bahwa sakit selalu disebabkan oleh sihir atau oleh   ata podo (suanggi) menurut orang Nagekeo.

Haji Mbeu seorang tua renta dari Mauromba  pergi haji bersama dua orang sahabatnya satu dari Mauara dan seorang lagi dari Mauwaru.  Ketiganya berasal dari Nagekeo, waktu itu masih dalam wilayah kabupaten Ngada. Haji Mbeu baru belajar agama Islam beberapa tahun sebelum  pergi haji. Dia mungkin saja memiliki sedikit pengetahuan tentang Islam tetapi masih kuat berpegang teguh pada kepercayaan tradisional sesuai adat dan kebudayaan leluhurnya.  Kucuali seorang puteranya yang juga pernah haji semua putera dan puterinya yang lain beragama Katolik. Sebahagian kerabatnya masih animisme.

Ketika Haji Mbeu kembali dari haji, orang membopongnya ke darat dari perahu. Banyak orang langsung merapat dan mencium orang tua tersebut. Hari itu menjadi sebuah hari sukacita bagi semua orang Maruromba.  Keramaian semalam suntuk selain ada rebana khasidahan dari orang Islam, ada juga yang band kampung ikut larut gembira. Semua acara tidak ada bayaran. Tetapi semua menikmati makan pesta. Seekor kerbau disembelih pada acara itu. Kerbau disembelih atas permintaan Haji Mbeu yang baru saja tiba dari tanah suci. Seharusnya bisa saja kambing atau sapi yang disembelih.

Mengapa kerbau disembelih. Ini ada ceritanya. Ketika di tanah suci sahabat yang berasal dari Mauara menderita sakit di tanah suci. Cuaca tanah suci Mekkah dan fasilitas minim selama di perkemahan membuat ketiga orang tua renta ini menderita sakit. Haji Mbeu sembelit dan sulit buang air. Katanya kalau dia buang air, kotorannya bulat-bulat kecil seperti tahi kambing.  Masa itu fasilitas sangat minim, teristimewa persediaan air bersih. Mereka sangat menderita. Seorang haji kemudian mengalami sakit agak parah. Dan Haji Mbeu bernazar ala adat dan budaya Nagekeo. Ini yang disebut E ngaro.  Asa kau wado weki, kami rore kamba. (Asal kesehatanmu pulih, kami bunuh kerbau). Dan ketika pulang kampung mereka memenuhi janji dan niat hatinya untuk bersyukur atas terpulihnya  kesehatan dan menyembelih kerbau.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s