NEMBO DAN MALARA KONSEP RANTAU ORANG KEO

Ubi bene ibi patria. Itu sepenggal kata-kata bersayap atau pepatah dalam bahasa Latin. Artinya tak jauh beda dengan ‘ bumi dipijak langit dijunjung’ dalam budaya orang Minang yang memahami bahwa seorang harus menyesuaikan diri, menghormati adat kebiasaan di tempat seorang berada. Ubi bene ibi patria terasa lebih dari sekedar menyesuaikan diri yang lebih bersifat semu sementara hati dan pikiran berkata lain. Budaya kita adalah budaya basa basi, lebih banyak basinya dalam hal berbahasa. Ada kesemuan. Tanah airmu adalah tempat dimana anda bisa hidup nyaman (ibi patria ubi bene). Menikmati hidup dan menyatu dengan sekitarnya, mencintai sebagai tanah airnya sendiri. Ini mengandung arti berbagi dan berguna serta berkorban bila perlu.

Ketika saudari saya Yohana Gedhe baru datang dari Flores dia berkunjung ke rumahku. Waktu itu sedang direnovasi. Dalam perbandingan dengan rumah gubuk orang tua di Mauromba dia beranggapan rumahku besar dan permanen. Membangun rumah permanen yang membutuhkan biaya agak banyak mengindikasikan bahwa pemiliknya akan tinggal selamanya. “Miu kema sa’o mere, ke simba mona wado oo”, kata Yohana dalam pola pikir merantau ala orang Keo.

Nembo dan Malara

Pada masa lalu orang Flores, khususnya orang Keo kalau bepergian jauh disebut nembo. Mbana nembo artinya pergi merantau. Merantau pada masa lalu adalah bepergian dengan perahu. Ketika akan pergi dengan perahu layar biasanya ada makan bersama. Ine weta (saudari) biasa berkumpul. Ketika perahu didayung makin ke dalam dan layar dikembangkan, para wanita (ine weta)  menggapai ujung kain sarung dan menyapu air mata. Ada rasa sedih, yang kemudian berubah menjadi kerinduan akan saudara mereka bila lama belum kembali.  Perahu-perahu layar dari  pesisir selatan Nagekeo biasanya berlayar sampai Bima, Banyarmasin dan Surabaya. Perjalanan itu makan waktu berbulan-bulan. Ada rasa galau hati keluarga yang menunggu pulang. Karena itu ada istilah ‘kami nande pai’ (tidur selalu terjaga) dan ‘api mbanga atau dida dika mbanga anga artinya api selalu membara, dapur selalu membara dan periuk (anga) tetap terjerang.  Mereka menunggu entah itu siang atau mungkin tengah malam gelap perahu itu kembali. Keluarga siap berjaga setiap saat menyambutnya dan menyiapkan makanan hangat buat perantau. Maklum masa itu tidak ada  penerangan, sumber api adalah tungku dan kayu bakar (fata kaju).

Merantau dalam bahasa Keo disebut pula ‘malara’ berasal dari kata melarat. Mbana malara lewo berarti pergi jauh dan hidup bersusah-susah mencari sesuatu untuk bisa dibawa pulang. Dan itu makna dari merantau mencari dan membawa pulang sesuatu buat keluarga besar di kampung halaman.

Dalam konsep nembo dan malara semua perantau diharapkan membawa pulang hasil kerja bagi keperluan keluarga yang ditinggalkan.Konsep ini dapat dibandingkan dengan pola pikir dan cara hidup perantau dari pulau Jawa. Mereka selalu berpikir untuk membawa bukti kerja ke kampung halamannya. Pada perayaan hari Lebaran menjadi kesempatan pamer sukses anak rantau. Ternyata memang orang Jawa sangat mencintai keluarga dan tempat kelahiran mereka. Mereka selalu menyisihkan sesuatu dari penghasilannya. Saya terkadang heran dan juga mengagumi karyawan pabrik sederhana dengan upah minimum yang sangat terbatas itu masih bisa mengirimkan uang ke orang tua mereka setiap bulan. Ketika mudik massal mereka benar membawa pulang semua hasilnya ke kampung halaman dan sesudahnya mereka mulai lagi berjuang meraih segala keinginan sebisanya.

Nembo dan malara benar merantau mencari nafkah. Sambil mencari nafkah di tempat asing, seorang harus menyesuaikan diri dengan adat dan kebudayaan setempat. Jadi dimana bumi di pijak untuk bekerja di tempat itu seorang harus tahu diri untuk beradaptasi. Dia membuka hati untuk menerima keadaan. Tetapi tujuan akhir dan kabahagiaannya adalah membawa pulang hasil kerjanya ke kampung halaman. Ada kemiripan dengan ‘ubi bene ibi patria’ orang harus merasa bertanah dimana dia bisa menikmati hidupnya. Tetapi ‘ubi bene ibi patria’, dimana hidup dengan baik disitu tanah airnya mendorong seorang mencintai tempat di mana dia memperoleh dan menikmati hidupnya. Apa yang diraihnya tetap tinggal dan dimanfaatkan disitu. Ini juga menjadi kritik dari orang Keo bagi yang kema sao mere (rumah besar) dan menetap di rantau dengan pandangan nembo dan malara disebut ‘mboo ta mbana’ artinya hanya mengenyangkan perut orang-orang yang merantau (berjalan ke luar dari rumah).

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s