DOSA MENGUCAPKAN SELAMAT

Rabu lalu, Hari Raya Idul Fitri malam hari saya dan isteri  keluar dari rumah. Hari ini tidak jauh-jauh. Kami mengitari lorong- lorong  sekitar rumah kami. Meja tamu di setiap rumah penuh dengan kue. Wajah tuan rumah kelihatan ceria. Ada beberapa rumah tertutup. Mereka sedang mudik. Satu rumah sahabat saya di belakang rumah tidak ada. Katanya pulang kampung. Mereka rupanya mencari tempat untuk merayakan hari lebaran yang jatuh sesuai tanggal yang ditentukan pada kalender. Mudiknya mungkin sebagai bagian dari wujud toleransi. Banyak tetangga masih menjalankan ibadah puasa.  Di rumah-rumah yang kami kunjungi kami menyalami tuan rumah dan mengucapkan salam Selamat Hari Raya Lebaran, Mohon Maaf Lahir Batin.

Ada tempat yang kami lakukan hanya sekedar bersalam tanpa duduk, tetapi ada yang kami duduk lama. “Kalau tidak begini kita tidak ngobrol”, kata seorang ibu. Kami saling tanya dan bercerita. Ternyata rumah dekat kita juga jarang saling nyapa. Kesibukan bisa dan selalu jadi alasan. Mohon maaf lahir batin mengisyaratkan mungkin ada salah-salah kata bisa saling maafkan dan membuka babak baru pergaulan antar sesama. Buat memperbaharui hubungan dan mencairkan kekakuan komunikasi di jalan atau ketika berpapasan di gang.

Bukan takdir saya seorang Kristen dan sejumlah tetangga saya yang banyak beragama  Islam. Agama adalah pilihan atas dasar keyakinan. Kalau saya dibaptis dari kecil, ya orang tua saya membantu pilihan saya. Dan ketika saya tetap menjadi Katolik karena saya lebih sadar untuk menentukan pilihan. Karena ada dan bisa saja  kemudian merubah pilihan. Karena itu ada yang mualaf dan ada yang menjadi katekumen. Dalam kehidupan harian antara kami di lingkungan Rukun Tetangga  memang tidak bermasalah. Sapa-menyapa di jalan, mengikuti kegiatan warga semuanya nampak biasa dan baik. Hari raya kurban Idul Adha jadi hari berbagi rasa. Semua keluarga mendapat jatah daging kurban, termasuk keluarga kami yang beragama non-Muslim. Kami dapat daging pasti bukan karena keluarga kami yang sederhana ini dianggap keluarga sangat miskin. Tetapi kami mendapat jatah sebagai pengakuan kebersamaan sebagai anggota keluarga besar dalam rukun tetangga (RT) yang memang rukun walau kami berbeda agama.

 Pada setiap perayaan besar agama Kristen, Natal dan Paskah dan juga pada hari menjelang Lebaran selalu ada jatah yang dibagikan kepada keluarga tidak mampu. Sebuah aksi sosial dan kasih nyata dari gereja.  Ini murni urusan kemanusiaan tanpa propaganda fide atau  upaya menambah jumlah jemaah. Seperti pembagian daging kurban, ketupat dan opor ayam yang selalu kami terima serta pembagian sembako dari gereja,  semuanya ini hanyalah  upaya membangun jembatan yang menghubungkan silaturahim antara sesama. Ini perwujudan cinta, sebab cinta tidak hanya sekedar kata. Cinta harus terwujud dalam aksi nyata. Memperhatikan dan memberi. Mengasih sama dengan memberi.

Perbedaan agama dan keyakinan sering kali memisahkan. Yang paling dirasakan adalah ketika merayakan hari besar agama, terutama hari raya agama Kristen. Pada setiap hari raya Natal kami selalu menghiasi rumah kami dengan gua dan pohon Natal. Dalam gua selalu ada patung tokoh sentral  Yesus, Maria, Yoseph dan tiga orang raja yang membawa hadiah. Ada juga gembala yang sedang memikul domba dan beberapa ekor domba di rumput. Di samping gua selalu ditempatkan patung sapi dan keledai. Sapi sekedar mempertegas bahwa Yesus itu lahir di kandang yang miskin dan hina. Keledai adalah kendaraan orang kampung sejenis kuda tunggang. Dengus napas kedua binatang itu ikut menghangatkan  ruang gua yang dingin. Ini menjelaskan kesahajaan. Natal sesungguhnya kesahajaan tentu jauh berbeda dengan kegemerlapan  hiasan, lagu dan pesta di hotel berbintang.

Setiap kali hari raya Natal yang datang berkunjung ke rumah kami banyak anak-anak tetangga yang beragama Muslim. Mereka biasa datang sebentar sorong tangan dan duduk menikmati minum dan makan kue. Tetapi yang lebih mereka sukai adalah bingkisan kecil, yang sudah kami siapkan. Mereka anak-anak lugu yang suci hatinya. Mereka beriman tanpa berpikir.

Sebagai orang dewasa saya juga berpikir. Saya juga tahu ada beda antara agama Islam dan Kristen. Tetapi sampai sekarang saya masih terus bertanya  apa salahnya orang Islam mengucapkan salam hari raya Natal pada orang Kristen.  Begitu besarkah dosanya sampai mengharamkan seorang Muslim tidak boleh mengucapkan Selamat Hari Raya Natal? Haramkah saya yang orang Kristen menyorongkan tangan mengucapkan salam hari raya Idul Fitri kepada saudara yang Muslim?

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to DOSA MENGUCAPKAN SELAMAT

  1. andi mariam says:

    bgini om penjelasaanny, non-muslim ucap met idul fitri ga haram. tp sbaliknya haram (baca: tidak boleh). knapa? krn sama saja mendoakn agar terjerumus. maaf, natal bagi muslim adalah sebuah kesalahan. sehingga bila mengucapkan selamat natal, maka = mengucapkan “selamat, anda telah salah jalan”. ringkasny bgitu om

  2. Tanagekeo says:

    @andi mariam: terima kasih sudah berkunjung dan masukannya walau mepertebal tanda “???”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s