MEMBANGUN NAGEKEO MULAI DARI MEROBAH WAJAH DESA

Melalui media face book saya berkomunikasi dengan beberapa orang Nagekeo pada waktu yang sama. Dua dari beberapa orang itu adalah orang Nagekeo berusia relative muda dan punya nama dan reputasi baik di kalangan sesama orang Nagekeo di Jakarta. Saya yang biasanya alergi membuka akun face book, dalam usia akun saya satu minggu, saya  menilai bahwa akun face book telah memberi  ruang untuk berkomunikasi dan diskusi efektif malam itu. Saya menutup komunikasi dengan ‘kombe modhe’ dan terima kasih sudah sharing ide malam ini.

Apa yang kami bicarakan mungkin tidak luar biasa? Apalah artinya sapaan-sapaan persaudaraan untuk dicatat ulang? Saya berkomunikasi malam itu dengan orang Nagekeo di Papua, Maumere dan Jakarta dan luar negeri.  Salah seorang menanyakan apakah saya tidak punya ambisi untuk mendapatkan salah satu posisi di daerah. Sementara seorang yang lain yang saya tanya apakah mau maju dalam pilkada 2013, dia menjelaskan ada pemikiran ke sana. Saya mengatakan kepadanya dukungannya demi  usaha membawa ide baru  ke daerah untuk membangun Nagekeo.

Membangun Nagekeo membutuhkan dana. Ketika  ditanya apakah ada investor yang bisa kita ajak kerja sama di Nagekeo, saya tidak berpikir banyak untuk menjawab. Jujur saja tidak butuh investasi besar untuk ditanamkan di Nagekeo. Satu statemen saya adalah membangun Nagekeo adalah  merubah wajah desa.

Merubah wajah desa adalah mengembangkan potensi ekonomi desa dengan memberdayakan semua potensi yang sudah ada. Saya mengambil contoh nyata bagaimana wajah sebuah desa miskin Tumanggal di wilayah kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sebahagian besar penduduk desa itu hidup dari jagung dan singkong tak jauh beda dengan penghuni lahan kritis di Ndora, Nagekeo. Dari seorang pengerajin saya mendapat informasi tentang kehadiran beberapa orang pemintal benang dengan jantra (jata). Wajah-wajah orang gunung yang takut terhadap muka angker orang Flores berubah setelah saya kumpulkan mereka di balai desa. Dari beberapa nenek tua dan rapuh akhirnya hampir semua rumah memiliki jantra untuk pintal benang. Limbah kapas dari Tegal didatangkan dan mereka memintal benang secara manual dan tradisional. Dan desa yang mulanya gulita  tanpa listrik kemudian berkilau. Kepala desa langsung menjadi pemimpin usaha. “Om, kami tidak mau makan jagung dan singkong lagi”, kata seorang ibu kepadaku setelah industri kerajinan pintal (jata) berjalan di desa ini. Setelah itu pegawai industri kabupten berpatroli dan berbasa basi menanyakan apa kendala usaha lalu kembali membuat laporan telah membina desa.

Membangun Nagekeo adalah sederhana. Merobah wajah desa. Mentransformasi desa dari kegelapan dan kemiskinan menjadi desa mandiri. Desa-desa di Nagekeo sesungguhnya memiliki potensi ekonomi, walau tidak dalam skala yang besar. Tetapi paling tidak memiliki kekuatan  untuk membangun dan mengembangkan diri. Kita punya cengkeh, vanili, kakao, kemiri dan kopi serta jambu mede. Juga kita memiliki produksi padi yang paling banyak untuk ukuran Flores, Nagekeo dengan Mbay disebut lumbung beras. Nagekeo sesungguhnya daerah yang cukup pangan.

 Merobah wajah desa adalah membangun kekuatan ekonomi desa sehingga menjadi desa mandiri. Koperasi sudah bertumbuh sangat baik di Nagekeo dalam bentuk Credit Union. Catatan keuangan koperasi (C.U.) Ngada dan Nagekeo secara nasional cukup baik. Tetapi yang disayangkan bahwa modal koperasi masih digunakan untuk kebutuhan konsumtif, bukan usaha.

Merobah wajah Nagekeo tidak usah berpikir ada investasi besar. Kita seperti Flores umumnya tidak memiliki prasarana yang memadai. Listrik dan telekomunikasi menjadi kendala yang paling utama. Membangun Nagekeo adalah membangun desa. Membangun desa tentu harus mulai dengan merobah cara berpikir orang desa.

Usaha merobah cara pikir artinya memasukkan cara pandang baru ke dalam masyarakatnya. Sebuah fenomena menarik bahwa orang Nagekeo semakin terpelajar. Kita punya banyak orang pintar pemikir malah berskala nasional. Tetapi yang disayangkan kita hanya memiliki sedikit orang pragmatis yang bisa mentrapkan ide dan pengalaman untuk membangun desa.

Harian Kompas, Kamis 13 Oktober 2011 menulis sosok Pendorong Wira Usaha Muda Belitung. Seorang anak muda Belitung pulang ke daerah menjadi anggota DPRD kabupaten Belitung. Ia kemudian menjadi wirausaha. Semua pemikiran dan pengalaman dari Jakarta dibawa pulang dan diterapkan di kampung halamannya.  Di sela kesibukan ia melakoni bisnis dan mendorong orang lain berwirausaha. Ia membuktikan bahwa kemandirian bisa tercaapai dengan kewirausahaan.

Pemikiran yang sama sempat mendorong saya untuk kembali hidup sederhana di daerah. Coba mencari batu loncatan untuk bisa berdiri dan menengok serta berbuat. Waktu itu saya berambisi merobah kebiasaan orang Keo Tengah khususnya desa Witurombaua. Pisang, nanas dan singkong serta buah mangga berkelimpahan dan menjadi pangan babi. Seperti kata Bupati J. Aoh ketika saya bertemu terakhir kali sambil membuka lap top hasil kegiatan saya di desa, dia berujar :” Jangan hanya berpikir untuk orang Romba saja.” Sebagai seorang putera Mauromba, tentu itu yang menjadi pemandangan umum yang saya tahu. Dan kalau mau berbuat dan merasul mulai saja dengan lingkungan sendiri. Dan di semua  kecamatan di kabupaten Nagekeo memiliki sejumlah potensi.

Ada keinginan sejumlah tokoh muda untuk kembali ke daerah. Tetapi seperti yang terjadi dalam skala nasional, banyak orang Indonesia yang cerdas tetap berada di negeri orang, demikian putera-puteri Nagekeo terpelajar dibiarkan menonton dari jauh sambil kerja “mboo mea” (hanya mengenyangkan perut sendiri). Ketika ingin mengabdi ditolak oleh orangnya sendiri. Untuk itu perlu kelapangan pikiran dan hati serta membuka tangan lebar menerima putera-puteri yang ingin mengabdi. Untuk menjadi anggota DPRD di kabupaten Nagekeo tidak memberikan dampak ekonomis bagi kehidupan seorang khususnya bagi seorang wirausaha dari kota. Sudah datang ke desa saja perlu diapresiasi sebagai nilai lebih.  Mengalami kembali hidup tanpa Koran dan televisi, tanpa jadwal yang teratur serta makan yang tidak selalu cukup adalah pengorbanan. Ini adalah sebuah pengorbanan luarbiasa yang rela keluar dari zona aman pribadi.  Kedatangan anak-anak daerah untuk bertaruh menjadi anggota DPRD harus diapresiasi sebagai niat baik untuk mengabdi. Masyarakat harus lebih cerdas untuk menilai mana yang mencari kerja dan mana yang sesungguh punya hastrat membangun daerah.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s