HOTEL,GEREJA DAN VIHARA DI JOGYAKARTA

Perjalanan ke Jogya kali ini terasa istimewa. Saya dan dan isteri bepergian berdua saja dalam usia yang tidak muda lagi. Kami sudah menikah selama 33 tahun.  Perjalanan ini bukan untuk bersenang-senang biasa. Tetapi ya, kami menikmati sebagai perjalanan yang menyenangkan.

Semalam kami menginap di Hotel Yogya Moon.  Saya memilih hotel ini karena informasi seorang sopir taksi.  Tukang becak dan taksi selalu memberikan informasi tentang tempat-tempat yang baik untuk dikunjungi. Seperti di mana saja di dunia, sopir taksi punya semua informasi, termasuk informasi politik dan pasti tidak ketinggalan tempat prostitusi.  Saya masih ingat ketika akan pulang ke Indonesia, sopir taksi di Korea masih menawarkan untuk menghantar saya ke tempat prostitusi di Seoul. Demikian tukang becak atau sopir taksi di semua kota besar di Indonesia mengetahui semuanya.

HOTEL BILLY MOON DAN JALAN KEMETERAN…

Tiba di Jogya saya dan isteri sebentar menikmati makan pagi yang terlambat di bandara Adisucipto. Saya memesan makanan khas daerah istimewa ini yaitu gudeg  dan daging ayam kampung. Enak? Yang jelas beda rasanya. Serba manis. Kami ke hotel menyewa sebuah mobil Avanza yang dikendarai seorang sopir dari kota lain. Sang sopir asal Klaten ternyata tidak tahu alamat. Dalam perjalanan kami harus berhenti dan bertanya. Karena saya baru pertama kali ke tempat ini, saya ingat nama jalan Kemeteran.  Tidak ada yang tahu nama jalan Kemeteran.  Setelah lama mencari ada seorang yang mengatakan bukan Kemeterana tapi Kemetiran. Dan akhirnya kami menemukan jalan yang dicari. Dalam kepala saya nama hotel adalah Billy Moon. Ternyata sampai di tempat itu hotelnya bernama Jogya Moon.  Dan saya langsung berteriak, “ ya itu dia hotelnya”. Jogya Moon. Yang anehnya jalan Kemetiran ada yang menulis Kemutiran  dan saya menyebutnya Kemeteran.

HOTEL, GEREJA dan WIHARA.

Saya tertarik untuk menginap di tempat ini karena letaknya dekat dengan gereja Katolik dan juga Vihara. Hanya selang satu rumah ada gereja yang lumayan besar, gereja katolik Santa Perawan Maria Tak Bernoda. Dekat gereja ada sebuah Vihara hanya dibatasi oleh sebuah gang sempit. Kami berdua sempat mengikuti ibadah Misa hari Minggu sore  dan keesokan pagi jam 05.30 kami sempatkan ke gereja.

Pada hari Senin pagi kami mengurus segala sesuatu yang menjadi tujuan pokok kami. Kami  pergi ke kantor Notaris untuk mengurus  sepenggal lahan warisan mertua. Setelah menyerahkan semua dokumen, sang Notaris meminta saya menggambar peta lokasi.  Dalam keadaan bingung saya bilang nanti akan saya kirim melalui e-mail. Tetapi mereka menawarkan fax saja. Dan saya mengiayakan.  Tidak kehilangan akal, saya minta sopir taksi membawa ke lokasi.  Beruntung sang sopir ternyata tahu lokasinya. Saya mulai mengoret-oret gambar jalan. Tetapi sangat kacau. Kami menuju lokasi. Saya bilang tolong cari kantor Lurah.  Saya langsung mencari peta keluarahan dan saya memotretnya.

GANG SEMPIT TOURIST BACKPACKER

Setelah sampai hotel saya mencri tempat cuci cetak foto. Saya pun naik becak. Tetapi tidak menemukan tempat cuci cetak foto di sekitar hotel. Dan saya minta cari warung internet. Rupanya sang tukang becak tahu. Tetapi sang tukang becak menawarkan saya, om kalau mau saya bawa ke tempat cewek. Muda-muda dan cantik.  Saya hari ini mau pulang, kita cepat ke warung internet bukan warung cewek bang. Dia membawa saya ke sebuah gang. Ada sebuah Warnet di sana. Ada beberapa orang bule lagi online. Saya meminta penjaganya untuk mencetak foto peta lokasi dan membayarnya Rp. 3.000 untuk dua lembar. Di gang sempit ini penuh dengan rumah-rumah penginapan murah. Banyak tourist backpackers dengan anggaran minim menginap di sini. Saya baru tahu. Katanya kalau lagi musim lburan tempat ini penuh terisi. Demikian juga hampir semua hotel di Jogya termasuk hotel-hotel Melati dengan pelayanan minim kebanjiran tamu sampai luber. Orang Jogya tahu memanfaatkan peluang semua harga pun di naikan. Semua menadapat rejeki berlimpah termasuk para tukang becak dan pedagang makanan.

Gang tourist backpackers

Ketika akan kembali ke hotel, abang becak, menghentikan becak. “Lihat itu di dua becak. Itu cewek-cewek.” Ada empat gadis muda-muda dan ayu usia belasan lagi duduk di dalam becak dari arah yang berlawanan. Abang becak seperti juga sopir taksi menguasai informasi. Mereka juga mendapat tambahan uang dari hasil menjual informasi.

Isteri saya mencatat nama seorang sopir taksi dan  kemudian memanggilnya menjemput kami untuk ke bandara dan pulang ke Jakarta. Sebelumnya sang sopir membawa kami ke kantor notaris. Gambar peta lokasi telah selesai, tinggal menambah satu kotak kecil pada peta. Sopir memanfaatkan kebodohan kami dengan sedikit memutar dan melewati alamat kami lalu balik, yang membuat biaya menjadi lebih besar. Itulah kelicikan  sopir taksi. Kami akhirnya kembali ke Jakarta.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s